Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Rencana baru


__ADS_3

Pagi ini meja makan terasa begitu sepi. Tidak ada canda ataupun percakapan ringan seperti biasanya. Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Kakek Wu yang merasakan aura yang berbeda dari Arie pun menatap kedua cucunya secara bergantian.


Alex yang menyadari kakeknya sedang menatapnya dengan penuh selidik pun hanya bisa pasrah. Sejak Alex membuka matanya Arie terkesan acuh dan menghilangkannya.


"Aku sudahlah selesai" Arie mendorong kursi rodanya menjauh dari meja makan. Kemudian mulai menggerakkannya dengan tuas kemudi. Mata Alex mengekor kemana sang istri berlalu.


"Sebenarnya apa yang terjadi. Apa kalian sedang bertengkar?" cerca Kakek Wu.


"Aku pulang larut kemarin," jawab Alex jujur.


Kakek Wu menautkan kedua alisnya. Tidak mungkin jika hal sepele seperti itu menjadi penyebab pertengkaran mereka.


"Selain itu?" tanya Kakek Wu lagi.


"Apa lagi kek, tidak ada. Aku tidak tahu kenapa Arie bersikap seperti itu. Aku bahkan sudah meminta maaf berulang kali padanya sejak tadi malam, tapi dia hanya menjawab dengan Hem lalu memalingkan wajahnya." Alex meletakkan sendok yang sedari tadi ia pegang, lalu memijit pelipisnya.


Kadang wanita memang sangat misterius. Walaupun kau sudah bersamanya selama beberapa lama tetap saja mereka sangat misterius dan aneh. Mereka akan dia saat marah dan membiarkanmu mencoba menebak dan menerka sebab dibalik kemarahan mereka. Seakan kau cenayang yang bisa membaca pikiran orang lain.


Kakek Wu memilin kumis panjangnya sambil mengangguk angguk. Ia mencerna cerita dari cucunya.


"Jadi apa rencanamu?"


"Rencana? rencana apa?"


"Ck...dasar bodoh kapan kau akan sepintar kakekmu ini dalam masalah perempuan." Kakek Wu membusung dada sambil membenahi Jas yang di pakainya, sementara Alex menatap jengah pada kakeknya.


"Apa kau tidak ingin mencari tau kenapa istrimu sampai merajuk seperti ini. Aku rasa ada hal lain selain kau pulang malam?" Kakek Wu bersendekap, menyandarkan tubuhnya di kursi.


Kedua matanya menatap Alex dengan dengan tatapan meremehkan. Cucu bodohnya itu masih sama, dia belum banyak belajar tentang wanita. Sepertinya kakek wu harus memberikan les privat pada generasi penerusnya ini.


"Kemana seharian Arie pergi kemarin?" tanya Kakek Wu.


"Dia pergi ke rumah sakit lalu menghabiskan waktunya seharian jalan-jalan bersama Nuwa," jawab Alex sambil menopang dagunya dengan satu tangannya.


Wajahnya menunduk menatap sarapannya yang tersisa separuh. Sarapan yang terasa hambar. Alex mendesah lelah.


"Haloo... Cucuku. Pergilah ke kantor Kakakmu pagi ini, dia ingin membicarakan sesuatu," Kakek Wu bicara pada Cucu bontotnya di sambungan telepon.


Alex yang mendengar pembicaraan Kakeknya lantas mendongakkan kepalanya, menatap Kakeknya dengan heran. Kakek Wu yang selesai berbicara dengan Nuwa pun menutup telponnya lalu menyimpan benda pipih itu di sakunya.

__ADS_1


"Bicaralah dengan adikmu. Mungkin dia tahu sesuatu yang membuat istrimu merajuk," titah Kakek Wu yang di jawab anggukkan pasrah oleh Alex.


"Baiklah kek, aku harus ke kantor sekarang."


