
Seminggu telah berlalu, kabar bahwa Ayahnya harus kembali ke luar negeri karena ada masalah di salah satu cabang perusahaan. Sejak kejadian Arie di culik, Alex menyewa pengawal pribadi untuk menjaga istrinya, sebab tak mungkin Alex terus berada di sisi Arie. Walaupun awalnya Arie merasa risih tapi semua demi kebaikannya sendiri.
Arie bosan berada di apartemen seharian, ia memutuskan untuk pergi berbelanja. Mall jelas bukan dia ingin pergi ke pasar kapasan, pasar grosir baju terbesar di Surabaya.
"Sayang, bolehkah aku pergi keluar," ucap Arie manja.
"Mau kemana?" tanya Alex di ujung telepon.
"Aku mau pergi belanja, bosan sekali di apartemen sendirian," rengek Arie lagi.
"Baiklah, tapi biarkan dua pengawal itu menjagamu, ok."
"Bisakah, aku pergi dengan, Ipul seperti biasanya, aku yakin dia juga bisa menjaga ku dengan baik," rayu Arie.
Sungguh Arie merasa masih tidak nyaman. rasanya seperti narapidana yang sedang dalam masa percobaan, selalu di awasi.
"Pengawal, atau tidak keluar sama sekali," tegas Alex.
"Sayang," ucap Arie dengan nada yang lebih lembut dan manja.
"Jangan merengek seperti itu, tidak akan mempan."
"Baiklah, aku akan pergi dengan pengawalan," Arie akhirnya pasrah pada gagal pergi belanja.
"Good, selamat belanja sayang, love you,"
"love you to."
"Yeeeah.. shopping!" teriak Arie setelah menutup telponnya.
Arie segera bersiap untuk pergi, memakai daster rumahan warna hijau dengan lengan balon, rambut Arie di kuncir dengan tinggi. setelah siap ia pun bergegas keluar.
"Astaga, kalian mengangetkan ku," ucap Arie sambil mengelus dadanya.
Baru saja Arie membuka pintu, empat orang pria memakai baju serba hitam, menyambutnya dengan hormat.
"Kenapa Kalian banyak sekali," keluh Arie.
Biasanya hanya akan ada dua orang yang berjaga di depan pintu, tapi sepertinya mereka telah membelah diri menjadi empat, Arie hanya bisa menghela nafasnya, dengan cara Alex menjaganya.
"Apa kalian semua akan ikut," tanya Arie sambil memijit pelipisnya.
"Tidak Nyonya, hanya kamu berdua, dan sisanya akan tinggal di sini," ujar seorang pengawal dengan postur tubuh paling tinggi.
"Syukurlah."
"Lagian kalo ikut semua, mana cukup mobilnya," gumam Arie sambil melangkah menuju lift.
Ting.
Pintu lift terbuka, Arie segera masuk dan di ikuti oleh dua orang pengawal, dia dalam lift sudah ada seorang pria muda yang cukup tampan dan berpakaian rapi. sepertinya dia adalah salah satu penghuni baru di apartemen ini.
"Selamat pagi," sapa pria itu dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat-
"Selamat pagi, saya mewakili Nyonya, membalas sapaan Anda," jawab salah satu pengawal yang ada di sisi kanan Arie.
Pria itu tersenyum kecut mendengar ucapan pengawal itu, sementara Arie menakup keduanya tangan sembari mengucap maaf tanpa suara. Pria itu mengangguk kecil. Setelah lift berhenti pria itu segera bergegas keluar.
"Apa yang tadi kau lakukan," ucap Arie kesal.
"Perintah dari Tuan, " jawab pengawal itu datar.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Arie tak bisa berkata-kata lagi. Arie pun lanjut melangkah menuju mobilnya, mata Arie membulat sempurna melihat apa yang ada di hadapannya.
"Apa apaan ini, kalian bilang hanya kalian berdua yang akan ikut," Arie membalikkan badannya, berkacak pinggang pada dua orang pengawal yang ada di belakangnya.
"Sesuai perintah dari Tuan, " jawaban yang sama, dengan muka datar yang sama.
Arie membalikkan badannya lagi, melanjutkan langkahnya. di lihatnya Ipul sudah berdiri di luar mobil Avanza yang biasa di gunakan Arie, tapi yang membuat Arie pusing adalah keberadaan enam orang yang berpakaian serba hitam di samping mobilnya. Melihat Arie berjalan mendekat semua pria kekar itu membungkuk hormat.
"Mba Boss silahkan masuk," Ipul membukakan pintu mobil untuk Arie.
"Apa kalian semua akan pergi bersamaku?" tanya Arie sebelum masuk ke dalam mobil.
"Iya, Nyonya," jawab mereka serempak.
"Mobilnya tidak akan muat, cukup dia saja yang lainnya tunggu saja di sini," ujar Arie sambil menunjuk salah satu pengawal yang ada di belakangnya.
"Maaf, Nyonya kami akan membawa mobil sendiri," ucap pria yang ada di belakangnya Arie.
"Mba Boss wes koyok anak e presiden di jogo ngarep mburi, [ Mba Boss sudah seperti anak presiden, di jaga depan belakang]," sindir Ipul sambil terkekeh.
