
Hari ini seperti biasa Arie tertidur sendiri di ruang tamu,tapi bedanya bukan ruang tamu apartemen milik suaminya, tapi ruang tamu di rumah besar milik keluarga Wang.
"Nona," ucap seorang wanita yang sudah berumur. Dengan lembut tangan tuanya menggoyangkan tubuh Arie.
Arie mengerjakan matanya, menetralkan cahaya lampu yang masuk ke matanya, dengan enggan Arie membangkitkan setengah tubuhnya yang terbaring di sofa.
"Emhh.. iya," ucap Arie malas, sambil menggaruk kepalanya.
"Jam berapa Bu?"
"Sudah lewat tengah malam Non."
"Mari saya antar ke kamar, Tuan muda," ujar pelayan itu.
Arie mengangguk kecil, dengan langkahnya yang sedikit di seret, Arie mengikuti langkah pelayan tua di depannya. Perlahan mereka menaiki tangga dan sampai di sebuah kamar.
"Ini kamar Tuan muda Alex, silakan Nona beristirahat." Pelayan itu membungkuk hormat lalu meninggalkan Arie.
Arie meraih gagang pintu dan memutarnya perlahan. Warna biru mendominasi seluruh ruangan, perlahan Arie masuk ke dalam kamar. Tak terlalu banyak barang di sana, hanya seperti kamar pada umumnya, foto seorang anak laki-laki berusia 10 tahun terpasang di dinding.
Arie berjalan mendekati foto itu, merasa pernah melihat wajah anak itu Dengan lekat Arie terus memandangi gambar anak laki-laki itu dan berusaha menggali ingatannya sendiri.
"Sayang."
Tangan kekar itu melingkar di pinggang Arie yang sudah mulai sedikit melebar. Arie memejamkan matanya menghirup Aroma maskulin yang sangat ia rindukan.
"Kenapa lama sekali," ucap Arie manja.
Alex menopang dagunya di bahu Arie, dan mempererat pelukannya. Raut kesedihan nampak jelas tergambar di wajahnya yang lelah, tapi beruntung posisi mereka tak saling berhadapan sehingga Arie tak bisa melihat wajahnya.
"Kenapa diam, apa kau lelah Sayang?" tanya Arie. perlahan Arie bergerak membalikkan tubuhnya. Namun terhenti saat Alex lebih mengeratkan pelukannya.
"Jangan berbalik, biarkan seperti ini," lirih Alex.
Alex tak ingin Arie melihatnya sekarang, melihat seorang dewasa yang tak bisa lepas dari masa kecilnya, rasa bersalah yang masih menyesakkan dadanya. Alex menengelamkan wajahnya di ceruk leher Arie, menghirup aroma yang begitu menenangkan dirinya, tangan Alex terulur ke bawah, mengelus lembut perut Arie.
Cukup lama mereka berada dalam posisi itu, Arie membiarkan suami sipitnya melepaskan penat yang ada di hatinya. Arie bisa merasakan kegelisahan Alex, tanpa harus pria itu berucap.
"Sayang apa kau ingin pulang," ucap Arie tiba-tiba.
Tangan Alex berhenti mengusap perut buncit Arie, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Kenapa bertanya seperti itu."
Kini Alex membalikkan tubuh Arie membuat mereka saling berhadapan, perlahan Alex menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Jangan tanya penampilan Arie, tertidur di sofa tidak akan membuatmu bangun dengan cantik bukan.
Arie hanya diam dan menatap intens pada suami sipitnya, ada kesedihan yang mendalam meski Alex berusaha menyembunyikannya.
"Kau pembohong yang buruk Tuan sipit." ucap Arie sambil menoel hidung mancung Alex.
__ADS_1
Arie mengalungkan kedua tangannya di leher Alex, menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Alex. Arie bisa merasakan Alex merasa tidak nyaman berasa di rumah itu.
"Kau benar, tapi ini sudah sangat larut."
Alex mengangkat tubuh Arie ala bridal, lalu meletakkannya perlahan di ranjang empuk yang belum pernah di tempati oleh siapapun.
"Tidurlah," lirih Alex lalu mengecup hangat kening Arie. Arie pun mengangguk dan mulai memejamkan matanya.
Alex menarik selimut untuk menutupi mereka berdua, Alex merengkuh tubuh kecil Arie dalam pelukannya. Mereka berdua mulai menjelajahi pulau mimpi bersama.
Di tempat yang berbeda.
Siska dengan susah payah menaikkan tubuh Tama kembali ke kursi ruang tamunya, setelah pria itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Haduh, kalau bukan karena hujan, aku tinggalin di parkiran tadi," keluh Siska.
Tama yang pingsan di hadapan Siska, saat Siska mau mengeluarkan motor dari tempat parkir untuk pulang. Sebenarnya sempat ingin meninggalkan pria itu tergeletak begitu saja di sana, tapi melihat beberapa preman yang sudah mengincarnya dan langit mulai menitikkan airnya. rasa kemanusiaan membuat Siska memutuskan untuk membawa pria asing itu pulang, hal yang belum pernah di lakukan Siska sebelumnya.
