Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Memulai


__ADS_3

Arow duduk di kursi kebesarannya. Dia terlihat begitu frustasi dengan keputusan sepihak dari Alex, yang membatalkan semua kerjasama mereka.


"Mereka tidak mungkin melakukan ini bila kita tidak melakukan kesalahan. Coba kau cek semuanya semua staf," titah Arow dengan panik.


"Sudah Tuan, sebelum ada datang saya sudah memeriksa semuanya. Tidak ada kesalahan yang mereka lakukan, dan perusahaan kita juga bersih," jawab Haris, sang sekretaris dengan sama paniknya.


"Gila, ini benar benar gila bagaimana bisa mereka seenaknya saja membatalkan semua kontrakan secara sepihak seperti ini." Arow mengebrak meja kerjanya dengan keras.


"Sial!"


"Apa mereka tidak mengatakan sesuatu?" tanya Arow lagi.


"Tidak Tuan, tadi pagi mereka menelfon, dan mengatakan pembatalan kontrak dengan kita," jawab Haris.


Arow mencoba berfikir keras. Albied tidak mungkin membatalkan semua kontrak mereka jika memang tak ada kesalahan. Pasti ada sesuatu di balik ini semua.


Arow segera meraih ponselnya. Dia harus segera menanyakan ini semua pada adik iparnya itu. Bukannya di angkat teleponnya malah dengan sengaja di reject.


"Aaaghhh.. sial!"


Arow hampir saja membanting ponselnya ke lantai.


"Haris ikut aku, kita ke Albied sekarang. Aku harus menanyakannya langsung pada Alex."


"Baik Tuan."


Arow bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah pintu di ikuti Haris yang mengekor di belakangnya. Belum sempat Arow membuka pintu, seorang pria sudah menerobos masuk.


Pria itu hampir saja menabrak atasan, bila saja dia tidak sempat mengerem langkanya.


"Maaf Tuan," ucap Pria itu sembari mundur dua langkah.


"Apa yang membuatmu tergesa-gesa?" tanya Arow dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.


"Ada hal penting yang harus saya sampaikan Tuan," jawab pria itu dengan gugup.


"Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu!" sahut Arow.


"Perusahaan kita di telah di retas dan harga saham kita anjlok, Tuan," lirih Pria itu sambil menunduk, tak berani menatap wajah Arow.


"Apa saja yang kalian lakukan, heh! Aku tidak membayar mu hanya untuk duduk santai di sini dan membiarkan ulat menggerogoti perusahaan ku!" teriak Arow dengan penuh amarah.


Pria di hadapannya hanya bisa tertunduk diam. Ia sudah mencoba untuk melawan hacker itu semalaman tapi tetap saja dia tidak bisa mengalahkan hacker handal itu.


"Haris kau tetap di sini. Atasi ini semua, aku akan pergi ke Albied sendiri."


"Baik Tuan."

__ADS_1


Arow kembali melanjutkan langkahnya. Semua permasalahan ini membuat otak Arow hampir meledak.


Sementara di Albied. Alex tersenyum melihat hasil kerja hacker terhandal yang di sewanya. Ia pun segera mentransfer sejumlah uang untuk imbalannya.


Alex menghubungi istri tercintanya lewat telepon rumah. Ia ingin sekali berbagi kebahagiaan yang ia rasakan. Setelah dua kali nada sambung, akhirnya Arie mengangkat telepon darinya.


"Hallo, sayang," Suara lembut istrinya terdengar dari ujung telepon.


"Sayang, kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?" keluh Alex dengan manja


"Lama apa, cuma dua kali dering langsung aku angkat, lagian telpon ini kan tidak bisa aku bawa kemana mana, jadi harus aku yang datang," ujar Arie sebal.


"Iya..iya maaf. Aku terlalu kangen, makanya aku ingin segera mendengar suaramu."


"Gombal."


"Issh.. kok gombal sih, beneran. aku bahkan ingin memelukmu sekarang juga, aku sudah rindu aroma tubuhmu," Lirih Alex sambil memejamkan matanya membayangkan aroma yang menjadi candu untuknya.


"Sudah jangan bahas itu," tukas Arie, telinganya terasa panas mendengar ucapan Alex yang mulai menjurus.


Alex tergelak, dia bisa membayangkan wajah Arie yang merah karena malu.


Saat Alex sedang bercumbu dengan suara istrinya di telepon. Seorang satpam sedang berusaha menahan tamu yang mencoba menerobos masuk.


"Aku ingin bertemu dengan Alex," ujar Arie dengan tidak sabar.


"Apa Tuan sudah membuat janji," tanya sang resepsionis dengan ramah.


