
"Kakak ipar!" teriak Nuwa.
Gadis kecil itu datang ke rumah besar untuk menemani kakak iparnya pergi terapi hari ini. Alex terlalu sibuk setelah beberapa hari cuti dari pekerjaannya.
"Jangan berteriak, kau akan membangunkan Cleo," sahut Arie sambil mengerakkan tuas pada kursi roda elektrik miliknya.
Nuwa menyengir kuda sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Maaf, apa kakak sudah siap?" tanya Nuwa sambil meletakkan dua paper bag yang di bawanya di atas meja ruang tamu. Ia pun berjalan mendekati kakak iparnya yang sedang merapikan rambut di atas cermin besar yang ada di sana.
"Hm.. sepertinya rambutku sudah terlalu panjang, iya kan Nuwa?" tanya Arie tanpa melihat kearah Adik iparnya. Arie sibuk memandangi rambutnya yang terlihat lebih panjang dari biasanya.
"Apa Kakak ingin ke salon, kita mampir ke sana setelah pulang dari rumah sakit bagaimana?"
"Boleh juga, sebentar aku izin dulu sama suamiku." Arie mengerakkan tuas kursi rodanya. Menjalankan ke arah kamarnya. Sementara Nuwa, gadis itu mengekor di belakangnya.
Hubungan kakak dan adik ipar itu sudah membaik bahkan bisa di katakan mereka seperti sahabat sekarang ini. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Arie memutuskan untuk memaafkan semuanya, memulai lembaran baru dalam kehidupannya sekarang.
Nuwa membukakan pintu kamar untuk sang kakak, lalu mendorong kursi roda masuk. Setelah itu Arie pun segera mendekati nakas dan mengambil ponselnya. Dengan cepat ia mencari nomer sang suami yang tertera paling atas di daftar kontak miliknya.
Setelah dua kali nada sambung akhirnya telepon Arie di angkat.
"Halo... My sweet heart," ucap Alex di ujung telepon. Arie tersenyum kecil pipinya bersemu merah mendengar panggilan sayang dari suaminya.
"Halo Tuan sipit kesayangan ku."
Jangan di tanya raut wajah Alex di seberang sana. Jajaran giginya terpampang jelas, dengan wajah berbinar-binar kasmaran.
"Sayang, aku ingin pergi ke salon bersama Nuwa sepulang dari rumah sakit, apa boleh?"
"Tentu saja boleh, kalian mau ke salon mana?"
"Aku tidak tahu, kau kan tahu aku jarang ke tempat seperti itu. Sepertinya Nuwa yang akan memilihkan tempatnya." Arie menaikkan dagunya, sambil melihat ke arah Nuwa yang sedang tengkurap di atas tempat tidur Arie.
"Tenang saja Ke, nanti aku share lokasinya nanti!" teriak Nuwa agar terdengar oleh Kakak laki-lakinya.
"Baiklah, sayang selamat bersenang-senang. Tolong berikan ponselnya pada Nuwa sebentar."
"Ok."
__ADS_1
Arie pun mengulurkan tangannya untuk memberikan benda pipih itu kepada adik iparnya.
"Halo, Ke."
"Jaga Kakakmu dengan baik, kalau sampai ada sedikit saja kulit istriku itu terluka, jangan harap aku akan memberikan restuku pada pernikahanmu!" tegas Alex.
"Aiy....aiy... kapten Bucin!" sahut Nuwa.
"Nuwa!"
Nuwa menjauhkan ponsel itu dari telinganya, lalu menyerahkannya kembali pada kakak iparnya.
"Sayang, aku harus segera berangkat ke rumah sakit, ini sudah sangat siang aku takut terlambat," ucap Arie.
"Baiklah, tapi tolong berikan aku sedikit vitamin tambahan."
"Kau ini ada ada saja, tapi pagi kan sudah," ujar Arie sambil tersipu.
"Ayolah sayang, please."
"Emuach... love you my husband." Arie segera mematikan ponselnya setelah memberikan kecupan besar pada layar ponselnya.
Nuwa sampai bergidik geli melihat kebucinan pasangan suami istri itu.
****
Krik..krik..
"Ehm... lanjutkan." Alex membenarkan posisi duduknya, lalu memasang wajah datar lagi. Saat ia sadar di mana dia berada saat ini.
