Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Rebutan


__ADS_3

Setelah menginap semalam di rumah sakit, Arie di perbolehkan untuk pulang. suasana kamar rawat sangat tegang, dua orang pria dewasa sedang bersikukuh untuk membawa Arie pulang.


"Tidak bisa Kek, kami akan pulang ke apartemen," ujar Alex.


Alex yang sedang berdiri di sisi kanan brankar, sementara Kakek Wu duduk di kursi sebelah kiri brankar.


"Apa maksudmu tidak bisa!"


"Arie akan pulang ke rumah besar bersama kakek, titik!"


"Kakek, Arie istriku, dan dia akan pulang bersamaku," ucap Alex dengan nada merendah.


Bagaimana bisa Alex membiarkan Arie tinggal di rumah besar. bisa gagal semua rencana Alex untuk buka puasa sebelum seminggu.


"Kau lihat Arie kesepian, dia sendirian di apartemen kecilmu itu, Kakek dan semua pekerja di rumah akan menemani Arie saat kau berkerja."


Arie yang masih duduk berselonjor di atas brankar, hanya bisa menutup kedua telinganya. mendengar kedua manusia di samping yang beradu mulut, membuat telinganya sakit.


"Aku akan ajukan cuti," kekeh Alex.


"Apa! kau akan meninggalkan pekerjaanmu begitu saja. kau masih harus mengurus acara tahunan kantor, mana bisa kau seenaknya ambil cuti, dadar cucu pemalas."


"Ada Chiko yang akan mengurus semuanya," ujar Alex lagi.


Alex meraih tubuh Arie dalam pelukannya.tak perduli dengan Kakek wu yang menatap tidak suka dengannya.


Arie tersenyum kecil melihat tingkah suami sipitnya. memeluknya erat dengan wajah cemberut, seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan mainannya.


"Sekertaris mu itu akan segera masuk rumah sakit, kalau kau terus memforsir nya seperti ini," ucap Kakek Wu, dengan nada menyindir.


"Sudahlah, ikuti saja perintah Kakek. Arie tinggal di rumah besar, apa kalian berdua tidak ingin menemani Kakek di masa tua ini," ucap Kakek Wu sendu.


Alex dan Arie saling bertatapan.


"Sayang Kakek benar, kenapa kita tidak pindah saja ke rumah. Kakek sendirian kan kasian," ucap Arie.


Mendengar Arie berkata seperti itu, sebuah senyum samar terbit di bibir kakek Wu.


"Tidak sayang, kakek tidak kesepian. ada pak Darwis dan para pekerja di rumah yang menemaninya."


Alex bukannya tidak tahu, akal bulus Kakek Wu untuk membuat Arie merasa menyetujui keinginannya.


"Lagi pula teman Kakek sangat banyak, mereka selalu berkumpul di rumah besar untuk bernostalgia bersama Kakek."

__ADS_1


"Benarkan Kakek," imbuh Alex.


Cih, cucu kurang ajar. bagaimana dia bisa membuka kedok ku di depan cucu kesayanganku, gumam Kakek Wu dalam hati.


"Pokoknya Arie harus pulang bersama Kakek, titik," ujar Kakek Wu dengan nada tinggi.


"Tidak, pokoknya tidak boleh."


"Pulang ke rumah besar."


"Apartemen."


"Rumah besar."


"Alex jangan buat darah tinggi kakek kambuh," ucap Kakek Wu dengan keras.


"Kakek tidak punya riwayat darah tinggi," elak Alex.


"Kau, dasar Cucu tidak tau di untung."


"Kakek tidak mau tahu. Arie harus pulang bersama Kakek."


"Arie pulang ke apartemen."


Alex dan kakeknya menoleh ke arah pintu. Adinata berdiri dihadapan dua orang yang sedang memperebutkan anaknya.


"Apa maksudmu Ayah," ucap Alex.


"Jangan panggil aku Ayah, aku belum sepenuhnya menerima mu," ucap Adinata.


"Tapi bukankah kemarin,-


"Kemarin aku khilaf," sanggah Adinata cepat.


Alex hanya bisa menekuk wajahnya kecewa. sementara Arie memandang Ayahnya dan Alex secara bergantian, mencoba menerka apa yang di maksud khilaf oleh Ayahnya.


"Tidak Tuan Adinata Sasongko. Cucu saya akan pulang ke rumah saya," tegas kakek Wu.


"Arie anak saya, jadi saya lebih berhak memutuskan, kemana dia akan pulang," ucap Adinata tidak mau kalah.


"Dia Istri saya, saya yang lebih berhak," ucap Alex.


Alex tidak boleh kalah dengan dengan dua Tetua yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"DIAAM," teriak Arie.


ketiga pria itu pun sontak membeku.


"Ada yang nanya Arie mau pulang kemana. kalian semua ribut, tanpa perduli apa yang Arie inginkan," Arie mengembungkan pipinya kesal.


Ketiga pria itu menundukkan kepalanya. persis seperti anak kecil yang di marahin emaknya.


Arie melingkarkan tangannya di pinggang Alex,dan menggelamkan wajahnya di dada bidang Tuan sipit itu.


Seketika senyum kemenangan terbit di bibirnya.


"Yang, ayo pulang," ucap Arie manja.


"Pulang ke apartemen kan," ujar Alex mencoba memastikan.


Arie hanya mengangguk kecil, senyum Alex mengembang lebar. mungkin mulutnya sebentar lagi akan robek, karena terus di tarik ke samping.


"Tapi Nak, ayah ingin merawat mu, apa kau tidak ingin berada di samping Ayahmu ini," Ujar Adinata dengan sendu. dia mencoba merayu anak perempuannya itu.


Sebenarnya Arie tidak tega melihat wajah Ayahnya, tapi mengingat sang Nenek. membuat Arie mulai menjaga jarak dari keluarga Sasongko.


"Kakek juga rindu sekali dengannya, apa kau tidak ingin menemani Kakek. entah berapa lama lagi usia kakek mu ini," Kakek Wu tak mau kalah dari Adinata.


Adinata melirik tajam pada kakek wu, begitu pun sebaliknya. kedua mata itu saling berseteru dalam diam.


"Kakek, Ayah," aku akan mengunjungi kalian, tapi untuk saat ini aku ingin pulang bersama suamiku," ucap Arie lembut.


Kakek biarkan aku menghukum suami tercintaku ini, gumam Arie dalam hati.


Kakek Wu yang melihat mata Arie seakan bisa menebak, kalau Cucunya sedang merencanakan sesuatu.


"Baiklah Kakek tidak akan memaksamu lagi, tapi kau harus berjanji untuk mengunjungi kakek mu ini."


Kakek Wu bangkit dari duduknya. melangkah mendekati Adinata.


"Besan, sebaiknya turuti saja kemauan ibu hamil ini, mungkin mereka butuh waktu untuk bersama," ucap Kakek Wu.


Dengan berat hati, Adinata mengangguk. sebenarnya Adinata bukan tidak mengerti, dia hany ingin punya waktu lebih banyak bersama putrinya. terlebih setelah insiden kemarin.


"Baiklah, tapi aku akan mengantarmu sampai ke apartemen," tegas Adinata.


"Tentu Ayah," ucap Arie dengan riang.

__ADS_1


__ADS_2