
"Kau juga harus segera sembuh, cedera pada kaki akan segera pulih, asal kau rutin untuk di terapi," ujar Tama.
"Aku tahu," jawab Alex singkat.
"Baiklah, aku harus pergi. Jaga istrimu baik baik." Tama bangkit dari duduknya.
Alex masih bergeming di sana. Sementara Tama sudah berada di depan pintu. Langkah Tama terhenti saat dua orang asing berada di hadapannya. Satu berwajah oriental dan satunya lagi sepertinya bukan orang pribumi.
"Alex sepertinya ada tamu spesial untukmu!" ucap Tama dengan dengan sedikit memiringkan kepalanya ke arah dalam.
"Suruh saja mereka masuk lagi, spesial apanya," ucap Alex sambil terus mengarahkan kursi rodanya mendekat ke arah ranjang.
Alex kira Tama hanya menggodanya. Ia tidak tahu kalau dia mendapatkan tamu yang sangat spesial untuknya hari ini.
Tama pun mengisyaratkan untuk kedua orang itu masuk. Dengan langkah perlahan keduanya masuk dan mendekati Alex. Sementara pria itu masih setia memandangi wajah istrinya yang terlelap, dengan posisi membelakangi pintu. Arie memang lebih banyak tidur, sepertinya efek dari obat yang ia konsumsi.
"Keke," suara lembut itu memanggil dia dengan sebutan yang sangat ia rindukan.
Alex segera membalikkan kursi rodanya. Seorang gadis cantik menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, sorot kerinduan jelas tersirat dalam dari matanya.
Alex tersenyum, jujur dia juga sangat merindukan adik kecilnya itu. Terlepas dari masa lalu mereka, kenyataannya mereka tumbuh bersama. Alex merentangkan kedua tangannya. Nuwa pun langsung berhamburan ke pelukan kakaknya. Tangis Nuwa pecah, ia meluapkan semua rasa yang selama ini begitu menghimpitnya.
"Wo, cen te hen xiang ni,"
[ "Aku, sangat merindukanmu," ] ucap Nuwa di sela Isak tangisnya.
Alex membalas pelukan hangat adik kecilnya. Tatapan Alex beralih pada sosok pria yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa datang bersama brengsek ini?"
"Hey aku bukan orang brengsek," elak Daniel tidak terima.
"Lalu apa namanya, menghilang tanpa jejak dan selalu menghindar dariku. Apa karena Nuwa," tebak Alex.
Sepertinya tebakan Alex tepat pada sasarannya. Melihat Daniel yang salah tingkah, dan menggaruk tengkuknya sambil menyengir kuda.
"Dia sekarang kekasihku, Ke," lirih Nuwa. Ia menarik dirinya dari pelukan Alex.
"Hem, aku sudah tahu," jawab Alex enteng.
"Jadi Keke sudah tahu!" pekik Nuwa terkejut.
"Kau memang tidak bersamaku, tapi kau tidak akan lepas dari pengawasanku?" tegas Alex.
Rasa sayang Alex pada Adiknya tidak pernah berkurang. Nuwa pernah membuat kesalahan, Akan tetapi Alex tahu semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Nuwa. Adik kecilnya itu hanya di jadikan alat oleh ibu tirinya.
__ADS_1
"Ke, maafkan aku... aku tidak bisa melindungimu." air mata Nuwa kembali luruh, dia masih duduk bersimpuh di hadapan kakak laki-lakinya itu.
"Duduklah, ceritakan semuanya," titah Alex.
Nuwa pun mengangguk lalu beranjak bangkit dari posisinya semula. Alex mengajak Nuwa dan Daniel duduk di sofa yang sama yabg di duduki Tama.
Nuwa pun menceritakan semuanya yang ia tahu dari A sampai Z. tidak ada yang ia tutupi. Sesekali Daniel mengusap punggung kekasih kecilnya itu, untuk memberikan dukungan. Ia tahu semua ini sangat berat untuknya. Alex mendengarkan cerita Nuwa dengan seksama, matanya memerah saat mendengar siapa dalang dari semua ini.
"Ke, maafkan aku," ucap Nuwa lagi, air matanya kembali luruh.
Daniel pun segera merengkuh Nuwa dalam pelukannya. Alex merasa senang melihat Nuwa sudah mempunyai seseorang yang menjaganya. Namun, di sisi lain Alex merasakan kekecewaan yang sangat dalam pada pelaku yang sudah menabraknya.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Alex tiba-tiba.
