
Dunia Alex runtuh seketika. Bagaimana nasib begitu mempermainkan hidupnya. Batu saja mereka melewati masa masa bahagia, kini Tuhan sudah memberikan ujian lainnya.
"Selamatkan istriku," ucap Alex lirih, bibirnya bergetar hebat saat kata kata itu keluar dari mulutnya.
Alex tidak ingin kehilangan keduanya. Namun, jika di harus memilih ia akan memilih Arie. Alex tidak bisa membayangkan jika harus hidup tanpa ada wanita itu. Dia adalah separuh jiwanya, nafasnya Alex tidak bisa kehilangannya. Bagaimana dia akan merawat bayi mereka. Tidak, Alex tidak bisa melakukannya, mungkin terdengar egois. Tapi itulah kenyataannya, Alex bisa membenci darah dagingnya andai Arie meninggal karena melahirkan, dan menyalahkannya sebagai penyebab kematian ibunya.
"Baik Tuan, saya akan berusaha sebaik mungkin." Dokter itu pun segera keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Alex yang sedang bergelut dengan perasaannya sendiri.
Ruang operasi.
Para Tim dokter melakukan pemeriksaan terhadap keadaan janin yang dalam kandungan Arie. Detak jantung bayi itu menurun dan mereka menemukan pembuluh utama di jantung terbelah menjadi dua. Kondisi bayi itu sama kritisnya dengan sang ibu.
Lampu di atas pintu ruangan itu menyala. Menandakan operasi sedang berlangsung di dalamnya. Seorang wanita hamil dengan penuh darah tergeletak di atas meja operasi. Lima orang dokter ahli bedah mengelilinginya.
"Lukanya sangat parah," Ucap seorang dokter.
"Kau benar, tapi dia termasuk perempuan yang sangat kuat." sahut yang lain.
"Dimana dokter Tama?" tanya dokter lainnya.
"Seorang perawat sedang memanggilnya."
"Semoga dia belum pulang, kita sangat membutuhkannya di sini."
"Kita lakukan pembedahan untuk mengeluarkan janinnya terlebih dahulu." ucap dokter kandungan.
"Baik."
Dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar. Bedah di lakukan sebelum dokter menjalankan operasi pada Arie dan kemungkinan akan menempatkan wanita itu dalam kondisi koma.
Satu jam operasi, akhirnya sang bayi bisa keluar dengan selamat meskipun tidak langsung menangis. Bayi itu langsung di bawa ke ruangan lain untuk mendapatkan perawatan intensif.
Sementara itu seorang perawat tergopoh-gopoh berlari ke arah sebuah ruangan. Ia harus bergegas memanggil sang dokter.
"Dokter! anda harus ke ruang operasi sekarang!"
Perawatan itu datang dengan nafas terengah-engah. Dia menunduk, tangannya bertumpu pada kedua lututnya.
Tama menoleh ke arah perawat yang merintis masuk kedalam ruangannya tanpa permisi.
"Ada apa?" tanya Tama sambil meletakkan kembali tas kerjanya di atas nakas. Jam kerja Tama sudah selesai hari ini, baru saja ia akan keluar sebelum perawat itu datang.
"Darurat. pasien korban kecelakaan, sekarang dokter sedang melakukan operasi caesar untuk untuk mengeluarkan janinnya."
Tama pun langsung melangkah keluar melewati perawat itu, dengan langkah lebar ia menyusuri lorong lorong rumah sakit menuju ruang operasi
"Kondisi terakhir pasien."
"Pasien mengalami luka di bagian kepala, tulang pipi retak, panggulnya hancur dan patah kaki. Kondisi janin dalam kandungan lemah, detak jantungnya menurun dan kemungkinan ada kelainan pada jantung," lapor sang perawat sembari melangkah cepat mengimbangi langkah lebar sang dokter.
Tama pun mengangguk mengerti. Ia pun mempercepat langkahnya. Setelah mendapat informasi lebih rinci tentang keadaan pasien. Tama pun segera mensterilkan dirinya, dan memakai seragam ruang operasi. Sebelum ia masuk seorang perawat mengatakan kondisi terakhir pasien yang baru saja menyelesaikan operasi caesar-nya. Ia lantas masuk dan mendekat ke ranjang pasien.
Tama tercengang melihat wajah yang terbaring di sana. Seorang perempuan yang pernah menjadi pujaannya. Namun, dengan segera Tama menyadarkan dirinya.
__ADS_1
Bersama dokter lainnya Tama melakukan operasi.
Kau harus kuat, aku akan menyelamatkanmu. Kau harus tetap hidup Arie, aku akan mengusahakan yang terbaik.
Arie menderita arteri putus di atas hatinya. Patah tulang rusuk yang menusuk sampai ke hatinya serta panggul hancur. Selain itu tulang pipi Arie retak, kakinya patah dan terdapat luka besar di kepalanya. Dengan semua luka yang dialami oleh pasien. Dokter tidak yakin bisa menyelamatkan nyawanya. Namun, sebagai dokter mereka berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi pasien.
Satu jam operasi, akhirnya sang bayi bisa keluar dengan selamat meskipun tidak langsung menangis. Bayi itu langsung di bawa ke ruangan lain untuk mendapatkan perawatan intensif.
Para tim dokter pun melanjutkan operasi mereka pada Arie. Setelah dua jam, akhirnya operasi selesai di laksanakan. Butuh 48 jahitan untuk menutup luka di kepalanya. Sebenarnya Para dokter sempat tidak yakin pasien akan bertahan dalam masa operasi, mengingat berapa banyak luka yang di deritanya.