"Emmh.."
"Kau sadar, kau mau minum sesuatu,"tanya Siska.
Huek..huek.
Tama mengeluarkan isi perutnya, mengotori baju dan seluruh lantai.
"Haaaah, kau sungguh sangat menyusahkan," ujar Siska kesal.
"Kalau mau mabuk tuh bawa hp, biar bisa telpon ke rumah, biar ada yang jemput, ga kayak gini nyusahin orang," Siska terus menggerutu sambil membersihkan lantai ruang tamu.
Selesai membersihkan lantai, siska berkacak pinggang di depan Tama, tubuh pria itu kotor dengan muntahnya sendiri, harus bagaimana? Siska bertanya pada dirinya sendiri.
"Kalau di biarkan dia akan masuk angin, tapi gimana cara, hisss," keluh Siska kesal.
Persetan
Mau tidak mau akhirnya jiwa kemanusiaan siska yang menang, Siska mulai membuka kancing kemeja yang di pakai Tama dengan gerakan cepat, sialnya muntah Tama merembes sampai kaos dalamnya.
Setelah sesi lepas baju yang bau dan mendebarkan, kini sesi selanjutnya di mulai, dengan terpaksa Siska membasuh tubuh Tama dengan handuk yang di basahin dengan air hangat, jajaran roti sobek sempat membuat Siska terpana, namun dengan segera dia menyadarkan dirinya.
Merasa ada yang mengusap tubuhnya, Tama mulai membuka matanya.
"Emh.. shhh," Tama mendesah merasakan kepalanya yang berdenyut.
"Eh, sudah sadar, baguslah," ketus Siska.
"Di mana aku?" ucap Tama sambil memegang kepalanya yang pusing, lalu berusaha mengangkat tubuhnya untuk duduk.
"Di rumahku," ucap Siska.
__ADS_1
"Anda tadi mabuk, saya membawa anda pulang sebelum anda dimangsa preman jalanan," imbuh Siska lagi.
"Bajuku mana bajuku, apa yang mau kau lakukan." Tama terbelalak melihat dirinya yang telanjang dada.
"Jangan mikir aneh aneh, Anda muntah dan mengotori ruang tamu saya, baju Anda juga terkena muntah anda sendiri, kalau tidak percaya Anda bisa memeriksakan di ember itu," ujar Siska sambil menunjukkan ember yang berisi baju kotor Tama.
"Maaf, terima kasih." Ucap Tama lirih.
"Tak masalah, sudah sering orang memandang saya seperti itu," ujar Siska dengan tersenyum kecut.
Siska beranjak dari duduknya, lalu berlalu ke dapur. tak berapa lama Siska kembali dengan segelas air lemon hangat di tangannya.
"Minumlah, ini bisa membuat Anda merasa lebih baik."
"Terima kasih," Tama menerima minuman yang di berikan Siska dan meminumnya perlahan.
"Hujan sudah reda, Anda bisa pulang jika Anda merasa lebih baik."
"Baiklah," ujar Tama datar.
Siska membalikkan tubuh hendak pergi ke dalam.
Sreet
Bruugh
Siska terpeleset lantai basah yang tadi saja dia bersihkan, Siska jatuh mendarat di atas tubuh Tama. Siska segera menarik dirinya, lalu membantu Tama berdiri. Namun tubuh Tama yang belum sepenuhnya bisa seimbang malah oleng dan jatuh menindih Siska. Keduanya membeku dengan posisi mereka.
Brakk.
"Apa yang kalian lakukan," pekik seorang pria dengan berselempang sarung dan membawa senter di tangannya.
Tama Dan Siska segera Bangkit, dan membenahi, diri mereka.
"Kami ga ngapa-ngapain pak, ini tadi saya ga sengaja jatuh," ujar siska mencoba menjelaskan.
"Alah ga usah alasan wanita kayak kamu, mana mungkin ga ngapa-ngapain.!" seru seorang pria yang baru datang dengan seorang lagi
"Pasti langganan kamu ya, Dasar janda Gatel," timpal pria berselempang sarung.
"Ga pa, demi Allah Pak, saya kami ga berbuat macam-macam," ujar Siska lagi. mata Siska mulai berkaca-kaca.
Meskipun Siska bilang sudah biasa di pandang miring orang lain, tapi jauh di lubuk hati Siska, dia juga merasa sakit hati.
"Ga usah bawa nama Allah, wong udah jelas, liat saja pria ini sudah tidak memakai baju." hardik pria itu lagi.
"Sudah panggil pak RT."
"Iya." satu dari pria itu pun pergi dari rumah siska.
__ADS_1
"Pak Kenapa Anda diam saja, tolong ngomong sama mereka, ini ga bener pak, kita ga ngapa ngapain," Siska mengoyangkan tubuh Tama yang diam mematung.
Sebenarnya Tama ingin menjelaskan perkara ini, tapi melihat posisi mereka jatuh di tambah dirinya yang tidak memakai baju, maka sudah bisa dipastikan percuma. dan lagi Tama Dangan tidak suka saat orang orang itu menghina Siska. Jadi Tama diam untuk menahan amarahnya.