Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Extra part 2


__ADS_3

Weekend, saatnya bagi keluarga untuk meluangkan waktu bersama. Namun, tidak bagi keluarga dokter satu ini. Keluarganya harus rela tidak berlibur bersama seperti keluarga pada umumnya. Tama masih harus berkerja di waktu liburnya, karena sebuah panggilan darurat yang di terimanya.


"Ma, papa pergi lagi ya?" tanya Naoki, dengan menatap nanar pada mobil sedan hitam yang baru saja berlalu di balik pagar rumah mereka.


Siska tersenyum, ia pun mengusap lembut rambut anak pertamanya itu.


"Papa pergi untuk menolong nyawa orang lain. Kamu harus bangga Nak, papa adalah superhero untuk semua orang yang membutuhkan," Siska mencoba memberikan pengertian pada sang anak.


"Iya Ma." Naoki mengangguk mengerti.


Naoki memang anak yang patuh dan pengertian. Selalu bersikap dewasa melebihi umurnya. Siska merasa sangat bersyukur memiliki anak sebaik Naoki. Namun, Siska merasa khawatir karena Naoki tidak suka bergaul dengan taman sebayanya. Ia lebih suka menyendiri dan membaca buku medis milik papanya.


Naoki tumbuh menjadi remaja yang tampan tapi pendiam. Ia terlihat acuh pada sekitarnya. Namun, tidak pada adik perempuan dan keluarganya.


"Hari ini kita jalan jalan ke kebun binatang mau?" ajak Siska.


Naoki menggelengkan kepalanya.


"Nao mau di rumah saja, Ma. Lagian Naoki udah gede ngapain ke kebun binatang," tukasnya.


"Kita ke sana buat bantu tante Arie sayang. Hari ini tante Arie dan keluarganya akan mengajak anak-anak asuhnya ke sana. Enggak ada salahnya kan kita ikut bantuin menjaga mereka. Kamu juga bisa maen sama Cleo."


"Cih... gadis cerewet itu," gumam Naoki lirih. Namun, masih terdengar oleh ibunya.


"Nao, nggak boleh gitu. Nanti kamu jatuh cinta lho," ujar Siska menggoda.


"Enggak bakal, Ma. Dia bukan tipe Naoki, aku nggak suka sama cewek yang punya mata sipit kayak gitu," tukas Naoki.


"Hemm... Mama nggak yakin, ya udahlah cepat siap siap sana. Pokoknya kita ke kebun binatang sekarang!" titah Siska tak terbantahkan.


Naoki menghela nafasnya. Ia memang tidak akan bisa membantah permintaan sang mama. Remaja tampan berusia 21 tahun itu pun melangkah masuk ke dalam kamarnya. Apalagi sejak insiden penculikan yang menimpa adik perempuannya beberapa tahun lalu.


Siska sempat mengalami depresi selam beberapa saat itu. Untungnya Siska bisa mengalami fase sulit itu berkat dukungan anak dan suaminya.


Siska menatap nanar punggung Naoki uang berjalan menaiki anak tangga. Jauh di lubuk hatinya ia masih merindukan sosok anak perempuannya yang di culik saat ia berusia 4 tahun. Namun, Siska berusaha untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihannya. Ia yakin suatu saat ia kan bisa bertemu lagi dengan anaknya itu.


Siska melangkah ke teras rumah. Ia duduk di sana sembari menunggu Naoki yang tengah bersiap. Siska menatap jauh ke halaman rumahnya, hamparan rumput hijau dan beberapa tanaman tidak pernah berubah sama sekali tetap terlihat indah dan asri. Tempat dimana Karina dan Naoki sering bermain.


Flashback on.


Siska duduk di tempat ia berada sekarang, di sebuah bangku santai sambil menikmati segelas es lemon favoritnya.


"Hati - hati!" serunya pada kedua anaknya yang sedang naik kejar kejaran.


"Iya Ma!" sahut Naoki lalu kembali mengejar sang adik.


Di sana juga ada bu sari yang mengawasi kedua anaknya. Keduanya terlihat sangat asik bermain. Siska begitu bahagia melihat kedua anaknya yang sehat dan lincah. Keluarganya terasa begitu sempurna, punya dia anak yang pintar dan lucu serta seorang suami yang begitu menyayanginya.


Naoki berlari kecil kearah Mamanya.


"Ma, Naoki haus pingin minum kayak Mama." ucap Naoki dengan nafasnya yang tersengal.


"Ok Mama, buatin dulu ya." Siska pun masuk ke dalam.


Naoki merebahkan tubuhnya di lantai untuk mendinginkan dirinya.


Dor!


Suara tembakan memekikkan telinga. Naoki segera bangkit dari tempatnya. Matanya terbelalak melihat Bu sari yang sudah tumbang, meringis memegangi lengannya yang mengucurkan darah. Sementara karina terkulai lemas dan berada di atas bahu seorang laki-laki bertopeng dan memakai baju serba hitam.


