Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Menerima


__ADS_3

Adinata menatap sang putri kecil dengan penuh kasih, Arie yang masih dalam pelukan suaminya pun menatap sang Ayah lalu mengangguk pelan. Ia tahu suaminya bukan sepenuhnya alasan Arie untuk meminta Arow menjalankan perusahaan miliknya, Atie gaya tidak ingin sang kak merasa ia mengasihaninya. Bagaimanapun seorang pria pasti punya ego dan harga dirinya untuk di jaga. Seseorang pastinya tidak ingin dikasihani orang lain. Namun, akan beda ceritanya bila ia di mintai bantuan, ia akan merasa di butuhkan.


"Ayah mengerti, Nak. Arow akan membantumu, kau jangan khawatir. Ayah juga akan membantu sebisa Ayah, tentunya jika Alex tidak keberatan ," ucap Adinata dengan penuh haru. Setitik bening air mata mengenang di sudut matanya, dengan bibirnya yang terus tersenyum.


"Perusahaan itu sepenuhnya milik istriku Ayah. Jadi dia berhak melakukan apa saja, aku tidak merasa keberatan sama sekali," ucap Alex dengan tersenyum lebar. Ia pun semakin mempererat pelukannya.


"Alex sesak." Arie memukul lengan suaminya. Alex segera melepaskan pelukannya.


Fuaah


Arie mengambil nafas dalam, setelah Alex melepaskannya dari dekapannya.


"Maaf sayang, kau terlalu mengemaskan," ujat Alex sambil mencubit gemas hidung minimalis istrinya. Arie mencebik kesal.


Sungguh suatu anugerah dari Tuhan untuknya. Tidak akan pernah cukup rasanya ia mengucapkan syukur pada Tuhan, karena telah memberikannya putri yang begitu baik hati padanya.


"Tapi Ayah, aku-


"Sudahlah jangan membantah lagi, apa kau tidak ingin membantu Adikmu. Dia hanya ingin meringankan pekerjaan suaminya," sergah Adinata.


"Ayahmu benar. Tidak ada salahnya, menerima tawaran dari Arie. Lagipula sebelumnya itu adalah perusahaan keluarga kalian, jadi kau sebagai anak laki laki di keluarga ini sudah seharusnya melanjutkan usaha Ayahmu. Sama seperti cucu bodohku itu," imbuh Kakek Wu.


Arow pun terdiam, ia menatap sang istri untuk meminta pendapat. Tentu saja Nana mengangguk setuju. Arow tersenyum, ia kembali melihat Ayah dan adik secara bergantian.


"Baiklah aku akan membantumu, tapi sebelum aku harus menyelesaikan pekerjaanku di kantor."


"Tentu," ucap Arie dengan wajah berbinar.


Puspa mendengarkan percakapan mereka dengan baik. Ia menatap Arie dengan senyum kemenangan. Akhirnya ia tidak perlu bersusah payah untuk merayu Arie untuk mengembalikan hartanya.


Syukurlah, setelah ini aku tidak perlu lagi berlagak sok baik pada anak haram itu. Aku sudah muak rasanya melakukan drama seperti ini. gumam Puspa dalam hati.


"Nyonya Puspa kenapa Anda diam saja, katakan sesuatu. bagaimana menurut anda tentang kerja sama dua wanita manis ini?"


"Ah..oh.. aku yakin Arow pantas untuk memimpin perusahaan itu," jawab Puspa gelagapan. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya, sehingga tidak menyadari bahwa mereka sedang membahas hal lainnya.

__ADS_1


Kakek Wu tergelak. Semua orang pun menatap Puspa dengan tatapan meremehkan.


"Nyonya kami sedang tidak membahas itu, kami sedang membicarakan dua wanita cantik ini."


Puspa mendelik kesal, ia merasa begitu malu karena salah bicara. Ternyata saat dia sedang sibuk dengan pikirannya. Kakek Wu bicara tentang Nana dan Arie yang ingin membuka sebuah butik.


Puspa memutuskan untuk tidak lagi menjawab pertanyaan mereka, ia hanya fokus menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


Setelah makan malam selesai. para wanita menikmati malam itu dengan bersantai di ruang keluarga. Sementara para laki-laki berada di ruang tamu membicarakan masalah perkerjaan.


