
Di sebuah cafe dua orang wanita sedang duduk berbicara bersama. Salah satunya membawanya bayi laki-laki yang teramat lucu, dan satunya lagi adalah pengantin baru. Pembicaraan mereka tampak begitu serius.
"Mba Yuli bisa tolong bantu saya kan," ucap Nana dengan penuh harap.
Yuli menatap Nana dengan iba, ia bisa membayangkan ibu satu anak ini membawa sang bayi ke sana kemari di teriknya matahari Surabaya.
Yuli yang masih terkejut dengan apa yang di ceritakan Nana. Ia masih memikirkan apa yang baru saja ia dengarkan. Arie memang pernah bercerita tentang orang tua kandungnya. Akan tetapi Yuli juga tidak menyangka hubungan Arie dengan keluarganya bisa sepelik ini.
Nana. Ibu satu anak itu datang ke kafe milik Yuli. Sebenarnya ia tidak ingin melibatkan siapapun dalam rencananya untuk bertemu dengan Arie. Namun, segala cara sudah ia upayakan. Tidak ada satupun celah untuk Nana bisa bertemu dengan adik iparnya itu. Penjagaan super ketat di kantor Albied inc. Alex sepertinya menutup semua akses orang lain agar tidak bisa menjangkau istrinya. Arie seperti berlian di tengah penjaga ketat para pengawal di manapun dia berada. Hanya orang orang tertentu saja yang bisa berhubungan dia Nyonya besar Wang itu.
Nana mengambil kesempatan terakhir, dari orang suruhannya ia pun mengetahui bahwa Yuli adalah teman dari adik iparnya. Satu satunya orang yang masih bisa berhubungan dengan Arie selama ini.
Kakak iparnya Arie itu tentu tidak mensia-siakan kesempatan itu. Dia segera pergi ke tempat Yuli . Nana mulai menceritakan tentang apa yang terjadi dalam keluarganya, tentunya Nam tidak bercerita secara gamblang. Ia hanya menceritakan garis besar yang sedang keluarganya hadapi. Sehingga ia harus terpaksa berpisah dari suaminya, dan bertemu secara diam diam.
Nana sungguh berharap Yuli bisa membantunya. Otak Nana sudah buntu, tidak ada lagi jalan yang bisa ia gunakan. Alex terlalu kuat dan berkuasa jika dia harus melawannya secara langsung. Pun Nana tidak bermaksud melawannya, ia hanya ingin bertemu dengan adik iparnya, berusaha meluruskan segalanya.
Mungkin Nana egois, tapi ia hanya ingin bersama kembali dengan sang suami. Salahkan dia. Nana tidak menyalakan siapapun atasan apa yang terjadi. Namun, Nana juga tidak ingin terus terpisah dari belahan jiwanya, ia hanya ingin keluarga kecilnya kembali bersama.
"Bu, saya tidak berani. Saya sudah berjanji sama suaminya kalau saya tidak akan memberikan nomer ponsel Arie kepada siapapun." Nana tertunduk lesu mendengar ucapan dari Yuli.
Tiba tiba Byaz menangis kencang, Nana pun segera berdiri dan mengayunkan tangannya. Nana pun turut menitikkan air matanya, entah mengapa mendengar tangisan pilu sang anak. Mengingatkan Nana pada sang suami. Sepertinya Byaz merasa rindu dengan papanya.
"Maafin Mama ya sayang, kita belum bisa ketemu sama papa lagi," Nana berucap dengan sendu, ia memeluk anaknya dengan erat.
Melihat itu, hati kecil Yuli merasa tercubit. Ia pun membayangkan dirinya bila ada di posisi Nana, yang harus hidup berjauhan dari suaminya.
"Saya tidak bisa memberikan nomer ponsel Arie, tapi saya bisa menelfonnya agar dia datang kemari. Bagaimana Bu Nana?" ucap Yuli dengan tersenyum.
Nana mengangkat wajahnya, ia menatap Yuli dengan tidak percaya.
"Beneran, Mba Yuli bener mau bantuin saya," ucap Nana penuh haru.
Yuli mengangguk kecil, bagai sinar mentari hangat setelah badai. Apa yang Yuli ucapkan membangkitkan harapan di hati Nana.
"Ayo kita masuk dulu Bu, kasihan anak Ibu kalau di sini terus." Yuli berdiri dari duduknya, ia pun melangkahkan mendahului Nana yang mengekor di belakangnya, dengan mengendong putranya yang mulai tenang.
Mereka berdua masuk di pintu yang ada di sebelah pintu kasir, setelah melewati tempat stok barang dan dapur kecil. Yuli membuka pintu berwarna oranye, sebuah ruangan yang cukup nyaman. Sebuah kamar tidur besar dengan televisi dan pendinginan ruangan, serta sebuah sofa panjang yang nyaman.
"Bu Nana istirahat dulu di sini, nanti kalau nanti saya akan kembali lagi. Kamar mandinya ada di sebelah sana." Yuli menunjukkan pintu kecil berwarna biru dengan gambar lumba lumba yang lucu.
"Panggil aku, Nana saja."
__ADS_1
"Kalau begitu, anda juga bisa memanggil saya Yuli." wanita berambut panjang itu tersenyum penuh arti.
Yuli berjalan ke arah televisi dan mengambil remote AC yang tergeletak di meja televisi. Setelah mengatur suhu ruangan itu agar terasa nyama bagi tamunya. Yuli pun berjalan meninggalkan Nana dengan senyum.
