Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Menyambut


__ADS_3

Chiko segera menghubungi resepsionis dan menyuruhnya untuk memberikan izin pada Arow.


"Tuan silahkan masuk, Anda sudah di tunggu di ruangan Tuan Alex," ucap resepsionis itu dengan ramah.


"Hem," jawab Arow singkat.


Pria itu melangkah dengan penuh amarah. Ia sungguh tidak mengerti dengan keputusan yang di buat Alex. Tak ada satupun celah kesalahan dalam kontrak mereka. Arow selalu berusaha sebaik mungkin mengerjakan setiap hal dengan baik.


Pintu lift terbuka Arow segera melebarkan langkahnya. Dengan kasar ia membuka pintu jati besar yang ada di hadapannya.


"Alex apa sebenarnya maksudmu!" sentak Arow yang sudah tidak bisa lagi menahan diri.


"Kakak ipar, apa kabar? Ah... maaf kau pasti lelah, duduklah," Alex menyambut Kakak iparnya dengan ramah. Ia bahkan memeluk Arow singkat dan menarik kursi untuk Arow duduk.


Arow sungguh di buat bingung dengan perlakuan Alex yang seperti ini. Arow pun duduk di kursi yang di sediakan Alex.


"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya menyambut kedatangan Kakak dari istri ku apa aku salah," ujar Alex, seakan mengerti dengan tatapan Arow padanya.


"Alex sudah jangan basa basi lagi, aku ingin membahas sesuatu yang penting denganmu!" tegas Arow. Ia sudah tidak tahan, ingin mendengar penjelasan dari Alex.


Alex menyeringai tipis, kemudian ia berjalan memutari mejanya untuk duduk.


"Kita punya banyak waktu Kak, tidak usah terburu-buru. Aku akan menyuruh sekertaris ku menyiapkan kopi terenak di kantor kami," ujar Alex, ia pun mengangkat telepon untuk menghubungi Chiko.


"Alex sudah cukup, Apa alasanmu membatalkan semua kontrak kerja sama kita," sentak Arow. Alex tersenyum miring dan kembali meletakkan gagang telfonnya.


"O.. jadi ini yang sesuatu yang penting itu," ucap Alex dengan nada menyindir.


"Tentu saja apa lagi!" tukas Arow kesal.


Alex menghirup udara sambil memejamkan matanya sejenak, ia melipat kedua tangannya di dada dan bersandar di kursi kebesarannya.


"Cepat katakan, apakah kerja sama ini tidak menguntungkan mu, apa kau ingin mengubah poin perjanjian kontrak. atau ada alasan yang lain," cerca Arow dengan bersungut-sungut.


"Tepat alasan yang lain, Kakak sungguh sangat pintar menebak. Tapi sayang kau juga sangat bodoh," sindir Alex dengan senyumnya yang mengejek.


"Apa maksudmu, kau.. beraninya kau menghinaku!"

__ADS_1


"Aku tidak menghina, aku hanya mengingatkan betapa bodohnya kau dan Ayahmu itu," tukas Alex. kini tatapannya berubah dingin dan tajam.


"Kau.. keterlaluan!" bentak Arow melotot dan berdiri dengan amarahnya yang sudah sampai ubun ubun.


Arow meraih kerah baju Alex, ingin rasanya Arow memukul wajah yang terus tersenyum mengejeknya itu.


"Tuan," panggil Chiko menyela.


Arow melepaskan tangannya dari kerah Alex, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi.


"Ada apa?" tanya Alex datar pada asistennya.


"Saya ingin menyerahkan ini," jawab Chiko, menyodorkan sebuah flashdisk pada Alex.


"Semuanya sesuai dengan apa yang Tuan inginkan," imbuh Chiko lagi.


"Baiklah, kau boleh keluar," ucap Alex sambil mengibaskan tangannya. Chiko pun menunduk hormat lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Alex segera memasang flashdisk itu di laptopnya. Senyum Alex mengembang setelah melihat isi dari flashdisk tersebut.


Alex memutar laptop milik agar Arow bisa ikut melihatnya.


"Tidak mungkin, ini--


"Iya.. Aku adalah pemilik saham terbesar di SS grup sekarang," ucap Alex dengan mengangkat dagunya.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan!" lagi lagi Alex hanya tersenyum mengejeknya.


"Bukankah aku Kakak mu kenapa kau melakukan ini padaku!" sahut Arow.


"Kakak," ulang Alex dengan tertawa lepas.


"Apa yang aku lakukan, aku hanya membeli lima puluh persen saham SS Grup, Kakak," sindir Alex sengaja menekankan kata di akhir kalimatnya.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan Alex?!"hardik Arow.


"Tidak ada," jawab Alex santai.

__ADS_1


Aku ingin kau dan keluarga Sasongko berlutut di hadapan istriku, gumam Alex dalam hati.


"Kau-


"Silahkan Anda keluar dari ruangan saya, Tuan Arow!" ujar Alex sambil menunjuk arah pintu dengan menatap remeh pada pria di hadapannya.


Arow mengepalkan tangannya kuat. Ia sungguh tidak menyangka Alex akan melakukan hal seperti ini kepadanya. percuma jika Arow berdebat dengan Alex sekarang.


Arow membalikkan tubuhnya hendak melangkah pergi. Namun, terhenti saat Alex memanggilnya.


"Tuan Arow. sampai jumpa di rapat direksi besok." Alex melambaikan tangannya.


"Terserah." Arow mengayunkan langkahnya keluar dari ruangan itu.


Alex tersenyum melihat Arow yang marah dan putus asa.


Ini baru awal, aku akan memberikan kejutan yang lebih besar lagi untuk kalian," gumam Alex dengan senyum miringnya.


Sementara di rumah besar keluarga Wang. Seorang Wanita hamil nampak sedang serius mengaitkan benang benang wol berwarna biru, sesekali ia melihat layar laptop untuk memastikan gerakan jarum besar di tangannya.


"Sedang buat apa?" tanya Kakek Wu yang muncul dari belakang Arie.


"Eh Kakek, aku sedang membuat sepasang sepatu rajut untuk junior," jawab Arie dengan antusias.


"Kau seperti mirip seperti Nenekmu, Istri Kakek. Dia sangat suka membuat sesuatu untuk Ayah Alex. Bahkan dia belajar sampai belajar menjahit agar bisa membuatkan baju untuk anaknya." Kakek Wu mendudukkan dirinya di samping Arie, menyeka sedikit cairan bening di sudut matanya.


"Jangan sedih kek," tutur Arie lembut. Dia bisa melihat raut wajah Kakek Wu yang berubah sendu. ada kerinduan yang mendalam di sorot matanya.


"Kakek, lihatlah junior menendang dengan kuat," seru Arie sambil menunjuk perutnya yang menonjol di sebelah kanan.


Mata Kakek Wu berbinar. Ia pun turut menyentuh perut buncit cucu menantunya. Rasa haru dan bahagia menyeruak memeluk hatinya. Kakek Wu tertawa kecil saat merasakan tendangan junior di perut Arie. Air mata bahagia pria tua itu meleleh begitu saja. Arie mengusap cairan bening itu.


"Kenapa menangis kek?" ucap Arie sendu.


Kakek Wu memeluk Arie erat." kakek sangat bahagia, Nak! kakek tidak menyangka bisa hidup sampai saat ini, untuk menyaksikan


cicitku yang sebentar lagi akan lahir."

__ADS_1


Arie pun membalas pelukan Kakek Wu. Wanita yang tengah mengandung itu pun turut larut dalam haru. Ia bersyukur mempunyai Kakek yang begitu menyayanginya.


__ADS_2