
Setelah di seret paksa keluar dari hotel mewah itu. Ketiga orang itu pun memutuskan untuk pulang.
Hening tak ada satupun suatu yang keluar dari ke tiga orang yang ada dalam mobil itu. Semua tengelam dalam pikirannya masing-masing. Setelah beberapa saat melaju mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu pagar.
Berkali kali Arow menyalakan klakson mobilnya, akan tetapi tak seorangpun penjaga yang datang untuk membuka pintu pagar untuk mereka.
Kesal dan jenuh menunggu akhirnya Arow turun dari mobil dan berjalan ke mendekati pagar.
"Hey cepat buka pagarnya!" teriak Arow yang melihat dua orang berjalan ke arah pagar.
Kedua orang itu menyeret koper koper besar. Arow memicingkan matanya berusaha memperjelas pandangannya keadaan yang gelap membuat Arow tidak bisa dengan jelas melihat orang orang itu.
"Cepat kemari!" teriak Arow lagi. Kedua orang itu semakin mendekat.
Sampai di depan pintu gerbang, salah satu dari mereka membuka gembok pagar. Arie pun berjalan kembali masuk ke mobil dan mulai menyalakan mesinnya. Tapi ternyata satpam itu tidak membuka lebar pagar itu. Mereka hanya membuka pagarnya agar bisa mengeluarkan koper yang mereka seret.
Dengan kasar mereka melepar koper koper besar itu lalu mereka kembali menggembok pagar. Setelah itu mereka pun kembali berjalan masuk. Arow pun melotot dan mematikan mesin mobilnya. Ia akan beranjak keluar dari mobil namun Adinata mencegahnya.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Puspa.
"Kita di usir Bu, ini bukan rumah kita lagi," jawab Adinata dengan pandangan kosong ke depan.
Puspa mendelik kesal. Sementara Arow yang tadinya akan berteriak memanggil orang-orang itupun mengurungkan niatnya. Ia mengambil nafas dalam, pikiran menerawang jauh ke anak dan istrinya. Dua orang yang begitu ia rindukan.
Adinata menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Pikiran begitu kalut, rasa bersalah menyelimuti hatinya. Dadanya terasa sesak mengingat apa yang di perlakuan sang ibu kepada putrinya. Ia yakin bukan hanya sekali sang ibu menyakiti hati anak perempuannya itu.
"Ayah apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arow sendu.
"Ini sudah malam Nak, kita harus istirahat. Sebaiknya kita pulang ke rumah lama."
"Apa! tidak, aku tidak sudi kita tinggal di rumah reot itu," ketus Puspa.
"Terserah ibu mau atau tidak. Ibu bisa tinggal di depan gerbang ini dan menunggu mereka mengasihi ibu. Atau ibu mau pulang ke rumah lama, karena hanya itu satu satunya tempat yang kita punya!" tegas Adinata.
"Beraninya kau mengancam Ibumu!" pekik Puspa kesal.
"Aku tidak mengancam ibu. Aku hanya memberikan ibu pilihan!" tegas Adinata lagi. Puspa pun diam.
Arow turun dari mobil dan mengangkat kedua koper itu masuk ke bagasi mobilnya. Setelah itu Ia kembali menyalakan mesin mobilnya. Malam yang dingin, sama seperti keadaan dalam mobil yang di tumpangi keluarga Sasongko.
Setelah hampir satu jam perjalanan. Akhirnya Mobil itu terparkir di sebuah rumah kecil yang terawat dengan baik, meskipun sudah lama tidak di tempati. Namun, Adinata selalu menyuruh orang untuk membersihkan dan merawatnya.
Puspa turun dari mobil. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki kembali di rumah ini setelah sekian lama. Setelah ia berhasil menyingkirkan sahabatnya.
Mata tua Puspa menatap nanar pada bangunan yang ada di hadapannya. Rajanya mengeras saat memorinya kembali terlintas.
Flashback on Puspa.
Puspasari seorang janda beranak satu dia berkerja di rumah sahabat kecilnya Dewi. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh kembang bersama. Namun, nasib menuliskan takdir yang berbeda untuk dua sahabat itu.
Puspa menikah dengan laki-laki kasar seorang pemabuk dan suka main tangan. Sedangkan Dewi dia di pinang oleh seorang juragan kaya dari kampung sebelah.
Sampai satu saat suami Puspa meninggal karena di keroyok warga karena ketahuan mencuri. Suaminya meninggal saat Puspa sedang hamil besar.
Merasa kasihan dengan sahabatnya, Dewi pun menawarkan agar Puspa tinggal bersamanya. Dengan berat hati akhirnya Puspa menyetujui keinginan sahabatnya.
__ADS_1
"Sudah kamu tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri," ujar Dewi pada sahabatnya.
