Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Duren


__ADS_3

Seorang pria nampak kesulitan berjalan, dengan susah payah dia menentang durian monthong di kedua tangannya, tak tanggung tanggung durian super jumbo itu di belinya khusus untuk Tuan mudanya. Chiko menaruh raja buah itu di lantai, mengibas ngibaskan kedua tangannya yang sudah memerah.


Ting tong...


Bunyi bell membuat Arie langsung lari berhambur membuka pintu.


Ceklek.


"Nyonya.." sapa Chiko.


Arie melewati Chiko begitu saja, tanpa menghiraukan keberadaan manusia yang ada di depannya, mata Arie langsung tertuju pada buah berduri yang tergeletak di lantai, Arie mengangkat satu dari buah dengan entengnya, Mata Chiko membulat melihat Arie yang menenteng Durian monthong jumbo dengan mudahnya, padahal tangan Chiko serasa mau copot saat membawanya tadi.


Nyonya bisakah Anda merasakan keberadaan ku, aku masih kasat matakan, gumam Chiko dalam hati.


Chiko pun masuk ke dalam walau tanpa di persilahkan masuk, membawa satu raja buah yang tertinggal. Bukannya dapat pujian Chiko malah dapat tatapan tajam menghunus bagaikan pedang dari seseorang yang duduk di hadapannya, Chiko hanya bisa menelan ludahnya kasar.


Apa lagi ini, Tuhan, lirih Chiko dalam hati.


Chiko pun meletakkan durian yang dia bawa di dekat temannya yang di bawa Arie masuk terlebih dahulu, dengan perlahan Chiko merambat ke sofa yang ada di sebelahnya, pelan tapi pasti Chiko mendaratkan bokongnya di bisa empuk itu.


"Siapa yang menyuruhmu duduk" hardik Alex, Chiko langsung berdiri tegap bagai paskibra yang sedang bersiap.


Arie dengan antusias membawa pisau yang cukup besar dari dapur, berlari kecil menuju ruang tamu. Duduk bersimpuh memegang erat pisau besar dengan kedua tangannya, dengan semangat empat lima Arie mengayunkan pisau hendak menghujam buah di hadapannya.


"Arie, apa yang kau lakukan" ucap Alex lembut.


"Mau belah duren" ucap Arie dengan polosnya, kedua tangan Arie tertahan di udara.


"Suruh saja Dia yang membelahnya,"ucap Alex sambil melirik tajam ke arah Chiko.


"I..iya Nyonya biar saya saja yang melakukannya" jawab Chiko sambil melangkah mendekati Arie.


"Kau yakin bisa" Arie menurunkan tangannya, meletakkan pisau di lantai,


"Tentu Nyonya jangan meremehkan, saya sangat kuat" ucap Chiko membusungkan dadanya.


"Kau kan belum menikah mana bisa belah duren" jawab Arie.


"Ap..pa, yang Nyonya katakan," wajah Chiko memerah mendengar ucapan absrut Nyonya kecilnya.


"Bukankan, belah duren itu hanya untuk orang yang sudah menikah saja"


"Itu berbeda Nyonya" ucap Chiko sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Beda apanya, duren tetap saja duren, kalau kamu mau belah haram hukumnya"


"Nyonya itu berbeda, bukan duren yang ini"

__ADS_1


"Lalu"


Chiko yang merasa kewalahan untuk menjawab pertanyaan Arie, akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri mendekat pada Alex, Chiko menunduk lalu membisikkan sesuatu di telinga Alex, wajah Alex memerah setelah mendengar bisikan Sekretarisnya.


"Ehem.." Alex berusaha menormalkan rasa hangat yang mulai menjalar di wajahnya, sementara Chiko mundur teratur ke tempat dia berdiri semula.


Saat Alex mendengar percakapan Arie dan Chiko, Alex hanya mengira mereka sedang membahas salah satu mitos di Indonesia, namun ternyata mereka sedang membahas sesuatu yang lain.


"Arie, biarkan Chiko yang membelah duriannya" ucap Alex mencoba membujuk istrinya.


"Tapi kata Mba Sum, ga boleh kalau belum nikah"


"Mba Sum, siapa dia?"


"Itu yang punya kontrakan, yang aku tempati dulu"


"Jangan dengarkan wanita itu, sekarang biarkan Chiko, belah durennya" Alex berusaha menahan emosinya.


"Dosa... di bilangin ga percaya banget sih, Pak ustadz juga bilang ga boleh waktu pengajian dulu" kekeh Arie.


Siapa pula orang bernama ustadz ini, Alex memijit pelipisnya.


Chiko mengatupkan bibirnya, menahan tawa melihat Tuan mudanya kewalahan menghadapi istrinya, Chiko segera menunduk saat Alex menatapnya.


"Arie, biarkan Chiko membuka duren itu, agar kau bisa memakannya, sudah jangan cerewet lagi, kau mau makan durian itukan," Alex meninggikan suaranya. Bola mata Arie kembali berkaca kaca, Arie langsung bangkit dari duduknya, berlari ke arah kamar.


