
Waktu menunjukkan pukul dua belas tepat, Matahari tepat di atas kepala, seorang pria berwajah oriental dengan mata sipitnya yang enggan terbuka lebar, karena sinar matahari yang begitu terik, CEO sipit kita memegang sebuah tongkat kayu panjang dengan ujung sebuah jaring beras berbentuk kerucut, dengan keringat yang bercucuran, Alex membersihkan daun kering yang masuk ke dalam kolam, ingin rasanya dia nyebur ke kolam, tapi tatapan dingin dari Ayah mertuanya membuat Alex mengurungkan niatnya.
"Ayah, makan siang sudah siap," ucap Arie sambil melangkah mendekati Ayahnya, yang tengah duduk di teras belakang rumah.
"Baiklah, ayo kita makan," Adinata bangkit dari duduknya, lalu merangkul pundak putri cantiknya. Arie memicingkan matanya ke arah kolam renang, memastikan pengelihatannya sendiri.
"Apa yang Ayah lakukan pada suamiku," Arie melipat kedua tangannya di dada, menatap sang Ayah, meminta penjelasan. Adinata hanya mengangkat bahunya.
"Tidak ada, ayah hanya berkata pada suamimu kalau kolam renang kita kotor, lalu dia menawarkan diri untuk membersihkannya," ujar Adinata.
Arie menatap Ayahnya penuh selidik.
"Sudah jangan melihat Ayah seperti itu, Ayah tidak akan memakan suamimu, ayo makan Ayah sudah lapar, ajak Suami sekalian, dia pasti juga sudah lapar," ucap Adinata, lalu melangkah ke dalam rumah, sementara Arie berjalan ke arah kolam renang.
"Tuan CEO, apa yang Anda lakukan," ucap Arie setengah mengejek. Alex melirik malas pada istrinya yang datang dengan senyum mengejeknya.
"Ga ada, hanya olahraga aja", jawab Alex santai, olahraga sekaligus berjemur.
"Oiya, sudah olahraga, ayo makan, semua sudah menunggu,"
Alex meletakkan senjatanya di samping kolam, lalu menyusul langkah Arie yang mendahuluinya, namun tepi kolam yang basah membuat Arie kaki Arie oleng, sreet.
BYUUUURRR..
Bumil itu jatuh ke dalam kolam yang baru di bersihkan suaminya, Alex pun langsung menceburkan dirinya, meraih tangan Arie, dan menariknya ke tepi kolam. Alex mengangkat tubuh Arie ke tepi, sebelum ia sendiri keluar dari air.
"Bisa ga kalau jalan pake mata, kamu tuh lagi hamil, ceroboh banget," ucap Alex dengan nada tinggi. Arie hanya tertunduk diam, matanya sudah merah berkaca kaca.
Arie membuang mukanya ke samping, Arie bangkit lalu berjalan perlahan meninggalkan Alex, Alex mengusap wajahnya kasar, dia tidak bermaksud marah pada Arie, hanya saja di merasa khawatir terjadi sesuatu pada Arie dan bayi mereka. Alex segera menyusul Arie, dengan sigap mengendongnya ala bridal, Arie hanya diam, dia hanya fokus menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Alex, Arie, kalian kenapa basah kuyup begitu?," Tanya Nana, yang tengah duduk di meja makan bersama Ayah mertua dan suaminya.
"Kami, terjatuh ke kolam," jawab Alex singkat.
"Kalian cepat ke kamar tamu, Arow antarkan mereka," ucap Adinata.
__ADS_1
"Iya Ayah," Arow bangkit kursi, lalu mengajak pasangan basah itu ke sebuah kamar.
Mereka menaiki tangga, lalu sampai di sebuah kamar, Arow membukakan pintu untuk Alex.
"Cepat bersihkan diri kalian, di dalam lemari itu ada beberapa baju ganti," jelas Arow.
"Terima kasih, kak," lirih Arie.
"Hemm..sama sama, Arie membelai rambut Arie, Arow melangkah keluar kamar.
