
Sampai di luar. Alex membukakan pintu mobil untuk sang permaisuri sebelum dirinya masuk ke dalam mobil. Di perlakukan bak putri raja setiap hari oleh suaminya membuat merasa bahagia. Rasanya Ia tak butuh siapapun lagi selain Alex.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Arie kepada sang suami yang sedang memasangkan save belt untuknya.
"Nanti juga tau," jawab Alex singkat.
Arie memutar matanya jengah. Selalu begitu. Suami sipitnya itu benar benar tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya.
Nanti juga tau.
Rahasia.
Hanya itu jawaban yang terlontar dari mulutnya saat Arie bertanya.
Alex mulai mulai menyalakan mesin mobilnya. Kuda besi itu pun mulai membelah ramainya jalanan kota Surabaya.
Alex tersenyum sambil sesekali mengusap lembut rambut istrinya yang masih memberengut kesal.
"Issh awas, aku lagi kesal nggak usah pegang pegang." Arie menepis tangan suaminya.
Bukannya marah Alex marah tergelak. Membuat sang istri bertambah kesal.
Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh. Namun belum ada tanda tanda mobil sport hitam itu akan berhenti. Arie pun melaju menguap dan menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal.
"Tidurlah, akan aku bangunkan kalau kita sudah sampai," ucap Alex lembut. Arie pun mengangguk kecil.
Alex menepikan mobilnya sejenak untuk mengatur tempat duduk istrinya agar lebih nyaman. Setelah itu ia pun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Melihat wajah Arie yang terlelap di sisinya membuat Alex menarik bibirnya ke atas.
Suara deburan ombak menyapa Indra pendengaran Arie. Membuat ibu hamil itu mulai menggerjapkan matanya.
"Sudah bangun?"
"Emh." Arie mengangguk kecil.
Alex membantu Arie untuk duduk, lalu pria sipit itu keluar dari mobil, setelah itu ia membuka pintu untuk istrinya.
Mata Arie membulat sempurna.Ia menoleh ke arah suaminya yang memapah langkahnya. Arie tak bisa berkata, mulutnya masih ternganga. Rasanya air matanya ingin sekali tumpah saat itu juga.
Alex tersenyum, lalu mengatupkan dagu istrinya. Mereka berdua menuruni anak beberapa anak tangga sebelum akhirnya sampai di pantai. Deburan ombak menyambut kedatangan mereka. Alex mendudukkan istrinya di sebuah bangku.
Pria sipit itu bersimpuh di depan istrinya, untuk melepaskan sepatu yang terpasang di kaki yang mulai tampak bengkak itu. Arie semakin terenyuh, ia merasa Tuhan begitu baik, terlalu baik. Bagaimana bisa ia mendapat cinta yang begitu besar dari seorang Alex. Laki-laki yang begitu sempurna.
"Sayang," ucap Arie dengan suaranya yang parau. Air matanya sudah meleleh dengan anggun di pipinya yang chubby.
"Hem." Alex sedikit menengadahkan wajahnya.
Arie tak bisa berkata, suara tercekat karena terlalu bahagia. Ia menunduk lalu mencium lembut bibir suaminya.
"Wo ai ni," ["Aku mencintaimu,"] ucapnya dengan berderai air mata.
Alex mengusap lembut pipi Arie yang basah.
"Love you more."
"Aku kan ngomong pake mandarin, kenapa kamu jawab pake bahasa Inggris sih," ujar Arie dengan memberengut. Alex hanya terkekeh.
Tangan Alex bertumpu pada satu lututnya untuk berdiri. Kemudian ia membantu sang istri untuk berdiri. Kedua sejoli itu berjalan di bibir pantai. Memainkan kaki mereka dengan ombak yang datang.
__ADS_1
"Kenapa pantainya kosong?" Arie merasa aneh dengan keadaan pantai yang sepi. hanya mereka berdua manusia yang ada di sana.
