Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Menjaga jarak.


__ADS_3

Matahari sudah meninggi. Namun, tak membuat dua insan itu beranjak dari tempat tidurnya.


Arie bersandar di dada bidang milik suaminya, dengan satu tangan Alex yang melingkar di lehernya.


Arie memainkan bulu halus yang tumbuh di lengan Alex, menggerakkannya naik turun dengan ujung jarinya. Sesekali Alex mencium pucuk rambut istrinya, dengan pandangan yang tak beralih dari laptop dia pangkuannya.


"Besok aku harus masuk kerja lagi," Seru Alex.


"Emh.. iya. Lembur lagi," tanya Arie.


"Kemungkinan iya, sampai Minggu depan."


"Hah.."


Arie menghela nafas panjang.


Baru aja di pake, udah mau di anggurin lagi, kenapa ga ngerti dikit sih Bang sipit. Aku kan butuh yang anget anget, masa ronda malam sendiri lagi.


Arie mengembungkan pipinya. Alex yang menoleh ke arah Arie, dilihat pipi istrinya yang sudah membulat, menandakan bahwa dia sedang merajuk.


Alex menutup laptopnya lalu menaruhnya di atas nakas di samping ranjangnya, lalu beralih ke Arie, Alex memeluk tubuh kecil Arie. merosot kan tubuhnya, membuat dirinya lebih rendah dari Arie, menengelamkan wajahnya di dada istrinya yang padat.


"Apa yang kau pikirkan, Hem," Alex mengadahkan wajahnya.


"Aku, hanya tidak suka sendiri," ketus Arie.


"Bagaimana kalau aku mengundurkan diri, dan 24 jam menemani mu di rumah,"ucap Alex sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Maaf saja Tuan, aku tidak mau punya suami pengangguran. Kau harus berkerja keras untuk menghidupi aku dan anakmu," tegas Arie.


"Kita tidak akan jatuh miskin kalau aku tidak berkerja, Sayang."


"Dan pinggang ku akan patah kalau kau terus di rumah," kilah Arie. padahal suka benget sih kalau uwuw uwuw tiap hari. tapi demi Money tahan dulu, hidup realistis, ga cuma butuh cinta butuh uang juga.


"Hah,.. tapi aku malas sekali, jika boleh memilih aku ingin mengurung diri di kamar bersamamu." Alex meringsek kedalam pelukan Arie.


"Sayang, kau harus semangat berkerja, kau tidak lihat perutku yabg semakin membesar, noh!" seru Arie sambil menunjuk perutnya yang sedikit membuncit.


"Bukankah kau tadi yang bilang, tidak suka sendirian? sekarang malah menyuruh ku pergi berkerja, cih plin plan sekali."


"Apa, plin plan, ya aku memang kesepian di sini, tapi aku juga tidak mau kau menganggur terus di rumah."

__ADS_1


"Tapi awas saja kalau kau berani bertemu dengan wanita lain, Kan aku cincang junior mu dan akan akau jadikan pakan ikan lele," ucap Arie sungguh sungguh.


Alex hanya bisa menelan ludahnya, mendapatkan tatapan membunuh dari Arie. Memikirkannya saja sudah membuat Alex bergidik ngeri.


Lalu bagaimana caranya agar dia tidak bertemu wanita lain, sedangkan sebagian besar karyawannya adalah wanita.Ah sepertinya Alex harus Menganti semua pegawainya menjadi laki laki.


"Tentu tidak sayang, aku janji tidak akan mengulangi kesalahannya yang sama," Alex menatap Arie dengan mengiba.


"Jangan hanya berjanji buktikan," tegas Arie.


"Baik akan akau buktikan."


Alex bangkit setengah duduk, lalu perlahan di naik ke atas tubuh Arie, mengungkung tubuh istri kecilnya. Mata Arie membulat sempurna.


"Eh.. apa apaan ini," ucap Arie mulai gugup.


"Emh, membuktikan kalau aku cuma milik mu," cakap Alex sambil menyusuri leher jenjang istrinya.


"Ga gini juga," ujar Arie yang sudah mengelinjang, hanya dengan sedikit sentuhan dari Alex.


"Alex, sudah aku capek," rengek Arie dengan manjanya.


Drrrt...drtt...


Ponsel Arie bergetar, membuyarkan konsentrasi Alex yang sedang memanjat gunung. Alex segera meraih ponsel Arie yang ada di atas meja, sebuah nama Adinata Sasongko terpampang jelas di layar ponsel yang menyala, segera Alex memberikannya kepada Arie.


"Haloo, Ayah," ucap Arie dengan menahan suaranya, karena Alex masih sibuk bermain di atas perutnya.


"....."


"Ehmm.. maaf Ayah aku tidak bisa, aku harus menemani suamiku ke sebuah acara." jawab Arie dengan wajah datar. Alex mengangkat wajahnya, memandang raut wajah Arie yang berubah.


"......"


"Maaf, lain kali aku janji akan kesana."


"......."


"Iya, baik."


"......"

__ADS_1


"Aku juga sayang Ayah," Arie mematikan ponselnya.


"Ada apa, Sayang? apa terjadi sesuatu?kenapa kau berbohong pada Ayah?" tanya Alex lembut.


"Tidak ada, aku hanya sedang tidak ingin ke sana." Wajah Arie terlihat berbeda. Namun, Alex bertanya lagi.


Maaf Ayah lebih baik sekarang kita tidak terlalu sering bertemu, itu akan lebih baik untuk ayah dan aku.


"Kenapa berhenti, lanjutkan lagi," titah Arie.


"Kau yakin?" Alex mengeryitkan dahinya.


"Aku tidak suka melakukan sesuatu setengah setengah, Tuan," Arie mengalungkan tangannya di tengkuk, membenamkan bibirnya. mulai mendominasi permainan siang itu.


*******


Rumah besar Sasongko.


Adinata sedang duduk di taman belakang rumahnya, memikirkan tentang kejadian di malam itu, tak ada cctv yang merekam jejak Arie sebelum dia meninggal rumah itu. semuanya terlihat normal, rekaman terakhir hanya memperlihatkan Arie yang keluar dari kamar lalu pergi ke gerbang depan. Sepertinya Adinata harus bertanya langsung kepada Arie.


Adinata mengambil ponsel lalu mengusap layar benda pipih itu untuk menemuka putrinya.


Dua nada sambung dering dan panggilan langsung di angkat.


"Halo, Sayang," ucap Adinata lembut, dia begitu merindukan suara putrinya.


"........"


"Bisakah kau menemani Ayah, Nak. Ayah sendirian, Arow dan istrinya sedang pergi mengunjungi orang tua Nana, dan akan kembali lusa, bisakah kau menemani Ayah Nak," harap Prie separuh baya itu.


"......"


"Ah, begitu rupanya. tidak masalah lain kali, kau harus mengunjungi ku, mengerti," ucap Adinata.


".…"


"Jaga dirimu, Ayah menyayangi mu."


"….…"


Adinata menutup telponnya. Ini bukan kali pertama Arie menolak mengunjunginya, tapi sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan Putri kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2