
"Apa kau ingin aku memindahkan mu ke Afrika hah!" bisik Alex dengan kesal.
"Gila, jangan mentang-mentang kau donatur terbesar di rumah sakit ini, kau bisa seenaknya saja memindahkan dokter terbaik sepertiku," tukas Tama yang tak mau kalah.
"Kau mau mencobanya," ucap Alex dengan seringai liciknya.
Tama berdecak kesal. Harus Tama akui dia kalah kali ini.
"Memang apa salahku, sehingga Tuan Alex yang terhormat ini berpikir untuk memindah tugaskan aku ke Afrika."
"Kau masih tidak tahu. Apa otakmu sudah melorot ke dengkul. Kenapa kau sekarang jadi sangat bodoh."
"Jangan bertele-tele, cepat katakan."
"Apa maksudmu mengatakan keadaan ku pada Arie. Dia baru saja sadar, melihatku duduk di kursi roda saja sudah cukup untuk membuatnya khawatir, tapi kau malah."
"Ck kau memang dokter bodoh." Alex melepaskan tangannya dari lengan Tama. Sementara Tama yang baru saja menyadari kecerobohannya hanya bisa menggaruk tengkuknya.
"Maaf, aku keceplosan."
Sementara dua pria itu sibuk berdebat. Tanpa mereka sadari Arie terus memperhatikan mereka dari atas ranjangnya. Tadinya Arie tidak mengetahui kalau Alex duduk di kursi roda. Namun, saat Alex bergerak menjauh dari ranjangnya. Arie baru bisa melihat kalau Alex bukan duduk di kursi biasa, melainkan kursi roda.
Ya Tuhan, apa sebenarnya yang terjadi pada aku dan suamiku?
Bukannya sebelumnya kami baik baik saja?
Kejadian terakhir yang ada dalam ingatan Arie hanya di mana dia dan suaminya sedang menghabiskan waktu di sebuah minimarket. Ia bisa mengingat dengan jelas bagaimana Alex cemburu pada seorang pegawai di sana. Bagaimana sang suami melu*at bibirnya dengan lembut dan membuatnya malu setengah mati karena malu.
Apa aku koma karena melahirkan?
Tapi kenapa?
Bukankah kandunganku sehat?
Lalu bagaimana dengan Alex?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Aaaghhh....!
Arie merasa kepalanya berdenyut sakit saat ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya dan suaminya.
__ADS_1
Alex yang selesai melakukan perdebatannya dengan Tama pun kembali mendekati ranjang Arie. Tama yang menyadari ada yang tidak beres pada pasiennya pun segera melakukan tindakan.
"Apa yang terjadi?" tanya Alex yang ikutan panik saat Tama mulai memeriksa Arie dan akhirnya menyuntikkan obat ke dalam selang infus istrinya.
Huft..
"Sepertinya Arie mengalami sakit pada kepalanya."
"Aku memberikan obat penenang padanya," ucap Tama menjelaskan.
Alex menatap Arie dengan tatapan penuh arti. Ia meraih tangan istrinya, mengecupnya dengan lembut, seperti tangan itu akan hancur jika dia mencium tangan itu dengan sedikit tenaga.
"Apa tidak ada yang bisa aku lakukan untuknya?" pertanyaan yang pria sipit itu lontarkan pada Tama. Namun, Alex tidak melepaskan pandangannya dari sang istri yang mulai menutup matanya kembali.
"Hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk Arie saat ini adalah dengan sembuh secepatnya . Arie akan lebih membutuhkanmu setelah ini. Kalau kau masih saja duduk di kursi roda siapa yang akan menjaga Arie." jawab Tama dengan sedikit menyindir.
Alex terdiam, semua yang Tama katakan memang benar.
"Kau masih harus di rawat Alex, paru-parumu itu harus terus di pantau. Jangan lagi malas malasan untuk mengobati dirimu." ketus Tama pada pasien yang paling keras kepala yang ia temui.
Alex masih diam, dia masih tidak berpaling dari wajah pucat sang istri.
"Baiklah, aku akan mengikuti saran darimu," jawab Alex singkat.