"Aku menyewa pantai ini," jawab Alex santai.
"Apa!"
"Apa? Kenapa kau begitu terkejut?" tanya Alex kepada istrinya yang terlihat shock.
"Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk menyewa tempat ini?" Arie berdiri di hadapan Alex sambil berkacak pinggang.
"Itu nggak penting. Yang penting tidak ada yang melihat kecantikan istriku selain aku." Alex menakupkan kedua tangannya di wajah Arie.
"Jangan seperti ini. Kalau pantai kosong gini kan kau ga bisa cuci mata," keluh Arie.
"Cuci mata?"
"Iya cuci mata, liat bule bule ganteng."
"Kau, sudah punya suami seganteng dan sesempurna aku masih mau lihat cowok lain!"
"Kan lumayan. Biar ga bosen liat yang sipit terus. week!" Arie menjulurkan lidahnya, lalu berlari menjauh dari Alex.
"Awas ya! sini dasar istri nakal!" Alex pun turut berlari kecil mengejar Arie.
"Ampun..!" teriak Arie sambil tertawa lepas.
"Waaaa.. ampun!" Arie berteriak saat Alex berhasil menangkapnya dari belakang.
Tangan Alex mulai mengelitik tubuh Arie. Membuat wanita itu mengeliat geli.
Arie berlari lagi ke arah bibir pantai. ia berteriak girang saat ombak datang mengejarnya. Namun, akhirnya ia terjatuh bergulung bersama air laut yang senyum. Ia kembali bangkit seperti anak kecil, kina ia bermain kejar-kejaran dengan suami sipitnya. Alex berhasil menangkap istrinya karena memang Arie berlari tidak begitu kencang karena faktor kehamilannya. Senyum dan tawa tak lepas dari keduanya.
Setelah lelah bermain air keduanya berjalan bergandengan sambil memainkan pasir putih yang mereka lewati. Kedua berjalan menuju kamar mandi umum untuk membersihkan dirinya.
Tentu setelah seorang pelayan hotel mengirimkan baju ganti untuk mereka. setelah selesai. kini keduanya duduk di atas pasir yang berlapis kain. Menikmati senja dengan air kelapa segar dan semangkuk mie ayam spesial kesukaan Arie.
"Alex, dari mana kau tau semua ini? aku bahkan tidak pernah memberi tahu mu kalau aku ingin ke pantai," ucap Arie sambil mengelus rambut suaminya yang terbaring di pangkuan Arie.
"Aku tau semua tentangmu." Alex bangun dari pangkuan istrinya. Lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Arie berdiri.
"Ayo, sepertinya sudah saatnya," ucap Alex sambil melirik jam rolex di pergelangan tangannya.
"Saatnya apa?"
"Nanti juga tau."
Jawaban yang sama. Namun kali ini Arie tersenyum. Ia tahu suaminya telah menyiapkan sesuatu untuknya.
Alex berdiri di belakang Arie, menutup kedua mata lentik itu dengan selembar kain hitam.
"Apa ini, kenapa di tutup?"
"Pegang tanganku, aku akan menuntun langkahmu."
Dengan pasrah Arie pun menuruti perintah suaminya. Arie masih bisa merasakan pasir di kakinya, berarti mereka masih di pantai. Ibu hamil itu mencoba menebak kemana suami sipitnya itu akan membawanya pergi.
Alex mendudukkan istrinya di atas kursi kayu. Perlahan ia membuka kain yang menutupi mata lentik Arie. Perlahan mata Arie menaikkan kelopak matanya.
__ADS_1
Wanita cantik itu mengedarkan pandangan, dan terhenti di wajah tampan yang duduk di hadapannya.
Belum lagi habis rasa terkejutnya, Alex sudah mendekatkan sepotong steak yang telah ia potong kecil ke mulut istrinya. Arie pun membuka mulutnya membiarkan potongan kecil daging itu masuk. Air matanya meleleh lagi. Sembari mulutnya terus mengunyah cairan bening itu pun tak henti mengalir.