"Maaf, Anda harus membuat janji dulu sebelumnya," ucap Resepsionis itu berusaha setenang mungkin menghadapi Arow yang sudah mulai emosi.


Arow merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya, mencoba untuk menghubungi ponsel milik Alex. Tapi naas, hanya nada sibuk yang terdengar dari benda pipih yang di pegangnya.


"Sial!"


"Biarkan aku masuk, ini sangat mendesak." Ia pun mengayunkan kakinya hendak melangkah masuk.


Resepsionis itu melirik ke arah satpam di yang berdiri tidak jauh darinya, ia memberikan kode kecil dengan mengerakkan dagunya. Satpam itu mengangguk mengerti dan segera menghampiri tamu mereka.


"Maaf Tuan, anda tidak bisa masuk," tegas satpam itu, Satpam itu berdiri menghalangi jalan Arow.


"Apa maksudmu, aku aku adalah Kakak Ipar dari Bos kalian, berani kau menahanku di sini!" sentak Arow pada satpam di depannya. Arow hendak melangkah masuk akan tetapi tangannya di cekal oleh satpam.


"Lepaskan aku, aku harus bertemu dengan Alex sekarang. Cepat lepaskan!!"


"Maaf Tuan, kami hanya menjalankan tugas kami."


Arow sadar semua ini tidak akan selesai dengan kekerasan dan keras kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah, aku tidak akan memaksa masuk. Tapi tolong bisakah kau memberi tahu Alex bahwa aku ada di sini sekarang," ujar Arow sambil menatap penuh harap pada resepsionis. Resepsionis itu merasa iba pada Arie, dan akhirnya menyetujui keinginannya.


Resepsionis itu menelfon sekertaris sang Presdir mudanya.


"Pak Chiko, di bawah ada Tuan Arow dari. SS Grup yang ingin bertemu dengan Tuan Alex."


"Suruh dia menunggu sebentar, aku akan bertanya pada Tuan."


"Baik Pak," ucap resepsionis itu sebelum menutup telfonnya.


"Tuan Arow, silahkan Anda menunggu sebentar," ucap resepsionis.


Arow mengangguk kecil. Satpam itu pun melepas tangan yang di genggamannya.


Chiko segera ke ruangan Alex. Ia berdiri mengetuk pintu.


"Tuan," Panggil Chiko.


Karena tidak ada jawaban dari dalam Chiko pun memutuskan untuk di masuk. Chiko menghela nafasnya, pantas saja Alex tidak menjawab saat Ia memanggilnya dari luar. Ternyata Alex sedang terlibat percakapan absrud dey istrinya di telepon.


"Aku lebih suka saat kau di atas, aku bisa melihat wajahmu lebih jelas," Alex dengan bicara dengan lembut pada istrinya di seberang telepon.


Mendengar ucapan Tuannya itu sungguh membuat telinga Chiko panas.


"Tuan!" panggil Chiko dengan lantang.


Alex berdecak, lalu memutar kursinya. Ia melotot kepada Chiko yang berani mengusik kesenangannya.


"Maaf sayang, aku harus menutup telfonnya. Ada lalat jomblo yang sedang menguping," sindir Alex sambil melirik ke arah asistennya.


Chiko melongo saat Alex menyebutnya sebagai lalat


"Love you," ucap Alex sebelum menutup telfonnya.


"Apa kau tidak bisa mengetik pintu dulu, main nyelonong masuk aja. Atau jangan-jangan kau memang sengaja ingin menguping orang pacaran iya!" tuduh Alex pada asisten pribadinya.


Chiko hanya bisa diam dan mengumpat dalam hati.


'Apa boleh memukul orang yang menyebalkan seperti Tuan sedang ini. Ya Tuhan ternyata setelah menikah orang bisa berubah tuli dan bodoh. mengerikan!'


"Jangan hanya mengumpat dalam hatimu, cepat katakan ada urusan apa?"


"Emh anu Tuan, Tuan Arow ingin menemui Anda," jawab Chiko gelagapan.


"Bagus, aku memang sedang menunggu kedatangan Kakak iparku itu. Suruh dia masuk," ucap Alex tersenyum miring.


"Baik Tuan," Chiko pun menunduk hormat dan segera keluar dari ruangan Alex.

__ADS_1


"Mari berpesta bersama ku, Kakak ipar," gumam Alex dengan seringainya.


Mungkin hanya Nenek Arie saja yang berlaku tidak adil padanya. Akan tetapi Alex akan menghukum seluruh keluarganya. Karena mereka tidak bisa menjaga Arie dengan baik.


__ADS_2