Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
sepi


__ADS_3

Ketiga wanita itupun akhirnya tiba di salah satu salon ternama di Surabaya. Hanya orang orang berkantong tebal saja yang bisa masuk ke sana. itupun harus dengan melakukan janji terlebih dahulu.


"Miss Loly, tolong beri paket perawatan terbaik untuk kami bertiga. Terutama untuk kedua Mama muda ini ya Miss," ucap Nuwa pada Miss Loly.


"Oh, tentu sayang jangan khawatir. Ayo silakan masuk," Loly menggiring ke tiga wanita itu untuk masuk ke dalam salon, Siska dan Arie melakukan spa khusus untuk perempuan yang sudah menikah. Sedangkan Nuwa, gadis itu melakukan spa seperti yang ia lakukan biasanya.


Sementara para wanita itu melangkah perawatan tubuh, Naoki sedang sibuk bermain di area anak anak yang di sediakan oleh salon itu. Tentu saja dengan pengawasan karyawan salon yang di khususkan di sana.


Setelah dua jam akhirnya mereka selesai melakukan berbagai macam perawatan tubuh mereka. Wajah ketiganya tampak seger dan berbinar. Sekarang giliran Arie untuk memotong rambutnya yang langsung di layani oleh Miss Loly.


"Miss bisa tolong untuk menata rambutku agar menutup bekas jahitan di kepalaku," pinta Arie, ia masih merasa tidak percaya diri bekas luka di tubuhnya.


"Tentu saja jangan khawatir. Jari jemari ekeh akan menyulap yei jadi cetar membahana. Kayak eke," ucap Miss Loly.


"Iya Miss, aku percaya kok. Nuwa pasti nggak salah pilih."


"Of course, Nuwa Lolita itu langganan eke sejak pertama masuk modeling, Makanya dia bisa awet."


"Eke warna sekalian ya rambut yei, biar tambah okeh."


"Terserah Miss saja," jawab Arie pasrah. Karena dia memang tidak mengerti dan tidak pernah ke salon seperti ini sebelumnya.


"Alex suka deh, kalau pelanggan nurut kayak yei."


Miss Loly pun dengan cekatan memainkan gunting di rambut Arie. Tangannya begitu lemah gemulai memotong tiap helai rambut hitam Arie.


Setelah cukup lama mengerjakan rambut Arie. Akhirnya Miss Loly melepaskan tangannya. Rambut hitam itu kini berwarna coklat dan ikal di bagian bawahnya. Rambut Arie hanya di rapihkan jadi masih tetap panjang menjuntai.


"Gimana cucok kan."


"Iya, Terima kasih."


Arie tersenyum merasa sangat puas dengan hasil karya Miss Loly.


Setelah meraih tongkat, Arie pun bangkit dari duduknya. Arie berdiri di depan KC menatap perubahan pada dirinya. Ia berharap Alex akan menyukainya.


"Ok, Miss kami pulang dulu," pamit Arie.


"Eh..bayar dulu. Bisa bangkrut eke kalau yei bertiga gretong," keluh Miss Loly.


"Iya..iya." Arie mengambil black card miliknya, lalu menyerahkannya kepada Miss Loly.

__ADS_1


Mata Miss Loly berbinar seketika melihat kilatan yang bersinar dari kartu limited edition itu.


Miss Loly pun segera ke arah kasir untuk mengesek black card Milik Arie. Kemudian ia kembali dan memberikannya kembali pada yang empunya.


"Sering-sering ya ke sini. Miss Loly suka bau kamu."


"Bau aku?" Arie mengerutkan keningnya bingung.


"Iya, bau uang. wangi," kelakar Miss Loly.


"Miss Loly bisa aja, kalau begitu kamu permisi dulu. Emh.. tadi Nuwa sama siska di mana ya Miss."


"Itu, di sebelah lagi nemenin anak ganteng main," ucap Miss Loly sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan di sebelah mereka.


"Ok makasih Miss," ujar Arie sambil melambaikan tangannya.


Arie pun melangkah ke arah ruang bermain. Di sana ternyata Nuwa sedang asik bermain mandi bersama Naoki, sementara Siska hanya duduk memperhatikan mereka.


"Ayo pulang," panggil Arie.


Siska pun mengangguk lalu berdiri dari bangku yang ia duduki, Nuwa pun mengendong Naoki keluar dari kolam bola. Keduanya berjalan menghampiri Arie yang berdiri di pintu.


"Ah, kamu bisa aja. Mana ada," kilah Arie sambil tersipu.