"Tapi aku tidak mau merepotkan kamu."
"Kamu kayak sama siapa saja." Dewi merangkul bahu sahabatnya.
Setahun berlalu.
Dewi pun hamil anak pertamanya, sedangkan Puspa sudah melahirkan seorang anak laki-laki. Dewi dan suaminya menyayangi anak Puspa seperti anak mereka sendiri. Bisnis suami Dewi berkembang pesat, kini ia sudah mempunyai sebuah perusahaan atas namanya sendiri.
Kehamilan Dewi membuat ia dan suami begitu bahagia. Puspa merasa kalau mereka tidak memperhatikan anaknya lagi semenjak Dewi hamil. Broto lebih banyak menghabiskan waktunya dengan sang istri daripada bermain dengan anaknya. Dewi selalu di manja dan di perhatikan lebih oleh sang suami. Melihat Dewi di perlakuan manis dan di perlakukan seperti ratu oleh suaminya membuat bibit iri tumbuh di hati Puspa. Ia merasa takdir begitu tidak adil padanya.
Dia selalu di cemooh orang karena berasal dari keluarga yang tidak utuh. Bahkan setelah menikah, kebahagiaan tak kunjung datang dalam takdirnya. Bukannya perlindungan dan perhatian, ia malah mendapatkan kekerasan fisik dan psikis oleh sang suami.
Melihat kemesraan suami istri itu setiap hari membuat Puspa muak. Rasa serakah mulai mengalahkan rasa sayang pada sahabatnya.
Hingga pada suatu malam.
Dengan segaja Puspa meminta seorang laki-laki masuk ke dalam kamar Dewi, saat suaminya sedang berada di kantor. Dewi yang ada dalam kendali obat tidur, yang di berikan oleh Puspa pun, tidak menyadari saat seseorang masuk tanpa permisi ke dalam kamarnya.
"Sayang aku pulang!" seru sang suami. Berharap istri kesayangan yang akan menyambutnya.
"Eh mas Broto sudah pulang." Puspa mengulurkan tangannya mengambil tas kerja yang di bawa Broto. Puspa pun memasang senyum termanisnya.
"Di mana Dewi. APa dia sudah tidur?" tanya Broto.
Puspa menunduk tidak menjawab. Air matanya mulai jatuh satu persatu. Broto yang melihat hal itu merasa heran.
"Maaf aku mas, seharusnya aku memberi tahu kamu lebih awal," ujar Puspa sambil terisak.
"Ada apa sebenarnya, cepat katakan?" tanya Broto dengan tidak sabar. Ia takut terjadi sesuatu kepada istrinya.
"Dewi ada apa dengan Dewi?"
"Dewi selingkuh!"
Broto membeku. Puspa mengangkat wajahnya menatap Broto dengan wajah yang berlinang air mata.
"Hahahaha...kamu ada ada saja Puspa. Kamu mungkin hanya salah paham. Dewi sangat mencintaiku jadi tidak mungkin dia selingkuh."
"Mas aku tau ini sulit, tapi aku tidak bisa lagi menutupi perbuatannya yang tidak tau malu itu. Kalau mas tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Mas bisa lihat sendiri apa yang istri mas lakukan di kamar," ujar Puspa mencoba meyakinkan.
Rahang Broto mengeras. Dengan langkah lebar ia melangkah ke arah kamar tidurnya. Melihat Broto yang emosi Puspa menyeringai tipis. Ia membiarkan Broto berjalan ke kamarnya Sementara ia bersenandung kecil berjalan kembali ke kamarnya sendiri.
Brak..
Dengan kasar Broto membuka pintu kamar. Matanya menyala merah tajam saat melihat sang istri berpelukan di atas ranjang miliknya.
"Dewi..!" teriak Broto.
Broto langsung menyeret laki laki yang menyentuh istrinya, dan menghajarnya secara membabi buta. Dewi yang masih terpengaruh obat tidur tidak bisa sepenuhnya membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat dan berputar. Ia tidak bisa dengan jelas melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Setelah puas menghajar pria itu sampai tak bernyawa. Broto menyeret sang istri keluar dari rumah itu. Dewi yang mulai mendapatkan kesadaran pun bingung dengan apa yang di lakukan suaminya.
"Mas sakit mas lepasin!" pekik Dewi saat Broto menarik rambutnya.
__ADS_1
"Sakit, kau bilang hatiku lebih sakit Wi. Beraninya kamu berbuat seperti itu di belakang ku!"
"Apa mas? Aku berbuat apa mas? Kenapa mas marah seperti ini?" tanya Dewi yang sudah berderai air mata.
Wanita itu sungguh tidak mengerti apa yang membuat suaminya mengamuk sampai berbuat kasar dan membentaknya seperti ini. Padahal Broto adalah laki laki yang hangat dan tidak pernah sekalipun berkata kasar kepadanya.
