
"Tet....tet.. Sayur!!!" teriak tukang sayur keliling menjajakan dagangannya.
Tukang sayur itu biasanya mangkal di pos kamling, yang tak jauh rumah kontrakan Siska.
Siska menggeliatkan tubuhnya yang berat seperti tertindih sesuatu. Siska terkejut dan segera membuka matanya, sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Siska menutup mulutnya dengan tangan, matanya melotot terkejut. Siska menoleh ke belakang dan sedikit menengadah wajahnya, Siska pun segera membalikkan kepalanya lagi.
"Bukannya aku tidur di sofa semalam, kenapa ada di sini? kapan pindahnya? apa jangan-jangan." Siska menutup wajahnya yang sudah merah padam karena malu. membayangkan apa yang di lakukan Tama kepadanya semalam.
Tama tersenyum samar, mendengar gumaman lirih dari wanita yang tengah di pelukannya. Tama sudah bangun karena tubuh Siska yang terus bergerak sedari tadi.
"Aduh, gimana? aku malu," lirih Siska sambil mengelengkan kepalanya.
Tok.. tok..
"Mba..Mba Siska!" panggil seseorang dari luar kamar.
"Iya sebentar," sahut Siska. Dengan sekuat tenaga, Siska melepaskan tangan Kekar yang memeluk.
Akan tetapi semakin dia berusaha, semakin erat pula yang tangan itu melilitnya. Siska pun membalikkan tubuhnya, kini ia berhadapan dengan dada bidang yang di balut kemeja warna navy. Siska mendongakkan kepalanya, dilihatnya senyum tipis tersungging di bibir Tama.
"Mas Tama, sengaja ya," ujar Siska kesal.
Tama membuka matanya, dan mendaratkan mengecup bibir Siska yang di manyun kan. Mata Siska terbeliak mendapatkan serangan dadakan dari Tama.
"Jangan menggodaku, ini masih pagi," ucap Tama dengan suara seraknya. Tama semakin mempererat pelukannya, membuat tubuh keduanya menempel sempurna.
"Apanya yang? Siapa yang menggoda mu?" protes Siska, Janda itu pun berusaha melepaskan dirinya.
"Jangan bergerak terus, atau aku tidak bisa menjamin kau akan selamat pagi ini." ujar Tama dengan matanya yang terpejam.
"Yang benar saja," lirih Siska, Ia pun diam saat merasakan sesuatu yang keras di perutnya.
"Tok..tok.. Mba Siska!"
"Iya Bu sari, sebentar!" sahut Siska lagi.
"Mas lepaskan, aku mau keluar," pinta Siska. Kedua tangan Siska masih berusaha melepaskan tangan Tama.
"Memohonlah dengan benar."
"Dengan benar bagaimana? ini sudah benar," ucap Siska dengan memberengut.
"Dengan begini."
Tama menakupkan kedua tangannya di wajah Siska, menekan pipinya hingga membuat bibir Siska maju ke depan.
Cup
Tama mengecup lagi bibir ranum Siska. kemudian melepaskan tangannya.
"Dasar mesum!" Pekik Siska.
Tama terkekeh melihat Siska yang bangun dari tempat tidur, dengan muka cemberutnya.
Siska melangkah ke arah pintu, dan memutar handle pintu. Seorang wanita paruh baya telah berdiri di balik pintu menantinya.
"Bu sari maaf ya lama," ujar Siska dengan tersenyum.
"Iya Mba, ga papa. saya mau pamit pulang, Naoki sudah selesai saya mandikan dan sekarang dia sedang nonton kartun di kamar," Sari menjelaskan panjang lebar.
"Siska tolong buatkan aku kopi," ujar Tama yang turut bangun dan menyusul di belakang Siska.
"Lho Dokter!" seru Sari terkejut. Tama tersenyum menyapa Bu sari, yang masih melongo melihatnya.
"Eh, Mas!" Pekik Siska saat tangan Tama melingkar di bahunya.
"Apa," jawab Tama cuek.
"Malu di liat Bu sari," bisik Siska, tapi Tama acuh seolah tidak terjadi apa-apa. Siska hanya bisa menghela nafasnya.
"Bu, maaf Siska belum sempat cerita. Ini Mas Tama, suami Siska," ujar Siska menjelaskan.
"Wah ga nyangka, Mba Siska jadi istrinya Pak Dokter, selama ya Mba," Bu sari yang sempat terkejut pun, turut senang dan adanya seseorang yang menjaga Siska.
Bu sari juga seorang orang tua tunggal, jadi beliau mengerti bagaimana susahnya menjadi ibu sekaligus tulang punggung keluarga.
"Terima kasih Bu."
__ADS_1
Siska memeluk wanita paruh baya itu. Dia sudah menganggap Bu sari seperti ibu kandungnya sendiri.
"Kalau begitu saya pamit pulang Mba." ujar Sari setelah melepaskan pelukannya.
