
Matahari bersinar begitu cerah pagi ini. Dengan senyum secerah mentari, Tama memacu mobilnya membelah keramaian kota pagi ini. Pria berlesung pipit itu begitu bersemangat untuk pulang ke rumah kontrakan istrinya. Rumah yang tak mewah namun penuh dengan kehangatan di dalamnya. Siska masih menolak untuk pindah bersamanya, jadi Tama mengalah dan turut tinggal di rumah kontrakan itu.
Tama memelankan laju mobilnya sebelum berbelok dan berhenti di pekarangan rumah yang masih tanah. Dengan baju yang belum di ganti sejak kemarin dan muka yang bisa di bilang kusut Tama turun dari mobil. Ia pun segera melangkah menuju pintu.
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum, Siska!" seru Tama memanggil nama istrinya dengan tidak sabar.
"Waalaikumsalam," sahut seorang wanita dari dalam rumah.
Ceklek.
Handle pintu berputar dari dalam, perlahan pintu kayu itu terbuka. Senyum Tama yang sumringah seketika berubah melengkung ke bawah, kecewa melihat wajah yang bukan di inginkan olehnya. Bu sari tersenyum menyambut Tama, lalu mundur beberapa langkah memberikan ruang untuk Tama masuk Pria itu hanya mengangguk kecil, lalu melangkah masuk.
"Di mana Siska, Bu?"
"Mba Sika masih tidur Dok, kalau Naoki seperti biasanya lagi nonton kartun sambil makan sarapannya di kamar," ujar wanita paruh baya itu menjelaskan, Tama menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kalau begitu saya permisi dulu Dokter." pamit Bu sari sembari melangkah keluar pintu Tama pun turut mengatakan pengasuh anaknya itu sampai di luar rumah
"Iya Bu, terima kasih sudah menjaga Naoki," ucap Tama dengan tulus
"Sama sama Dokter."
Wanita paruh baya itupun segera menaiki ojek yang baru saja datang menjemputnya. Setelah melihat Bu Sari berlalu, Tama segera bergegas masuk dan menutup pintunya. Ia memutuskan untuk pergi ke kamar Naoki.
Pria kecil itu duduk berselonjor di atas kasurnya yang terbungkus kain sprei yang sudah terlihat agak usang. Naoki memangku piring plastik yang berisikan sepotong roti tawar dengan selai strawberry di dalamnya.
"Nao," Panggil Tama membuat anak kecil menoleh cepat ke arah Tama, dengan mata yang berbinar.
Naoki segera meletakkan roti yang semula akan di gigitannya.
__ADS_1
"Papa!" pekik Naoki sambil melompat ke pelukan Tama, dengan sigap Tama menangkap tubuh kecil itu dan memeluknya erat
"Wii.. anak papa lagi maem apa nih?" tanya Tama dengan lembut, saat dia sudah duduk di tepi ranjang dengan Naoki di pangkuannya.
"Nao maem toti," celotehan Naoki dengan mulut kecilnya sambil menunjuk ke arah piring plastik yang tergeletak di atas kasur. Walaupun masih belum begitu jelas namun Naoki sudah pandai dalam berbicara.
"Di mana Mama?" Tama melontarkan pertanyaan yang ia sudah tahu jawabannya.
"Mama bobo di kamal." jawab Naoki sambil meraih roti yang ada di atas piring, lalu mulai memakannya
"Habiskan rotimu, Papa mandi dulu, ok jagoan!"
Naoki mengangguk patuh dengan mulutnya yang penuh. Tama mengacak-acak rambut pria kecil itu, sebelum melangkah keluar dari kamar.
Tama memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. setelah menyelesaikan ritual mandi kilatnya Tama pun pergi ke kamar Siska dengan hanya mengunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya.
Tama membuka pintu dengan perlahan agar tidak membangunkan istrinya. Perlahan ia berjalan mendekat kemudian berjongkok di tepi ranjang untuk menjajarkan dirinya dengan Siska yang tidur miring menghadapinya. Wajah Siska terlihat sangat teduh dan nyaman, Tama mengelus pipi mulus istrinya dan menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya.
"Aku tidak menyangka akan jatuh cinta semudah ini padamu," ucap Tama lirih, kemudian mengecup lembut kening istrinya.
Tama bangkit lalu sedikit menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Siska, dengan Perlahan dia menggeser istrinya. Tama pun turut menyusup dan berbaring di ranjang yang sempit itu.
Siska menggerjapkan matanya, tubuhnya terasa berat seperti di tindih sesuatu. lehernya terasa hangat. Pupil mata Siska melebar saat benda berat itu terasa melilit pinggangnya erat. Siska membalikkan tubuhnya di tengah dekapan hangat suami tampangnya.
Siska mendongakkan kepalanya menikmati pemandangan pahatan sempurna yang ada di hadapannya. Jemari lentik ibu satu anak itu perlahan mengabsen wajah suaminya. Mata, hidung, pipi, bibir Siska terhenti di sana. Ia tersipu sendiri saat mengusap lembut benda kenyal itu.
"Jangan menggodaku," ucap Tama dengan malas, Tama sangat mengantuk setelah bertugas di UGD. Mata Siska terbelalak, ia segera menarik tangannya. Namun, kalah cepat.
Tangan Tama sudah terlebih dulu memegangnya. Ia menarik tangan kecil itu membuat jarak di antara mereka lenyap. Kedua bibir mereka saling menempel. Tubuh Siska menegang, ia merasakan rasa hangat menjalar di seluruh wajahnya.
Tama menarik sedikit wajahnya, ia tersenyum gemas melihat wajah Siska yang merah merona.
__ADS_1
Tama membalikkan tubuh Siska membuat posisinya berada di atas tubuh istrinya. Siska memalingkan wajahnya, melihat jajaran roti sobek milik Tama. Apalagi suaminya itu hanya memakai handuk yang bisa melorot kapan saja.
"Mas... Tama kenapa ga pake baju dulu, nanti masuk angin lho," ucap Siska dengan gugup. Ia berusaha untuk bangun, akan tetapi kedua tangannya di cekal oleh Tama.
"Kenapa harus pake baju, nanti juga di buka lagi," ucapan Tama berhasil membuat Siska semakin tersipu malu.
"Ngomong apa sih Mas."
"Masa ga ngerti."
Tama menundukkan kepalanya, menempelkan bibirnya di telinga Siska.
"Aku mau kasih kamu sesuatu," bisik Tama dengan suaranya yang terdengar serak seperti hendak mengerang.
"Ap..pa Mas?" lirih Siska dengan degup jantungnya yang bertalu.
"Nafkah batin mu."
Tama mencium pipi Siska dalam. Perlahan turun mengecup dagunya, semakin turun Tama mulai mengigit kecil leher Siska kemudian menyesapnya. Siska mengeliat merasakan sensasi geli dan pedih secara bersamaan.
Siska menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara.
Dok....dok...dokk.
"Mama...Papa...!!!" teriak Naoki sambil mengedor pintu.
Tama mengehentikan aktifitasnya. memandang Siska dengan wajah memelas. Siska tersenyum kecil.
"Lain kali ya Mas," ucap Siska lembut, ia mendorong tubuh Tama.
Siska segera bangun dan turun dari ranjangnya, dan bergegas membuka pintu.
__ADS_1