
"Sayangnya dia perempuan, tua. Jadi, kau tidak bisa melakukan itu semua." Arie tertawa kecil melihat wajah kecewa Alex.
"Hah.. kau benar, karena dia tua!" Alex ikut tertawa bersama Arie.
"Karena dia tua, jadi...
"Jadi apa?" Alex menautkan kedua alisnya, menangkap sinyal tak biasa.
"Jadi kita harus mengalah pada yang lebih tua, iya kan. Sayang," ujar Arie dengan nada selembut mungkin.
"Mengalah! apa maksudmu?"
Arie memindahkan tangannya dari leher Alex. Menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Lepaskan semuanya ya sayang, jangan membuat hatimu kotor karena dendam. Kalau kita membalasnya itu berarti kita sama saja dengan dia." Arie menusuk dada suaminya dengan telunjuk.
"Di sini cukup hanya ada aku dan cintaku, jangan ada dendam. Itu hanya akan menutupi hatimu dengan kabut hitam. Membuatnya tidak bisa lagi membedakan antara baik dan buruk." Arie menengadah wajahnya, menatap lekat manik mata yang sedang menatapnya.
Alex menunduk kepalanya, memutuskan jarak di antara mereka. Ia ******* lembut bibir ranum istrinya, menyesap manis dari belahan kenyal itu.
"Kau terlalu baik sayang." Alex mengusap bibir Arie yang basah karena pagutan mereka.
"Hanya baik saja?"
"Baik, cantik, cerewet dan seksi," Alex menekankan kata terakhir dengan nada yang menggoda.
"Gombal. Badan lebar kayak karung beras gini di bilang seksi." Bibir Arie sudah manyun lima centi, ia merasa kata kata itu sangat tidak cocok untuknya sekarang.
Berat badannya sudah naik lima belas kilo mana bisa di bilang seksi.
"Siapa yang kayak karung beras, kamu itu kayak doremon, bulet."
"Tuh, kan!" Pekik Arie kesal.
Arie mendorong tubuh Alex menjauh. Ia membalikkan badannya dan berjalan menjauh.
"Jangan marah dong, aku kan cuma bercanda." Alex memeluk Arie dari belakang.
Arie menyandarkan kepalanya di bahu Alex. Merasakan kelembutan tangan suaminya yang mengelus perutnya.
"Alex, aku benar-benar ingin bertemu dengan Ayah, aku dengar dia sedang sakit," ucap Arie dengan nada sendu.
Arie merasa cemas dengan keadaan Adinata. Apalagi sekarang kondisi keuangan mereka tidak sebaik dulu. Arie pernah merasakan hidup dalam kesulitan. Ia paham betul bagaimana rasanya hidup dengan segala kekurangan.
Alex menghela nafasnya. Ia tidak berniat melarang Arie untuk bertemu dengan Ayah mertuanya. Akan tetapi Ia takut Arie tersakiti oleh ucapan neneknya lagi.
"Sayang, Aku mohon ya. Aku ingin kangen sama Ayah." Arie mengusap rahang suaminya dengan lembut. Ia menengadahkan wajahnya agar bisa melihat suaminya.
__ADS_1
"Kapan kapan saja ya. Aku benar-benar sibuk."
"Nanti keburu junior lahir, aku nggak bisa kemana mana," rengek Arie lagi sambil memasang wajah imutnya.
"Baiklah besok kita mengunjungi Ayah."
Alex selalu tidak bisa menolak kemauan istrinya apalagi jika sudah merengek gemas seperti ini. Arie mencium pipi suaminya.
"Terima kasih sayang, kau memang terbaik."
"Aku tahu."
"Cih, narsis."
*********
Keesokkan harinya.
Matahari baru saja terbit. Namun, ibu hamil cantik satu ini sudah berkutat di dapur sejak tadi. Ia sibuk menyiapkan masakan yang akan di bawa untuk sang Ayah.
Alex yang merasakan guling hidupnya menghilangkan, langsung membuka matanya. Ia segera bangkit dan bergegas turun dari ranjangnya. Bau harum masakan menguar dari arah dapur. Alex yang baru saja keluar dari kamar pun bergegas mengikuti aroma masakan Arie.
Alex tersenyum lebar saat mendapati istrinya sedang bergulat dengan penggorengan di hadapannya.
"Wah.. banyak sekali, istriku memang pintar memasak ya." Alex mendudukkan bokongnya di kursi dapur.
"Pakai, pakaianmu dulu! berapa kali aku ingatkan ini bukan apartemen. Kalau roti sobek itu hilang satu gimana."
"Seenaknya aja di pamer pamerin. Kebiasaan, cepat pergi pakai baju sana!" titah Arie dengan mengacungkan spatula yang ia pegang pada suaminya.
Alex terkekeh mendengar ucapan istrinya. Namun, ia pun menurut dan segera pergi ke kamar untuk memakai pakaiannya.
"Sudah ganteng kan sekarang boleh aku makan?"
