Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Banyak mata


__ADS_3

Setelah malam yang panjang mengukir memori baru, menghabiskan waktu untuk merengkuh manisnya dunia, melebur puluh bersama.


Matahari mulai merayap naik, namun Tuan sipit kita masih meringkuk di dalam selimutnya, sedangkan yang Nyonya sudah berperang dengan penggorengan di dapur.


Tangan Alex meraba raba sisi kosong di ranjangnya, matanya langsung membulat sempurna. Alex menyibakkan selimutnya, dengan terburu buru dia bangun dari tempat tidurnya dan memakai boxer di tubuhnya yang polos.


Dengan langkah cepat Alex keluar dari kamar, Aroma masakan menyeruak di seluruh penjuru rumah, Alex tersenyum sebelum kembali melangkahkan kakinya menuju dapur.


Arie sedang mengaduk aduk masih di penggorengan, dengan satu tangannya sementara tangan yang lainnya nangkring di pinggangnya yang sudah tak ramping, gaya khas emak emak kalau lagi masak.


"Sayang," sapaan lembut pagi hari dari pangeran sipit miliknya.


"Sudah bangun, Hem," ucap Arie lembut.


Tak menjawab, Alex malah melingkarkan tangannya di perut Arie, hal yang biasa mereka lakukan saat di apartemen, karena memang hanya mereka berdua yang hidup di sana.


"Alex lepaskan, malu tau," lirih Arie, sambil melirik ke arah seorang asisten rumah tangga yang ada di sampingnya, yang menunduk menahan senyum di bibirnya.


Alex malah mempererat pelukannya, tak perduli dengan Arie yang terus mengumpat padanya, dengan wajahnya yang sudah merah padam.


"Ish, lepaskan aku mau menyajikan nasi gorengnya," keluh Arie, karena Alex terus saja menempel seperti tokek.


"Hukuman mu karena meninggalkan aku sendirian di kamar," bisik Alex, dan dengan gemas mengigit ujung telinga Arie


Tangan Alex terulur untuk mematikan kompor, dengan perlahan dia membalikkan tubuh Arie, dengan lahap Alex meraup bibir ranum istrinya. Mata Arie pun membulat sempurna saat Alex tiba tiba menyerangnya, Arie berusaha mendorong tubuh Alex, tapi tenaganya kalah kuat. Sudahlah nikmati saja, toh asisten yang tadi membantunya sudah ngacir entah kemana.


Alex menarik bibirnya melepaskan tautannya, dengan ujung jempolnya Alex mengusap sisa pergumulan bibir mereka.


"Astaga, bisakah kau pake bajumu sebelum keluar kamar, Tuan," ketus Arie yang baru saja sadar suaminya hanya memakai boxer.


"Kenapa, bukankah aku terlihat seksi," ucap Alex sambil menaikkan kedua alisnya.


Astaga, ternyata penyakit narsis Arie sudah menular kepada suaminya.


"Aku ga suka ya, roti sobek itu milikku, ga usah di pamer pamerin," ketus Arie dengan mencebik bibirnya.


Alex hanya mengangguk kecil dan mencubit gemas pipi Arie.


"Sakit!" pekik Arie kesal.


Alex terkekeh melihat wajah Arie yang cemberut kesal, setelah mencium singkat bibir Arie. Alex pun bergegas pergi ke kamar untuk mengambil kaosnya. sementara itu Arie menyiapkan sarapan untuk suami dan Kakeknya.


Sengaja Arie ingin memasak untuk keluarganya, walaupun hanya nasi goreng sederhana.

__ADS_1


"Selamat pagi, Kek," ucap Ari menyambut Kakek Wu yang baru kembali dari joging.


"Pagi, Cucuku sayang."


"Apa yang kau masak Nak?" tanya Kakek Wu.


"Hanya nasi goreng sederhana, apa kakek mau?" tanya Arie.


"Tentu."


Kakek Wu menarik satu kursi untuk duduk. dengan cekatan Arie menyendokkan nasi goreng ke piring kakek Wu.


"Kenapa kau tidak ganti baju, Sayang?" tanya Kakek Wu yang menyadari Arie masih memakai baju yang sama saat dia datang.


"Anu Kek, Arie ga bawa baju," jawab Arie dengan menyengir.


"Astaga bukankah kemarin kau keluar bersama Alex, apa kalian tidak sekalian beli baju?"


