Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Broken heart


__ADS_3

Seperti yang di ucapkan Alex, lembur, lembur dan lembur. Arie kembali sendirian di apartemen, merasa suntuk, dia pun akhirnya memutuskan untuk pergi mengunjungi Rumah besar. diantara supir kesayangannya, Arie sampai di kediaman Wang dalam waktu 2 jam.


Sebuah bangunan megah yang terletak di pinggiran kota, bahkan lebih megah dari rumah orang tua Arie. Mobil yang di tumpangi Arie mulai memasuki gerbang dan di sambut hormat oleh kedua penjaga.


"Silahkan masuk Nona," ucap Pak Darwis,dengan membungkuk hormat setelah membukakan pintu mobil untuk Arie.


"Ah...Pak Darwis, jangan seperti itu, saya jadi tidak enak," ucap Arie dengan senyum manisnya.


Menjadi seorang Nyonya di keluarga Wang tidak merubah Arie, dia masih Arie yabg risih saat orang lain membungkuk hormat kepadanya.


"Di mana Kakek, Pak?" tanya Arie sambil mengedarkan pandangannya.


"Tuan besar ada di dalam, mari saya antar," Pak Darwis melangkah memasuki bangunan besar itu, dan Arie mengekor di belakangnya.


Setelah begitu lama mereka berjalan, menyusuri ruang tamu dan ruang lainnya yang Arie kurang tau, akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang langsung menghadap ke halaman belakang. empat orang pria yang sudah berumur duduk mengelilingi meja berbentuk persegi, tangan mereka sibuk memainkan kontak kotak plastik dengan lambang tertentu. gelak tawa terdengar dari mulut mereka.


"Kakek," panggil Arie pada seorang yang duduk menghadap ke jendela.


Merasa mengenal suara yang memanggilnya, Kakek Wu pun menoleh ke belakang.


"Aiya...Cucu kesayangan ku sudah datang." ujar Kakek Wu dengan senyum lebar.


"Astaga Kakek, apa yang terjadi dengan wajahmu!" Seru Arie, kaget dan geli melihat wajah kakek Wu yang sudah mirip badut ulang tahun.


"Kakek mu kalah, dan itu hukumannya,"sahut seorang pria tua yang duduk di samping Kakek Wu.


"Cih, aku hanya sedang tidak fokus hari ini," elak Kakek Wu.


"Wu, kau selalu saja begitu, selalu banyak alasan," cemooh seorang yang duduk bersebrangan dengan Kakek Wu.


"Bilang saja kalian iri, karena Cucuku yabg paling cantik sudah datang menjengukku."


"Ya ampun, bahkan kami sedang tidak membicarakan itu, kenapa kau ngelantur kemana-mana."


"Sudahlah aku tidak mau main lagi, aku mau menerima cucuku." Kakek Wu bangkit dari kursinya, lalu merengkuh bahu Arie yabg berdiri di sampingnya.


"Hey.. mana bisa seenak jidatmu.!"


"Aku tidak akan mau bermain dengan mu lagi, dasar bandot."


"Kakek lanjutkan main mahjong, aku akan membuat sesuatu untuk Kakek Kakek semua," rayu Arie pada Kakek Wu. dia merasa tidak enak pada teman-teman Kakek Wu


"Jangan dengarkan mereka, Sayang. Meraka hanya iri karena mereka tidak pernah di jenguk cucu mereka," ujar kakek Wu dengan senyum meremehkan.

__ADS_1


Kakek Wu mengajak Arie mengajak Arie melangkah meninggalkan ruangan itu, tak perduli dengan umpatan yang di lontarkan para Kakek di belakang mereka.


*******


Di sebuah club, seorang pria dengan wajah yang kusut, duduk sendirian di sudut.


"Maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu lagi," ucap seorang waiters dengan lembut.


"Emmh" jawab pria itu singkat, sambil menunjuk botol yang sudah kosong.


Mengerti dengan apa yang di maksud pria itu, Siska segera menganti dengan yang baru. dan segera meninggalkan meja itu.


"Kasihan sekali, pasti patah hati, penyakit yang sama yang di bawa semua orang kemari," gumam wanita itu sambil berlalu.


