Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Cucu sah


__ADS_3

Nana dan Arie baru saja keluar dari toilet, saat seorang anak kecil berlarian melewati mereka.


Bruugh..


"Kak Nana," Pekik Arie.


Nana jatuh terduduk saat seorang pria menabraknya.


"Maaf saya benar benar minta maaf, saya harus mengejar anak saya." Pria itu menolong Nana berdiri, kemudian dia segera berlari menyusul anak kecil yang tadi lari melewati mereka.


"Hey, lain kali kalau lari liat liat dong," Teriak Arie pada punggung Pria yang berlalu.


"Ssshh ... Arie tolong," Nana mendesah kesakitan, sambil memegangi perutnya.


"Astaga Kak, bagaimana ini!" Arie bertambah panik saat melihat darah dan cairan bening yang meleleh di paha Nana.


"Tolong,... tolong...!!" teriak Arie.


Beberapa pelayan kafe pun datang menolong mereka. Melihat orang-orang berkerumun, Arow yang sedang mencari keberadaan istri dan Adiknya pun mendekat.


"Astaga, Sayang apa yang terjadi padamu," ucap Arow panik.


"Sayang."


"Sudah diam." sentak Arow Arie mengendong tubuh istrinya dan segera bergegas berjalan menuju mobilnya.


Arie dengan cemas mengekor di belakang Arow.


"Kak, kita pake mobilku saja," ujar Arie dijawab anggukan oleh Arow.


Ipul yang melihat Arie panik saat menuju mobil pun segera membuka mobilnya, dan mempersilahkan ketiga orang masuk.


"Cepet, kita ke rumah sakit," ujat Arie dengan panik.


"Iya Mba Boss."


Ipul pun segera menancap gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Arie tampak begitu cemas, dia mengenggam erat tangan Nana, sambil terus mengelus punggung istrinya.


"Bertahanlah sebentar lagi kita sampai," ucap Arow menenangkan istrinya, padahal dia sendiri sudah panik tidak karuan.


Nana mengigit bibir bawahnya, merasakan sakit dan mules yang hebat secara bersamaan. Arie matanya leleh dengan anggun dari sudut matanya. Arie yang melihat itu pun tak kalah cemasnya. Membayangkan betapa hebatnya rasa sakit yang di alami Kakak iparnya saat ini.


Rumah sakit.


Nana terbaring di atas brankar yang di dorong masuk ke dalam UGD.


"Maaf sebaiknya Anda, menunggu di luar," ucap seorang perawat.


"Tapi dia istri saya," pekik Arow.

__ADS_1


"Iya saya faham, tapi saya mohon biarkan kami melakukan tugas, saya mohon Anda bisa mengerti." tegas perawat itu.


Arow pun akhirnya pasrah dan terduduk lemas di lantai.


"Kak," Arie membantu Arow berdiri untuk duduk di atas kursi tunggu.


"Semua akan baik-baik saja, Kaka Nana wanita yang kuat," Imbuh Arie mengelus lengan Arow, mencoba menyalurkan energi positif untuknya.


"Apa yang terjadi sebenarnya? bukankah tadi kalian baik baik saja?" tanya Arow dengan tertunduk lemas.


"Tadi, kami tadi baru keluar dari toilet dan ada seorang pria yang menabrak Kak Nana, dan...dan... maafkan aku Kak, seharusnya aku lebih berhati-hati."ucap Arie mulai terisak.


Arow menghela nafas.


"Ini bukan salahmu, sudah jangan menangis. Doakan Kakakmu baik baik sajam," tutur Arow. Arie pun mengangguk kecil sambil menghapus air matanya.


"Suami dari Nyonya Nana!" panggil seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Iya," Ucap Arow seraya bangkit dari duduknya.


"Mari ikut saya, Dokter ingin bicara dengan Anda."


Arow pun mengekor di belakang perawat yang masuk ke dalam ruang UGD.


Arie duduk terdiam di kursi yang berjajar di lorong rumah sakit. Seorang pria berlari mendekat ke arah Arie dengan raut wajahnya yang cemas.


"Hem.. syukurlah," ucap Alex lega,Ia merengkuh tubuh Arie dalam pelukannya.


"Kak Nana, dia ada ruangan itu," lirih Arie sambil menunjuk pintu UGD.


"Semua akan baik-baik saja, tenanglah," tutur Alex lembut, sambil mengusap punggung istrinya.


"Dari mana kau tau aku ada di sini?" Arie melerai pelukan mereka.


"Supir kesayangan mu yang menelfon ku."


