
Wanita bertubuh kecil itu tidur terlelap di bangku penumpang belakang. Tentu saja setelah sang suami memakaikan pakaian lengkap kepadanya. Walaupun tanpa ala kadarnya, karena jelas terlihat kancing atas bajunya yang di kancingkan asal asalan.
Tama tersenyum melihat istrinya yang kelelahan setelah di hajar beberapa kali olehnya. Sungguh tak terbayangkan oleh Tama melakukan malam pertama mereka di dalam mobil di tengah derasnya hujan seperti ini.
Dokter berlesung pipit itu tak henti hentinya memamerkan jajaran gigi putih miliknya. Mungkin sebentar lagi akan kering karena terlalu lama di biarkan begitu. Ia terlalu senang setelah berhasil menjebol gawang istrinya, walaupun bukan seorang perawan. Akan tetapi perasaan saat pertama kali masuk, membuatnya langsung candu pada Siska. Sungguh nikmat mana yang kau dustakan.
Hujan mulai mereda. Namun, dokter itu masih memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dia mulai memejamkan matanya sambil bersandar di kursi kemudi.
Tok..tok..tok..
Baru saja Tama terlelap, ia sudah di kejutkan dengan suara kaca mobilnya yang di ketuk keras. Dengan enggan Tama membuka matanya. Dilihatnya beberapa orang berseragam dinas ada di luar mobilnya.
"Mas, ada apa?" tanya Siska dengan suaranya yang serak dan manja.
Rupanya sang istri juga terganggu dengan suara ketukan kaca itu. Tama menoleh kebelakang, tangannya terulur mengelus rambut istrinya yang berantakan. Siska mengeliat dan perlahan mendudukkan dirinya.
"Enggak tau sayang, kamu lanjutin tidur aja ya," ucap Tama lembut.
Pipi Siska seketika merona mendengar panggilan sayang dari suaminya. Apalagi mengingat apa yang baru saja mereka lakukan di dalam mobil itu membuatnya bertambah malu. Melihat istrinya tersipu membuat Tama merasa gemas.
"Jangan dibuat merah gitu pipinya, aku gemes nih. Pingin makan kamu lagi."
"Ap - ap sih mas," jawab Siska tergagap.Ia memalingkan wajahnya yang memerah.
Dia tidak menyangka suaminya bisa semesum ini. Apa lagi saat Tama memberikan kode kalau pusaka miliknya sudah siap bertempur lagi. Siska pun menutup wajah dengan kedua tangannya, setelah melihat ke arah buah pisang yang menonjol jelas di balik celana suaminya.
"Tok..tok.. tok.."
Jendela kaca mobilnya semakin di ketuk dengan keras. Akhirnya mau tak mau Tama pun membuka jendelanya. Siska merasa gelisah dan takut melihat para petugas yang ada di luar mobilnya.
"Selamat malam," ucap salah satu dari tiga orang berseragam yang berdiri di luar.
"Selamat malam pak," jawab Tama sopan. Siska hanya mengangguk sopan kepada petugas yang melihat ke arahnya.
"Bisa kami lihat KTP Bapak dan Ibu."
Siska pun membuka tas kecil yang tergeletak di bawah. Wanita itu panik saat tidak menemukan kartu identitas miliknya. Baru saja ia akan menepuk bahu suaminya. Namun, di urungkan karena Tama sudah memberikan dua lembar KTP kepada petugas satpol PP yang berpatroli.
Sejak kapan KTP ku ada di mas Tama, Siska mengeryitkan keningnya heran.
__ADS_1
Setelah memeriksa data yang tertera di KTP. Petugas itu pun mengembalikannya.
"Apakah bapak dan ibu ini adalah suami istri?" tanya sang petugas.
"Benar Pak."
"Bisa kami lihat buku nikahnya?"
Siska merasa ketakutan pasalnya mereka belum sah sebagai suami istri di mata negara. Mana punya mereka buku nikah. Bagaimana kali sampai mereka di tangkap dan di kira pasangan mesum. Berbeda dengan Tama yang terlihat sangat santai.
"Maaf pak, apa kami harus menunjukkannya?" tanya Tama kepada sang petugas.
"Jika memang anda membawanya silahkan anda tunjukkan kepada kami. Jika tidak kami harap Bapak dan ibu bersedia ikut kami ke kantor."
"Mas gimana kita kan belum punya itu," ucap Siska dengan suara yang bergetar.
