Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Penolakan


__ADS_3

"Hai sayang...disini, " seorang wanita cantik melambaikan tangannya, memberikan isyarat pada seorang gadis yang celingukan agar berjalan ke arahnya, gadis itu tersenyum dan segera menghampiri meja wanita yang memanggilnya.


"Kaka sudah lama , maaf ya macet" Arie mendaratkan bokongnya di kursi, berhadapan dengan Nana.


"Mba" Nana memberikan kode pada pelayan cafe untuk mendekat.


"Saya mau pesan jus Alpukat satu, kalau kamu mau apa?"


"Samain aja Kak"


"Ya udah, kalau begitu jus Alpukat dua ya Mba"


"Baik, mohon di tunggu sebentar" pelayan itu pun berlalu pergi.


Nana terlihat gugup, berkali kali dia memeriksa ponselnya, seakan mengharapkan khabar dari seseorang.


"Kak Nana, ada apa mencari ku?" ucap Arie memecah keheningan.


"Eh..itu ga ada apa-apa , aku cuma pengen ketemu" jawab Nana gugup.


"Hemm... mencurigakan" Arie memicingkan matanya. Nana terlihat menunduk, dia meremas ujung bajunya.


"Silahkan ini pesanannya," pelayan itu meletakkan dua gelas jus alpukat di atas meja lalu, tersenyum dan berlalu pergi.


Nana masih tertunduk dia, Arie terus memperhatikannya sambil sesekali meminum jus Alpukatnya.


"Kak Nana ga di minum" ucap Arie sambil trtis memperhatikan muka Nana yang terlihat gelisah.


"Eh, iya" Nana gelagapan. dia segera meraih gelas yang ada di hadapannya.


"Kak Nana kenapa?, seperti ada yang di sembunyikan?" seloroh Arie


Nana mengambil nafas panjang, bersiap untuk mengatakan sesuatu.


"Arie, apa kamu bersedia untuk tes DNA," ucap Nana dengan wajah serius. mata Arie membulat mendengar ucapan Nana.


"Sebenarnya Arow ingin melakukan tes DNA denganmu, dia memintaku untuk mengambil sampel dari mu secara diam diam, tapi...aku tidak tega padamu," Nana tertunduk lesu.


Nana memang bukan jenis orang yang bisa berbohong, atau melakukan sesuatu tanpa izin orang yang bersangkutan, dia merasa bersalah kepada Arie bahkan sebelum dia mengambil helai rambutnya.


"Atas dasar apa Tuan Arow ingin melakukan hal itu" ucap Arie datar, entah Arie merasa ada sesuatu yang membuat sesak.


Bukankah ini bagus kalau Arow benar keluarganya, dia tidak akan sendirian lagi dia akan punya keluarga, tapi bukan itu yang ia rasakan, ada yang tak bisa ia jabarkan, sesuatu yang membuat dia merasa marah.


"Mata mu, mirip dengan ibunya dan dia berkata kalau hatinya mengatakan kau adalah adiknya yang selamat ini dia cari"


"Maaf saya tidak bisa melakukannya, jika Tuan Arow mau dia bisa bertemu dengan saya sendiri, maka saya akan mempertimbangkannya lagi" Arie bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


Nana duduk terpaku, dia merasa gagal membantu suaminya, dia menghela nafas panjang, mendongakkan kepalanya menatap atap cafe.


drrrt...


Ponsel miliknya bergetar, Nana segera merogoh tas kecil, dan mengeluarkan benda pipih dari sana menatapnya sejenak, sebelum dia menggeser ujung jarinya di layar ponselnya.

__ADS_1


"Haloo sayang" terdengar suara seorang pria memanggilnya dengan lembut.


"Hiks..hiks... maaf, aku mengacaukannya" air mata Nana luruh seketika.


"Menapa kau menangis, tidak apa apa, apa dia mengatakan sesuatu"ucap Arow di ujung telepon.


"Arie bilang, dia akan mempertimbangkannya, bila kau mau bertemu dengannya" lirih Nana.


"Aku akan menjemputmu, tunggu aku"


"Baiklah" Seketika senyum Nana merekah, hatinya berbunga-bunga karena sebentar lagi akan bertemu suaminya. Bukannya tiap hari ketemu ya 😅.


*****


Semerbak harum bunga sekar dan bunga kamboja yang jatuh di terpa semilirnya angin, menemani seorang gadis yang duduk di samping sebuah makam. Arie menatap menatap makam itu dengan sendu sesekali dia mengusap ukiran nama yang ada di atas gundukan tanah.


Ada kekecewaan di hatinya yang ingin ia bagi tapi tak tau kemana iya harus berkeluh-kesah, setelah satu jam duduk bersila di tanah, akhirnya dia memutuskan untuk pergi.


"Mbok aku muleh sek ya"[mbok aku pulang dulu] Arie mengelus lembut batu nisan di hadapannya, dengan sedikit usaha dia pun bangkit dari duduknya, sedikit mengeliat meregangkan kakinya yang terasa kesemutan.


tok... tok....tok...


Ipul yang terbang ke pulau kapuk, terkejut saat seseorang mengetuk kaca mobilnya, dengan segera dia membuka pintu mobil, dan mempersilakan Nyonya nya masuk.