"Baguslah, Aku akan menyiapkan keperluan pemeriksaan Arie." Tama mulai mengayunkan kakinya pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah hampir setengah hari berlalu, akhirnya Arie kembali membuka matanya. Alex masih setia berada di sampingnya. Menunggu sang istri untuk membuka matanya kembali.
"Sayangku," Panggil Alex dengan penuh cinta, ia mencium punggung tangan Arie berulang kali saat kelompok lentik itu sudah terangkat naik, memperlihatkan manik mata kesayangannya.
Sayang apa yang terjadi sebenarnya?
Kenapa kau duduk di kursi roda?
Arie menatap suaminya dengan penuh tanya. Ia sungguh sangat takut, melihat Alex yang duduk di kursi roda. Pasti sesuatu yang buruk telah terjadi pada suaminya. Alex begitu mengkhawatirkannya, dia sendiri sedang tidak bisa Berdiri dengan kedua kakinya. Namun, pria itu malah terus menungguinya. Air mata Arie sudah berderai dengan derasnya dari kedua sudut matanya.
"Jangan menangis sayang aku baik baik saja. Ini hanya luka kecil, aku akan bisa berjalan dalam seminggu ke depan," Alex terpaksa berbohong pada istrinya. Ia tidak ingin Arie merasa tertekan.
Dengan susah payah Alex meraih pipi sang istri untuk mengusap air matanya yang jatuh.
"Aku mohon jangan menangis. Itu membuatku bertambah sakit, melihat air matamu yang begitu berharga jatuh begitu saja seperti ini," ucap Alex dengan senyumnya yang terlihat menenangkan.
__ADS_1
Alex menekan tombol nurse. Sedetik kemudian seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu. Alex membisikkan sesuatu pada si perawat. Perawat itu pun mengangguk setuju.
Perawat itu pun segera keluar. Alex kembali memandangi wajah Arie yang teramat ia cintai. di balik masker oksigen yang ia pakai, seulas senyuman yang sangat tipis hampir tak terlihat bagaimana Arie mengangkat sudut bibirnya.
Tak berapa lama perawat itu kembali dengan mendorong box bayi. Mata Arie membulat sempurna saat melihat box bayi itu masuk ke dalam kamarnya.
Jantung Arie berdegup kencang, seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Semakin lama semakin cepat seiring langkah perawat itu lebih dekat dengannya.
"Putri kita, maaf aku belum memberikan nama. Junior bukan nama yang pantas untuknya sekarang," ucap Alex sendu.
Perawat itu mengendong tubuh mungil buang berbalut kain berwarna pink itu. Lalu ia meletakkannya di sisi ibunya.
Dengan sangat perlahan Arie mengerang tangan yang sudah gemetar. Arie mengelus lembut pipi putrinya yang gembul.
Putriku...
Anakku...
Sayang...
Arie tidak bisa berbuat banyak. Dengan semua alat buang menempel di tubuhnya. Arie hanya bisa merasakan betapa lembutnya kulit sang bayi. Air matanya sudah kembali mengalir, tapi kali ini air mata kebahagiaan yang keluar dari netranya.
"Kau bahagia?"
Arie mengangguk pelan.
Aku sangat bahagia..
Terima kasih..
Arie menatap Alex dengan hangat.
Ingin rasanya Arie mengendong tubuh mungil itu dalam dekapannya. mencumbui setiap inchi dari wajah mungil nan menggemaskan.
Alex pun turut meneteskan air matanya. Perawat yang mengantarkan bayi itu pun mengabadikan momen itu dengan ponselnya. Momen yang sangat mengharukan.
Seluruh dokter di rumah sakit itu tahu bagaimana kondisi Arie saat datang ke rumah sakit itu. Kemungkinan untuk ibu dan bayi dalam kandungannya untuk hidup sangatlah kecil. Bahkan di saat dokter meminta agar Alex memilih satu dari mereka, dokter masih tidak yakin mereka bisa menyelamatkan yang dipilih olehnya.
Keajaiban Tuhan itu nyata. Seorang ibu yang sudah di ambang kematian bisa melahirkan bayinya dengan sehat meskipun melalui operasi caesar. Sang bayi yang hampir kehilangan detak jantungnya kini sudah bisa menangis dengan kencang saat dia lapar.
Mereka di pertemukan untuk pertama kalinya. Setelah dewa maut sudah ada di hadapannya.
__ADS_1