Arie pun Ber "O" ria.


Arow keluar dari ruangan UGD dengan wajah yang lesu. Pasangan suami istri itu pun menyambut Kakak mereka, lalu mengajaknya duduk bersama.


"Bagaimana kak?" tanya Arie cemas.


"Nana harus di operasi, air ketubannya tidak cukup untuk melahirkan normal." ujar Arow menjelaskan.


"Tenanglah Kak, semua akan baik-baik saja," ujar Arie mencoba menguatkan kakaknya. meskipun dia sendiri merasa gelisah. Alex menepuk pundak Arow pelan.


"Apa Kakak sudah memberi tahu Ayah?" tanya Arie.


"Belum, tapi Nenek akan segera ke mari," jawab Arow, sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

__ADS_1


Deg


Nenek akan ke mari, sebaiknya aku segera pergi dari sini. gumam Arie dalam hati.


"Aku akan membelikan minum untuk kalian," ujar Alex lalu melangkah menjauh. Arie pun tak sempat untuk mencegahnya pergi.


"Tuan Arow," panggil seorang perawat.


"Iya," sahut Arow seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Tolong ikut dengan saya, untuk menyelesaikan administrasi pasien."


"Baik, Arie aku tinggal dulu sebentar," pamit Arie sebelum berjalan mengikuti perawat yang memanggilnya. Arie mengangguk kecil pada punggung Arow yang berlalu.


Arie duduk sendirian lagi. kali ini dengan rasa takut yang menyergapnya.


"Kenapa Alex lama sekali," lirih Arie sambil memainkan jari-jarinya dengan kasar, ia sungguh tidak ingin sendirian saat ini.


Tap... tap..


Terdengar jelas suara melangkah mendekatinya. Arie menoleh dengan sumringah. Namun, seketika wajahnya berubah pias, manakala melihat seorang wanita yang sedang berjalan ke arahnya. Arie menelan ludahnya kasar. Rasanya dia ingin segera pergi dari tempat itu. Namun, kakinya terasa berat, seakan lengket dengan lantai yang sedang di pijaknya. Langkah itu semakin dekat membuat Arie beringsut mundur, keringat dingin sudah bergulir memenuhi kening. Wanita hamil itu hanya menunduk menatap lantai.


Arie mendongakkan kepalanya, saat melihat sepasang kaki yang berdiri di hadapannya.


PLAAKKK


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Ibu hamil itu. Arie memegang bekas lima jari yang baru saja mendarat di kulitnya yang mulus. Wanita yang di tak lagi muda itu menatap tajam pada Arie. Sorot matanya penuh dengan kebencian.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu , kalau sampai terjadi sesuatu pada Cucuku," bentak Nenek itu. Arie tersenyum kecut mendengarnya.


"Cucu sah ku," ucap Nenek Puspa penuh penekanan.


Apa maksud Nenek mengatakan itu, apa kah aku Cucunya buang tidak sah?. Lirih Arie dalam. hatinya.


"Aku sudah memperingatkan mu, jauhi keluarga Sasongko, kau bukan bagian dari kami. Kau sama seperti Ibumu, hanya benalu pembawa sial," imbuhnya lagi.


Dada Arie bergemuruh saat mendengar Ibunya kembali di cela seperti itu. Meskipun Arie belum pernah bertemu dengan Ibunya. Akan tetapi, Arie yakin beliau adalah orang yang baik.


"Kalau begitu, suruh Cucu Anda untuk tidak menghubungi saya lagi, dan jangan kira saya bangga menjadi bagian dari keluarga Anda. Bahkan saya tidak sudi untuk mendaftar menjadi cucu Anda," ucap Arie kesal.


"Dan ingat Nyonya, Orang yang Anda sebut Benalu pembawa sial adalah ibu saya, dan dia meninggal karena Anda!" sentak Arie.


Arie yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Akhirnya meluapkan rasa kesal di hatinya. Bukan dia ingin berlaku tidak sopan pada Neneknya sendiri. Akan tetapi apakah pantas seorang ibu, berkata seperti itu pada menantu yang sudah di siksanya.


"Beraninya kau!" tangan keriput itu sudah terangkat ke udara. Namun, di tahan oleh tangan kekar Alex. Wanita itu menatap tajam kepada Alex.


"Jauhkan tangan Anda dari Istri saya," ujar Alex, lalu menghempaskan tangan tua itu.


Alex meraih tangan Arie, dan segera menariknya pergi menjauh dari tempat mereka berdiri tadi.

__ADS_1


__ADS_2