Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
menurunkan ego


__ADS_3

Arow berjalan gontai dengan membawa barang barang miliknya. Ia memutuskan untuk angkat kaki dari SS Group yang telah di akusisi oleh Albied inc.


Hari ini ia kembali jadi Arow Sasongko seorang pria biasa. Ia bukan lagi CEO yang duduk di kursi kebesarannya.


Setelah sampai di parkiran, Arow berjalan menuju mobil miliknya. Ia membuka bagasi mobil dan menaruh semua barang miliknya. Setelah menutup bagasi mobilnya, Arow terdiam sesaat. Ia membalikkan tubuhnya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tempat yang menjadi saksi perjuangannya untuk membesarkan sebuah perusahaan kecil. Hingga sampai sebesar ini. Namun, semuanya lenyap seketika.


Bahkan para pemegang saham yang selalu mendukungnya, tidak membuka mulut mereka sama sekali saat Alex dengan halus mengusirnya dari perusahaan.


Ia sungguh menyesal karena terlalu percaya dengan orang di sekelilingnya. Ia menganggap semua orang itu pasti akan terus ada dam mendukungnya. Namun, kenyataan zonk.


Arow menghela nafas panjang. Pria itu menyandarkan tubuhnya yang lelah di mobilnya. Lelah hati, lelah badan. Sekilas senyum mungil Abyaz terbayang di benaknya.


Malaikat kecil yang baru saja hadir ke dunia ini. Ya demi anaknya, Arow tidak boleh berputus asa. Ia harus segera bangkit. Sekarang bukan saatnya berkeluh-kesah. Ia harus kembali berjuang.


Dengan langkah pasti, Arow berjalan ke samping, membuka pintu mobil. Dengan segera Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Rumah besar Sasongko.


Puspa, Wanita tua itu dengan telaten memangku cicit yang ia banggakan. Pewaris tunggal, penerus keluarga Sasongko.


Bayi yang masih merah itu sesekali mengeliatkan tubuh mungilnya. Membuat Puspa tersenyum melihat tingkah malaikat kecil yang ada dalam dekapannya.


"Apa nenek tidak capek?" tanya Nana yang baru saja datang dari arah dapur.


Dengan membawa semangkok puding coklat. Maklum Ibu menyusui, ia selalu merasa lapar.


Puspa menoleh ke arah cucu menantu kesayangan. Ia tersenyum dengan lembut memandang wajah ayu yang duduk di sampingnya.


Nana Mahesa. Seorang anak perempuan dari keluarga yang cukup terpandang di solo. Ia berasal dari keluarga yang secara turun temurun menjalankan bisnis di sektor pariwisata.


"Nenek, biar Nana ganti gendong." Nana mengulurkan tangannya hendak mengambil Baby Byaz dari gendongan nenek buyutnya.


"Tidak usah. Nenek masih ingin mendekapnya. Habiskan pudingmu, Nenek tau kau pasti lapar. Masa masa seperti ini jangan diet, makan saja. Biar ASI nya lancar," tutur Puspa dengan lembut.


Nana mengangguk kecil, ia merasa beruntung karena Puspa begitu menyayanginya. Namun, dalam hati Nana juga merasa sedih.


Adik ipar kesayangannya belum menjenguk baby Byaz. Bahkan Arie semakin sulit untuk di hubungi sejak ia pulang dari rumah sakit.


"Kau kenapa, Nak? apa yang sedang kau pikirkan?" Puspa memperhatikan cucu menantunya yang hanya melamun tanpa berniat menyendok puding coklat yang ada di tangannya.


"Ah.. tidak ada Nek, aku hanya kangen Arie," jawab Nana sendu.


Raut wajah Puspa berubah kesal saat Nana menyebutkan nama cucu tak dianggap itu. Entahlah, Puspa hanya sangat tidak ingin membahas cucu yang ia anggap anak haram keluarga Sasongko itu. Arie selalu mengingatkan Puspa kepada Anjar. Wanita rendah yang dinikahi anak semata wayangnya.


"Sudahlah jangan pikirkan yang aneh aneh. fokus saja pada kesehatanmu. Fokus saja sama Byaz!" tegas Puspa dengan nada kesal. Matanya menyiratkan ketidak sukanya.

__ADS_1


Nana sedikit terkejut dengan reaksi Neneknya yang seperti itu. Bukankah Neneknya selalu bilang dia akan menerima cucunya itu. Apalagi Nenek selalu meyakinkan Adinata kalau dia merindukan cucunya yang ia buang. Dia selalu mengatakan kalau ia sangat menyesali perbuatannya, dan berharap Arie bisa memaafkannya. Akan tetapi kenapa hari ini dia seakan sangat enggan untuk membicarakannya.


Puspa yang menyadari Nana sedang memperhatikannya pun segera merubah mimik wajahnya.


"Nenek yakin, suaminya akan mengurusnya dengan baik, apalagi dia sedang hamil besar. Pasti suaminya melarang dia untuk berpergian jauh. Lagi pula kau bisa mengunjunginya kalau kau sudah benar benar sehat.


Sekarang fokus saja dulu dengan bayimu. Dia membutuhkan perhatianmu lebih dari apapun."


Puspa mengayunkan bayi mungil yang ada di dekapannya.


"Iya Nek, aku mengerti."


Nana mulai menyendokan puding masuk ke dalam mulutnya. Meski ia membenarkan apa yang di katakan oleh neneknya. Akan tetapi masih ada perasaan mengganjal di hatinya.