Pria itu segera menenggak langsung cair berbau menyengat itu langsung dari dalam botolnya, berharap minuman itu dapat membuatnya melupakan segalanya.


Tama menghabiskan waktu di club, setelah mendapatkan skorsing dari rumah sakit tempat dia berkerja, karena membuat keributan.


"Kenapa bukan aku yang menjagamu, aku mencintaimu Arie, kenapa kau tak mengerti!"


Pyaarr..


Botol minuman itu mendarat di tembok, membuat seorang terkejut. Dua orang penjaga menghampiri Tama, lalu menyeretnya keluar dari Club. Tama hanya menurut saat kedua tangan kekar itu menariknya dengan paksa.


kejadian saat Tama mengantarkan Arie ke rumah Sasongko.


Di tengah perjalanan ke rumah Sasongko, tiba tiba Tama menampilkan mobilnya.


"Ada apa Mas," tanya Arie sambil menoleh ke arahnya.


"Arie aku ingin mengatakan sesuatu," Tama berusaha mengumpulkan keberaniannya. mengambil nafas perlahan lali menghembuskan lagi.


"Arie kau tau, aku kembali ke Indonesia untuk mu."


"Ah Mas Tama bisa aja," elak Arie. Arie seperti bisa menebak arah pembicaraan mereka.


"Aku tak bisa berbohong lagi."


Tama membuka save belt nya, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Arie.


"Mas Tama, Mas kenapa?" tanya Arie dengan gugup, karena wajah Tama yang sudah begitu dekat dengannya.


"Arie aku masih mencintaimu, masih mencintai seperti dulu," ucap Tama lembut, dengan perlahan Tama menyelipkan rambut Arie ke belakang telinganya.

__ADS_1


Tubuh Arie sudah gemetar, takut kalau Tama berbuat nekad.


"Mas Tama jangan bercanda, aku sudah punya suami Mas," Arie mencoba tersenyum kaku, menanggapi ucapan Tama.


"Aku tidak perduli dengan itu, aku yang pertama mencintaimu!"


Tama meraih tengkuk Arie, menempel bibir mereka berdua, Arie mengatupkan bibirnya rapat. Dengan sekuat tenaganya mendorong Tama menjauh.


Plak..


Arie mengosok bibirnya dengan kasar, Arie matanya luruh begitu saja. kecewa jelas tersirat di wajah Arie.


"Arie, maafkan Aku," Tama meraih tangan Arie, namun segera di tepis oleh wanita hamil itu.


Arie tak menjawab, dia berusaha membuka pintu mobil dengan tangannya yang gemetar. Saat pintu mobil terbuka, Arie bergegas keluar, dengan langkah cepat Arie pergi meninggalkan Tama. Tama pun segera menyusul langkah Arie.


"Arie, Arie," pekik Tama memanggil.


"Arie, maaf tolong maafkan aku. kembalilah ke mobil, aku akan mengantarmu." ucap Tama saat dirinya sudah berada di belakang Arie.


Langkah Arie terhenti, sejenak Arie berpikir, perjalanan masih lumayan jauh, sedangkan di area itu tidak di lewati kendaraan umum, kalau jalan kaki bisa bisa gelap nanti baru sampai. Akhirnya dengan berat hati Arie membalikkan badannya. Tama tersenyum tipis.


"Ayo," Tama mengandeng tangan Arie. Namun, di tepis kasar oleh Arie.


"Aku bisa jalan sendiri," ucap Arie dingin.


Flashback off


"Bodoh, Bodoh." Umpat Tama pada dirinya sendiri.


Tama duduk di lantai dengan menekuk lututnya. Dengan marah pria itu memukuli kepalanya sendiri.


"Hey Tuan, masalah mu tidak akan selesai dengan kau memukuli dirimu sendiri," ujar seorang wanita.


"Bukan urusanmu."


"Memang bukan, tapi kau duduk di sana dan motorku tidak bisa keluar," ketus wanita itu.


Cihh.


Dengan enggan Tama berusaha berdiri, badannya terasa berat. tak bisa lagi dia berdiri dengan tegak.


Bruugh

__ADS_1


__ADS_2