Nana menatap Nanar pada punggung wanita yang baru saja berlalu di balik pintu berwarna oranye itu. Perlahan Nana berjalan ke arah ranjang, kemudian ia membaringkan tubuh kecil Byaz. Nana pun berbaring miring di sebelah anaknya. Nana membuka kancing bajunya dan mengeluarkan satu buah d*danya. Dengan telaten ia mengarahkan ujung p*tingnya ke arah mulut mungil Byaz dan langsung di lahan oleh si bayi.
Nana tersenyum sambil bersenandung kecil, tangannya terus membelai rambut Byaz yang tumbuh lebat sejak ia lahir. Bayi kecil itu pun mulai memejamkan matanya dengan mulut yang masih terus menyedot ASI ibunya.
"Semoga semua berjalan dengan baik ya sayang. Mama ingin kita bisa bersama lagi dengan Papa." Nana mengecup ubun ubun sang putra.
Tak berapa lama Byaz pun terlelap sempurna, bayi kecil itu pun sudah melepaskan pu*ing ibunya. Nan segera membenahi diri.
"Nana," panggil Yuli dengan lirih. Nana menoleh.
Yuli tersenyum sambil mengangkat nampan yang berisikan makanan dan minuman yang khusus ia buat untuk tamunya. Nana pun perlahan bangun dari ranjang. Dan berjalan menuju sofa yang tak jauh darinya.
Yuli meletakkan makanan di meja dan mengambil duduk di sebelah Nana yang sudah duduk terlebih dahulu.
"Makanlah, setelah itu aku akan menelfon Arie untukmu."
"Kita telfon sekarang saja."
Nana mendengus. " Baiklah."
Keduanya pun menikmati makanan mereka Dengan hening, Nana mempercepat giginya untuk mengunyah. Ia ingin segera menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
Setelah mereka selesai makan, sesuai janji Yuli akan menghubungi Arie. Yuli pun mengambil ponsel dari sakunya dan segera mencari nomer sahabatnya. Setelah dua kali nada dering akhirnya teleponnya di angkat.
"Halo."
"Halo, sayangku cintaku, apa kabarmu? " jawab Arie penuh semangat di ujung telepon.
"Alon Rie." [ "Pelan, Rie." ]
"Hehehehe."
"Rie, iso nang kafeku nggak Saiki?"
[ "Rie, bisa ke kafeku nggak sekarang?" ]
"Onok opo Mba Yul?"
__ADS_1
[ "ada apa Mba Yul?" ]
"Kangen lah, awas ya nek ngga rene. Wes nikahan ku neng jombang nggak teko, Saiki aku wes balik Surabaya ga gelem nemoni aku, awas ya!"
[ "Kangen lah, awas ya kalau nggak dateng. Udah waktu nikahan aku di jombang nggak dateng, sekarang aku sudah balik Surabaya masih nggak mau menemani aku, awas aja ya!" ]
"Ya Mba Yuli, ojo nesu tah mba. kan aku wes kirim kado."
[ Ya Mba Yuli, jangan ngambek dong Mba. kan aku sudah kirim kado." ]
"Iya si, tapi awakmu isokan rene saiki?"
[ "Iya si, tapi kami bisakan ke sini sekarang?" ]
"Ok, Mba. aku izin suami gantengku dulu ya."
"Ok."
Yuli menutup telfonnya dan beralih menatap Nana yang sedari tadi menatapnya dengan heran sekaligus penuh harap. Yuli tersenyum lalu mengangguk, menandakan kabar baik yang akan ia terima.
"Kamu tunggu aja sebentar lagi, pasti Arie datang. Jika Arie bilang ok, dia pasti datang."
"Iya terima kasih ya Yuli, kamu sudah mau bantu aku." Nana meraih tangan Yuli dan menakupnya dengan kedua tangannya.
"Sama sama, aku sebenarnya nggak tega liat anak kamu. Aku nggak bisa bayangin kalau aku ada di posisi kamu, harus berpisah dengan suami. Sementara kita lagi butuh butuhnya di perhatiin, ya meskipun aku belum punya anak, tapi aku bisa merasakan beban yang kamu rasakan," Yuli bicara sambil memandang wajah malaikat kecil yang terlelap di atas kasurnya.
"Semoga sebentar lagi kamu di kasih momongan," Nana berdoa tulis untuk sahabat adik iparnya itu. Nana tau Yuli adalah orang yang baik.
"Aamiin."
"Apa kamu sudah lama berteman dengan Arie?" tanya Nana tiba tiba. Ia begitu penasaran dengan sahabat Arie ini. mereka terdengar sangat akrab berbincang di telepon tadi.
"Konco soro."
[ "Teman susah." ]
"Aku dan Arie bertemu saat kami jadi TKW, dan berlanjut sampai sekarang. Latar belakang kami yang sama sama yatim piatu membuat kami dekat, dan aku sudah menganggap dia sebagai adikku sendiri," ucap Yuli dengan binar bahagia di matanya.
Pikirannya menerawang ke masa di masa ia dan Arie harus berjibaku dengan kerasnya negeri seberang laut itu. Keras namun juga menyenangkan.
Kedua wanita itu mulai berbincang hangat, membicarakan sang tokoh utama yang masih dalam proses izin jalan oleh suami sipitnya.
__ADS_1