Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Dua ibu hamil


__ADS_3

Arie menimang ponsel yang ada di tangannya. Baru saja ia menerima panggilan telefon dari Nana, yang mengajaknya untuk bertemu. Arie masih enggan untuk dekat dengan keluarganya. Ia takut Neneknya akan marah bila tahu mereka bertemu.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" tanya Arie pada dirinya sendiri.


Sudah sangat sering Arie menolak ajakan Arow dan Nana, apalagi setelah Adinata pergi ke luar negeri. Dia terus berusaha menjaga jarak dari keluarga Sasongko.


Drrrt.. drrrt


Ponsel Arie kembali bergetar, kali ini nama Suami tersayang yang tertera di layar pipih itu.


"Hmm," Arie membuka pembicaraan mereka dengan wajahnya yang masam.


"Eh, kenapa vakum cleaner cantik ku cemberut, ada apa?" tanya Alex dengan cemas di ujung telepon.


Mereke melakukan video call seperti biasanya. Dengan alasan yang sangat klise dari Alex, kangen. Yang mewajibkan Arie mengangkat setiap kali dia melakukan video call.


"Aku bingung," rengek Arie.


"Bingung kenapa, apa temanmu memberikan mangga muda lagi, atau Ipul salah beli makanan lagi."


"Bukan, tidak ada yang salah dengan teman dan sopir kesayangan ku itu," ketus Arie sebal.


"Ck, jangan sebut pria lain kesayanganmu, hanya aku yang boleh jadi kesayanganmu." Ketus Alex, kini wajah Tuan sipit itu juga ikut di lipat masam.


"Kenapa wajahmu dilipat seperti itu, senyum," titah Arie yang sedang mode merah.


"Aku tidak suka kau memanggil sopir sialan itu kesayanganmu."


Astaga, suamiku. please cemburunya di rem. keluh Arie dalam hati.


"Iya iya maaf, sayang," ucap Arie dengan senyum manisnya yang di paksakan.


"Aku tidak menerima maaf, akau akan menghukummu nanti," ujar Alex dengan seringainya.


"Terserah,"


"Sekarang katakan, apa yang membuat Barbie chubby ku bingung?" tanya Alex dengan wajah serius.


Arie menghela nafas sebelum mulai bicara.


"Kak Nana, mengajakku bertemu."


"Trus?"


"Kau tau selama ini aku...


Arie tidak meneruskan ucapannya, Ia malah membuang mukanya kesamping. Arie menselonjorkan tangan di meja, sebagai alas untuk kepalanya.


Alex memandang layar ponselnya dengan perasaan tak menentu, melihat wajah cantik istrinya yang tertunduk lesu. Ia tahu ada sesuatu yang membuat Arie berusaha menjauh dari keluarganya. Meskipun Arie belum menceritakan apapun kepada Alex.


"Sayang, kau tidak harus memaksakan diri untuk pergi, jika kau memang tidak menginginkannya."


"Tapi, aku merasa tidak enak karena terus menolaknya," Arie memandang wajah suaminya.

__ADS_1


"Hmm.. lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Aku akan pergi." ujar Arie memantapkan diri.


"Baiklah, hari hati di jalan."


"Tentu, dengan semua body guard mu mana mungkin aku tidak hati hati." sindir Arie.


"Love you honey."


"Love you more." Alex mengecup singkat layar ponselnya.


"Apa kalian semua tidak punya pasangan, kenapa memandang aneh padaku. Cih dasar."


Chiko dan kepala bagian keuangan, hanya bisa menunduk menahan tawa, mendengar percakapan bucin CEO mereka. Sejak tadi mereka berdiri bagai patung manekin hanya untuk menanti tanda tangan Alex.


Arie segera bersiap untuk pergi bertemu dengan Nana. Tak butuh waktu lama Bumil itu nampak cantik dengan dress selutut warna merah dengan rambut yang di kuncir tinggi.


Setelah menembus kemacetan dan panasnya jalanan Surabaya, akhirnya Arie sampai di sebuah kafe dengan nuansa kekinian.


"Kak Nana!" seru Arie sambil melambaikan tangannya, saat melihat ibu hamil yang duduk di sudut kafe.


"Sayang," Nana menyambut Arie antusias.


Kedua Ibu hamil itu saling mengecup pipi mereka, karena tak mungkin untuk mereka berpelukan.


Dengan tidak melepaskan tautan tangan mereka. Kedua Ibu hamil itu duduk berdampingan di bangku panjang yang empuk.


"Mana Kak Arow?" ucap Arie sambil melihat sekeliling.


"Aku suruh mereka menjaga apartemen, aku sangat malas jika harus berjalan dengan delapan orang di belakangku, Kak," keluh Arie.


"Itu berarti Alex sangat menyayangimu, dia tidak ingin kau terluka."


"Aku tau."


