Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Jangan salahkan Rujak


__ADS_3

Dua penjaga bertubuh besar dan tegap, memakai baju seragam hitam itu tak bergeming sama sekali dari tempat mereka berdiri, meskipun wanita paruh baya yang ada di hadapan mereka, terus mengomel dan memukuli badan mereka dengan tas merek Kremes yang di bawanya.


Buukk


Bukk..


Tas import mahal itu mendarat bertubi tubi di tubuh penjaga.


"Aku bilang biarkan aku masuk" ucap Li Wei sambil berusaha mendorong keras tubuh kulkas dua pintu, yang berdiri di hadapannya.


"Kami hanya menjalankan perintah, Anda tidak boleh masuk ke rumah ini" ucap salah satu penjaga dengan datar.


Tak lama seorang pria lain yang memakai baju sama hitamnya, keluar dari dalam rumah dengan membawa koper besar, mata Li Wei membulat saat melihat koper miliknya yang biasa dia pakai.


"Hey Kau, jauhkan tangan kotor mu, beraninya kau menyentuh barang barang milikku" teriak Li Wei, wanita itu berusaha masuk namun tangannya di pegang oleh penjaga.


"Kalian berani menyentuhku seperti ini, kalian hanya orang orang miskin yang aku bayar, lepaskan aku, lepaskan kan" Li wei terus meronta, alih alih melepaskan, kedua penjaga itu malah mengangkat tubuh Li Wei, sampai ke depan pagar, lalu mereka melepas kedua tangan kekar mereka dari lengan Li Wei dengan kasar, membuat wanita paruh baya itu mendarat dengan bokongnya di paving blok, penjaga lain melempar koper Li Wei tepat di sampingnya.


"Tua Bangka, Brengsek... lihat saja aku akan membalas mu" Li Wei bangkit lalu meraih kopernya.


Brummm..


Dengan kecepatan tinggi, mobil Li Wei meninggalkan rumah utama keluarga Wang.


Apartemen


Kakek Wu dan Alex memutuskan untuk kembali ke apartemen, karena Alex terus mengeluarkan isi perutnya di kantor, baru saja mereka membuka pintu, telinga mereka di sambut tangisan pilu dari arah ruang keluarga.


"Huaaaa..jangan di usir pak, dia ga salah apa apa, kenapa cinta mereka .... ga.. bisa.. di .. terima" ucapan Arie terjeda oleh tangisnya.


"Alex, apa yang kau lakukan pada cucu kesayangan ku" Kakek Wu menatap tajam pada wajah Alex yang pucat.


"Apa maksud Kakek, ak.." ucapan Alex terpotong, saat Kakek Wu mengangkat tanganya, mengisyaratkan Alex untuk diam. Alex hanya mendengus kesal lalu melangkah menuju kamarnya.u


Kakek Wu segera menyuruh pak Darwis untuk mendorong kursi rodanya ke arah ruang keluarga, melihat cucu menantu kesayangan teryata menangis sesenggukan sambil menatap layar datar, Kakek Wu menghela nafas, rasa cemasnya berganti dengan geli, melihat berbagai cairan di wajah Arie yang belum semuanya di bersihkan.


"Arie sayang, ada apa" sapa Kakek Wu lembut, Arie mendengar suara yang tak asing di telinganya, segera menoleh, matanya membulat melihat Pria tua itu tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya.


Arie segera berhambur memeluk tubuh renta itu, tangis Arie kembali pecah, ingus bening kembali mengalir dari lubang hidungnya.


Sroooppp...


Arie menyusutkan cairan bening itu, namun tak semua kembali masuk.


"Raj.. di usir... "Ucap Arie sambil sesenggukan.


"Raj, siapa?"


"Itu.." Arie menunjuk layar televisi yang menampilkan salah satu aktor Bollywood ternama.

__ADS_1


"Astaga, itu hanya film, kau tidak menanyakan kabar Kakek mu ini, malah mengadu soal pria India itu" ujar Kakek Wu. pak Darwis terkekeh dalam hati melihat Tuan besarnya merajuk.


"Maaf" Arie mengosongkan hidungnya dengan ujung lengan bajunya.


"Kakek kenapa memakai kursi roda," tanya Arie yang baru menyadarinya.


"Tidak apa apa, Kakek mu ini hanya terlalu lelah berjalan, katakan bagaimana kabarmu, selama Kakek tidak di sini"


"Aku sangat baik, Alex memperhatikan ku dengan baik" ucap Arie tersenyum lebar.


Sedangkan di kamar mandi, perut Alex terus bergejolak, dia muntah, namun hanya cairan bening yang terasa pahit di tenggorokannya.


"Haaa" Alex mengusap bibirnya, lalu menguyur tubuhnya di bawah shower.


"Sial, gara gara makanan aneh semalam, "tangan Alex mengepal, memukul dinding kamar mandi.


"Hooooeeekk"


Alex kembali mual, sungguh menyusahkan. Setelah Alex selesai membersihkan dirinya, dengan langkah yang lesu dia memakai baju dan segera menemui Arie, niatnya dia ingin marah pada wanita yang membuatnya tersiksa sepanjang hari, namun saat melihat Arie yang sedang bercengkrama dengan kakek, rasa marah Alex menguap begitu saja melihat senyum Arie.