Tama pun menoleh ke belakang, ia merasa tidak tahan melihat istrinya yang ketakutan. Siska memang berkerja di club malam. Akan tetapi seumur umur baru kali ini dia kena razia satpol PP seperti ini.
Tama pun mengambil sebuah kotak berwarna merah dengan pita emas di atasnya. Lalu ia pun menyerahkannya kepada petugas satpol PP.
"Lho pak, kok malah di kasih kado?" tanya sang petugas heran.
Tama hanya menjawabnya dengan senyum.
Dengan perasaan heran sang petugas pun membuka kotak itu. Petugas itu pun tertawa sambil mengelengkan kepalanya. Sementara Siska memandang mereka dengan rasa heran. Ia tidak begitu jelas melihat apa yang membuat para petugas itu tertawa karena keadaan yang gelap.
"Baiklah pak, maaf telah menganggu waktu anda. Kami sarankan untuk segera melanjutkan perjalanan anda."
"Baik pak terima kasih,"
Sang petugas mengembalikan kotak yang sudah ia bungkus lagi dengan rapi. Setelah menerima kotak itu. Tama meletakkan kembali ke laci dashboard. Dan kemudian menyalakan mesin mobilnya. Meninggalkan para petugas yang bertugas.
"Mas itu tadi kenapa? kok mereka ketawa cekikikan kayak gitu?" tanya Siska yang sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
Tama hanya tersenyum sambil terus fokus ke menyetir mobilnya. Siska yang merasa terabaikan pun mencebikkan bibirnya kesal.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka pun masuk di komplek perumahan mewah. Siska pun di buat ternganga melihat jajaran rumah mewah yang ada di sana. Mobil yang mereka tumpangi pun berbelok masuk ke sebuah rumah berwarna putih dengan gaya bangunan bergaya eropa.
"Ayo turun," ajak Tama yang sudah berdiri dengan membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Eh mas kok sudah di sini?" tanya Siska.Ia terkejut melihat suaminya sudah membuka pintu mobil untuk dirinya.
Tama hanya tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri. Siska menerima tangan suaminya dengan ragu. Ia tidak pernah mengira suaminya sekaya ini.
"Ini rumah apa istana sih mas?" celetuk Siska yang masih terkagum kagum dengan bangunan ada di hadapannya.
"Ini istana dan kamu ratunya," bisik Tama lirih.
"Gombal!" Siska memalingkan wajahnya yang tersipu malu.
Mereka berdua pun bergandengan tangan masuk ke dalam rumah besar itu. Ruang tamu yang luas dengan sofa besar berwarna putih bersih dan karpet berbulu sebagai alasnya. Siska tersenyum kecut melihat semua kemewahan ini.
Ia membayangkan bagaimana Tama bertahan di rumah kontrakan yang sempit dan jauh dari kata nyaman itu. Bahkan Tama pernah tidur di sofa ruang tamunya yang usang.
"Mba Siska sudah pulang," sambut Bu sari dari arah dapur." Pak"
Tama hanya mengangguk kecil.
"Iya. Bu sari nggak pulang? Naoki dimana Bu?" cerca Siska.
Sejak tadi Siska mengedarkan pandangannya mencari keberadaan putra semata wayangnya itu. Namun, ia belum menemukannya.
"Saya tidak pulang mba. Seperti perintah pak dokter, saya akan pulang seminggu sekali."
Siska memandang suaminya. Tama mengangguk mengiyakan apa yang di katakan Bu sari.
"Terus Naoki di mana Bu?"
"Naoki tidur di kamarnya Mba, capek dari tadi main terus. Ada ruangan yang penuh sama mainan mba, bagus banget. Naoki suka banget sampe ga mau tidur siang."
Siska menoleh menatap suaminya penuh haru. Ia tidak menyangka kalau Tama akan menyiapkan segala kebutuhan Naoki bahkan sampai membuat kamar bermain untuk putarannya.
"Jangan menatapku seperti itu. nanti jatuh cinta lho," goda Tama. membuat istrinya memberengut karena malu.
"Apa sih mas!"
"Bu, nanti tolong siapkan makan malam. Sebentar lagi mungkin sampai. Saya dan Siska mau istirahat dulu," ucap Tama sambil merengkuh pinggang istrinya.
"Baik, pak. kalau begitu saya permisi dulu. Mau ke kamar Naoki," pamit Bu sari.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu pun berlalu. Ia berjalan ke sebuah kamar yang terletak di lantai satu.
Tama merapatkan tubuh istrinya. Lalu mengajaknya menaiki tangga menuju ke peraduan mereka.