Arie memindai penampilan suaminya dari ujung rambutnya sampai ke ujung kaki. Alex pun berpose layaknya model. Dengan dua tangan yang di masukkan kedalam sakunya dan senyum tipis. Hemm bikin Mak gemes.
"Hem.. mau kemana rapi banget," ketus Rie kesal. Alex menautkan kedua alisnya, lalu berjalan perlahan mendekati sang istri yang sibuk menata makanan.
"Kok gitu. Kan tadi suruh aku baju. Sekarang aku sudah rapi, dah wangi kok di ketusin."
"Terlalu cakep, ga mikir apa nanti kalau ada cewek cewek yang liatin. Aku kayak karung beras gini, situ dandan ganteng buat siapa? Ck, nyebelin," Arie terus menggerutu tapi tidak menghentikan tangannya memasukkan makanan yang ia buat ke dalam box.
Telinga Alex masih cukup tajam untuk mendengarkan semua keluhan yang diucapkan istrinya. Alex mengatupkan bibirnya menahan tawa. Ia merasa geli mendengar ucapan sang istri yang terus menerus mengeluhkan bentuk tubuhnya. Padahal di mata Alex Arie semakin terlihat seksi.
Melihat suaminya yang begitu tampan membuat Arie merasa tidak percaya diri. Semala masa kehamilannya Arie Menag tidak pernah mengeluhkan soal makanan, bahkan nafsu makannya semakin besar. Ditambah lagi Alex yang selalu memberi apa saja yang dia mau, dan selalu memanjakan Arie. Alhasil berat badan Arie melonjak drastis.
__ADS_1
Itu yang membuat Arie was was. Ia takut Alex akan berpaling melihat gitar spanyol yang bertebaran di luar sana. Apalagi suaminya adalah seorang CEO. Bisa di pastikan para uler keket akan selalu mencari celah untuk mendekatinya.
Melihat wajah Arie yang di tekuk masam. Alex pun merasa tidak tega. Ia tahu mood wanita hamil pasti sangat sensitif dan mencemaskan sesuatu secara berlebihan.
"Lepas ah.. gerah nih!" Arie meronta, berusaha melepaskan tangan kekar yang memeluknya dengan erat.
"Nggak mau," ucap Alex manja.
"Aku bau, belum mandi, lepas."
"Nggak."
"Isshhh.. awas. Jauh-jauh sana, ntar baju kamu kusut."
"Nggak mau, maunya sama mama," Alex bicara menirukan suara anak kecil yang merengek pada ibunya. Arie tersenyum kecil.
"Apa sih Mama, aku bukan mamamu!" ketus Arie.
"Yes, you are my hot Mama," bisik Alex.
Arie tersenyum simpul. Suasana hatinya sudah lebih baik. Rayuan suaminya itu selalu sukses membuat hatinya berbunga-bunga.
"Apa sih!" Arie tersipu malu.
"Kita olahraga dulu ya, dia sudah bangun hanya dengan mendekatimu seperti ini," ucap Alex dengan suaranya yang berat.
Alex mengigit kecil ujung telinga istrinya. Nafas hangat menyapu leher Arie, membuatnya meremang. Arie merasakan sesuatu yang keras, menekan di belakangnya.
"Tapi ini masih pagi, apa yang kemarin malam kurang?" Arie mengigit bibir kecilnya, saat suaminya sudah mulai liar mengecup lehernya.
"Kau membuatku gila." Alex menarik tangan istrinya membawanya ke peraduan mereka.
Sang kakek yang melihat kejadian itu dari lantai atas pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Darah muda, selalu saja panas. Sejenak Kakek Wu membayangkan masa mudanya bersama sang nenek.
Arie mencengkeram kuat rambut Alex yang sedang bermain di dua pucuk melon kembar kesukaannya. Dengan perlahan ia mulai memainkan pusaka miliknya di rimba sempit istrinya.
"Ehmm.." Arie melenguh saat pusaka Alex memenuhi dirinya.
Tubuhnya menggelinjang hebat, Alex menarik dirinya menatap sang istri dengan penuh damba. Sorot matanya seperti singa lapar yang siap memangsannya.
"Jangan seperti itu." Arie memalingkan wajahnya yang memerah.
Tak terhitung berapa kali mereka melakukan olahraga ranjang ini. Namun, Arie tetap saja merasa malu saat Alex menatap tubuh polosnya.
Dadanya naik turun mengikuti nafasnya yang memburu. Dua melon kenyal itu pun ikut bergerak, terlihat mengiurkan. Alex tersenyum lebar, merasa gemas dengan istrinya yang tersipu. Ia menundukkan kepalanya menempelkan bibirnya di kulit leher istri yang mulus.
" I love you, my hot Mama." Alex menghujam pusakanya dengan kasar dan dalam. Membuat Arie melen*uh panjang.
__ADS_1
Suara ******* mengema di kamar itu. Menggalun bagai lagu yang indah menyambut pagi mereka. Peluh mereka membaur jadi satu.