Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Tegar


__ADS_3

Arie meringis merasakan sakit pada perutnya, Arie mengusap perutnya dengan lembut, namun mata Arie menerawang menatap langit langit kamar tempatnya di rawat.


"Cobalah untuk tidak terlalu stress Nyonya," ujar dokter wanita paruh baya, Dokter yang sama yang memeriksa kandungan Arie selama ini.


Arie menoleh ke arah Dokter Eva, dengan bibirnya yang di paksa melengkung ke atas, Arie tersenyum pada Dokter yang menanganinya.


"Baik, Dokter,"


"Istirahatlah sebentar, setelah Anda merasa lebih baik, Anda boleh pulang," ujar Dokter Eva, Arie hanya mengangguk kecil, Dokter paruh baya itu pun berlalu keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan pasien Dokter," Tama langsung menodong Dokter Eva dengan pertanyaan, begitu melihatnya muncul dari balik pintu.


"Dia hanya. butuh istirahat, dan kalau bisa jangan biarkan dia tertekan, atau..."


"Atau apa Dokter," desak Tama.


"Mungkin bayinya tidak bisa bertahan," lanjut Dokter Eva.


Tama membulatkan matanya, Dia sungguh terkejut dengan kondisi Arie.


"Sepertinya Nyonya Arie sedang tidak baik baik saja, saya permisi dulu Dokter," ucap Dokter Eva, sebelum berlalu meninggalkan Tama yang berdiri mematung.


Apakah kau tidak bahagia bersamanya, aku kan melindungi mu, bahkan dari suamimu sendiri. gumam Tama dalam hati, tangannya mengepal menahan amarahnya.


Sementara itu Alex, mencari keberadaan istrinya, dia yakin dia melihat Seorang dokter sedang mengendongnya, Alex tak bisa melihat siapa yang membawa istrinya tapi dia bisa tau itu Arie, Arie sempat menoleh ke arahnya, wajahnya terlihat menahan sakit.


Flashback off.


"Vi, aku harus pulang sekarang,"


ujar Alex sambil bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Terima kasih Lex, kau masih perduli padaku," ucap Vivian sendu.


"Sudahlah, semua sudah terjadi, aku hanya bisa membantumu semampuku," Alex beranjak keluar dari ruangan tempat Vivian di rawat.


Baru saja Alex keluar, dari ruangan itu, dia melihat seorang dokter berjalan cepat dengan arah menungguinya, dokter muda yang sedang mengendong seorang wanita yang tengah meringis kesakitan, wanita itu menoleh ke arahnya.


"Arie," mata Alex membulat saat melihat wajah istrinya, baru saja Alex akan melangkah mengejar mereka, sebuah teriakan kesakitan muncul dari balik pintu.


"Aghh.. sakit," Vivian menjerit kesakitan sambil meremas perutnya. Alex pun kembali masuk ke bilik Vivian.


"Ada apa," ujar Alex panik.


"Perutku... perutku sakit," ujar Vivian sambil mengerang kesakitan.


Alex langsung memanggil Dokter untuk memeriksa Vivian, Vivian segera di bawa ke ruang operasi.


Alex yang menunggu di luar ruangan operasi, teringat akan Arie yang di bawa oleh dokter. Alex mencari keberadaan istrinya.


Flashback off.


"Keluarga Nona Vivian," panggil seorang perawat dari bagian administrasi. Alex pun segera memenuhi panggilan suster tersebut.


Dalam sebuah mobil, keheningan tercipta, Arie terus menatap ke arah luar jendela, sementara Tama fokus mengemudi, sebenarnya Tama ingin sekali bertanya, apa yang membuat Arie sedih, namun Tama takut itu akan kembali mengingatkan akan kesedihannya, dan bisa membuatnya kembali merasakan sakit.


"Kau mau makan sesuatu, tenang aku yang traktir," ujar Tama mencoba mencairkan suasana.


"Terima kasih, aku tidak lapar," ucap Atie sambil menggeleng pelan.


"Setidaknya makanlah sesuatu untuk bayimu, ini sudah hampir siang, aku juga kelaparan," imbuh Tama lagi.


"Kita makan Bakso ya,"

__ADS_1


"Terserah, Mas Tama saja," ucap Arie datar.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi berhenti di pinggir sebuah gerobak bakso yang mangkal di pinggir jalan. Tama membukakan pintu mobil untuk Arie.


"Mas Bakso jumbo, sama es jeruk dua," ujar Tama pada Abang penjual bakso.


Tak sampai 10 menit pesanan mereka sudah tersaji di meja, sebuah Bakso jumbo yang memenuhi mangkok, dengan kuah bening dan mie kuning di mangkok lainnya, aroma yang khas menyeruak bersama asap panas yang masih mengepul, buka hanya sendok dan garpu tapi Abang penjual juga menambahkan pisau kecil untuk alat tempur makan mereka.


Tama tampak mulai mengeksekusi bulatan besar di hadapannya, sementara Arie hanya mengaduk aduk kuah bakso, tanpa berniat memasukkannya ke dalam mulut.


"Ayo cepat makan, gimana kali kita lomba, siapa yang menang harus traktir," ujar Tama.


Arie menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Arie kamu ga bisa gini terus, ada kehidupan yang bergantung padamu, ada nyawa yang harus kamu lindungi, emang kenapa kalau Alex pergi, aku masih punya keluarga yang sayang sama aku, dan ga kalah kaya dari suami sipit menyebalkan itu. ucap dalam hati, Arie menguatkan dirinya sendiri.


Arie tahu dari tadi Tama berusaha menghiburnya, sungguh ironi, di sakiti suami dan di tolong oleh orang yang pernah di tolak cintanya.


"Oke sapa takut, ya kalah ga cum traktir tapi harus nuruti tiga permintaan dari si pemenang gimana?,"


"Emang om Jin, bisa minta tiga permintaan," Ucap Tama sambil terkekeh.


"Bilang aja takut,"


"Ga ya,"


"Ok, kalau begitu kita mulai, satu dua, tiga," Arie menghitung sendiri dengan cepat lalu segera melahap olahan daging yang ada di hadapannya.


"Eehh....curang ya," Tama tersenyum melihat Arie kembali seperti sedia kala.


Teruslah seperti ini, lirih Tama dalam hati sambil menatap Arie yang memakan bakso dengan lahap.

__ADS_1


__ADS_2