Alex yang masih mengendong Arie, berjalan ke kamar mandi, mendudukkan Arie di atas closed, dan segera menyalakan kran air untuk mengisi bathtub dengan air hangat.
"Mandilah, airnya sudah aku siapkan," Alex berbicara dengan nada yang lebih lembut. Arie bergeming dan enggan untuk melihat muka Alex.
Alex yang melihat istrinya merajuk hanya bisa menghela nafas, melihat Arie yang tak kunjung mengerakkan tubuhnya, Alex pun berinisiatif untuk membukakan bajunya, perlahan Alex membuka kancing baju yang di pakai Arie, dan melepaskan perlahan, setelah kain yang di pakai Arie lepas, kembali Alex mengangkat tubuh Arie dan memasukkan perlahan kedalam bathtub.
"Maaf, aku tidak bermaksud berkata kasar padamu," lirih Alex sambil membersihkan tubuh istrinya dengan lembut.
Arie masih diam, namun hatinya sudah tak sekesal tadi.
"Aku hanya khawatir terjadi sesuatu padanya," tangan Alex mengusap lembut perut Arie. meskipun mulutnya berkata demikian namun Alex lebih khawatir bila Arie sampai terluka, namun begitu sulit rasanya untuk mengungkapkan.
"Baiklah aku maafkan, tapi kita menginap di sini bagaimana,"
"Menginap," Alex mengeryitkan keningnya.
"iya kalau ga, jangan harap dapat meminta jatah mu seminggu kedepan," tegas Arie.
"Baiklah kita akan menginap," Alex begitu saja mengiyakan permintaan Arie, di bandingkan juniornya harus puasa seminggu penuh, lebih baik dia menghadapi mertua killer nya.
"Hore, makasih," Arie mengalungkan tangannya Ke leher Alex.
Cup
kecupan singkat mendarat di pipi kirinya.
__ADS_1
"Kita mandi bareng ya," ucap Alex semangat sambil melepaskan kaosnya.
"Ga"
"Tapi aku mau,"ucap Alex dengan wajah memelas.
"Aku ga mau,"
"Tapi aku udah basah," ucap Alex manja.
"Uh, kacian udah basah ya, sini aku mandiin,"
Dengan semangat Alex melucuti pakaiannya, lalu iku masuk ke dalam bathtub, Arie mengisyaratkan Alex untuk duduk membelakanginya, Alex dengan senang hati melakukannya, saat Arie mulai menggosok kuat punggungnya, Alex hanya bisa meringis, hah harapan tak seindah kenyataan.
******
Sore ini Arie mengajak Alex untuk mengantarkannya berbelanja, dia ingin memasak sesuatu yang spesial untuk keluarganya.
Mobil Alex sudah berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Dengan semangat Arie mendorong troli belanjaannya, sambil memilih beberapa bahan.
"Kau mau di masakin apa, ikan, ayam atau daging," ucap Arie.
Merasa tak ada jawaban Arie menoleh ke arah suaminya, ternyata Alex sedang memperhatikan sesuatu sampai dia tak mendengar ucapan Arie.
"Alex kau Kenapa?," ucap Arie sambil menyentuh lengan Alex.
"Ah..tidak, tidak ada," jawab Alex dengan gelagapan, lalu menoleh ke wajah istrinya.
"Ga mungkin, pasti ada sesuatu, sampai kau tidak mendengar aku bertanya?," Arie mencoba melihat ke arah Alex menatap tadi, namun pandangannya di halangi oleh tubuh Alex.
"Maaf, aku hanya sedang tidak fokus, kau bertanya apa tadi?," ucap Alex seolah mengalihkan.
"Tidak jadi," ketus Arie.
"Hey jangan marah,"
__ADS_1
"Ga aku ga marah, ayo kita pulang, aku masih harus masak untuk makan malam,"
Mereka pun memutuskan untuk pulang, dalam perjalanan pulang Alex terus diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Arie merasa suaminya menyembunyikan sesuatu darinya, instingnya mengatakan itu. Arie ingin bertanya, namun ia tahu Alex pasti tidak akan memberi tahunya.