Nana mengendong bias yang masih membuka matanya. Sepertinya bayi itu ingin ikut ngobrol bersama Tante dan ibunya.


"Isshh.. lucu banget sih. Pipimu ini lho, bulet kaya bakpao, jadi pengen gigit." Arie menusuk lembut pipi gembul keponakannya.


Byaz mengeliat geli. Jemari kecilnya menangkap telunjuk Tante yang sedang menggodanya.


Manik mata kecil itu menatapnya dengan senyuman senyum polosnya. Arie menatap wajah malaikat kecil itu dengan penuh haru.


"Kak Nana, aku meleleh kak, hiks...hiks.." Arie terisak, ia merasa Byaz terlalu lucu dan sangat imut.


Arie melihat ke arah perutnya sendiri, lalu mengusapnya dengan satu tangan.


"Apa nanti junior juga seimut Byaz?" Arie menatap perutnya dengan binar penuh harap.


"Apa kau belum tahu jenis kelaminnya?" Nana menautkan kedua alisnya.


Nana saja sudah mengetahui jenis kelamin bayinya saat usia kehamilan enam bulan. Arie menggelengkan kepalanya pelan.


"Belum Kak, junior selalu menyembunyikannya saat kamu USG. Sepertinya dia ingin memberikan kejutan kepada kami," ucap Arie.


"Yang penting sehat, perempuan dan laki-laki itu sama saja," ucap Nana. Arie mengangguk kecil sambil tersenyum.


"Jelas berbeda, lebih baik anak laki laki dari pada anak perempuan yang hanya bisa merepotkan saja," seloroh Puspa, sambil menyesap teh miliknya.


Arie mengusap pipinya yang sedikit basah, lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


"Nenek memang benar, perempuan memang merepotkan. Tapi bukankah para perempuan yang bisa memberikan pewaris untuk keluarga, dan seorang perempuan yang bisa menyatukan keluargaku. Seperti aku, iya kan, Nek." Puspa bungkam, ia tidak ingin berdebat dengan Arie dan memilih untuk beranjak pergi dari ruangan itu.


Arie hanya bisa menatap nanar punggung sang nenek yang perlahan meninggalkan mereka.


"Arie, maafkan aku," ucap Nana sendu perempuan cantik itu menundukkan kepalanya.


"Eh... Maaf untuk apa kak?" Arie merasa salah tingkah dan bingung, dengan perubahan sikap kakak iparnya yang tiba-tiba sedih.


"Kakak tidak tau kalau selama ini Nenek memperlakukanmu dengan begitu buruk. Aku tidak menyangka Nenek bisa seperti itu."


Arie tersenyum kecut, mengingat semua yang pernah Neneknya lakukan padanya.


"Sudahlah kak, semua itu sudah berlalu. Aku sudah memaafkannya." Arie mengarahkan pandangan ke luar jendela.


Kata maaf memang selalu Arie ucapkan, akan tetapi masih ada sesuatu di hatinya. Seperti ada yang mengganjal. Ia masih memikirkan, apa sebenarnya yang membuat sang nenek begitu membencinya.


Nana mengenggam erat tangan Arie, ia sungguh menyesal karena terlambat memahaminya semuanya. Arie menunduk melihat tangan yang di genggaman sang kakak, lalu beralih melihat wajah Nana dengan senyum manisnya.


Nnghh...


Baby Byaz mengeliat kecil di pangkuan ibunya, membuat perhatian keduanya wanita itu tertuju padanya.


"Oh.. lihatlah, kau masih bayi tapi sudah pintar mencuri perhatian." Arie menguyel uyel pipi gembul keponakannya.


Bayi itu semakin tergelak tanpa suara, hanya raut wajahnya yang tampak seperti orang yang tertawa.


"Uh... kakak Nana, Byaz buat aku aja ya," rengek Arie.


"Eh... enak aja. Punya kamu sebentar lagi juga mau launching kan. Tungguin aja," celetuk Nana.


"Tapi aku pengen Byaz kak. Ntar kalau aku udah lahiran Byaz aku kembalikan." Arie mengedipkan matanya beberapa kali dengan wajah memelas.


"Hais.. memangnya Byaz boneka apa bisa pinjem terus di balikin."


"Isshh.. Kakak pelit, aku kan pengen gendong Byaz setiap hari," rengek Arie lagi.

__ADS_1


__ADS_2