Aku harap malam ini, aku bisa terlihat spesial untuk suamiku, batin Arie.


"Nao, laper Tante," celetuk Naoki sambil bergelayut di gendongan Nuwa.


"Astaga maaf ya, saking lamanya nunggu Aku, kita makan dulu kalau begitu. Sekalian belanja ya, aku ingin membeli sesuatu."


"Hore ke Mall!" seru Nuwa dengan semangat.


"Hore...beli mainan baru," sahut Naoki.


"Sayang nggak boleh ah, nanti aja kalau sama Papa," ucap Siska, ia merasa tidak enak dengan Arie. Wajah Naoki yang berbinar seketika berubah sendu.


"Naoki mau, mainan apa? ntar Tante beliin okeh," ujar Nuwa yang tidak tega melihat wajah murung Naoki.


"Tapi-


"Sudah nggak apa-apa Mbak, sesekali ini," Arie memotong ucapan Siska dengan cepat.

__ADS_1


Akhirnya Siska pun pasrah. Ia menurut saja pada dua orang wanita itu. Mereka pun segera keluar dari salon lalu menaiki mobil yang sudah menunggu mereka.


Mobil melaju cukup kencang. membelah ramainya jalanan kota Surabaya siang ini. setelah beberapa saat akhirnya mereka pun sampai di sebuah Mall besar di sana.


Mereka pun segera turun dan berjalan menuju sebuah restoran yang terletak di lantai bawah Mall itu. Makan siang mereka lakukan cukup cepat karena Arie sudah tidak sabar untuk berbelanja.


Akhirnya di sini mereka, setelah menyelesaikan makan siang. Nuwa kembali mengajak si kecil Naoki di Timezone, sedangkan Arie dan Siska melangkahkan kakinya ke untuk membeli pakaian dinas.


"Bagaimana Mbak, bagus mana yang item apa yang pink?" tanya Arie sambil menenteng dua baju haram di tangannya.


"Nggak tau, aku nggak pernah pake gituan. Malu," jawab Siska bergidik ngeri membayangkan ia memakai baju saringan tahu itu.


"Aku juga jarang sih, tapi inikan pertama kali buka puasa setelah sekian lama. Aku pingin kasih surprise buat suamiku."


"Ini gimana makenya Mbak," kening Siska berkerut saat melihat tali tali yang ada di gaun tipis itu.


Arie mengangkat bahunya. Ia juga tidak ngerti. Setelah cukup pusing dengan model baju dinas itu. Akhirnya Atie memiliki satu gaun simpel berwarna ungu muda dan ia membelikan satu dengan gaun berwarna hitam untuk Siska. Meskipun awalnya Siska menolak. Namun, Arie terus memaksanya.


Mata hari Telang bergulir dari singgasananya. Langit biru kini di hiasi semburat jingga. Arie sudah berada di rumahnya, ia masih mengunakan kursi roda saat ia berada di rumah.


Setelah


menghabiskan sorenya bermain dengan Cleo. Arie pun pergi ke kamar untuk membersihkan dirinya. memoleskan wajahnya secantik mungkin. Menyiapkan diri dengan baju dinas yang baru saja di belinya.


Drrrt.... drrrt...


Ponsel Arie bergetar ia pun begitu bersemangat mengangkatnya.


"Halo sayang, bagaimana hatimu? kau senang hari ini?" tanya Alex dari ujung telepon.


"Tentu, aku sangat senang. Kapan kau akan pulang?"


"Sepertinya aku akan lembur hari ini. Jadi jangan tunggu aku, mungkin aku akan pulang agak larut."


"Oh, ya sudah hati hati." Arie mematikan ponselnya begitu saja.


Dengan langkah yang masih agak tertatih. Arie berjalan ke arah pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Kecewa. itu yang ia rasakan saat ini.


Sepertinya usaha yang ia lakukan selama ini sia-sia saja. Bukan salah Alex juga, ini memang sudah resiko perkerjaannya. Apalagi dia seorang pemimpin sebuah perusahaan besar. Suaminya itu harus bertanggung jawab atas ribuan karyawannya.


Arie berusaha untuk mengerti. Namun, hari ini hatinya enggan untuk berkompromi. Ia mengganti bajunya dengan daster biasa, menghapus semua riasan di wajahnya. Kemudian ia naik ke atas tempat tidur dan menggulung dirinya sendiri. Malam ini dia akan di temani sepi.

__ADS_1


__ADS_2