"Angles pul" [ nyenyak pul] ucap Arie setengah menyindir.


"Hehehe... lumayan Mba Boss" Ipul menyengir menapakkan gigi di mukanya yang masih bau bantal.


Arie menatap jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. waktu sudah menunjukkan pukul 11. Arie menghirup nafas panjang. mencoba menetralkan otaknya.


"Siap"


Mobil pun mulai melaju meninggalkan TPU, beralih ke jalanan yang padat merayap karena memang sudah jam makan siang, setelah beberapa lama mobil pun berhenti di sebuah warung lesehan pinggir jalan.


Arie pun segera turun dengan Ipul mengekor di belakangnya.


"Pak pesen, bebek utuh, ayam satu, ambe lele goreng, minum jeruk anget satu, awakmu pesen opo Pul"[kamu pesan apa Pul].


"Aku ayam ae satu, es teh"


"Pak aku lalapan e double" imbuh Arie sebelum seorang pria berlalu pergi.


Tak berapa lama makanan yang mereka pesan datang, tanpa aba aba Arie langsung melahap semua makanan di hadapannya, dia terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya yang masih penuh, kalap seperti orang yang sebulan tidak ketemu nasi, Ipul yang melihat Boss perempuannya makan. sampe bergidik ngeri, dalam hati Ipul berdoa semoga di jauhkan dari jodoh yang rakus, bisa jebol dompetnya kalau punya istri kayak Arie. ponsel Arie terus berdering, dengan terpaksa Arie menjeda ritual makannya.


"Wei... ada apa" Arie bicara tanpa berhenti mengunyah, dia hanya meletakkan benda pipih di meja dan menyalakan speakernya.


"Jam berapa sekarang, kenapa kau belum ke kantor?" seorang pria bicara dengan nada kesal di ujung telepon.


"Kenapa aku harus ke kantor" jawab Arie santai.


"Makan siangku.... apa mau aku potong lagi uang bulanan mu" pekik Alex di ujung telepon.


"Astaga" Arie menepuk jidatnya dengan tangan yang masih belepotan sambal.

__ADS_1


"Ahhhh,... panas... "pekik Arie seketika, matanya terasa panas karena tersentuh tangannya.


"Arie... halo.. Arie, apa yang terjadi Arie" tak ada jawaban, Alex mendengar suara orang yang bicara dengan bahasa yang tidak iya mengerti.


"lho.. Mba bosss, pak... pak... Banyu pak" Ipul berteriak pada pemilik warung, pria itu pun dengan tergesa-gesa membawa se ember Arie dan kau bersih.


Arie segera mencuci tangan, setelah itu dia membersihkan mata dan keningnya dari sisa sambal yang menempel, mata kanan Arie tampak merah.


"Mba boss..Mba boss onok ae pean Iki" [Mba Boss...Mba Boss, anda ada ada saja] Ipul tertawa cekikikan melihat Arie. Arie mengembungkan pipinya.


"Ck... ojo guyu ae," [ck.. jangan tertawa terus], ujar Arie kesal, Ipul pun perlahan mereda tawanya.


Setelah memesankan makanan untuk Alex, Arie pun di antara supir kesayangannya ke kantor.


******


Dalam ruangannya Alex Mondar-mandir sejak sambungan teleponnya tiba-tiba terputus.


"Permisi"


Langkah Alex di hentikan oleh suara seseorang yang muncul dari pintu. dengan tatapan marah Alex menghampirinya, Alex menarik tangannya dan mendudukkannya dengan kasar di sofa.


"Jam berapa ini, apa kau mau membuat aku mati kelaparan"


"Kau ga akan mati kalau telat satu jam makan siang" lirih Arie hampir tak terdengar. sambil menundukkan wajahnya.


"Apa..apa kau bilang, o... sudah berani kau rupanya" Alex masih berdiri di hadapan Arie sambil melipat kedua tangannya.


"Eh... ga ga .aku ga berani" Arie segera mendongakkan wajahnya, dan mengoyangkan ke lima jarinya.


Alex mendekat memperhatikan wajah Arie intens, dia mencapit dagu Arie mendongak Wajahnya.


"Apa yang terjadi" kali ini suara Alex terdengar lebih lembut.


"Eh.. ga papa, hanya kemasukan debu" jawab Arie asal. Alex melangkah ke meja kerjanya mengambil sesuatu dari laci kerjanya.


"Lihat ke atas" Alex berdiri di hadapan Arie, Arie pun menurut dan mengadahkan wajahnya.


tes


Alex meneteskan obat mata pada bola mata Arie yang memerah, refleks Arie menutup matanya setelah cairan bening itu meleleh di bola matanya, dengan lembut Alex meniup kelopak mata Arie.


"Sudah"


"Eh... sudah kenapa sebentar sekali"ucap Arie kecewa.


pletak..


"Jangan mikir yang aneh aneh , cepat suapi aku," Alex menghempaskan tubuhnya di sebelah Arie.


"Suapi, pake tangan ya hehehehe" Arie menyengir kuda.


"Pake tangan, ga..ga.. tangan mu kotor nanti aku bisa sakit"

__ADS_1


"Ga lah, aku sudah di vaksin kok tenang aja" Arie mengerakkan kedua Alisnya naik turun.


__ADS_2