
Arie masih betah duduk berselonjor kaki di depan televisi, dengan menyandarkan tubuhnya di sofa. dengan memangku stoples kacang. setelah Alex membawanya pulang dari taman, tak ada niatan sama sekali bagi bumil itu untuk membersihkan dirinya.
Alex yang baru keluar dari kamarnya dengan hanya memakai kaos dalam dan celana pendek, dengan rambutnya yang basah. perlahan dia mendekati Arie.
"Sayang, kamu ga mandi," Alex duduk di atas sofa. Kedua kakinya terbuka mengapit tubuh Arie di tengahnya.
Jemari Alex menarik karet yang mengikat rambut Arie, membiarkan rambut hitam panjang itu tergerai bebas. Alex menciumi pucuk rambut Arie.
"Issh... Yang, gerah," rengek Arie. Arie menengadahkan kepalanya, membuat dua saling bertatapan.
Alex tersenyum tipis melihat Arie meraih serpihan kacang yang menempel dengan ujung lidahnya. Melihat itu membuat Alex menempelkan bibirnya perlahan, mata Arie terpejam merasakan gerakan lembut di bibirnya.
"Apa sudah boleh," ucap Alex setelah melepaskan tautan bibir mereka.
"Sudah berapa kali Anda bertanya, Tuan," ucap Arie dengan senyum manisnya.
Alex menekuk wajahnya masam, bukan perkara mudah membujuk Bumil ini untuk ber iya iya. Arie kembali menghadap televisi di hadapan.
"Ikat rambutku lagi," titah Arie.
Dengan perlahan Alex mengumpulkan helaian rambut Arie, beberapa kali Alex berusaha untuk mengumpulkan rambut hitam itu jadi satu, tapi selalu saja ada yang tertinggal.
Arie tersenyum kecil mendengar Alex yang menggerutu, memarahi rambut karena selalu lolos dari jari jari besarnya.
"Sudah lepaskan, biar aku sendiri."
Alex mengangkat kedua tangan. Dengan jemarinya yang lentik Arie mengumpul rambut jadi satu menggulung dan mengikatnya dengan ikat rambut.
"Kenapa mudah sekali," protes Alex.
Arie tidak menjawab dia malah mengerakkan gerakan jari kakinya, dengan mata yang fokus pada layar datar di depannya. sebuah iklan minuman yang memperlihatkan segerombolan anak muda berseragam putih abu-abu berlarian di pantai, laut yang biru dan jernih, terlihat sangat indah.
Arie seakan membayangkan telapak kakinya, menyentuh butiran pasir putih, merasakan hembusan angin laut yang segar, bibir Arie terangkat ke atas, terasa begitu bahagia. iklan telah usai, Arie memberengut kesal, ternyata itu hanya imajinasinya saja, tak ada pasir di kakinya, nyatanya angin dari AC yang menerpa wajahnya.
Arie baru merasakan kalau Alex sedang sibuk menanam strawberry di belakang lehernya. Alex benar benar tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu, jika sudah berdekatan dengan dirinya.
Tangan Alex mulai menjalar ke bawah, menyusup ke dalam kaos Yang di pakai Arie. baru saja tangan itu menyentuh melon yang semakin berisi.
"Ehem, abis tanam strawberry, mau ambil melon, iya!" ucap Arie dengan cukup keras.
"Hehehe.." Alex menyengir kuda, dan segera menarik kembali tangannya.gerah
"Dikit aja, Yang," rengek Alex yang sudah tidak tahan.
"Au ah, mau mandi," Arie beranjak dari duduknya, lalu melangkah meninggalkan ruang keluarga.
__ADS_1
Alex segera ikut bangkit dan mengekor di belakang Arie. kesempatan baik tidak boleh di sia siakan.
"Sayang aku mandiin lagi ya," bujuk Alex.
"Ga, tadi pagi aja tangan mu begitu aktif saat memandikanku," ucap Arie sambil terus berjalan.
"Kan pelayanan khusus, plus plus."
"Ga, sekali ga ya Ga, lagian kamu masih wajib puasa. sebagai hukuman mu."
"Aku tidak menerima penolakan," Alex langsung saja mengendong Arie dalam pelukan.
"Alex nakal banget sih," Arie menggelayut kan tangan di leher Alex.
"Karena kau begitu seksi sayang, jangan salahkan aku, mungkin aku tidak bisa memenuhi hukuman dari mu," Alex memperlebar langkahnya, Arie sampai di buat ngeri kalau sampai di jatuh.
Alex membuka pintu kamar mandi, menurunkan Arie dengan perlahan. tangan Alex terulur ke handel pintu untuk menguncinya.
Arie menelan ludahnya kasar, melihat raut wajah Alex yang begitu mengharapkan izinnya.
Arie menempelkan bibirnya di bibir Alex, merasa mendapat lampu hijau Alex tak menyia-nyiakan kesempatan.