Dengan langkah lebar Alex mendekati Arie, pria ini langsung duduk di sofa merebahkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di pangkuan Arie.


"Eh.... Alex apa apaan sih" Arie terkejut dengan tingkah Alex, tak biasanya pria sipit ini bertingkah laku seperti ini.


Tak memperdulikan ucap Arie, Alex memiringkan kepalanya menghadap perut Arie, lalu mengusap wajah di sana.


"Hahaha... haha.. Alex hentikan aku geli" Arie mengeliat merasakan tangan Alex yang mulai merayap di sekitar pinggang Arie.


"Kakek.. kakek tolong aku sudah tidak tahan," Arie melambaikan tangannya.


"Alex hentikan tingkah konyol mu itu" Ucap kakek wu sambil memijit pelipisnya. Anak muda jaman sekarang benar-benar tidak tahu malu. Alex tak menggubris perkataan Kakeknya sama sekali.


Arie berusaha mendorong kepala Alex menjauh dari perutnya, namun tangan Alex melingkar kuat di pinggang Arie, membuat Arie kewalahan untuk melepaskan Alex.


"Hahahaha Cukup.. cukup.. Haha.. tolong, Alex," pekik Arie.


"Haha..Alex aku mau itu" Alex berhenti menghentikan gerakannya, lalu mendongakkan wajahnya menatap Arie.


"itu" Arie menunjuk ke arah layar televisi, Alex membalikkan kepalanya mengikuti aturan telunjuk Arie, layar datar itu menayangkan program wisata kuliner, sang host yang bertubuh tambun tampak menikmati ikan gurami goreng, dengan sambal merah dan petai dengan lahap, membuat Arie menelan ludahnya.


"Kau mau ikan goreng" ujar Alex mencoba menebak, Arie menggeleng cepat.


"Petai"


"Petai???" Alex mengeryitkan dahinya.


"Yang bulat hijau itu" ucap Arie mencoba menjelaskan.


"Ga" jawab Alex singkat, big no, bagaimana kalau itu makanan beracun lagi. Alex seakan trauma dengan makanan yang Arie minta.

__ADS_1


"Kenapa?" lirih Arie. Alex bangkit lalu membenarkan posisi duduknya.


"Kau tidak ingat semalam, kau meminta makan aneh lalu menyuruh aku memakannya,"


"Tapi ini beda, bukan rujak lagi" ujar Arie dengan wajah memelas.


"Kau tau Arie gara gara rujak sialan itu aku muntah seharian tadi, belum lagi semalaman rujak itu membuat ku tak bisa jauh dari kamar mandi" ucap Alex kesal sambil menyilang kedua tangannya dan kakinya.


"Ga mau beli ya sudah , ga usah nyalahin rujak terus," Arie bangkit dari duduknya, berjalan dengan menghentak hentakan langkahnya.


Bllaaammm..


pintu kamar ditutup dengan keras.


Kakek Wu dan pak Darwis yang sedari tadi hanya diam, menyaksikan drama anak muda live di depan mereka, hanya bisa menghela nafasnya.


"Alex apa kau sudah membawa Arie ke dokter" ujar kakek Wu, setelah memperhatikan tingkah laku kedua Cucunya.


"Aku sudah memanggil seorang psikolog terbaik di kota ini untuk memeriksanya" jawab Alex santai.


"Cucu bodoh, bawa Arie ke Dokter kandungan"


"Dokter kandungan??" Alex menatap heran para kakeknya.


sejenak Alex diam, matanya membulat saat kabel di otak kecilnya mulai tersambung.


"Mak...su..d Kakek" ucap Alex tergagap, masih tidak percaya dengan informasi yang baru di cerna otaknya.


Kakek Wu hanya bisa memijit pelipisnya, sama seperti pak Darwis, yang tak habis pikir dengan Tuan mudanya, ternyata lulusan terbaik unversitas tidak bisa menjamin otak berkerja dengan cepat.


Alex segera berlari ke arah kamarnya, mengedor keras pintu kamar.


"Arie.. Arie.. cepat buka pintunya" ujar Alex sambil terus mengedor pintu dengan keras.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, menampakkan wajah Arie yang di tekuk masam.Tanpa aba aba Alex langsung mengendong Arie ala bridal, membuat Arie terpaksa berpegang erat pada leher Alex.


"Turunkan aku," Alex tak bergeming hanya senyuman lebar terpampang di wajahnya.


"Kakek kami pergi dulu" teriak Alex dari arah pintu depan. Kakek Wu hanya menjawab dengan kibasan tangan, menyuruh mereka cepat pergi.


"Kita mau kemana?" tanya Arie yang masih bingung.


"Rumah sakit" jawab Alex singkat tanpa melepaskan senyumnya. Arie hanya mengeryitkan keningnya.


"Darwis kenapa aku bisa punya Cucu sebodoh itu"


"Sabar Tuan Besar, Tuan Alex tidak bodoh hanya berpikir lamban" ucap Pak Darwis sambil terkekeh, Kakek Wu ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2