"Kak, bukankah seharusnya Kakak sudah melahirkan bulan ini?" imbuh Arie.


"Iya, seharusnya tanggal 3 kemarin aku melahirkan. Tapi bayi kecil ini belum ingin keluar, jadi aku akan menunggunya beberapa hari lagi. Saat ini aku sedang mengkonsumsi obat perangsang yang diberikan oleh dokter. Aku ingin sebisa mungkin melahirkan normal," ucap Nana sambil mengelus perutnya.


"Kau harus segera keluar, apa kau tidak ingin melihat Tante mu yang super cantik ini," ucap Arie sambil turut mengelus perut Nana.


"Ah...aku benar benar tidak sabar untuk bertemu bayi bayi kita, Kak." pekik Arie gemas.


"Kau harus sabar, kandungan mu baru tujuh bulan, masih ada dua bulan untuk menunggu," Goda Nana, Arie mencebikkan bibirnya.


Rasanya, Ibu hamil satu ini sudah sangat tidak sabar untuk mengendong junior di tangannya. Ia sangat menantikan hari hati dia bisa memanjakan darah dagingnya. Ia tak ingin anaknya merasakan apa kekurangan seperti yang dia rasakan.


"Arie, kau mau pesan apa?" tanya Nana, yang membuyarkan lamunan Arie.


"Eh,.. emh.. terserah Kakak saja," jawab Arie.


"Baiklah."

__ADS_1


Nana melambaikan tangannya, memanggil seorang pelayan cafe untuk mendekat.


"Apa Anda sudah ingin memesan nyonya?" tanya pelayan itu dengan ramah.


"Dua jus alpukat dan secangkir kopi latte, fish and chips, dan dua Dory sambel mangga."


"Ada yang lain?"


"Itu saja dulu."


"Baiklah, mohon tunggu sebentar," ujar pelayan itu sebelum berlalu pergi.


Kedua Ibu hamil itu sibuk bercengkrama dengan di selingi tawa. Jujur Arie juga merindukan saat seperti ini, akan tetapi dia harus sadar diri dengan posisinya di keluarga itu. Seorang cucu yang bahkan sama sekali tidak di harapkan kehadirannya. Mengingat hal itu membuat Arie merasa sedih.


"Arie ada apa? kenapa wajahmu sedih seperti itu?" tanya Nana dengan lembut.


"Tidak apa apa Kak, aku hanya teringat ibu. Apa dia juga sama seperti kita saat ini saat mengandungku?" ucap Arie sendu.


"Aku rasa Ibu Anjar pasti sangat bahagia saat mengandung dirimu, sayang," ucap Nana seraya mengenggam erat tangan Arie.


"Aku rasa juga begitu."


"Ngomong ngomong, di mana Kak Arow? kenapa dia lama sekali? apa ada yang salah dengan perutnya?" cerocos Arie, sengaja untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


Seorang pria berjalan mendekati mereka, dengan dua buket bunga mawar besar di tangannya. Nana tersenyum melihat Prie itu, walaupun wajahnya tertutup oleh buket yang di bawanya. Tapi Nana sudah bisa menebak orang di balik bunga mawar itu.


"Paket spesial, untuk dua Ibu hamil paling cantik di kafe ini," ujar Pria itu.


"Ga usah lebay deh, nanggung juga. Masa cuma sekafe ini cantiknya." tukas Arie.


"Haduh Adikku Sayang, bisakah kau menghargai perjuangan kakakmu yang sedang menggombal ini," keluh Arow dan meletakkan buket mawar yang di bawanya di meja begitu saja.


"Cih, dasar," Arie tersenyum miring melihat tingkah Kakak laki-lakinya.


Arie mulai menyedot jus alpukat miliknya yang baru saja datang. Ia tersenyum melihat kedua Kakaknya yang sedang pacaran di sampingnya.


"Haduw, jadi obat nyamuk ga enak ya," sindir Arie dengan membuang mukanya ke samping.


"Eh, sapa yang jadiin kamu obat nyamuk," ujar Arow yang berpindah duduk di sebelah Arie dan merangkul bahu adiknya.


Arie mengedikkan bahunya, sambil meminum jusnya lagi.


Drrrt..drrt....


Arie mengambil ponsel dalam sakunya, yang bergetar. Ia pun bangkit dan berjalan beberapa langkah menjauh dari meja mereka.


"Arie, bisa tolong anterin Kakak ke toilet," ucap Nana.


"Tentu, aku juga pengen pipis nih kak," ucap Arie sambil menyengir.


Arie segera bangun dan membantu Nana untuk bangkit dari duduknya. Dengan bergandengan tangan kedua ibu hamil itulah pergi.


Setelah menyelesaikan hajat masing-masing kedua pun keluar dari toilet.

__ADS_1


"Brugh.."


__ADS_2