Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Lho...Lha...!


__ADS_3

Siska pun mengantarkan Arie dan Nuwa ke kamar di mana sang suami di rawat. Setelah berjalan menyusuri lorong rumah sakit, akhirnya mereka sampai di sebuah kamar VIP.


"Mas, ada yang datang menjengukmu," ujar Siska pada suaminya yang tengah bermain dengan Naoki.


Tama memakai masker double dengan kantung teng celup yang di letakkan di antara masker itu. Salah satu cara agar Tama bisa dekat dengan istrinya. Sungguh merepotkan ia ingin sekali bermanja-manja dengan Siska. Namun, Tama akan segera mengeluarkan isi perutnya jika ia mencium aroma tubuh istrinya.


Arie dan Nuwa berjalan di belakang Siska. Mereka berhenti, berdiri berjarak satu meter dari brankar pasien.


"Aku tidak sakit kenapa di jenguk," tukas Tama yang masih menunduk, fokus merakit mainan robot dengan Naoki di atas ranjang miliknya.


"Iya kamu nggak sakit hanya lemes saja," sahut Siska. Tama lemas karena belum bisa memakan apapun sela beberapa hari ini. Ia hanya bertahan dengan infus yang memberikannya energi.


"Mas, lihat dulu. Ada temanku yang ingin aku kenalkan," ucap Siska sembari melangkah mendekati suaminya.


Dengan enggan Tama pun mendongakkan kepalanya. Matanya membulat sempurna saat melihat sosok yang berdiri dengan senyum di wajahnya.


"Lho, Arie?"


"Eh..kamu kenal sama Mbak Arie, Mas?" tanya Siska sambil melihat ke arah suaminya dan Arie secara bergantian.


Tama mengangguk. Arie mengerutkan keningnya, Ia merasa belum pernah bertemu dengan suami Siska. Apalagi dia memakai masker sehingga membuat Arie sulit mengenali wajahnya. Jika memang mereka pernah bertemu sebelumnya.


"Memangnya kita kenal?" tanya Arie balik.


"Kau tidak mengenaliku!" pekik Tama tidak terima.


Arie mengangguk dengan polosnya.


Tama mendengus lalu membuka maskernya. Memperlihatkan wajahnya yang kusut.


"Lha, Dokter Tama!" pekik Arie terperanjak kaget.


"Anda Dokter yang merawat Kakak Ipar saya, waktu masa kritisnya kan?" timpal Nuwa.


"Anda benar, dan jauh sebelum saya merawatnya saya sudah mengenal kakak ipar dan juga suaminya."


Tama buru-buru memakai maskernya lagi. Sebelum perutnya kembali bergejolak. Ia meraih lengan sang istri dan bergelayut dengan manja di sana.


"Nuwa, Kakak bisa minta tolong?"

__ADS_1


"Apa, Kak?"


"Tolong bawa Anak kecil itu pergi beli es krim. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan orang tua mereka!" tegas Arie tidak ingin di bantah. Ia menatap tajam pada pasangan yang ada di hadapannya.


"Emh.. baiklah." Nuwa pun mendekati Naoki yang sedang bermain robot di pangkuan Papanya.


"Maaf Dokter, apa boleh saya mengajaknya keluar sebentar?" tanya Nuwa sopan.


Tama dan Siska pun mengangguk secara bersamaan.


"Halo ganteng, siapa namamu?"


"Naoki, Tante."


"Naoki, mau beli es krim nggak sama Tante, nanti sekalian kita beli robot baru. Tante sudah minta izin sama Mama dan Papa Naoki kok tenang aja," bujuk Nuwa.


Naoki melihat kearah Mama dan Papanya. Keduanya pun mengangguk kecil. Dengan tersenyum Siska membelai lembut rambut Naoki.


"Naoki main sama Tante dulu ya," ucap Siska.


Anak kecil itu pun mengangguk, lalu perlahan turun dari brankar dengan bantuan Nuwa. Setelah Naoki dan Nuwa keluar dari ruangan itu. Sidang Arie pun di mulai.


"Kalian berdua, apa yang kalian pikirkan. Bisa bisanya kalian menikah tanpa mengundang atau memberi tahu aku. Aku bisa memaklumi Mbak Siska, tapi kau Dokter Tama yang terhormat. Aku kecewa padamu. Sekarang jelaskan kapan kalian menikah?" tanya Arie dengan mengebu gebu. Ia sungguh merasa kesal.