Suara derap langkah terdengar memasuki rumah. Sebuah langkah yang Nana hafal betul siapa pemiliknya. Nana menoleh, dan tersenyum menyambut kedatangan suaminya.


"Halo sayang, tumben sudah pulang?"


Arow mendekat dan memberikan kecupan singkat di kening Nana. Puspa yang melihat kemesraan cucunya pun turut bahagia. Ia berharap kebahagiaan dan kesejahteraan terus menyelimuti keluarga Sasongko.


"Nenek aku ingin bicara sebentar dengan istriku," ucap Arow setelah mencium punggung tangan neneknya.


"Kalian bicaralah di sini, nenek akan membawa Byaz ke kamar."


Puspa pun bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju kamar baby Byaz. Arow pun segera menarik tangan istrinya untuk pergi ke ruang kerjanya, yang tak jauh dari tempat Puspa dan Nana duduk tadi.


Setelah mereka berdua ada di dalam ruang kerjanya. Arow segera mengunci pintu.


"Sayang kenapa di kunci?"


"Aku takut nenek masuk mencari kita," ucap Arow dengan wajahnya yang terlihat cemas.


"Ada apa sebenarnya. Kenapa wajahmu terlihat seperti itu?" Nana merasa suaminya sedang tidak baik baik saja.


Arow menghela nafas panjang. Ia pun menarik tangan Nana lembut, mengajaknya untuk duduk di sofa panjang di ruang itu.


"Sayang aku sudah tidak punya apa-apa lagi," ucap Arow sambil tertunduk lesu.


Nana hanya diam tak menjawab. Ia masih belum bisa mengerti dengan apa yang di katakan suaminya.


"SS Group sudah failed. Sekarang Albied inc sudah mengakusisi semuanya. Dan aku di tendang begitu saja dari sana, setelah sekian lama aku berjuang untuk membesarkan nama SS Group. Sungguh Ironis."


Nana memeluk suaminya yang terlihat begitu rapuh. Mengusap lembut raga yang selama ini selalu jadi sandarannya.


"Apa ayah tau semua ini?" tanya Nana lirih dan semakin menenggelamkan tubuh suaminya dalam pelukannya.

__ADS_1


Arow mengelengkan kepalanya pelan. Arow tak ingin menambah beban ayahnya, ia tahu perusahaan milik keluarga pun sedang di ambang batasnya.


"Apa rencana mu sekarang?"


"Aku tidak tahu. Aku sudah menjual sisa saham yang ku punya pada Alex." Arow melerai pelukan. Menatap lekat wajah istrinya.


"Sayang apapun yang akan kau lakukan aku dan Byaz akan selalu ada di samping. Ingatlah aku mencintaimu," ucap Nana lembut dan mencium lembut bibir suaminya.


Rasa haru menyeruak dalam hati Arow. Ia sungguh bersyukur mendapatkan istri seperti Nana.


"Aku juga sangat mencintaimu. Terima kasih sudah menjadi istriku." Arow mendekap erat tubuh istrinya.


"Sama sama sayang," bisik Nana lirih.


Kedua insan itu larut dalam rasa haru. Merasa bersyukur karena memiliki satu sama lain. Meskipun mereka berdua menikah karena perjodohan namun seiring berjalannya waktu rasa cinta tumbuh dan bersemi dengan indah. Rasa tulus dan saling mengasihi menyatukan mereka dalam satu asa.


"Sayang."


"Hem."


"Apa sebaiknya kita membicarakan ini dengan Bapak?" tanya Nana dengan ragu.Masih dalam pelukan suaminya.


Arow diam sejenak. Ia melerai pelukan mereka. Arow merasa bimbang dengan hal itu. Pasalnya saat Bapak mertuanya dulu menawarkan dirinya untuk bergabung bersamanya Arow menolak. Ia dengan tegas mengatakan ingin berdiri dengan kakinya sendiri.


Karena itulah Arow merintis SS Group dan keluar dari Bright corp. Perusahaan keluarganya sendiri.


Sebagai seorang laki-laki dan kepala keluarga. Arow ingin bisa menunjukkan kemandiriannya. Ia mampu untuk menghidupi keluarganya kecilnya tanpa campur tangan orang tua ataupun mertuanya. Akan tetapi takdir berkata lain.


Usahanya seakan sia sia. Ia harus menerima kekalahan dari adik iparnya sendiri.


"Sayang," panggil Nana dengan lembut.


"Emh. sepertinya kau benar. Aku akan membicarakannya dulu dengan Ayah," jawab Arow singkat.


Mungkin ini saatnya Arow meminta bantuan. Menyingkirkan egonya. Untuk masa depan keluarganya.


Arow tersenyum kecut dengan pemikirannya sendiri. Ia menatap lekat wajah istrinya, memberikan ciuman besar di kening sang istri.


"Aku kangen Byaz."


Arow bangkit dari duduknya. Mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri berdiri. Dengan senyum manisnya Nana menyambut uluran tangan sang suami.


Mereka berdua bergandengan mesra. berjalan menuju kamar sang pangeran kecil.


Entah seperti apa kehidupan akan membawakan cerita untuk mereka. Yang mereka tahu, mereka akan menghadapinya bersama. Dengan kekuatan dari rasa cinta dan kasih yang mereka miliki.

__ADS_1


__ADS_2