
Mobil sport hitam milik Alex melaju kencang mengikuti arahan GPS yang memandu perjalanan mereka. Dari jalan besar kini mobil itu mulai menyusuri dalam kecil pedesaan. Jalan yang tidak begitu terawat, terdapat lubang di retakan di aspal.
Berulang kali Alex mengumpat karena jalan yang rusak. Arie hanya bisa mengelus punggung suaminya untuk menenangkan.
"Apa benar alamatnya. Kita nggak nyasar kan yang?" Arie melihat sekeliling mereka. beberapa rumah lawas yang berjajar. Terlihat mewah pada jamannya.
"Menurut orang suruhan ku sih, bener." Alex melihat ke arah GPS memastikan lagi jalan yang mereka lewati.
"Kelihatannya masih agak jauh, tidurlah. Kamu pasti capek," Alex melirik sekilas, saat Arie menutupi mulutnya yang menguap.
"Iyalah capek, hampir kamu gempur malem, paginya minta nambah lagi," Arie mencebikkan bibirnya lalu menoleh ke arah luar.
"Jangan salahkan aku. Kamu aja yang terlalu seksi bikin aku pengen nambah terus."
"Alasan," ucap Arie tanpa menoleh, ia menyembunyikan senyum manisnya.
Arie menyandarkan kepalanya, mencari posisi yang paling nyaman untuk berlabuh ke pulau kapuk. Tempat duduk Arie sudah di buat senyaman mungkin oleh sang suami. Dengan tambahan bantal extra yang super empuk untuk menopang leher dan pinggang sang istri yang terlelap tidur dengan memunggunginya.
Alex mengulum senyumnya saat dengkuran halus mulai terdengar dari sang istri. Perjalanan berlanjut dengan hening.
Puspa yang sedang duduk di teras rumah lamanya, dikagetkan dengan mobil mewah yang berbelok ke halamannya. Ia menerka siapa yang ada di dalam mobil itu. Kaca mobil itu sangat pekat, membuat Puspa tidak bisa melihat ke arah dalam.
Alex mendengus kesal, melihat wajah yang akan menyambut kedatangan. Itu bukanlah wajah yang ingin ia lihat. Jika boleh ia ingin memakai kan kantong kresek pada kepala wanita tua itu.
Arie mengerutkan kelopak matanya, dan perlahan membukanya. Arie perlahan membalikkan badannya, menatap heran pada suaminya yang terlihat kesal. Menatap tajam ke arah luar mobil.
"Sayang ada apa?" tanya Arie dengan suara serak dan manja, Bumil itu mengeliat manja. Alex menoleh, tatapannya berubah lembut.
"Tidak ada apa apa." Alex membantu sang istri untuk membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai? Kenapa nggak bangunin aku?" protes Arie.
"Kamu lelap banget, mana tega aku bangunin kamu." Alex mengusap lembut pipi chubby Arie, lalu mencubitnya gemas.
"Kebiasaan, sakit tau." Arie mengelus bekas cubitan Alex yang pasti memerah. Alex terkekeh melihat wajah cemberut istrinya yang membuat wajah Arie berkali kali lipat terlihat sangat imut baginya.
"Ayo cepat turun, sepertinya ada yang sudah tidak sabar bertemu denganmu," ujar Alex, sambil mengarahkan pandangan ke arah luar jendela. Arie mengikuti arah suaminya melihat.
Puspa sedang berjalan ke arah mereka. Raut wajahnya terlihat sangat antusias. Arie menelan salivanya, lalu menoleh ke arah suaminya.
Alex mengerti arti tatapan Arie. Ia meraih tangan lentik yang sudah agak membengkak itu, mengenggamnya erat menyalurkan energi positif untuknya.
"Semua akan baik-baik saja. Don't worry ok." Arie mengangguk kecil, menghirup nafas dalam lalu menghembuskanya perlahan.
Jujur Arie belum siap jika harus bertatap muka dengan neneknya. Belum lagi, melihat apa yang sudah terjadi menimpa keluarga Sasongko. Neneknya pasti akan menyalahkan atas semua yang terjadi.
Alex membantu sang istri melepaskan sabuk pengamannya, lalu melepaskan miliknya sendiri. Alex turun berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk sang istri.
Tangan keriputnya mengepal, melihat wajah yang ia benci keluar dari mobil mewah itu dengan wajah sumringah. Kedua sejoli itu berjalan mendekatinya. Puspa pun segera menetralkan wajahnya.
