
Kisah sang asisten
Seorang pria bertubuh tegap dengan wajah yang cukup tampan duduk di teras sebuah kafe. Ia tampak gugup berkali-kali ia mengusap pahanya yang berbalut celana jeans untuk menghilangkan keringat dingin yang membasahi tangannya. Malam ini Chiko memakai kemeja santai warna merah maroon, dengan lengannya di tekuk sampai siku.
Chiko baru duduk di sana selama sepuluh menit. Namun, ia seperti sudah tersiksa selama menunggu. Gugup, takut cemas, semua itu bercampur aduk dalam hatinya. Ia menunggu seseorang yang entah siapa, bahkan Chiko belum tahu nama dan rupanya. Hanya Bluerose nama yang di pakai pasangannya di aplikasi perjodohan yang ia ikuti. Tak jauh beda dengan seorang yang di tunggunya, Chiko jika menggunakan nama kecilnya sebagai ini nama di aplikasi itu.
Chiko menyeruput capuccino pesanannya. Setelah menaruh cangkir berisi cairan berwarna coklat itu di meja, Chiko melirik jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sepertinya dia akan terlambat, apa dia akan datang?" Chiko bergumam dalam hatinya.
Tiba-tiba rasa ragu menyergapnya. Namun, Chiko segera menepisnya. Chiko harus menemukan pasangannya dan melepaskan predikat lalat jomblo yang di sematkan Alex padanya. Ia memutuskan untuk bangkit dan melangkah menuju kamar mandi, menunggu dengan hati gugup setelah mati ternyata mempengaruhi kinerja kandung kemihnya.
Setelah beberapa saat menyelesaikannya panggilan alamnya. Chiko pun kembali ke meja dimana ia duduk. Chiko memelankan langkahnya saat melihat seseorang wanita yang duduk di mejanya, wanita itu duduk membelakanginya. Rambut coklat panjang tergerai, ia memakai dress selutut warna gelap dengan di padu blazer warna merah terang. Chiko melangkah mendekat dengan degup jantungnya yang semakin cepat.
Apakah itu pasangan kencannya? dia terlihat begitu anggun meskipun hanya dari belakang. Apakah itu benar dia? tapi siapa lagi yang duduk di meja sembilan kafe jingga kalau bukan pasangannya, apalagi dress code yang dipakai wanita itu juga cocok. Merah, semuanya sesuai dengan janji yang telah mereka sepakati. Jantung Chiko semakin tidak karuan seiring langkahnya yang tinggi sejengkal lagi dari wanita itu.
"Bluerose?"
Wanita itu menoleh ke belakang. Mata Chiko membulat sempurna saat melihat wajah pasangannya. Begitu pula wanita itu, ia sampai mengedipkan matanya berkali-kali. Keduanya membeku dengan kecamuk di pikirannya masing-masing.
"Nona sesilia!"
"Anda, Moci? bukankah Anda sekertaris tuan Alex?"
Chiko tersenyum kecut. Mereka berdua sudah beberapa kali bertemu dalam urusan bisnis. Sesilia selalu menemani kakaknya dan tentu saja Chiko menemani sang tuan. Namun, sepertinya gadis itu tidak mengingat namanya.
"Iya, Anda benar." Chiko mendudukkan dirinya di kursi tempat ia duduk semula.
Chiko sedikit terlihat berbeda dari biasanya. Malam ini dia terlihat lebih tampan dan gagah. Sesilia sampai tidak berkedip melihatnya.
"Apa Anda ingin memesan sesuatu Nona sesilia?" tanya Chiko.
"Ah ... iya hot coklat tolong," jawab sesilia sedikit gelagapan. Sesilia kembali menatap Chiko dengan penuh selidik.
Chiko pun segera memanggil pelayan dan memesan minuman yang di inginkan oleh Sesilia. Tak lupa ia juga memesan makanan untuk mereka berdua. Sesilia terlalu sibuk dengan pikirannya, sampai ia tidak begitu mendengar apa yang di bicarakan Chiko dengan pelayan cafe itu sampai pelayan itu melangkah menjauh.