"Wes mbuh Pul,aku percuma protes, ngelu aku"[ sudahlah Pul, aku protes juga percuma, pusing aku]," keluh Arie sambil memijit pelipisnya.
"Hahahaha," Ipul tergelak melihat raut muka Arie yang kusut.
"Wes ojo nguyu ae, ayo budal," [ wes jangan tertawa terus, ayo berangkat]," titah Arie.
"Asiap!" seru Ipul.
Mobil yang di tumpangi Arie mulai merayap di kemacetan kota Surabaya. Setelah beberapa lama berkendara akhirnya mereka sampai di sebuah kafe kecil. Arie memutuskan untuk pergi ke kafe milik Yuli sebelum dia berangkat shopping.
Para pengunjung kafe tampak terkejut, saat tiga mobil berhenti di depan kafe itu, seorang wanita hamil yang memakai daster rumahan turun dari mobil yang berbeda di tengah, kemudian di ikuti oleh para delapan orang berbaju serba hitam yang turun dari mobil yang mengapit mobil Avanza itu.
Asem, jadi tontonan kan. batin Arie.
Arie melangkah masuk ke dalam kafe di iringi para pengawal di belakangnya. Yuli yang baru saja keluar dari ruangan khusus di belakang kasir, terbelalak melihat apa yang ada di hadapannya.
Arie melambaikan tangannya, disambut senyum kaku dari Yuli. melihat delapan orang berwajah garang berdiri di belakang Arie, membuat Yuli merasa takut.
Yuli meraih tangan Arie, hendak mengajaknya duduk di sofa yang ada di sudut ruangan, tapi tangannya di cekal oleh salah satu pengawal.
"Lepaskan tangan Anda," ujar pengawal itu dengan menatap tajam pada Yuli.
"Kau yang lepaskan," sentak Arie.
__ADS_1
Pengawal itu pun melepaskan tangan Yuli dan mundur kembali ke belakang Nyonya besarnya.
"Rie, Lapo se awakmu gowo bodyguard barang ,[ Rie, kenapa sih kamu bawa body guard segala,]" ujar Yuli setengah berbisik.
"Mboh lah, Mba, bojoku seng ngongkon," [ Ga taukah, Mba, suamiku yang suruh,] ujar Arie frustasi.
Tiba tiba terbersit ide gila di kepala Arie, Arie pun membisikkan sesuatu di telinga Yuli, setelah mengajak Yuli melangkah menjauh dari para bodyguardnya, walaupun hanya beberapa langkah, karena mereka tidak boleh jauh dari Arie lebih dari satu meter.
"Seng temen ae, ko nek bojomu eruh, nek bojomu muring muring ya opo, [ yang benar saja, bagaimana kalau sampai suamimu tau, bagaimana kali dia marah,] lirih Yuli.
"Ayolah Mba, please," bujuk Arie.
Yuli menghela nafasnya, sebelum akhirnya mengangguk setuju, Arie pun memeluk sahabatnya erat.
"Tapi ya opo ambe wong wong iku? [ Tapi bagaimana dengan orang orang itu?] bisik Yuli sambil melirik ke jajaran pengawal buang berbaris rapi di belakang Arie.
"Tenang saja," ujar Arie sambil mengedipkan sebelah matanya.
Arie kembali melangkah mendekati para pengawal itu.
"Aku aku beristirahat di sana, kalian tunggulah di sini, jangan pergi ke manapun sampai aku keluar dari ruangan itu, paham." perintah Arie pada semua Pengawalnya.
"Tapi Nyonya kami harus selalu ada di dekat Nyonya," ucap bodyguard yang paling tinggi diantara mereka.
"Apa kalian akan tidur bersamaku di ruangan itu!" pekik Arie dengan kesal, kenapa susah sekali memberikan mereka satu perintah saja.
"Bukan begitu maksud saya-
"Cukup, tunggu saja di sini, aku sudah sangat lelah, ingin segera istirahat," Arie memotong ucapan pengawal itu.
Arie pun membalikkan badannya, melangkah menjauh, dengan mengandeng lengan Yuli. Keduanya hanya bisa menahan tawanya agat tidak terlalu terdengar.
*****
Alex berdiri bersendekap di ruang tamunya, pandangan lurus menatap ke arah pintu. sesekali ia melihat jam rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ceklek
Pintu itu akhirnya terbuka dari luar, seorang wanita hamil dengan menampil senyuman lebar dengan dua kantong kresek di kedua tangannya.
"Astaga Alex, kau mengangetkan ku," ujar Arie terkejut, melihat Alex yang diam berdiri seperti patung.
"Dari mana?" tanya Alex dingin.
"Dari belanja, kan aku sudah pamit tadi." jawab Arie santai.
"Dengan siapa?"
"Dengan, dengan Mba Yuli,"
Arie mundur perlahan saat Alex melangkah mendekatinya, raut wajah dingin suaminya membuat Arie tak berkutik, dia terus mundur sampai tak ada lagi ruang untuknya, Alex tersenyum miring.
"Kau harus di hukum sayang," bisik Alex.
__ADS_1