
"Apa ayah percaya dengan apa yang di katakan nenek?" tanya Arow dengan amarahnya yang masih tersisa.
"Sudahlah, kau tau bagaimana sifat nenekmu itu. Selama nenekmu tidak membuat Arie terluka."
Adinata menghirup nafas dalam sebelum menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Ia menengadahkan kepalanya, dengan memejamkan mata Adinata menghirup kuat oksigen ke dalam paru-parunya.
Dadanya terasa sangat berat. Ibunya, perusahaan yang kini sudah hilang dari tangannya. Anaknya yang terancam menduda dan anak bungsu yang bahkan belum sempat ia bahagiakan.
Tiba-tiba terlintas dalam benaknya saat pertama kali ia bertemu dengan putri kecilnya itu. Bagaimana sang putri memeluk dah terus memanggilnya ayah. Ia juga mengenang di mana ia menikmati makanan yang di masak oleh Arie di rumah besar itu. Tersungging senyuman kecil di wajah Pria paruh baya itu.
Hatinya terasa tercubit. Terlalu sedikit kenangan yang mereka buat, seharusnya ia lebih banyak meluangkan waktu bersama putrinya.
"Apa kau tahu bagaimana kabar Adikmu?" tanya Adinata sambil menerawang ke arah atap ruangan itu.
"Aku sama sekali tidak tahu ayah. Apa ayah merindukannya? Aku sangat merindukan anak cerewet itu," ujar Arie menatap layar ponselnya. yang menampilkan gambar Arie dan istrinya dimana terakhir kali mereka menghabiskan waktu bersama.
"Dia seperti di telan bumi. Tidak ada satupun kabar darinya. Ponselnya mati, dia juga pindah rumah dan suaminya pun tak mau buka mulut sama sekali saat aku bertanya tentang adik kecilku itu," ucap Arow dengan bersungut-sungut.
Adinata menurunkan kepalanya. Ia menatap Arow tersenyum kecil mendengar ucapan anaknya yang terkesan cemburu pada adik iparnya itu.
"Nana dan Byaz bagaimana keadaan mereka? Ayah sangat merindukan bocah kecil itu," ucap Adinata sendu.
"Aku juga. Mereka baik baik saja." Arow menunduk dalam, tangan meremas kuat ponsel yang ada di genggamannya. Marah, sedih, kecewa dan rindu bercampur jadi satu dalam dadanya yang bergemuruh.
Drrrt.. drrt..
Ponsel Adinata bergetar. Sebuah nomer tidak di kenal mengirimkan pesan singkat untuknya.
Saya harap tuan Adinata sekeluarga bisa datang ke perjamuan makan malam. weekend ini di hotel xx.
Adinata mengeryitkan keningnya pesan itu. Pria itu mencoba menebak identitas orang yang pengirim pesan kepadanya.
"Ada apa, Yah?" tanya Arow, ia heran melihat wajah ayahnya yang kebingungan.
"Ayah juga tidak tahu. Seseorang-
Belum selesai ia bicara, ponselnya berdering. Kali ini nomer yang dia kenal tertera di layar. Ia pun segera menggeser logo hijau di layar ponselnya.
"Halo Mr. Huang."
"Halo, tuan Adinata. Apakah anda sudah menerima pesan dari tuan saya?"
"Pesan?"
"Iya tuan, beberapa saat lalu. Tuan saya meminta nomer telpon anda, dan dia mengatakan ingin menghubungi anda. Dia jarang sekali menelfon seseorang jadi saya menebak kalau tuan saya mengirimkan pesan pada anda," ucap Huang menjelaskan dari seberang.
"Astaga, jadi orang yang baru saja mengirimkan pesan untuk saya adalah tuan yang anda maksud!" seru Adinata dengan mata berbinar.
Seakan melihat air di gersangnya gurun sahara. Berita ini merupakan angin segar bagi Adinata. Seseorang yang ingin di cari Adinata, sekarang malah menghubungi dirinya terlebih dahulu.