Hembusan angin laut menemani Makan malam mereka. Sebuah dinner romantis dengan lilin yang menghiasi pasir. Hati Arie terasa berdenyut merasakan manis bahagia dan hari secara bersamaan.
Alex terus menyuapi istrinya yang tak henti menitikkan air mata.
Setelah selesai makan dengan hening. Alex bangkit dari duduknya. Pria sipit itu mengambil nafas dalam mencoba meredam rasa gugup yang menyergapnya. Rasanya lebih baik menghadapi para pemegang saham di rapat dewan dari menghadapi wanita berstatus sebagai istrinya sekarang. Keringat dingin mulai membasahi kening dan telapak tangan.
Berulang kali Alex mengosokkan tangannya yang basah ke celana pendek yang ia pakai.
Sang istri pun hanya bisa menatap heran pada sang suami.
Perlahan Alex bersimpuh di hadapan Arie. Tangannya merogoh saku celana, dan mengeluarkan kotak berbentuk hati. Perlahan ia membuka kotak kecil itu.
"Arie Wulandari maukah kau menikah denganku. Di kehidupan ini, dan jika memang ada aku ingin kau menjadi istriku di tujuh kehidupan selanjutnya.
Aku tidak bisa untuk bernafas saat kau jauh dariku. Mungkin aku egois, tapi aku akan menjadikan mu milikku meskipun kau tidak mau. Aku akan merebut mu jika di kehidupan lain kau tidak di takdirkan untukku. Aku akan menyogok malaikat agar menuliskan nama kita berdua dalam satu cerita yang Tuhan ciptakan.
Jadi. Will you marry me?"
Arie tersenyum sambil mengisap secara bersamaan.
"Kau memaksaku?"
"Jika perlu. Karena aku tidak mau mendengar penolakan darimu," ucap Alex penuh kesungguhan.
"Kau jahat. Kau membuatku menangis berkali kali hati ini." Arie mengusap air matanya yang mulai menganak di pipi mulusnya.
Alex terus menatap istrinya. Jantungnya berdegup kencang. Ia masih menunggu jawaban dari wanita yang paling ia cintai. Wanita yang menjadi kiblat dari kehidupannya.
"Cepat jawablah. Sebentar lagi aku akan mendapatkan serangan jantung kalau kau tidak segera menjawabku," desak Alex. Tuan sipit itu sungguh tidak bisa menahan rasa takut yang menyelimuti hatinya.
Arie tergelak. Ia menunduk kepalanya mennakup wajah Alex dengan kedua tangannya. Ia menyatukan bibir mereka dengan lembut.
"Yes I do."
Alex dengan serta merta berdiri dan memeluk istrinya. Kini air mata Alex ikut meleleh.
"Terima kasih sayang, terima kasih." Alex menghujani wajah Arie dengan seribu kecupan.
Rasa haru dan bahagia menyelimuti hati keduanya. Malam mulai datang menyapa. Bintang telah menjadi saksi kebahagiaan dua insan manusia itu.
Arie mengusap pipi suaminya yang basah. Pun sebaliknya tangan pria sipit itu dengan lembut membelai pipi chubby sang istri.
"Kenapa kau jadi cengeng begini?"
"Aku tidak cengeng. Mataku hanya berkeringat," kilah Alex.
Keduanya pun tertawa dengan menyatukan kening mereka. Alex menarik lembut tangan lentik istrinya. Menyelipkan cincin kecil bertahtakan batu safir di atasnya. Tuan sipit itu mengecup punggung tangan istrinya.
"wo ai ni I Pei che."
[ "Aku mencintaimu selamanya."]
__ADS_1
Alex menyatukan bibir mereka. Menyesap lembut berasa manis yang menjadi candu untuknya.