Siska menunduk, ia tidak menyangka Arie dan Tama saling mengenal. Profesi Tama sebagai seorang Dokter memang memungkinkannya untuk berkenalan dengan banyak orang. Namun, sepertinya Arie dan suaminya lebih dari sekedar pasien dan Dokter. Sementara Tama, pria itu tanpa rasa bersalah, ia terus bermanja-manja pada sang istri yang berdiri di sampingnya.


"Kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaan ku," sentaknya kesal.


"Duduklah dulu, aku tidak ingin di salahkan oleh suami bucinmu itu. Kalau kau sampe terlalu lama berdiri."


Arie memutar matanya jengah. Ia pun mendekati brankar Tama untuk duduk di kursi yang ada di dekatnya.


"Sudah, ayo cepat jelaskan," desak Arie.


"Pernikahan ku dan istri tercintaku ini sangat mendadak jadi kami tidak mengundang siapapun. Rencananya kamu akan mengadakan resepsi dalam waktu dekat ini, tapi sepertinya keadaanku tidak memungkinkan untuk melakukan resepsi pernikahan kami. Jadi aku rasa aku akan memundurkan waktunya lagi," ujar Tama menjelaskan panjang lebar.


Wajah Siska tersipu saat mendengar Tama menyebutnya dengan istri tercinta.


"Benar itu Mbak Siska?" tanya Arie yang masih belum merasa puas dengan jawaban Tama.

__ADS_1


"Iya Mbak Arie, pernikahan kamu memang sangat mendadak. Tapi kalau untuk acara resepsi saya baru mendengarnya kali ini," jawab Siska apa adanya.


"Sebenarnya itu kejutan untukmu,"seloroh Tama.


"Kalian benar benar membuatku seperti orang yang tidak kenal dengan temannya. Hah..aku sungguh kesal!"


"Maaf," lirih Siska.


"Tidak perlu minta maaf kepadaku, Sebenarnya kalian juga tidak salah. Beberapa waktu lalu, aku sendiri juga sedang tidak dalam masa yang baik-baik saja. Aku senang kalian menikah. Aku turut bahagia, sungguh. Aku tadi hanya terkejut kalian adalah pasangan suami-istri sementara yang aku tahu, kalian masih sama-sama jomblo." Arie perlahan bangkit dari duduknya dengan bantuan tongkat penyangga.


"Aku harap, keadaan Anda segera membaik Dokter, dan Mba Siska selamat atas kehamilannya," ucap Arie dengan senyum manisnya.


Siska melepaskan tangan Tama yang bergelayut. Meskipun dengan enggan akhirnya nyaman melepaskannya. wanita cantik itu pun berjalan mendekati Arie. Kedua wanita itu berpelukan dengan penuh haru.


"Terima kasih Mbak."


"Jangan berterima kasih dulu, aku belum selesai bicara," tukas Arie.


Siska melerai pelukan mereka, memang Arie dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Sementara Arie dia menatap ke arah Tama dengan senyum smirk di wajahnya.


"Sebagai hukuman karena kalian tidak memberi tahu aku tentang pernikahan kalian. Aku akan menjauhkan Mbak Siska seharian darimu Dokter!" tegas Arie.


"Apa!"


"Enggak bisa, pokoknya nggak boleh. Siapa yang akan mengurusku. Tubuhku lemah, kepalaku pusing, kau tega membiarkan aku sendirian di sini," protes Tama.


"Dokter, di sini ada ratusan perawat jadi kau tidak akan mungkin sendirian di sini. Lagi pula kau akan merasa mualkan kalau Mba Siska berdekatan denganmu. " tukas Arie.


"Itu sudah bisa aku atasi dengan masker ini, aku baik baik saja!" tegas Tama.


Ia tidak rela kalau harus berpisah dengan istrinya seharian. Ia takut tidak bisa menahan beratnya rindu.


"Sayang, jangan ya. Siapa yang akan menemani suamimu ini," ucap Tama dengan menatap memelas kepada sang istri.


Siska tersenyum kecil melihat wajah memelas suaminya. Sangat lucu seperti anak kecil yang meminta di belikan permen.


"Ayo Mbak Siska, aku akan mengajakmu ke salon." Arie mengandeng tangan Siska dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.


"Bye Dokter, sampai jumpa nanti malam," Arie melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang ia terus berjalan.

__ADS_1


Tama hanya bisa pasrah. Ia melepaskan maskernya lalu membuangnya sembarang. Tama membaringkan tubuhnya, menarik selimutnya sampai menutupi kepala. Meringkuk sambil memeluk bantal. Pria itu terisak sambil menyebut nama istrinya.


__ADS_2