
Alex duduk berlutut di hadapan kakeknya, sambil menarik kedua telinganya. Layaknya anak kecil yang berbuat kesalahan, dan mendapatkan hukuman.
"Kau tahu kesalahanmu," ucap Kakek Wu dengan tatapan tajam.
"Apa maksud Kakek, aku tidak melakukan apapun," ucap Alex.
Bingung dengan dengan apa yang di perbuat Kakeknya yang tiba tiba menyuruhnya berlutut di hadapannya, meninggalkan sang istri yang sedang merajuk di dalam kamarnya.
"Apa kau tau Cucu kesayangan kakek menolak makanan yang Kakek berikan?" ucap Kakek Wu, sambil melipat kedua tangannya.
Pria yang sudah berumur itu masih tampak gagah duduk di depan Cucu satu satunya yang sedang ia hukum.
"Aku tidak menolak, bahkan Kakek tidak menawari aku makan dari tadi." jawab Alex santai.
"Cih, Kakek tidak sedang membicarakan mu, yang Kakek maksud Cucu kakek, Arie," s
"Cih.. aku cucu kandungmu apa kakek lupa," gumam Alex lirih.
"Apa yang kau katakan, jangan bergumam bicara yang benar!"
"Aku Juga Cucu mu kek, apa kau lupa!" ucap Alex dengan kesal.
"Apa kau pikir aku pikun, aku tidak lupa, hanya saja aku malas mengatakannya," ucap Kakek Wu santai.
"Dasar Kakek Durjana."
"Dasar cucu tidak berakhlak," ucap Kakek Wu tak mau kalah.
"Ah sudah aku malas berdebat dengan mu, kembali ke intinya, apa kau tau Arie tidak makan sejak tadi pagi?"
"Apa?" pekik Alex.
"Kenapa Kakek membiarkan istriku kelaparan?" ujar Alex sambil melepaskan tangannya dari telinga.
"Apa kau gila, Kakek sudah berusaha untuk membujuknya, tapi dia menolak dan bilang akan makan setelah kau pulang," ucap Kakek Wu sambil memijit pelipisnya.
Alex segera bangkit, membalikkan badannya dan melangkah keluar ruangan itu.
"Hey!, mau kemana kau?" tanya Kakek Wu.
"Tentu saja menemui istriku," ketus Alex.
"Tunggu," cegah Kakek Wu.
Alex menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang. Kakek Wu mengenggam kunci cadangan di tangannya.
__ADS_1
"Jangan merusak pintu, gunakan otakmu," sindir kakek Wu.
Alex hanya bisa menghela nafasnya, kenapa tidak dari tadi Kakek Wu memberikan kunci itu padanya. Alex segera melangkah kakinya cepat, merasa khawatir dengan keadaan istri dan calon anaknya.
Ceklek
Dengan perlahan Alex memutar handle pintu, dengan langkah pelan Alex masuk ke dalam kamar. perlahan Alex naik ke atas ranjang
Arie yang hanya pura pura memejamkan matanya sambil berbaring miring memunggungi pintu, dapat merasakan ranjangnya yang bergerak saat seseorang naik di belakangnya.
Arie menarik dirinya menjauh saat tangan Alex terulur hendak memeluknya, Alex beringsut mendekat, Arie kembali geser tubuhnya, Alex kembali mendekat.
Arie berdecak kesal, tubuh Arie sudah ada di pinggir ranjang, kalau dia bergeser lagi, bisa di pastikan akan jatuh. Arie bangkit dengan kesal dan berpindah duduk di sofa, Alex pun bergegas mengikutinya dan duduk di sebelahnya.
"Apa sih, jangan ikuti aku," bentak Arie kesal.
"Sayang, apa kau tidak lapar?,kau ingin makan sesuatu?" bujuk Alex.
"Aku sedang kesal, ga usah tanya tanya," ketus Arie, wanita hamil itu beranjak dari duduknya namun tangannya di tahan oleh Alex.
Alex menarik lembut tangan Arie, membuat Bumil itu duduk di pangkuannya, Alex melingkarkan tangannya kekarnya di pinggang Arie yang sudah melebar, menopang kan dagunya di bahu Arie.
"Sayang jangan seperti ini, aku mohon,Aku sangat mencintaimu, aku tidak tahan melihat mu marah seperti ini," bisik Alex di telinga Arie.
"Apa kau tau apa yang membuatku marah," ucap Arie sambil memainkan jemari Alex.
"Tuh kan diam," Arie meronta berusaha turun dari pangkuan suaminya, tapi tenaganya kalah kuat. Akhirnya Arie hanya bisa berdecak kesal dan tetap nangkring di kedua paha Alex.
"katakan apa yang membuatmu marah, hemh," ucap Alex lembut.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku." Lirih Arie, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku tidak-."