"Mas, kasih tahu aku.mas kenapa mas marah."
Auh..
Dewi mengasuh saat Broto semakin kuat menarik rambutnya.
Broto menghempaskan tubuh istrinya dengan kasar di pekarangan rumahnya. Broto sudah gelap mata. Amarah sudah menguasai dirinya. Marah dan kecewa, membuatnya tuli dari setiap kata yang di ucapkan istrinya.
"Lebih baik kamu pergi dari sini aku tidak mau lagi melihat wajah penghianat di rumah ini!" Teriak Broto sebelum ia menutup pintu dengan keras.
Dewi mengedor pintu dan berteriak memangil nama sang suami. Namun, tak satupun orang dalam rumah itu merespon.
Broto sempat berniat untuk mencari istrinya dan meminta penjelasan. Namun, Puspa selalu menghalangi dan ia menyanggupi untuk mencari sang sahabat. Ular tetaplah ular. Puspa malam membayar orang untuk membawa Puspa jauh ke luar pulau jawa. Dam membuat berita tentang Dewi yang berkerja di rumah bordil.
Broto yang mendengar berita dari orang suruhannya pun semakin geram dan merasa jijik pada sang istri. Puspa pun mulai mempengaruhi Broto Ia mengatakan bahwa anak dalam kandungan Dewi adalah anak dari hasil selingkuhannya. Broto pun percaya dan segera menceraikan Dewi.
"Mas lebih baik kita menikah saja, kita sudah tinggal satu atap cukup lama," rayu Puspa saat mereka berdua tengah duduk sambil menikmati sore di belakang rumah.
"Maafkan aku Puspa, aku menyayangimu sebagai seorang adik tidak lebih." Broto bangkit dari duduknya. Meninggalkan Puspa yang yang menatapnya dengan penuh amarah.
Puspa pun menjebak Broto, dengan segala cara agar bisa menjadi nyonya dari Broto Sasongko, rencananya pun berhasil. Setelah ia memasukkan obat perangsang dalam kopi buatannya dan memaksa Broto melampiaskan naf*unya pada Puspa.
Waktu berlalu namun rasa cinta tak hadir di antara mereka. Bahkan Broto sama sekali tidak menyentuh sang istri. Puspa semakin geram. Perlahan dia membunuh sang suami dengan memberikan racun yang perlahan mengrogoti kesehatannya.
Puspa tetap memakai topeng sebagai istri yang baik dan setia merawat sang suami. Agar keluarga besar suaminya tidak curiga, begitu pula Broto di ujung umurnya dia masih tidak tahu kebusukan sang istri kedua. Sehingga ia merasa berhutang budi, karena Puspa mau merawatnya saat ia sakit, meskipun Broto tidak pernah memberikannya nafkah batin.
Karena rasa bersalah itu ia mewariskan separuh hartanya kepada Adinata, anak dari Puspa dan separuh lagi untuk anak yang di kandung Dewi. Meskipun kecewa pada Dewi, akan tetapi dalam hati kecilnya ia tetap mencintai istri pertamanya. Broto menitipkan pesan pada Adinata agar selalu menjaga dan melindungi Puspa.
Setelah kematian Puspa merubah wasiat Broto dan membuat seluruh harta warisannya atas nama Adinata. Puspa hidup nyaman dan bergelimang harta Sementara Dewi hidup terlunta-lunta bersama sang anak.
Namun takdir masih menemukan mereka. Adinata jatuh cinta pada Anjar. Anak yang di kandung sahabatnya Dewi. Mati matian Puspa melarang anaknya berhubungan dengan gadis itu. Bahkan Puspa memaksa anaknya menikah gadis pilihannya.
Flashback off
Puspa mengeraskan rahangnya. Melihat bangunan ini hanya membuatnya semakin muak. Mengingat semua masa lalunya, bagaimana ia harus bermain untuk mendapatkan semua kenyamanan ini. Namun, semua kini kembali ke asal Puspasari kembali jadi seorang yang tidak punya apa-apa kecuali janda miskin dengan satu anaknya.
Tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan anak cucumu hidup tenang Dewi. Kehidupan sudah terlalu baik padamu di masa lalu. Masa sekarang hanya akan ada untukku dan keluargaku. nama Sasongko hanya akan tersemat untuk kami.
Dengan langkah kesal Puspa berjalan masuk ke rumah itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
..
like kok merosot ya ðŸ˜ðŸ˜ padahal aku dah rutin up🤧🤧Mak mode memelas 🥺 kopi mawar 🌹 atau jempol. setidaknya jempol 🤩🤡 hehehehe.... canda ya . happy reading semoga masih seka ceritanya