"Kenap diam saja lanjutkan rapatnya!" sentak Alex, saat melihat seseorang orang yang hanya terdiam memandangi dirinya.
"Ba-baik Tuan, tapi saya sudah selesai Tuan," sahut kepala produksi yang sedang melakukan persentasi.
"O, ya sudah kenapa masih di sana. Cepat turun dan duduk di kursi milikmu!"
"Iya, baik."
Apakah aku akan menjadi orang bodoh seperti Tuan, saat aku sudah menikah nanti. Beliau sampai tidak sadar kalau orang itu sudah selesai dalam melakukan presentasinya? gumam Chiko dalam hatinya. sambil menatap Tuannya dari tempat dia duduk.
__ADS_1
"Kenapa kau menatapku seperti itu, apa kau tidak punya perkejaan lain."
"Maaf Tuan, saya hanya merasa aneh dengan sikap Tuan...eh!" Chiko membekap mulutnya dengan cepat, saat sadar dia sudah keceplosan.
"Maafkan saya, Tuan."
"Kau akan merasakannya sendiri saat kau sudah menikah nanti. Aku tidak aneh, tapi aku gila. Aku gila cinta," ucap Alex dengan senyum miring di wajahnya.
Chiko menautkan kedua alisnya.
Apa benar kalau sudah nikah kita akan jadi gila, kok agak serem ya. gumam Chiko dalam hatinya. Cukup menakutkan karena seminggu lagi dia akan melangsungkan pernikahannya.
*****
"Ayo Nyonya semangat, sedikit lagi!"
"Kakak ipar, Semangat!"
Arie mengangguk cepat, kakinya mulai melangkah tanpa berpegangan pada dua besi yang ada di sampingnya. Kakinya masih masih gemetar. Namun, ia masih bisa menahannya.
Perlahan tapi pasti kaki Arie melangkah. Arie begitu bersemangat, hampir saja dia terjatuh. Namun, dengan sigap suster yang berjalan di belakangnya memegangi tangan Arie.
"Sebaiknya kita istirahat dulu, Nyonya," ujar suster itu.
"Tidak, sebentar lagi. Aku masih kuat. Aku ingin segera berjalan," ucap Arie dengan penuh semangat.
Suster itu pun tersenyum dan mengangguk pada Pasien teristimewanya ini. Bagaimana tidak istimewa. Setiap jadwal Arie melakukan terapi, ruang itu harus steril dari segala mahluk berjenis kelamin laki-laki. Segala fasilitas di siapkan bak pelayanan di hotel berbintang lima. Berbagai jenis makanan dan minuman di sediakan di sana. Namun, tentu saja dengan diet ketat dari Ahli gizi yang di terapkan saat pembuatan makanan itu.
"Ayo, Kak sedikit lagi." Nuwa mengulurkan tangannya menyambut Arie yang berjalan ke arahnya.
Satu langkah kecil dan akhirnya ia sampai di pelukan Adik iparnya. Seperti bayi yang baru berjalan. Perlahan dan penuh perjuangan. Nuwa memeluk erat tubuh kakak iparnya, tiba-tiba saja cairan bening meleleh di pipinya yang tirus.
Arie yang merasakan basah pada bahunya pun melonggarkan pelukan mereka.
"Eh... kenapa kau menangis? apakah kau tidak senang aku sudah bisa berjalan lagi?" tanya Arie dengan pura-pura memberengut.
"Kakak ini ngomong apa. Aku terharu bahagia, makanya aku menangis," ucap Nuwa sambil mengusap air matanya.
"Iya...iya aku tau. Tapi jangan nangis dong, aku juga kan jadi ikut nangis jadinya."
__ADS_1
Keduanya pun tertawa dengan mata mereka yang berlinang air mata. Sekali lagi Nuwa memeluk Kakak iparnya. Ia begitu bahagia melihat Arie bisa berjalan meskipun belum sempurna. Namun, ini sungguh kemajuan yang sangat besar mengingat betapa parahnya luka yang di deritanya olehnya.
Nuwa masih menyimpan rasa bersalah atas semua yang menimpa pada Keke dan Kakak iparnya. Meskipun Alex sudah berulang kali mengatakan bahwa semua itu bukan kesalahannya. Namun, Nuwa tidak bisa melepaskan rasa itu begitu saja.