Nuwa langsung melepaskan pelukannya dari Daniel begitu pulang sebaliknya, Daniel langsung membenarkan posisi duduknya dan merapikan jas yang di pakainya.
"Keke, kenapa tanya soal itu, aku kan mau ke sini mau minta maaf. Bukan membahas pernikahanku," ucap Nuwa sambil tersipu malu.
"Hem, secepatnya. Setelah semua ini selesai," ucap Daniel mantap. Nuwa menoleh ke arah kekasihnya dengan binar penuh bahagia.
"Daniel, benarkah itu?"
"Tentu sayang." Daniel meraih tangan Nuwa lalu mencium lembut punggung tangannya. Membuat Nuwa tersipu malu.
Seandainya Arie dalam kondisi sehat, tentu saja dia akan melakukan lebih dari sekedar mencium punggung tangan istrinya.
"Ke, bagaimana kondisi Kakak ipar?" tanya Nuwa sendu.
Melihat kakak iparnya terbaring lemah di ranjang, dengan semua peralatan medis buang menempel di tubuhnya. Membuat Nuwa semakin merasa bersalah.
"Kakakmu, dia baik. Dia baru saja sadar dari koma," ucap Alex dengan senyum yang ia paksakan.
"Maaf," lirih Nuwa lagi.
Sepertinya tidak akan cukup kata maaf untuk mengurangi rasa bersalahnya. Namun, tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan.
"Apa kau sudah melihat keponakanmu, dia sangat cantik seperti Mamanya," ucap Alex mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Ia tidak ingin Nuwa terus menerus merasa bersalah. Karena semua ini bukan salahnya.
"Keponakan, di mana dia sekarang, Ke?"
Nuwa sangat antusias mendengarkan keponakannya sudah launching ke dunia ini. Nuwa selalu membaca berita tentang Alex dan keluarganya. Nuwa masih takut untuk bertemu secara langsung dengan Keke dan Kakak iparnya. Dia merasa tidak punya muka, setelah apa yang di lakukan di masa lalu. Di tambah lagi kelakuan ibunya.
"Di ruang bayi, kalian bisa melihatnya di sana."
"Siapa namanya, hmm... aku sudah tidak sabar ingin melihat malaikat kecil itu." Nuwa menghentakkan kakinya gemas.
__ADS_1
"Nama ya, dia belum punya nama."
"Lho kok belum kenapa?"
"Emak belum bisikan nama padaku, ataupun pada Mamanya," ucap Alex apa adanya.
"Emak? siapa Ke?" Nuwa dan Daniel menautkan kedua alisnya.
Merasa bingung dengan sosok yang di sebutkan Alex.
"Lihat ke atas. ada dua jempol yang terus mengetuk keypad di layar ponsel."
Nuwa dan Daniel pun serempak mendongakkan kepalanya ke atas, pandangannya mereka langsung menembus atap rumah sakit.
"Yang bulet besar itu ya, Ke."
"Jempol yang besar." Danie menurunkan kepalanya ke posisi normal. Begitu pula Nuwa, lehernya merasa lelah karena terus mendongak ke atas.
"Jelas jempolnya besar, Emak kan bulet," jawab Alex tanpa dosa.
[ Sekate kartel loe ngomong Mak bulet, awas aja ya. Mak pites baru rasa!]
Alex yang mendengar bisikan goib pun langsung menelan ludahnya.
"Keke kenapa?" tanya Nuwa dengan cemas, tiba-tiba saja wajah Alex berubah pucat.
"Ti--tidak apa apa, emh sebaiknya kita nggak usah ngomongin Mak ya. Dia sangat sibuk. Lagi pula Mak baik hati dan tidak sombong," ucap Alex dengan senyum semanis madu.
"Keke kenapa sih, Aneh?" bisik Nuwa pada Daniel.
"Mungkin efek dari kecelakaannya sayang," sahut Daniel sambil berbisik.
"Bisa jadi."
Keduanya menatap aneh pada Alex yang terus saja menatap ke atas dengan tatapan memohon.
.
.
.
.
Yang lupa sama Daniel. dia orang yang nolongin Alex masuk kamar hotel, waktu dia mabok berat pas nikahannya dulu. lama ngilang soalnya lagi pacaran sama Nuwa 🤧🤧🤭
__ADS_1