"Cucuku.." Puspa menyambut kedatangan Arie dan segera memeluknya. Arie membeku, matanya menggerjap beberapa kali.
Apa ini nyata? Nenek yang selama ini membencinya dan menganggapnya sebagai orang asing. Kini memeluknya dan apa tadi, dia memanggilnya cucuku.
"Maafkan nenekmu ini Nak, dosa Nenek terlalu banyak padamu, aku mohon maafkan aku huhuhu..." Puspa tersedu-sedu sambil terus memeluk tubuh Arie.
Air matanya tumpah membasahi baju Arie.Tubuhnya berguncang. Arie masih terpaku, wanita itu masih berusaha mencerna apa yang terjadi di hadapannya.
"Kenapa kamu diam saja nak? Apa kamu membenci nenekmu ini. Aku ini sudah tua nak." Puspa melepaskan pelukannya, menatap Arie dengan wajah sendu dan penuh rasa menyesal.
__ADS_1
"Nenek sadar apa yang nenek lakukan selama ini salah, Nenek hanya ingin hidup tenang di masa tua ini. Nenek tau sangat sulit untukmu untuk memaafkan semua kesalahanku. Nenek sudah menyebutmu anak haram, dan mengusir mu dari rumah, nenek khilaf. Aku tidak memaksamu untuk memaafkan nenek. Tapi nenek merasa lega bisa mengungkapkan semuanya. Mungkin ini adalah hukuman atas semua dosa dosa nenek." Puspa menunduk wajahnya lalu mengusap air mata di pipinya yang keriput.
Alex menatap Puspa dengan bersendekap dan menaikkan satu alisnya. Terlihat janggal. Namun, Alex membiarkannya, selama apa yang di lakukan wanita itu tidak menyakiti istrinya. Arie menatap sang suami meminta pendapat, Alex hanya mengedikkan bahunya dan membuang pandangannya ke sembarang arah.
Arie kembali menatap sang nenek yang masih sesegukan.
"Nek, sudahlah. Semua sudah berlalu, aku memaafkan nenek." Puspa mengangkat wajahnya menatap tidak percaya pada cucunya.
"Benarkah Nak, kau memaafkan Nenekmu ini?" tanya Puspa penuh harap. Arie mengangguk kecil.
"Oh.. syukurlah. Terima kasih Nak.. terima kasih." Puspa kembali memeluk erat Arie, dan sang cucu pun membalas pelukannya neneknya dengan hangat.
"Ayo masuk, Ayahmu pasti senang sekali melihat kedatangan mu." Puspa melerai pelukan mereka.
"Kau juga nak Alex mari masuk." Puspa mendahului mereka melangkah.
Arie dan suami mengikuti langkah sang nenek. Arie menyapu pandangan ke sekeliling. Rumah itu tidak terlalu besar tapi terlihat nyaman. Lebih besar dari kontrakan yang Arie tempati dulu. Namun, jika dibandingkan dengan rumah mewah keluarga Sasongko, rumah ini hanyalah sepertiga dari halaman belakangnya.
Di dalam ruang tamu hanya ada kursi kayu lawas meskipun masih terlihat bagus, akan tetapi itu pasti tidak senyaman sofa di rumah besar mereka. Mereka mengikuti langkah Puspa sampai ke sebuah kamar.
Puspa membuka pintu kamar itu dengan perlahan.
"Adinata lihatlah siapa yang datang menjengukmu," ucap Puspa dengan wajah berbinar.
"Siapa Bu?" Adinata balik bertanya dengan malas. Suaranya terdengar lemah.
Puspa tidak menjawab, ia memanggil tamu yang di maksud dengan hanya melambaikan tangannya. Arie mulai melangkah masuk dengan Alex di belakangnya.
"Ayah.." Arie berhamburan memeluk ayahnya yang duduk berselonjor di atas kasur.
__ADS_1
"Anakku," lirih Adinata, ia memeluk erat tubuh Arie.
Tangis keduanya pecah. Ayah dan anak itu saling menumpahkan rindu dalam tangis dah hangatnya pelukan mereka. Alex menyeka sudut matanya yang sudah mengenang, tiba-tiba ia sangat merindukan sosok papanya. Ia tahu bagaimana sang mertua sangat menyayangi putrinya. Alex merasa bersalah karena memisahkan mereka.