"Mungkin, kalau boleh saya tahu apa isi dari pesan itu tuan?"
"Dia mengundang saya dan keluarga saya, untuk jamuan makan malam" jawab Adinata singkat.
"Wah... anda sungguh beruntung. Anda tau sangat sulit untuk bertemu dengan tuan saya. Tapi sekarang dia malah mengundang anda sekeluarga untuk makan malam. Sungguh sesuatu yang sangat langka."
__ADS_1
Bagaimana di atas angin. Senyum Adinata tak henti hentinya tersungging di bibirnya. Ia yakin bahwa tuan yang di maksud oleh Mr.Huang akan membantunya keluar dari masa masa sulitnya.
"Benarkah, kalau begitu saya termasuk orang yang sangat beruntung," ucap Adinata dengan bangga.
"Tentu tuan Adinata, anda sangat beruntung. Sebaiknya anda tidak mensia-siakan kesempatan ini, dan jangan datang terlambat. Karena tuan tidak suka orang yang tidak menghargai waktu."
"Tentu Mr.Huang. Terima kasih atas nasehat anda."
"Baiklah, semoga sukses."
"Iya."
Adinata memutuskan sambungan teleponnya. Wajahnya berbinar penuh semangat. Arow sampai heran melihat perubahan drastis pada ayahnya.
Ayah, apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa Ayah terlihat sangat antusias seperti itu?"
Adinata tidak menjawab dia hanya terus tersenyum. Dengan cekatan Adinata mengumpulkan berkas berkas yang tadinya berserakan di atas meja kerjanya. Arie bertambah heran dengan apa yang di lakukan ayahnya.
"Ck, kenapa kau diam saja, cepat bantu ayah. kita harus membuat proposal sebagus mungkin!" titah Adinata kepada anaknya yang sejak tadi hanya melongo melihatnya.
"Untuk apa ayah?"
"Tuan yang di maksud Mr.Huang. Orang yang membeli perusahaan ayah. Dia mengundang kita untuk makan malam?"
"Terus?"
"Kau bodoh atau apa! kita harus memanfaatkan kesempatan itu untuk membahas kerjasama dengannya."
Mulut Arow pun ber "O" ria.
"Jangan O saja, cepat kerjakan!" sentak Adinata sambil melempar berkas berkas itu ke arah Arow.
"Cepat kerjakan sesuatu. Kita harus bisa membuat dia terkesan. Agar kita bisa bergabung di perusahaannya."
"Baik Ayah!" seru Arow dengan semangat.
Kedua pria itu dengan antusias berusaha membuat proposal sebagus mungkin untuk mengesankan tuan yang akan mereka temui.
Sementara di tempat lain.
Hari sudah beranjak malam dengan hujan deras, mereka berdua sedang berada di sebuah kedai sate sederhana di pinggir jalan, untuk mencari makanan yang di inginkan si jabang bayi. Dua insan manusia sedang bersitegang karena setusuk sate ayam.
"Sayang, ini sate juga hanya memang warnanya seperti ini!" tegas Alex yang mulai tidak sabar.
"Bukan, masak sate pucat begitu, ga mau aku mau yang biasanya. Udah gitu nggak ada sambel kacangnya, mana enak!" rengek Arie pada suaminya.
"Tapi nggak ada. Kamu tadi maunya kan beli di abang yang itu kan. Dia jualnya emang yang seperti ini," ucap Alex dengan lembut, Ia berusaha sebisa mungkin untuk sabar menghadapi wanitanya.
Sejak tadi pagi Arie tidak mau makan apapun. Dia selalu bilang ingin makan sesuatu, akan tetapi semua yang ada di hadapannya tidak pernah cocok dengan seleranya. Bahkan saat semua menu di hotel mereka menginap sudah tersaji di hadapan ibu hamil itu. Tidak ada satupun yang ia sentuh.