"Mama! Karina!" pekik Naoki.


Tahu ada orang lain yang mengetahui aksinya. Si penjahat lantas segera pergi dengan membawa Karina, Bu sari sempat menahan kaki laki-laki itu. Namun, ia malah mendapatkan tendangan di perutnya. Siska yang mendengar jerit anaknya pun segera berlari keluar.


"Ada apa?" ucap Siska yang dari saja keluar.


Ia melihat Naoki yang berdiri kalau dengan matanya yang memerah. Mata Siska mengekor pada tempat Naoki melihat.


"Astaga Bu sari!" Siska segera berlari menghampiri Bu sari yang bersimbah darah.


Naoki pun mengekor di belakang sang ibu. Wajah wanita paruh baya itu pucat pasi. Siska panik saat menyadari bahwa Karina juga tidak ada di sana.


"Bu sari."


"Mbak Siska ... Karina di bawa sama orang mbak," ucap Bu sari dengan terbata menahan sakitnya.


Jantung Siska bagaimana di hantam batu. Air matanya tumpah seketika. Namun, ia sadar Bu sari membutuhkan pertolongannya. Siska berteriak memanggil Satpam. Karena tak kunjung datang, Siska pun berinisiatif berlari ke arah pos penjagaan di gerbang rumahnya. Siska terkejut saat mendapati satpam itu sudah tergeletak tak bernyawa. Sopir pribadi dan asisten rumah tangganya juga sedang izin pulang kampung. Hari yang naas tak ad seorangpun yang bisa membantu.


Siska pun segera mengambil ponsel untuk menghubungi suaminya. Mereka hanya bisa bersabar menanti ambulans datang.


*****


Pelaku penculikan telah di tangkap oleh polisi. Ternyata ia adalah mantan suami Siska yang baru saja keluar dari penjara.

__ADS_1


Namun, Karina gadis kecil itu sudah dijual. Sehingga polisi kesulitan untuk menemukannya.


Sampai saat ini sudah bertahun-tahun lamanya, belum ada kabar tentang anaknya. Siska terus meruntuki kebodohan, menyalahkan dirinya atas hilangnya sang buah hati.


Flashback off.


Tak terasa air matanya meleleh begitu saja. Siska tersenyum kecut mengingat kejadian naas itu. Beruntung nyawa Bu sari masih bisa di selamatkan. Satu yang Siska yankini, Karina masih hidup dan berada entah dimana.


"Ma," sapa Naoki lembut.


Siska buru-buru mengusap air matanya, lalu tersenyum melihat kearah Naoki. Naoki pun tersenyum kemudian memeluk sang Mama.


"Kita pasti bisa menemukan Karina, Naoki janji," ucap Naoki sambil memeluk erat sang Mama. Siska mengangguk dalam pelukan putranya.


"Ayo berangkat sekarang," ucap Naoki setelah melonggarkan pelukannya.


"Ayo, tante Arie pasti sudah nunggu." Siska bangkit dari duduknya.


Keduanya pun berangkat ke kebun binatang. Naoki membawa mobilnya sendiri, ia sangat tidak suka mengunakan sopir. Tentunya setelah ia mendapatkan SIM tahun lalu. Setelah beberapa lama berkendara akhirnya mereka pun sampai di tempat yang di tuju.


Setelah memarkirkan mobilnya, Naoki dan Siska pun segera turun. Setelah membeli tiket masuk, mereka pun melangkah masuk kedalam. Tidak sulit menemukan Arie dan anak asuhnya, apalagi di tambah suara cempreng Cleo yang mengarahkan adik-adiknya untuk memperhatikannya.


"Ish ... berisik banget tuh cewek," keluh Naoki.


"Nao, nggak boleh gitu," ucap Siska memperingatkan.


Seperti biasanya Arie tidak pernah sendiri. sang suami dengan segala keposesifannya selalu menemani sang istri. Tangan Alex tidak akan pernah lepas dari pinggang istrinya. Sementara Cleo ia begitu bersemangat untuk menjadi pemandu wisata untuk pada adiknya.


"Hai Mbak," sapa Siska.


"Mbak Siska," jawab Arie tersenyum ramah.


Kedua emak emak cantik itu pun melakukan ritual cipika cipiki sekilas.


"Nao, kamu bantuin Cleo sana," titah Siska.


"Ogah ah, Ma."


"Naoki!"


"Iya ... iya ..." Naoki pun melangkah mendekati Cleo yang sedang berada di samping kandang gajah.


"Selamat siang anak- anak!" seru Naoki menyapa.


Naoki mengerutkan keningnya, ia pun menatap Cleo yang mengatupkan bibirnya menahan tawa. Beberapa pengasuh yang ikut pun juga menahan tawanya.