"Apa kau mendengar apa yang aku ucapkan di ruang tamu?" tanya Alex, dan di jawab dengan anggukan kecil oleh Arie.
"Aku merasa tidak pantas untukmu? kau terus saja menyembunyikan dukamu. Aku istrimu, aku tidak hanya ingin berbagi suka denganmu, aku ingin berbagi segalanya, senyummu,tawamu, tangismu, sakit mu, katakan apa aku tidak pantas untuk itu?, apa aku terlalu lemah untuk berada di sisimu?" sentak Arie.
Tubuh Arie mulai bergetar, hah entah karena efek kehamilan atau bukan, yang jelas Arie merasa belakang ini air matanya lebih mudah untuk jatuh, walaupun dia mencoba untuk menahannya.
"Hey, Sayang bukan seperti itu, apa yang kau bicarakan, tidak ada yang pantas untuk berdiri di sampingku selain Vakum cleaner cantik ini," ucap Alex menggoda.
Alex menggeser posisi duduk Arie, hingga dia bisa melihat wajah cantik istrinya yang sedang terisak, dengan lembut Alex mengusap air mata yang membasahi pipinya chubby Arie, lalu mengecup bibirnya lembut. Arie masih memberengut dengan air matanya yang mulai surut.
"Apa sih," Arie mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Maaf, lagi lagi aku membuatmu menangis," ucap Alex sendu.
Alex menarik nafas dalam-dalam sebelum dia memulai kisahnya.
"Waktu itu aku berusia 8 tahun, anak laki-laki yang nakal yang sangat suka menggoda Mommy nya." Alex memulai bercerita dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Arie melihat jelas binar kebahagiaan di mata Alex.
"Anak itu begitu nakal, dia suka sekali membuat orang tuanya khawatir. Suatu siang saat anak itu bermain di halaman rumah ini, dia melihat seekor anak anjing yang bermain di seberang jalan, anak itu pergi menyelinap keluar pagar .Saat anak itu sibuk bermain dengan anjing itu tiba-tiba sebuah mobil kehilangan kendali dan oleng ke luar jalur, anak itu membeku melihat mobil yang menghampirinya, tapi kemudian anak itu di dorong menjauh. Anak itu selamat tapi, seorang wanita yang menyelamatkannya meninggal di tempat. Tubuhnya terpental saat mobil itu menabraknya, dengan berlumuran darah wanita itu masih sempat tersenyum pada anak nakal itu," Alex menarik nafas berusaha menguasai dirinya, tangannya sudah gemetar saat dia memulai ceritanya.
Arie merengkuh Alex dalam pelukannya, mata Alex terpejam menikmati kehangatan dari istrinya. Arie mengelus punggung Alex dengan lembut.
"Maaf," lirih Arie.
"Kenapa kau minta maaf, aku merasa lega bisa menceritakan semua ini pada seseorang." Alex menengadahkan wajahnya, memandang wajah istrinya yang sedang duduk di pangkuannya.
"Alex boleh aku jujur?" tanya Arie dengan.
"Apa kau juga menyembunyikan sesuatu?" cerca Alex.
"Bukan, bukan begitu."
"Terus?"
"Waktu di ruang tamu tadi, aku kira tadi kau mengucapkan Mon bukan Mom." Ujar Arie sambil menyengir kuda.
"Astaga, Sayang apa kehamilan mu mempengaruhi kualitas pendengaran mu," ucap Alex sambil mencubit gemas pipi Arie.
"Issh... sakit," keluh Arie sambil mengusap kedua pipinya.
"Kau bergumam begitu lirih, kan juga beda sedikit Mon dan Mom," elak Arie.
"Kau membuatku bercerita tentang masa laluku yang pahit tanpa sebab," ucap Alex berpura-pura sedih.
"Maaf, habisnya aku juga tak tahan melihatmu bertingkah aneh saat kau di rumah ini, aku tau ada beban yang kau sembunyikan," Arie mengelus lembut rambut suami sipitnya, Alex tersenyum lebar, ternyata istrinya begitu peka dengan apa yang dirasakannya.
"Itu karena rumah ini mengingatkan aku pada kejadian itu, Sayang," jawab Alex.
"Kalau begitu mari kita buat kenangan manis di rumah ini, kau setuju," tanya Arie dan di jawab dengan anggukan cepat oleh Alex.
"Kau tau, sepertinya kau harus kasih tau Mak Author, ganti judul part ini, jadi salah dengar," ucap Alex sambil terkekeh.
"Itu urusan dia mau kasih judul apa, yang lebih penting sekarang aku lapar, sangat lapar," ujar Arie penuh penekanan.
"Astaga! maaf, aku lupa,ayo kita makan di luar, aku akan memanjakan Mama dan Junior," ucap Alex sambil mengelus perut Arie.
__ADS_1
"Aku ingin makan sate Papa," ucap Arie menirukan suara anak kecil.
"Ok let's go."