Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
sirup


__ADS_3

Hari beranjak pagi namun sang Surya nampak enggan menunaikan tugas, gulungan awan hitam nampak bertengger di langit, membuat cahaya Surya tak mampu menembusnya.


Arie mulai membuka matanya, tubuhnya hendak mengeliat namun terhenti oleh rasa berat yang menindih tubuhnya, mata Arie membulat saat melihat tangan kekar itu melingkar di pinggangnya, belum lagi keadaan Alex yang terbaring di sampingnya dengan telanjang dada, dan hanya memakai boxer. Arie memegangi jantungnya agar tidak melompat keluar melihat semua ini.


Mek ngene tok ae wes dag dig dug, ndah ne di apak apak no ( cuma begini saja sudah dag Dig dug coba kalo di apa apain)


"Isssh" Arie mendesis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, malu sendiri dengan otaknya yang suka traveling ke mana mana.


Arie sejenak tertegun saat telapak tangannya menyentuh bibirnya, terasa basah.


"Opo aku ngiler, tapi jare mbok aku nek turu mingkem dapet kok"( apa aku ngiler, tapi kata mbok aku kalau tidur mulut ku tertutup rapat kok) Arie terkadang heran sendiri dengan dirinya, orang tidur memang tidak sadar, tapi setelah tinggal di apartemen ini Arie sering bangun dengan bibirnya yang basah. ah sudahlah Arie pun tak mau ambil pusing soal itu.


Arie memiringkan tubuhnya menghadap Alex, mengamati wajah Tuan sipit yang jarang sekali dia lihat sedekat ini. tangan Arie mulai gatal, ingin sekali dia menyentuh wajah Alex, meskipun ragu, namun akhirnya Arie menyentuhnya juga, dengan lembut Arie menjelajahi Wajah Alex, alis yang tidak terlalu tebal, kelopak matanya, hidung mancungnya,dan bibirnya yang err seksi, Arie mengigit bibir bawahnya sendiri mengingat saat dia mengecup bibir itu, rasanya ingin sekali dia merasakan sekali lagi.


Arie terkejut saat Alex membuka matanya, dan tangan kekarnya mengeratkan pelukannya, membuat tubuh mereka menempel sempurna, wajah Arie bersemu kemerahan melihat Alex yang tersenyum padanya, tanpa kata Alex meraih tengkuk Alex mendaratkan ciuman lembut di bibir Arie, mel***tnya lembut namun menuntut, Arie hanya terdiam dia benar benar terkejut, Alex menyesap bibir Arie lama kelamaan Arie pun membalasnya dengan kaku, merasa mendapat lampu hijau, Alex menyusupkan lidahnya, bergulat dan menari dengan Indra pengecap Arie yang tak bertulang.


Arie memejamkan matanya menikmati pergulatan lidah mereka, sampai Arie memukul bahu Alex, karena dia tak bisa bernafas, Alex melepaskan pagutannya, keduanya berebut oksigen di ruangan itu dengan nafas yang memburu, sesaat pandangan mereka menyatu, sebelum Alex kembali m***gut kan bibirnya kembali, Alex mulai turun menyesap leher jenjang Arie, membuat Arie melenguh kecil, membuat Alex semakin terbakar, tangan Alex menyusup ke dalam gaun tidur Arie meraih apa saja yang bisa di mainkannya, membuat Arie mengeliat dan mulai tak terkendali suara ******* kiai lolos dari bibirnya meski Arie mencoba menahannya.


Apa ini mimpi, jika iya aku ingin bangun aku tidak mau buka segel sekarang , gumam Arie dalam hati, namun beda dengan tubuhnya yang menikmati setiap sentuhan Alex.

__ADS_1


Kini Alex telah mengungkungnya, Arie memalingkan wajahnya saat Alex menatapnya intens dengan tatapannya yang berkabut.


"Aku menginginkan mu" bisik Alex lembut di telinga Arie, tubuh Arie menegang. nafas hangat menyapu wajah Arie, membuatnya meremang.


cup


Alex mengecup kening Arie dengan lembut, sementara tangannya dengan lincah membuka kancing baju Arie, Alex kembali menyatukan bibir mereka dengan lembut, Arie merasakan desiran hebat dalam tubuhnya, membuat Arie merasa kehilangan akal, Alex mulai melepaskan baju yang melekat pada tubuh Arie dan membuangnya sembarangan, menyisakan kaca mata pengaman, dan tak lama Alex pun melepaskan, Alex berhenti sejenak melihat dua melon kenyal dengan ujung yang tegak menantang, Alex tersenyum tak sabar mencicipinya, Arie menyilang kan kedua tangannya menutupi aset kembarnya.


"kenapa di tutupi itu sangat indah" ujar Alex dengan senyum nakalnya. Arie tak menjawab, dua hanya memalingkan mukanya yang sudah memerah


Perlahan tapi pasti Alex mulai menanam cerry di bukit Teletubbies milik Arie, Arie meremas rambut Alex, Arie tak bisa menolak lagi tubuhnya sudah terasa panas dia ingin lebih dari sentuhan itu, Dengan perlahan Alex membuka pengaman terakhir, matanya membulat saat melihat sirup yang sudah meleleh di sana.


Arie memunguti bajunya yang berserakan dan memakainya kembali, dia tersenyum kecil saat mengetahui tamu bulanannya datang, dia sedikit lega tidak jadi buka segel tapi.


"Tapi kenapa aku kecewa," ucap Arie lirih sambil duduk di tepi ranjang sambil menatap langit langit kamar.


Arie hanya menunduk saat Alex keluar dari kamar mandi, dia begitu malu mengingat apa yang baru mereka lakukan, Alex tersenyum kecil dan melangkah mendekati Arie.


cup

__ADS_1


kecupan kecil mendarat di pipi Arie.


"Aku akan menunggumu sampai selesai, cepatlah mandi" Wajah Arie memanas, dengan segera dia bangkit dan berlari ke kamar mandi.


******


Nuwa duduk dengan kesal di meja makan, menanti pasangan sejoli yang tak kunjung keluar dari kamarnya.


"Ngapain aja sich mereka..isssh" karena tak sabar Nuwa pun pergi ke kamar Alex, namun belum sempat dia mengetuk, pintu sudah terbuka.


Nuwa mengepalkan tangannya melihat jejak merah di leher Arie, dengan langkah kesal dia pun pergi kembali ke meja makan, di mendudukkan bokongnya dengan keras di kursi, melipat kedua tangannya dan menatap tajam pada Arie yang mulai menyiapkan sarapan.


"Sudah jam berapa ini, baru bikin sarapan, jadi istri lelet banget sich" ucap Nuwa ketus.


"Hemm siang dikit ga papa dong kan ini weekend," ucap Arie santai sambil menyibakkan rambutnya, sengaja mengekspose lehernya.


"Ciihh..." Nuwa membuang mukanya kesal.


"Alex, duduklah aku akan menyiapkan sarapan untukmu" Arie tersenyum manja, menutupi malunya agar tak terlihat oleh adik iparnya. walau sebenarnya jika bisa dia ingin membungkuk mukanya dengan kantong kresek .

__ADS_1


Alex menarik satu kursi dan duduk di samping Arie, Alex tersenyum kecil melihat tangan Arie yang sedikit gemetar saat menghidangkan roti untuknya.


__ADS_2