Ok, kamu mau bermain sama aku. gumam Naoki dalam hatinya dengan seringai licik.


"Anak- anak mau lihat angsa di mandiin gajah tidak?" tanya Naoki.


"Mau!" seru anak-anak dengan antusias.


Cleo menautkan kedua alisnya.


"Ngomong apa kamu mana ada, gajah yang mau mandiin angsa," ketus Cleo.


"Kita lihat saja." Naoki berjalan menghampiri pawang gajah lalu membisikkan sesuatu.


Awalnya pawang itu terlihat menolak permintaan Naoki, tapi setelah Naoki meyakinkannya. Akhirnya si pawang itu mengangguk setuju. Dengan senyum kemenangan Naoki kembali pada anak-anak yang sedang menunggunya.


"Anak- anak, kalian mundur lima langkah ke belakang ya," perintah Naoki.


"Baik Om." anak-anak pun menuruti perintah Naoki.


"Eits ... kamu mau kemana?" Naoki mencekal lengan Cleo yang hendak mengikuti langkah anak-anak.


"Mau ikut mundurlah."


"No. kamu di sini aja, berdiri dengan manis sama aku."


"Pejamkan mata kamu," titah Naoki dengan berbisik.


"Kenapa?"


"Udah nurut aja kenapa sih, kamu pingin anak-anak seneng kan."


Akhirnya Cleo menurut dan menutup matanya. Tanpa sepengetahuan Cleo, Naoki melangkah perlahan ke arah anak-anak berdiri.


"Ayo kita hitung sama-sama," ajak Naoki. Anak-anak pun menurut, dan dengan polosnya Cleo sambil menutup matanya dengan bersemangat ikut berhitung.


"Satu."


"Dua."

__ADS_1


"Tiga."


Dan...


Bruussst ...


Dua ekor gajah yang berdiri di belakang Cleo menyemburkan air dari belai mereka. Tubuh Cleo menegang menahan semburan air yang cukup kuat dari belakangnya.


"Beruang kutub!" teriak Cleo kesal.


Tubuh Cleo basah kuyup. kemeja bermotif bunga dengan dasar warna putih melekat di tubuhnya karena basah.


Anak-anak tertawa lepas. Cleo memaksakan diri untuk tertawa kaku, dengan dua tangannya yang menyilang menutupi dua aset kembar yang tercetak jelas warna pengamannya.


Di tengah senyuman, mata jernih Cleo tampak memerah. Ia merasa malu karena beberapa pengunjung dan pengasuh anak anak yang melihat kearahnya. Cleo mengedarkan pandangannya untuk mencari sang mama. Namun, Arie dan Alex entah kemana rimbanya.


Gadis berusia 17 tahun itu berdiri dengan risih. Naoki yang menyadari hal itupun mendekati Cleo, melepaskan jaket jeans yang ia pakai lalu memakaikannya pada Cleo.


Cleo menatap tajam pada Naoki, sambil mengeratkan jaket yang dipakaikan Naoki.


Cleo melangkah ke arah pengasuh anak-anak. Meninggalkan Naoki yang berdiri menatapnya.


"Kak, aku pulau dulu ya. Maaf aku nggak bisa nemenin anak-anak," pamit Cleo.


"Iya, nggak apa-apa. aku sama pengasuh lain bisa handle anak-anak kok tenang aja," jawab pengasuh itu.


"Makasih Kak." Cleo pun melangkah ke arah luar. Naoki pun segera mengejar langkah kaki Cleo.


"C, aku anterin pulang," ujar Naoki saat ia bisa mengejar Cleo dan meraih bahunya.


Langkah Cleo terhenti, dengan kasar ia menepis tangan Naoki dari bahunya.


"Aku bisa pulang sendiri," ketus Cleo.


"Tapi-


"Jangan khawatir, Jaketnya akan aku kembalikan besok," Cleo memotong ucapan Naoki dengan cepat.


"Kamu pulang mau naik apa?"


"Naik ojek banyak, nggak usah sok perduli. Dasar beruang kutub!" umpat Cleo sambil melanjutkan langkahnya.


Naoki hanya bisa menghela nafas panjang, ia memang sudah sedikit keterlaluan. Saat seperti ini ia harus membiarkan Cleo sendirian dulu.


Baru dia akan membujuknya lagi.


Tunggu pembalasanku, Ki. gumam Cleo sambil menyeringai.


.


.


.


.


.


. Yang mau kelanjutan Cleo sana Naoki.


.


.


.


Dan penasaran kemana Karina sekarang. keppoin lanjutannya di novel berikutnya ya kakak.


.


.Di novel emak yang judulnya.


Jerat cinta


Jomblo *****karatan*****


.


.


.


Tunggu rilisnya 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2