
Dengan malas Tama melangkah mendekati pintu yang di ketuk perlahan dari luar. Ia pun memutar handle pintu, Tama sedikit terkejut saat melihat tamu yang bertandang ke rumahnya. Sepasang suami istri, dengan bibir yang dipaksakan tersenyum di wajahnya yang ketakutan.
"Kamu Ali kan?" tanya Tama memastikan.
"Iy--iya pak saya Ali, yang pernah membawa mobil bapak waktu itu," jawab Ali dengan tergagap.
"Ada apa? apa ada masalah?"
"Tidak pak, tapi ini istri saya." Ali matik tangan istrinya membuat wanita yang sedari tadi tertunduk itu beralih ke hadapan Tama.
Tama mengeraskan rahangnya saat melihat wanita itu. Masih sangat jelas di ingatannya, wanita itu adalah salah satu orang yang membully istrinya.
"Masuk!"
"Ayo masuk Bu," lirih Ali dengan sedikit mendorong tubuh istrinya yang tak bergeming.
Munah menoleh ke belakang dengan wajahnya yang pias. Ekor matanya melirik wajah garang yang menatapnya dengan tajam.
"Ibu takut pak," ucap Munah dengan lirih juga.
"Kalian berdua mau masuk, atau tetap berdiri di sini. Biar semua orang bisa melihat saya memberikan pelajar orang yang berani mengusik istri saya!" sentak Tama.
"Iy..iya pak kami masuk." Ali mendorong tubuh Munah dengan keras. Sehingga mau tak mau istrinya pun melangkah masuk.
"Duduk!" titah Tama.
Kedua orang itu pun patuh dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Keduanya masih menunduk dan saling menyenggol lengan.
"Apa yang kalian ingin mengatakan sesuatu." Tama mendudukkan dirinya, kepalanya tersandar dengan kedua tangannya dilipat didada.
"Anu pak, istri saya mau minta maaf," ujar Ali dengan gugup.
"Biarkan istri bang Ali sendiri yang bicara," tukas Tama dengan menatap tajam ke arah wanita yang duduk tak jauh darinya.
Wanita itu terus terus menunduk dan memainkan tangannya. Wajah pucat pasi, gelisah dan takut jelas nampak di wajahnya.
"Ayo ngomong!" sentak Tama. Kedua orang itu pun terjingkat.
"Mas, ada tamu siapa?" tanya Siska yang baru saja muncul dari dalam. Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang duduk di ruang tamunya.
"Sini sayang, ada tamu spesial untuk kamu." Tama mengulurkan tangannya, Siska pun menyambutnya yang duduk di sebelah suaminya.
Sebenarnya siska masih belum nyaman berada di dekat munah. Rasa canggung dan takut masih ia rasakan.
Tama pun langsung melingkarkan tangannya di bahu Siska. Merapatkan istrinya lebih dekat.
"Istri saya sudah ada di sini. Silahkan anda bicara secara langsung," ucap Tama penuh penekanan. Siska memegang erat lengan baju Tama.
__ADS_1
"Anu-- mba Siska saya minta maaf soal kejadian yang tadi," lirih Munah.
Siska bergeming dia menatap suaminya. Tama pun menoleh dan tersenyum sambil mengelus lengan Siska.
Marah, kesal dan kecewa rasanya campur aduk dihati Siska. Bohong jika ia tidak ingin membalas dendam atas perbuatan yang wanita itu lakukan padanya. Tapi apa untungnya berbuat seperti itu, apa bedanya siska dengan munah jika dia melakukan hal yang sama.
"Mba saya mohon maafkan istri saya ya. Dia hanya salah faham," ujar Ali membela istrinya.
"Apa anda tahu apa yang istri anda lakukan terhadap istri saya. Dia bisa saja berbicara dengan baik baik, bukan langsung memutuskan semua sendiri dan menghakimi orang lain seenak jidatnya seperti itu!"
"Karena itu saya akan tetap membawa masalah ini ke jalur hukum!" tegas Tama.
"Jangan pak, saya mohon jangan laporkan saya ke polisi." Munah merosot bersimpuh di hadapan Tama.
Siska terkejut. Reflek ia menepis tangan munah yang hendak meraih tangannya. Bukan karena jijik akan tetapi ia merasa risih dan tidak enak dengan sikap Munah seperti ini. sementara Ali hanya memandang istrinya dengan diam.
"Mas kasian mba Munah. Siska udah maafin dia kok mas, ga usah di perpanjang ya," lirih Siska dengan memohon.
Meskipun Siska tahu bahwa Munah tidak benar-benar tulus meminta maaf kepadanya. Siska bisa melihat sorot mata Munah yang menatapnya dengan penuh kebencian. Wanita itu hanya takut jika Tama melaporkannya polisi.
"Tidak boleh seperti itu, pokoknya Mas tidak akan melepaskan semua orang yang sudah menganiaya kamu!"