Pintu kamar di tutup dengan keras, Alex menghela nafas panjang melihat kelakuan Arie, dia semakin yakin kalau Arie mempunyai masalah, Arie pasti merasa sangat tertekan, Alex merasa harus memanggil psikolog sesegera mungkin.


"Kau cepat, buka seluruh jendela, semprot semua ruangan, dan bawa pergi buah laknat ini keluar dari sini,"


"Baik Tuan"


"Dan segera cari psikiater terbaik di kota ini, bawa ke sini sekarang," imbuh Alex lagi, Alex berdiri bangkit dari sofa, melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Chiko panggilkan dokter sekarang" imbuh Alex lagi.


"Baik Tuan" ucap Chiko.


Semuanya harus sekarang, aku hanya punya dua tangan dan dua kaki, Ya Tuhan aku lebih memilih berkutat dengan meja kerjaku di kantor, keluh Chiko dalam hati.


Chiko mengeluarkan benda pipih dari sakunya, mulai menghubungi Seseorang, setelah itu dia mengerjakan pekerjaan rumah lain yang di berikan Tuannya.


"Arie buka pintunya" ucap Alex sambil terus mengetuk pintu kamar.


"Ga .. ga mau, Alex jahat" jawab Arie dari dalam kamar, duduk di atas ranjang sambil memeluk kedua lututnya.


Mendengar Alex yang bicara dengan nada tinggi membuatnya sedih, air mata Arie sudah meleleh sejak ia masuk kamar, Arie tidak mengerti dimana salah dirinya, dia hanya meyakini apa yang sering dia dengar di tempat dia tumbuh besar, apa yang salah kenapa Alex membentaknya. Sementara di luar kamar Alex hanya bisa mendengus kesal.

__ADS_1


"Arie cepat buka pintunya, jangan kekanak-kanakan" nada suara Alex mulai meninggi. Arie semakin meringkuk dalam tangisnya.


"Sudah Bro, sabar dulu" ucap seorang pria menepuk pundak Alex, sontak Alex menoleh ke belakangnya, mata Alex membulat sempurna saat tahu siapa yang ada di belakangnya.


"Kau untuk apa kau di sini," ketus Alex, sebenarnya dia begitu malas berurusan dengan dokter muda ini.


"Bukankah kau sendiri yang mengundangku kemarin," jawab Tama santai.


"Chiko " Alex berteriak, suaranya menggema ke seluruh ruangan, Chiko yang mendengar namanya di panggil segera berlari ke sumber suara.


"Iya Tuan," ucap Chiko sambil mengatur nafasnya.


"Kenapa Kau memanggil Dia kemarin" ujar Alex sambil menegangkan jari telunjuknya.


"Dia sekaligus psikiater terbaik di kota ini, Tuan"


Tama membusungkan dadanya, sambil merapikan jas yang dia pakai.


"Apa" Alex memandang Tama tak percaya.


"Hais... sudahlah aku tak perduli, ikut aku" Alex mendahului Tama berjalan ke arah ruang tamu, Kedua pria itu mengekor di belakangnya.


Mereka bertiga duduk bersama di ruang tamu.


"Kau, lepaskan jarum infus ini, aku sudah muak memakainya"


"Kau belum sembuh benar, lihat saja wajahmu masih pucat seperti itu" jujur sebagai seorang pria dia tidak ingin memperdulikan Alex, Tama masih tidak bisa merelakan Arie menjadi istrinya, namun sebagai seorang Dokter dia harus bersikap profesional.


"Sudahlah jangan cerewet, cepat lepaskan" Tama pun menuruti kemauan pasien yang keras kepala ini, dan memulai tindakan untuk melepas jarum infus yang terpasang di punggung tangan Alex.


"Selesai, lalu bisa kita mulai"


"Mulai apa?"


"Bukankah Kau merasa stres dan ingin berkonsultasi dengan ku" ujar Tama sembari membenarkan posisi duduknya.


"Bukan aku, tapi Istriku"


"Arie, ada apa dengannya" raut cemas seketika nampak di wajah Tama.


"Aku tidak tau, Dia bersikap sangat aneh setelah aku kembali dari luar kota," dagu Alex bertumpu di kedua tangannya.


"Aneh, bagaimana maksudmu"


"Dia mudah sekali menangis, padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti itu, Dia bukan seperti Arie yang ku kenal, Dia terlihat begitu rapuh dan sangat tidak bisa di bantah jika menginginkan sesuatu" Alex menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi.


"Dasar suami tidak peka, jangan bawa aku ke masalah rumah tangga kalian" Tama bangkit dari duduknya dengan kesal, sementara Alex hanya memandang heran pada Dokter muda yang marah di hadapannya.

__ADS_1


"Arie tidak butuh Psikiater, Dia hanya butuh suami yang lebih perhatian padanya" imbuh Tama sebelum keluar dari apartemen.


__ADS_2