Alex ******* bibir kecil itu dengan rakus, menyusupkan lidahnya mengajak Arie menari di dalam mulutnya. lenguhan yang tertahan membuat Arie semakin bersemangat.
ke dalam kaos yang Arie gunakan, mulai mengangkatnya ke atas. Alex melepaskan tautannya untuk melepas kaos yang Arie pakai, dan melepaskan kaos dalamnya sendiri.
Tangan Alex kembali menyusuri punggung Arie, melepaskan pengait yang mengamankan di gundukan kesukaannya. kini Arie sama polosnya dengan suami sipitnya. Alex mundur selangkah mengamati lekat tubuh polos Arie, yang terlihat sangat indah, dengan perutnya yang mulai terlihat buncit.
"Jangan di lihat seperti itu," Arie memalingkan wajahnya yang sudah merona, apa lagi melihat Alex kecil yang sudah tegak menjulang, Arie menyilang kedua tangannya, menutupi aset kembarnya.
"Kau sangat cantik Sayang," Alex kembali merengkuh Arie dalam pelukan, menempelkan erat dua tubuh polos itu.
Alex kembali m*l**at bibir ranum istrinya, tangan Alex tak tinggal diam memainkan gundukan gunung semeru yang tegak menantang, Arie m***nguh merasakannya kenikmatan yang luar biasa.
Alex menyusuri leher jenjang istrinya, semakin turun meraup kasar pucuk semeru, membuat Arie meringis perih dan geli secara bersamaan. rasa panas mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
"Yang, pelan pelan," Arie mend**is saat Alex menyesap pucuknya dengan kasar.
Alex melepaskan pucuk semeru dari mulutnya, Alex merunduk lalu mencium lembut perut Arie.
"Junior, Papa akan mengunjungi mu," ucap Alex lirih lalu mengecup lagi Perut Arie.
"Iya Papa," jawab Arie dengan meniru suara anak kecil.
Alex kembali menegakkan tubuhnya, mennakup wajah Arie dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku tidak bisa memenuhi hukuman dari mu." ujar Alex sebelum mel***t kembali bibir istrinya.
Alex menyalakan shower, membiarkan rintikan air membasahi tubuh keduanya.
Alex mengangkat tubuh Arie, mengendongnya seperti koala, dengan perlahan Alex mulai menyatukan inti mereka. Arie mengigit bibir bawahnya, merasakan intinya yang terasa penuh.
"Emmh.."
Alex menaik turunkan tubuh Arie, Arie dengan kuat mencengkram bahu Alex merasakan gelombang yang akan datang, Arie menakup wajah suaminya, mata yang berkabut dan nafas yang terasa hangat di sela rintikan air. Arie mencium bibir Alex dengan lembut, menahan d***hannya.
"Aaahh.. Alex."
Alex mempercepat ritmenya, membuat Arie semakin meracau, mengalungkan kedua tangannya di leher Alex, Arie menengadah wajahnya saat gelombang datang, Arie mel***uh merasakan inti yang basah dan berkedut.
Alex menghentikan aksinya, sejenak menatap wajah Arie yang mencapai kepuasan, Alex mengeluarkan Alex kecil dari bawah Arie, menurunkan tubuh istrinya perlahan.
Alex membalikkan tubuh Arie, menuntun tangan Arie berpegang pada bibir bathtub. melihat liukan tubuh istrinya membuat Alex semakin ingin, dengan tiba-tiba Alex menghujamkan batang miliknya, membuat Arie mele***h panjang. Tangan kekar itu meraih pinggang Arie, mengajaknya menghentak lebih dalam.
Kedua suara anak manusia itu menggema dalam ruangan itu, mengalun bagai melodi yang merdu.
"Alex aku .. emmh.."
"Bersama Sayang."
Alex mehentak lebih cepat, sampai suara l* ng**an terdengar dari kedua bibir mereka. lutut Arie terasa lemas, hampir saja dia jatuh kalau Alex tidak sigap menangkap tubuhnya.
"Mandi ya, air hangat nya sudah penuh," bisik Alex lirih di telinga Arie.
"Aku memang mau mandi," ketus Arie.
Alex tersenyum kecil, lalu mengangkat tubuh Arie dan menurunkannya perlahan ke dalam bathtub.
"Lho.. kenapa ikut masuk," rengek Arie saat Alex ikut masuk ke dalam bathtub bersamanya.
"Kan mau kasih layanan plus plus," Ujar Alex sambil mengangkat kedua alisnya.
"Kan udah," Arie memberengut kesal.
Tak memperdulikan Bumil yang cemberut, Alex langsung saja menyerang bibir ranum istrinya. pelan, perlahan namun menuntut, tak dapat Arie pungkiri, dia juga menikmati sentuhan suaminya. Arie mengalungkan kedua tangannya di leher Alex.
Air di bathtub bergejolak, sama seperti pasangan muda ini yang siap berlayar lagi.
Promo novel baru 🤩🤩 Monggo mampir 😘😘😘
__ADS_1