"Mas."
"Diam." Siska pun menutup rapat mulutnya.
"Bang ali, bisa saya minta tolong?"
"Tolong panggil pak RT kemari, sekarang." perintah Tama. Ali mengangguk mengiyakan ucapan Tama.
"Saya permisi sekarang." Ali langsung bangkit dari duduknya, dan bergegas keluar.
Munah meremas kedua lututnya.
'Bojo edan, aku malah di tinggal Ijen di kene,' [Suami gila, aku malah di tinggal sendirian di sini,'] gerutu Munah dalam hati.
"Mba munah tolong berdiri, duduk di kursi saja." Siska bangun hendak membantu Munah berdiri akan tetapi langsung dihentikan oleh tangan Tama.
"Dia bisa berdiri sendiri," tukas Tama.
Perlahan Munah pun mengangkat tubuh sendiri untuk duduk di sofa. Suasana ruang tamu itu sungguh mencekam. Tidak sedetikpun Tama melepaskan pandangannya yang mengintimidasi pada perempuan di hadapannya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Tama dan Siska serempak.
"Silahkan masuk pak RT." Siska bangun dari duduknya dan mempersilahkan kedua tamunya.
__ADS_1
"Saya buatkan minuman dulu ya." Siska pun melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Boleh saya tahu ada apa ya Bapak menyuruh saya kemari?" tanya pa RT yang baru saja duduk.
"Saya ingin membuat laporan tentang ini pak."
Tama merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel miliknya. Dia pun memutar video, yang merekam saat ibu ibu kompleks membully istrinya. Ia meletakkan ponselnya di meja agar para tamunya bisa melihat dengan jelas. Siska yang keluar dari dapur sambil membawa minuman di tangannya pun ikut terkejut dengan apa yang ada di ponsel suaminya.
Kapan Mas Tama merekamnya?
"Astaghfirullah," Pekik pak RT.
Munah dan Ali yang turut melihat video itupun hanya bisa menganga terkejut. Munah semakin ketakutan, tubuhnya sampai gemetar. Ia menoleh kepada suaminya seakan meminta pertolongannya.
Siska meletakkan empat cangkir teh hangat di atas meja.
"Silahkan di minum pak," ucap Siska di jawab anggukkan kecil Pak RT. Sementara dua orang lainnya masih membeku.
"Saya akan membuat laporan ke kantor polisi, dan menjadi ini sebagai bukti." keempat orang termasuk Siska pun menoleh serempak ke arah Tama, ia pun duduk di samping suaminya lagi.
"Ampun pak, jangan laporkan saya ke polisi pak, ampuni saya," Munah kembali bersimpuh dengan menakupkan kedua tangannya. Ia pun mulai menangis.
Bayangan jeruji besi seketika terlintas membuatnya bergidik ngeri.
"Seharusnya kamu, pikir dulu sebelum bertindak. Tenang saja kamu tidak akan sendirian, semua orang yang ada di video itu akan saya laporkan juga." Tama meraih ponselnya dan memasukkan kembali kedalam sakunya.
"Sabar pak sabar. Kita bisa membicarakannya secara kekeluargaan," ucap Pak RT.
"Iya mas, kita bicarakan baik baik ya." Siska mengusap lembut dada Tama mencoba menenangkan.
"Kamu, masih bisa bicara seperti itu." Tama menoleh kepada istrinya dengan kilatan amarah di matanya. "Apa yang ada dipikiran
kamu sebenarnya.Tidak! aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja."
Munah masih menangis tersedu, berulang kali ucapan maaf keluar dari mulutnya. Namun, sama sekali tidak dipedulikan Tama.
Pak RT pun menatap iba pada Munah, tapi apa yang di lakukannya memang sudah keterlaluan.
"Pak, Mba, tolong maafkan istri saya. Saya berjanji istri saya tidak akan mengulanginya lagi, pak. Saya mohon pak." Ali pun turut bersimpuh di sebelah istrinya.
"Kami pikir akan ada lain kali!"
"Mas, sabar." Siska mengusap dada suaminya lagi.
"Ck, Pak RT saya minta tolong pada bapak untuk mengumpulkan semua orang yang ada membully istri saya. Polisi akan segera datang kemari. Dan kalian berdua duduk yang benar dan tunggu saja di sini."
"Pak, apa tidak bisa di bicarakan dengan kepala dingin saja, saya yakin semua ibu ibu itu pasti menyesali perbuatannya," tutur pak RT.
__ADS_1
"Saya ingin memberikan efek jera pada mereka. Saya mohon bantuan anda!" tegas Tama. pak RT pun tidak bisa berkata lagi.
Ia pun pamit keluar, untuk memanggil semua tersangka yang terekam di ponsel Tama. Sementara Munah dan Ali tak henti minta maaf, mereka masih tetap bersimpuh di hadapan Tama.