"Biar saya antar," Dengan senyum Tama menawarkan dirinya.
"Eh, ga usah pak Dokter, udah ada ojek langganan nunggu di depan," tolak Sari.
"Saya permisi," imbuh Sari.
"Terima kasih Bu, hati hati di jalan," ujar Siska.
"Iya Mba Siska, sama sama." Sari pun melangkahkan kakinya. Meninggalkan rumah pengantin baru itu.
"Sayang, aku tadi minta kopi lho," ujar tama mengingatkan.
Siska bergidik geli saat mendengar Tama memanggilnya dengan sebutan sayang. Siska melepaskan tangan Tama dari atas bahunya.
"Apaan sih Mas, sayang sayang, udah tua juga," ucap Siska sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Hey siapa, yang kau sebut tua!" pekik tama. Siska menoleh dan menjulurkan lidahnya.
Tama tersenyum tipis melihat wajah Siska yang memerah. Tama memutuskan untuk menemui Naoki di kamarnya.
Siska menepuk-nepuk kedua pipinya yang terasa hangat. Dia tersipu hanya dengan sebutan sayang dari seorang pria. Setelah menyalakan kompor dan meletakkan teko berisi air di atasnya, Siska pun mulai mengecek isi kulkasnya. Kosong, hanya ada satu butir telur yang tersisa di dalamnya. Siska memutuskan untuk pergi berbelanja ke tukang sayur.
Dengan membawa kopi panas untuk Tama, Siska dan meletakkannya di ruang tamu. Terdengar suara tawa Tama dan Naoki dari dalam kamar. Siska pun mengintip mereka dari pintu tak sepenuhnya tertutup. Naoki duduk di pangkuan Tama, Pria itu terus berceloteh memperagakan tayangan televisi yang mereka lihat. Hati Siska merasa hangat, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Mas Tama," lirih Siska memanggil.
Tama pun menoleh ke belakang, dan tersenyum. Naoki pun ikut menoleh, pria kecil itu turun dari pangkuan Tama dan berlari memeluk kaki ibunya.
"Mama," panggil Naoki dengan suara cadelnya.
"Iya sayang, uh jagoan Mama udah wangi." Siska mengangkat tubuh kecil Naoki, dan mencium pipi gembul nya.
"Papa ga di cium," rengek Tama manja.
"Papa belum wangi, masih bau bantal, hehehe." Canda Siska di ikuti anggukan kecil dari Naoki.
"Mas, ah.. apaan sih," ucap Siska gugup.
Tama tersenyum simpul, melihat wajah Siska yang memerah dan gugup, membuat Tama ingin terus menggodanya.
"Aku belum memberikan nafkah batin untuk mu, bukan," bisik Tama lagi, sambil menyelipkan rambut Siska ke belakang telinganya.
Tubuh Siska menegang, wajahnya semakin memerah, seperti kepiting rebus. Tama tersenyum lebar melihat reaksi Siska yang
Naoki memandang bingung pada kedua orang dewasa yang tengah mengapitnya.
"Mama Nao maem," rengek Naoki yabg merasakan demo cacing pita di perutnya.
"Eh iya, Mama masak dulu ya sayang."
Siska segera menurunkan Naoki dari gendongannya.
"Mas, aku belanja dulu di depannya, titip Naoki sebentar," tutur Siska dengan tertunduk malu.
"Jangan lama lama nanti aku kangen," goda Tama lagi.
"Gombal," Ujar Siska.
Siska pun melangkahkan kakinya keluar, menuju ke Tukang sayur keliling yang bisa mangkal tak jauh dari rumahnya. Tak butuh waktu lama Siska untuk sampai di sana, beberapa ibu ibu sudah nampak berkerumun untuk belanja di sana.
"Selamat pagi," sapa Siska dengan senyum manisnya.
"Pagi Mba," sahut Abang tukang sayur. sementara ibu ibu yang sedang belanja hanya memandangnya acuh.
"Enak ya cari jodoh sekarang, serba kilat," ujar seorang wanita paruh baya yang memakai hijab warna hijau.
"Iya Bu, tinggal masukin laki laki ke dalam rumah. udah deh nikah," seorang w lain menimpalinya.
Siska memilih untuk diam, dia tau mereka sedang membicarakan tentang dirinya. Telinga Siska sudah kebal dengan semua itu, biarlah mungkin butuh hiburan buat mereka. Siska hanya fokus memilih sayuran dan lauk pauk yang ada di gerobak sayur.
"Emang Bu, jaman sekarang semua serba instan, punya anak aja instan apalagi cuma laki laki, tinggal nyomot aja langsung bisa nikah," ucap seorang lagi sambil melirik tajam ke arah Siska.
"Ati ati Bu, nanti suaminya tergoda lho, janda jaman sekarang itu suka nempel sama suami orang."