Arie hanya menggelengkan kepalanya.


"Baiklah aku akan menyuruh Darwis untuk membelikan mu baju," ucap Kakek Wu sambil mulai menyantap makanannya.


"Jangan kek tidak usah, bajuku sudah sangat banyak," tolak Arie cepat.


"Baiklah, Kakek akan menyuruh Darwis untuk mengambil beberapa pakaianmu dari apartemen," ucap Kakek Wu lagi.


"Baiklah Kek," jawab Arie dengan senyum.


"Arie bagaimana kalau kau dan Alex sekali pindah ke rumah ini," cetus kakek Wu.


"Apa!, tidak, tidak boleh,!" sahut Alex yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Apa maksud mu, bocah tengik," ujar Kakek Wu sambil menatap tajam pada Cucu laki lakinya.


"Aku dan Arie tidak akan pindah kesini," ketus Alex sambil menjatuhkan tubuhnya diri di kursi meja makan.


Arie tersenyum menyambut suaminya, dan segera mengambilkan nasi goreng untuk Alex, setelah itu Arie duduk dan menikmati makanannya sendiri.


"Kenapa? apa yang salah dengan rumah ini, sehingga kau tidak pernah mau untuk tinggal di sini,"cerca Kakek Wu.


"Kakek mengertilah, bukan masalah rumah ini, tapi masalah penghuninya," jawab Alex santai.


"Apa maksudmu!? kau tidak mau tinggal dengan Kakek mu sendiri begitu."

__ADS_1


"Dasar Cucu kurang ajar!" imbuh Kakek Wu.


"Kek, bukan seperti itu, tapi kalau aku tinggal di sini, aku tidak bisa panjat gunung kembar di sembarang tempat," gerutu Alex.


Terlalu banyak mata mata, Alex tidak akan bisa mengunjungi Junior di sembarang tempat. Padahal Alex sudah berencana untuk mempraktekkan ilmu yang dia kumpulkan.


"Uhuk..uhuk.."


Alex segera menyodorkan segelas air putih kepada istrinya.


"Sayang kau kenapa, pelan pelan saja ok," ucap Alex tanpa rasa bersalah.


Arie menatap tajam pada Alex, sambil meneguk air. Alex masih tak mengerti kenapa Arie menatapnya seperti itu. Sementara Kakek Wu hanya bisa memijit pelipisnya.


"Apa Kakek tau, aku sudah mempelajari beberapa jurus yang harus segera di praktekan," ujar Ale sambil menyeringai.


"Aku juga ,-


Ucapan Alex terhenti, saat sesendok penuh nasi goreng di masukkan dengan paksa oleh Arie ke dalam mulutnya.


"Tutup mulut mesum mu itu, atau aku ikat pusaka milikmu," bisik Arie dengan senyum manisnya tapi dengan sorot mata yang mengancam.


Alex hanya bisa mengangguk patuh, dengan terus mengunyah makanan dalam mulutnya.


Setelah menyelesaikan sarapan dengan suasana hening.Arie pun membereskan piring kotor ke dapur, meskipun sudah dilarang oleh Kakek Wu karena sudah ada asisten rumah tangga yang akan mengerjakannya, tapi Arie tetap melakukan.


Kakek Wu mencondongkan tubuhnya mendekat ke pada Alex yang duduk su sampingnya.


"Alex, dari mana kau dapat jurus jurus barumu itu," ucap Kakek Wu lirih.


"Aku mendapatkannya dari internet kemarin, apa Kakek mau?" jawab Alex dengan suara yang sama lirihnya.


"Cih, dari internet rupanya, kau bisa minta langsung dariku, aku hafal semua gerakan jurus jitu," ucap Kakek Wu dengan bangga.


"Kakek hanya punya jurus lama," ejek Alex.


"Apa kau meremehkan kakekmu ini, dasar cucu kurang ajar."


"Apa yang kalian bicarakan, kenapa berbisik bisik seperti itu," cerca Arie penuh curiga.


"Tidak sayang, aku hanya bicara masalah perkerjaan dengan Kakek," kilah Alex.


"Ya, hanya perkerjaan ranjang biasa," ucap Kakek Wu.

__ADS_1


Mata Arie hampir melompat keluar dari tempatnya, sepertinya saringan otak kedua pria ini sudah rusak.


__ADS_2