Tak lama kemudian sang pelayan pun datang mengantar pesanan mereka. Sesilia terkejut dengan makanan yang ada di hadapannya. Ia pun menatap Chiko dan spaghetti carbonara itu secara bergantian.
"Selamat menikmati," ucap sang pelayan setelah meletakkan hot coklat milik Sesilia.
Tanpa banyak bicara Chiko pun segera menyantap makanan miliknya, karena sedari tadi perutnya sudah menahan lapar. Sesilia pun dengan pelan mulai menggulung spaghetti dengan garpu miliknya.
Sesilia terus mengamati Chiko. Pria itu terlihat begitu menikmati makanannya, Sesilia tersenyum kecil melihatnya sampai dia sendiri lupa untuk memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Apa makanannya tidak enak Nona?" tanya Chiko tiba-tiba.
__ADS_1
"Emh ... ini enak," ucap Sesilia sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Tentu saja, bukankah itu makanan kesukaan Anda."
"Kau tau?" Sesilia mengerutkan keningnya.
"Anda pernah mengatakannya saat kita mengadakan rapat bersama di restoran" ucap Chiko dengan senyum ramah.
Mulut Sesilia pun ber O ria. Ia tidak menyangka kalau pria di hadapannya itu mengingat apa yang ia ucapkan saat mereka bertemu dalam rapat. Sesuatu yang Sesilia sendiri bahkan sudah lupa ia pernah mengucapkan hal itu.
"Setelah selesai makan saya akan mengantar Anda pulang." Chiko meraih cangkir lalu menyesap capuccino yang hampir dingin.
Apa! pulang? bukankah aku dan dia seharusnya berkencan. Kenapa dia seperti ini, apa dia tidak tertarik denganku? apa aku seburuk itu?
Sesilia tertunduk lesu, ia meletakkan garpu dan sendok yang semula ia pegang. Ia merasa kecewa dengan sikap Chiko yang seolah menolak melanjutkan kencan mereka.
"Tidak usah, aku pulang sendiri saja." Sesilia bangkit dari duduknya, kemudian ia menatap wajah Chiko sejenak.
"Terima kasih atas makan malamnya," ucap Sesilia sebelum mulai melangkah menjauh.
Sudut bibir Chiko terangkat keatas. Ia pun segera membayar makanannya lalu pergi mengejar Sesilia. Sesilia terkejut saat seseorang meraih tangannya dan menariknya untuk melangkah lebih cepat. Sesilia tersenyum melihat punggung Chiko dengan tangan mereka yang saling bertautan.
Setibanya mereka di area parkir. Chiko langsung membuka pintu mobil miliknya untuk Sesilia. wanita itu pun menurut dan segera masuk kedalam mobil. Jujur jantung Sesilia berdegup kencang saat ini. Setelah itu Chiko segera masuk ke dalam mobil.
"Bisakah kau tidak bicara formal seperti ini, umur kita sepertinya tidak berbeda jauh, kau bisa memanggilku dengan nama ku," ucap Sesilia tanpa menengok ke arah Chiko yang sedang menatapnya dengan intens. Ia sedang berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Anda adalah rekan kerja dari atasan saya. Jadi saya harus menghormati Anda, lagi pula saya hanya seorang sekretaris.tidak pantas untuk saya untuk memanggil anda dengan nama saja, bukan begitu Nona Sesilia."
"Berhenti memanggilku seperti itu, aku tidak pernah membedakan orang dari pekerjaan atau latar belakang mereka. Apa kau pikir aku orang seperti itu, Anda salah besar Tuan!" tegas Sesilia lalu melipat kedua tangannya, ia tidak menyangka Chiko akan berpikiran seperti itu.
Senyum Chiko mengembang, kemudian ia mengulurkan tangannya. Sesilia menatap tangan yang Chiko ulurkan lalu kearah wajah tampan yang tersenyum ramah padanya.
"Kalau begitu kita mulai semuanya dari awal. Hai aku Chiko," ujarnya pada gadis di sampingnya.