*****
Kantor
Chiko yang sedang tengelam dalam perkejaannya, Ia sangat sibuk mengerjakan pekerjaan sang tuan yang sedang cuti. Menghabiskan waktu bersama istrinya.
Triiingg....
Ponsel Chiko terus berdering. Ia pun segera mengambil ponsel di atas nakas. Nama Alex tertera di layar ponselnya.
"Halo Tuan."
"Halo, selamat siang."
"Maaf, apa Anda asisten dari yang mempunyai ponsel ini?" ucap seorang di seberang telepon yang jelas bukan suara Tuannya.
"Ini dari kantor polisi, saya ingin mengabarkan bahwa orang yang mempunyai ponsel ini sedang berada di rumah sakit, karena kecelakaan.
"Anda adalah orang yang terakhir di hubungi oleh korban maka kami menghubungi anda. Sekarang korban beserta istrinya di bawa ke rumah sakit xx untuk mendapatkan perawatan."
"Baik pak, saya mengerti. Terima kasih atas informasinya."
"Sama sama."
Tama segera mematikan ponselnya, panik. Chiko segera menghubungi pak Darwis dan Arow. Chiko sendiri pun segera bergegas berat ke rumah sakit.
Dengan kecepatan tinggi Chiko mengendarai mobilnya. Setelah cukup lama berkendara ia akhirnya sampai di rumah sakit yang di maksud. Dengan cepat Chiko turun dari mobilnya.
"Suster saya di mana kamar korban kecelakaan yang baru saja masuk ke rumah sakit ini?" tanpa Chiko pada bagian informasi di rumah sakit.
"Apakah mereka sepasang suami istri?"
"Iya, benar."
"Apakah anda keluarga pasien?
"Bukan saya asisten pribadinya, saya akan bertanggung jawab atas beliau sementara ini "
"Baik."
"Pasien pria sudah ada di ruang rawat, sedangkan istrinya masih menjalani operasi."
"Tolong pindahkan tuan saya ke ruang VIP begitu pula Nyonya, tolong pastikan beliau mendapatkan perawatan terbaik. "
__ADS_1
"Baik Pak, tolong anda lengkapi administrasi kedua pasien terlebih dahulu."
"Baik suster."
Setelah menyelesaikan administrasi, Chiko menunggu kedatangan Tuan besar dan Arow. Cukup lama Chiko menunggu di depan rumah sakit. Akhirnya tiga orang yang ia tunggu pun datang. Arow, Kakek Wu dan sang asisten Darwis.
"Tuan," Chiko menyambut ketiga pria yang datang dengan raut wajah cemas mereka.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Kakek Wu, guratan kesedihan nampak jelas di wajahnya yang sudah tidak muda lagi itu.
"Tuan Alex sudah di pindahkan ke ruang perawatan, dan saya menyuruh mereka menempatkannya di ruang VIP. Tapi.. Nyonya.." Chiko tertunduk.
"Apa? Ada apa dengan Arie?" tanya Arie dengan gusar, karena Chiko tidak melanjutkan ucapannya.
"Nyonya Arie masih di ruang operasi, keadaan kritis."
Ketiga orang itu membeku, bagaikan sambaran petir. Apa yang mereka dengarkan seakan tidak ingin mereka percayai.
"Chiko, kembalilah ke kantor."
"Tuan, saya." Chiko menatap nanar pada Kakek Wu.
"Kantor tidak boleh kosong. Beberapa hari ke depan aku mempercayakan semua padamu."
"Tapi Tuan-
"Aku tau kau pasti bisa. aku ingin Alex dan Arie fokus pada kesehatan mereka." Kakek Wu menepuk pundak Chiko pelan.
Menerima kepercayaan sebesar ini bukanlah hal yang mudah. Namun, Chiko harus melakukannya.
"Baik tuan saya mengerti."
"Bagus, jika ada hal kau perlukan kau bisa menghubungi Darwis." ucap Kakek Wu dengan tersenyum. Sebuah senyum yang ia paksakan di wajah dukanya.
"Baik, kalau begitu saya permisi."
Kakek Wu mengangguk. Chiko pun bergegas menuju mobilnya dan kembali ke perusahaan, sesuai dengan perintah Tuan besarnya.
"Arow, kau harus kuat. Adikmu butuh dukungan dari kita."
Suara Kakek Wu menyadarkan Arow masih sangat syok dengan apa yang Chiko sampaikan.
"Iya," jawabnya singkat tanpa semangat sedikit pun
Mereka pun segera masuk, Kakek Wu dan Arow memutuskan untuk pergi ke ruang operasi. Sementara Pak Darwis di perintahkan untuk melihat keadaan Alex.
Setelah dua jam menunggu di depan ruang operasi. Seorang dokter pun keluar.
"Bagaimana keadaan cucu saya?" tanya Kakek Wu dengan cemas. Arow pun bangkit dari duduknya, ingin bertanya hal yang sama pada sang dokter, akan tetapi lidahnya begitu kelu untuk bicara.
"Pasien mengalami luka yang sangat parah. Maaf kalau saya bicara apa adanya, saya tidak ingin memberikan harapan palsu pada Anda. Kemungkinan besar pasien akan mengalami koma. Harapan hidupnya hanya tiga puluh persen. Tapi saya bukan Tuhan yang bisa menentukan umur manusia, itu hanya kesimpulan dari pemeriksaan yang saya lakukan pada pasien. Tolong, tetaplah berdoa jangan putus asa, pasien sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya." Dokter itu menepuk pundak Kakek Wu dengan pelan, sebelum melanjutkan langkahnya.
Arow sudah terduduk lemas di lantai. Kakek Wu pun sama ia segera berpegang pada sandaran kursi untuk menopang tubuhnya .
__ADS_1