__ADS_1
"Ibu Ibu, ayo belanjanya, biar saya hitung. nanti kesiangan masaknya kalo gosip terus," seloroh Abang sayur.
"Ih.. Abang ini, gosip apa. Kita tuh ngomongin fakta. kita sebagai istri kan musti waspada, jangan sampe suami kita kita ini kena pelet janda, apa lagi yang kerjanya keluyuran ga jelas tiap malam," ketus ibu berkerudung hijau itu lagi.
"Mba Siska, kok ga pernah kelihatan sih suaminya, jangan jangan udah di tinggal lagi ya?" tanya seorang ibu .
"Itu-
"Ya iya lah, kan nikahnya kepeksan, Nikah karena di gerebek," seorang ibu memotong sebelum Siska menjawab pertanyaan ibu yang bertanya kepadanya.
"Bukan begitu-
"Eh lihat, itu siapa ya? ganteng banget?" ujar seorang ibu
Siska hanya bisa tersenyum kecut mendengar ocehan pagi para ibu ibu rempong.
"Iya ganteng banget, wah mau deh kalau jadi cem cemannya. tapi kok bawa anak kecil, mudah mudahan dia Duda,
"Orang baru pindah mungkin, kok ga pernah lihat."
Siska yang penasaran pun akhirnya menoleh ke belakang, di lihatnya Tama sedang berjalan ke arahnya sambil mengendong Naoki.
"Ngapain sih nyusul segala," lirih Siska. Siska pun berbalik dan fokus memilih belanjaannya lagi.
Tama berjalan mendekat ke arah tukang sayur. Para ibu ibu semakin bersemangat membicarakannya. Tama pun berdiri di sebelah Siska, dengan Naoki yang anteng bermain dengannya mobil kecil, di gendongannya.
"Mas ,mau beli apa? sini saya bantu belanja," seorang ibu menawarkan bantuannya dan bergeser mendekat pada Tama.
"Anaknya lucu banget Mas, boleh kapan kapan kapan maem ke rumah saya. Saya masakan sepesial biak Masnya. Mas Duda kan, pasti ga ada yang masakin."
"Ke rumah saya saja, masakan saya lebih enak," sahut seorang ibu lain sambil tersenyum genit.
"Eh, tapi itukan anaknya Mba Siska, bisik seorang ibu.
"Eh, enak aja , maem rumah saya saja Mas
"Ampun ibu ibu, inget bapak di rumah," ujar Abang sayur mengingatkan lagi.
Tama hanya tersenyum mendengar ucapan ibu ibu labil itu.
"Mama, udah belanjanya, sini aku bawain," ucap Tama lembut, Dia menurunkan Naoki dari gendongannya dan mengandeng dengan satu tangannya. Semua ibu ibu itu terkejut mendengar panggilan Mama dari mulut pria tampan di hadapan mereka.
"Udah nih tinggal bayar," jawab Siska santai.
"Jadi berapa Bang?"
"Totalnya 45 ribu Mba," jawab Abang sayur, lalu mengemas belanjaan Siska dalam kantong keresek.
"Ini Bang, terima kasih," ujar Siska sambil menyodorkan lembaran berwarna merah
"Maaf mba, masih pagi belum ada kembalinya." Ujar tukang sayur itu sambil menyodorkan yang itu kembali pada Siska.
"Buat, Abang saja," sela Tama.
"Wah terima kasih Pak," ucap Abang sayur dengan mata berbinar.
"Ayo Ma, Papa udah laper nih pengen makan masakan Mama," ajak Tama lembut. Siska mengangguk kecil saat Tama merangkul bahunya.
"Ibu, Ibu, mari kami permisi dulu," pamit Siska pada para ibu yang sedang belanja. mereka hanya mengangguk dan tersenyum kaku.
Mereka berdua pun membalikkan badan, dan mulai melangkah pergi. Meninggalkan para ibu keppo yang mulai bergosip lagi.
"Kamu tuh, kenapa ga di gampar aja sih ibu ibu nyinyir tadi," ucap Tama dengan kesal.
"Apa sih Mas,ga usah emosi gitu, ga baik." tutur Siska.
"Emang Mas denger tadi mereka bilang apa?"
"Kalau aku ga denger berarti telingaku ga normal, mereka tadi ngomongin kamu kayak toa masjid tau ga," ucap Tama dengan bersungut-sungut.
Siska terkekeh melihat wajah Tama yang di tekuk masam, Siska mengelus lengan Tama untuk menenangkannya.
"Kamu beresin barang barang kamu, besok kita pindah ke rumahku saja," ketus Tama.
"Eh, kok tiba-tiba ngajak pindah, kan kontrakan itu juga belum lama mas, sayang kalau keluar gitu aja." protes Siska.
"Kamu kok ngeyel sih, dah lah nurut sama suami, besok pindah titik." tegas Tama.
__ADS_1