Parahnya lagi Arie hanya mau makan sate di yang di jual abang abang yang ada di area kontrakannya dulu. Harus suaminya yang membelikannya langsung. Akan tetapi dia juga tidak mau jauh dari suaminya, dan dia juga tidak ingin pulang dari tempat mereka berlibur. Bagaimana Alex bisa membeli sate itu tampak pergi dari tempat itu!
Akhirnya mereka memutuskan untuk berkeliling kota tempat mereka berlibur untuk mencari makanan yang ibu hamil itu mau. Mereka pun berhenti di sebuah warung sate taichan. Akan tetapi lagi-lagi Arie menolaknya saat makana itu sudah tersaji di hadapan.
"Hua.. aku lapar, hiks.. hiks...!" Air mata ibu hamil itu mulai meleleh, untuknya keadaan kedai sepi, sehingga mereka tidak jadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Iya aku tau, aku juga lapar," lirih Alex. ia juga belum makan apapun karena tidak tega melihat istrinya yang tidak mau makan.
"Aku ingin makan, tapi bukan ini." Arie semakin menangis histeris.
Alex pun menunduk. Mensejajarkan kepalanya dengan perut Arie.
"Anak papa kenapa?" Alex mengusap lembut perut Arie yang membuncit.
"Mau makan apa? kasian Mama kalau kamu nggak mau makan, makan ya nak," ucap Alex lembut seolah sang bayi bisa mendengarnya.
Arie mengusap pipinya yang basah. Ia merasa terharu mendengar sang suami yang dengan lembut membujuk bayi yang masih ada dalam rahimnya.
"Dia mau nasi goreng buatan papa," ujar Arie yang masih terisak.
"Benarkah?" Alex menengadahkan wajahnya menatap sang istri. Arie hanya mengangguk kecil sambil terus mengusap air matanya.
Alex pun tersenyum lebar. Ia pun segera bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekati si penjual sate. Setelah meminta izin dari sang empunya rumah. Alex pun mengunakan dapurnya untuk memasak pesanan sang istri.
Satu jam berlalu, Alex pun membawa sepiring nasi goreng dengan warna hitam pekat ke hadapan istrinya. Dengan wajah yang berbinar Arie mulai menyendok nasi goreng yang masih mengepul panas di atas mejanya.
"Hua... ini sangat lezat, apa benar kau yang memasaknya?"
"Tentu saja," jawab Alex dengan bangga.
Melihat sang istri yang makan dengan begitu lahap. Membuat Alex merasa penasaran dengan rasa nasi goreng yang di masaknya. Jujur, Bahkan dia sendiri tidak mempunyai keberanian untuk mencicipi masakannya sendiri.
"Ha.. dong sayang." Alex membuka mulutnya minta di suapi.
"Dikit aja ya," ucap Arie tak rela. Dengan bibir manyunkan Arie menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut suaminya.
Bruuusssst...
Alex menyemburkan makanan yang baru saja di kunyahnya. Ia pun menenggak langsung es teh yang sebelumnya sudah tersaji di atas meja. Lidahnya langsung mati rasa merasakan rasa yang sangat aneh dari nasi goreng buatannya itu.
"Kenapa di semburarkan! buang buang makana mubazir tau!" Marah Arie kepada suaminya.
"Maaf.. tapi rasanya sangat aneh," ujar Alex sambil bergidik geri membayangkan rasa yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Aneh gimana, makanan enak kok di bilang aneh. Udah kamu makan saja sate pucat itu!" titah Arie.
Ibu hamil itu pun lanjut menikmati nasi goreng super aneh itu. Sementara sang suami melihatnya dengan heran.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bilakah readers tersayang berkenan. Boleh donk bagi vote atau mawar 🌹🌹🌹 buat aku ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤£ðŸ¤£ðŸ¤£