Sesilia pun tersenyum lalu meraih tangan kekar yang ada di hadapannya.
"Hai juga aku Sesilia."
"Nama yang cantik." Chiko menarik tangan Sesilia kemudian mengecup singkat punggung tangannya. Sesilia tersipu malu.
Kisah keduanya pun di mulai, bukan hal mudah untuk mereka berdua mengarungi perjalanan cinta mereka menuju halal. Perbedaan negara, dan perjuangan Chiko untuk meluluhkan hati Mr.huang sangatlah berat. Namun, dengan segala kegigihannya Chiko dan tulusnya cinta Sesilia padanya. Akhirnya mereka berhasil berhasil melewati
semua rintangan yang ada.
Maka sekarang di sinilah mereka. keduanya duduk di singgasana cinta sebagai raja dan ratu semalam. Sebuah hotel berbintang lima dengan pesta pernikahan yang mewah di siapkan oleh Alex untuk sang asisten yang selalu setia menemaninya.
__ADS_1
"Selamat, Semua pernikahan kalian langgeng dan selalu berbahagia," ucap Alex kemudian memeluk singkat sang asisten.
"Terima kasih Tuan, terima kasih atas semua yang Tuan lakukan untuk saya." mata Chiko berkaca-kaca, ia sungguh sangat terharu dengan semua yang telah Alex persiapkan untuk pernikahannya.
"Cih ... menjijikkan jangan seperti ini, atau kau akan aku pecat sekarang juga," sentak Alex. Chiko segera mengusap air matanya yang hampir jatuh.
"Tidak Tuan, jangan pecat saya. Bagaimana saya akan menafkahi istri dan anak saya otw cetak," ucap Chiko dengan wajah memelas.
"Moci," lirih Sesilia sambil mencubit perut suaminya.
"Sakit sayang," keluh Chicko sambil mengusap bekas cubitan istrinya.
Untungnya para tamu sedang menikmati pestanya, hanya ada Alex dan kedua mempelai di singgasana. Jadi tidak ada yang mendengar ucapan absurd Chiko. Alex hanya menggelengkan kepalanya, ia jadi kangen sama istrinya.
"Ini hadiah dari ku." Alex menyodorkan sebuah amplop coklat pada Chiko. Chiko pun menerimanya dengan senang.
"Maaf istriku tidak bisa datang, Aku tidak ingin dia terlalu capek," jelas Alex.
"Kami mengerti Tuan," ucap Sesilia.
"Aku pulang dulu, jangan lupa gunakan hadiahnya dengan baik." Alex pun beranjak menjauh dari singgasana.
Setelah selesai pesta. Pasangan pengantin baru itu pun menikmati makan yang penuh kasih. Melebur cinta yang suci dengan peluh akibat penyatuan mereka.
"Moci, apa yang Tuan Alex berikan sebagai hadiah tadi? aku penasaran?" tanya Sesilia yang sedang bermain dengan ujung telunjuknya di dada bidang Chiko.
Keduanya dalam keadaan polos seperti bayi. Olahraga ranjang baru saja selesai mereka tunaikan. Chiko sedikit memiringkan tubuhnya untuk meraih amplop yang di berikan oleh Alex sebagai hadiah pernikahan mereka.
"Bukalah," titah Chiko pada sang istri setelah menyodorkan amplop itu padanya.
"Moci, ini tiket ke Jepang!" seru Sesilia.
"Sepertinya Tuan ingin agar kita cepat cepat punya bayi sayang," ucap Chiko sambil mengecup singkat bibir istrinya.
"Maksudnya?"
"Tuan Alex mengirim kita untuk bulan madu ke Jepang. Kau tahu kan apa yang dilakukan orang saat bulan madu."
"Apa?" tanya Sesilia dengan polosnya.
"Ini."
"Ah... Moci ... emh ..."
Sesilia mendesah saat Chiko mengunyah ujung berwarna pink di gunung kembar milik istrinya. Keduanya kembali mengarungi lautan cinta yang membawa mereka pada kenikmatan surga dunia.
__ADS_1