Alex beranjak malas dari kursinya, ia pergi ke halaman belakang untuk mencari keberadaan sang istri. Seulas senyum terbit di bibirnya saat melihat Arie yang sedang bersenda gurau dengan putri kecil mereka. Alex berjalan mendekati mereka. Arie yang mendengar suara langkah suaminya mendekat seketika menoleh kearahnya lalu secepat kilat menoleh lagi ke wajah Cleo yang ada di pangkuannya. Tawa yang tadinya terdengar renyah kini hening, raut wajah Arie pun seketika berubah masam.


"Sayang, aku berangkat ke kantor."Alex mengusap lembut rambut Arie.


"Hem."


Alex mendesah, ia menunduk lalu mengecup kening istrinya. Alex meraih tangan mungil cleo yang terulur minta untuk digendong. Alex menciumi pipi gembul Cleo hingga membuat bayi itu tergeletak.


"Sayang, apa kau belum memaafkan aku. aku minta maaf karena pulang larut, tapi...


Belum sempat Alex menyelesaikan ucapannya. Dering ponsel di sakunya sudah nyaring terdengar. Alex berdecak kesal, ia segera merogoh benda pipih di saku dalam jasnya.


"Tuan pagi ini kita akan ada meninjau proyek pembangunan Mega store. Apa saya langsung menjemput Tuan di rumah?"


"Iya."


"Baik, Tuan."


"Cleo seperti Mama marah besar pada Papamu ini nak, apa kau punya cara agar Mama mau memaafkan Papa?" tanya Alex dengan wajah yang dibuat memelas.


"Tata.. Papa..," celoteh Cleo, tangan mungil Cleo mencubit gemas hidung mancung papanya.


"Cleo.. kau juga ikut menghukum Papamu yang tampan ini." Alex mengosok gosokkan hidup mancungnya pada perut Cleo. Bayi itu tergelak tangan kecilnya tak berhenti menarik rambut sang Papa yang bisa diraihnya.


"Sayang bisakah kau melepaskan tangan mungil ini dari rambutku!" pekik Alex sambil menahan sakit, Cleo menarik rambutnya dengan cukup kuat, mungkin beberapa helai rambutnya sudah tercabut dari akarnya.


"Bu Asih!" teriak Arie, tanpa menoleh kearah sang suami.


"Iya Nyonya," jawab Bu Asih yang tiba dengan nafasnya yang tersengal.


Wanita paruh baya itu langsung berlari saat mendengar sang nyonya berteriak. Ia sampai begitu saja meninggalkan sarapan di meja dapur. Bu Asih begitu panik saat mendengar suara sang nyonya yang berteriak memanggilnya.


Bu Asih merasa bingung. Ia dengan tergopoh-gopoh datang memenuhi panggilan sang nyonya tapi sekarang. Nyonya besarnya malah diam dan tidak memberikan perintah apapun saat dia sudah berdiri di hadapannya.


Alex hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


"Bi, bisa tolong bawa Cleo masuk kedalam," titah Alex. Cleo sudah melepaskan rambut Alex dengan sendirinya kini putri kecilnya itu berganti menarik dasi yang dipakai papanya.


"Baik Tuan." Bi Asih pun melangkah mendekat lalu mengambil Cleo dari gendongan sang Papa.


"Ayo Non, kita main di dalam saja," ucap Bi asih yang di sambut tawa riang bayi gembul itu.


Bi Asih Langi melangkah masuk ke dalam rumah. Setelah si pengasuh membawa putrinya masuk. Alex bersimpuh di hadapan istrinya yang masih begitu enggan untuk melihatnya. Alex meraih tangan Arie lalu menciumnya berulang kali.


"Sayang katakan sesuatu, jangan diam seperti ini," ujar Alex. Ia sungguh tidak sanggup jika Arie terus diam seperti ini.


Arie bergeming, ia bahkan tidak melihat ke wajah suaminya. Arie hanya menatap lurus ke depan. Alex terus menatap Arie penuh arti. Sebenarnya Alex bingung dengan tingkah Arie yang mengacuhkannya sejak ia membuka matanya.


Sayang, bicaralah. Aku mohon," ucap Alex dengan penuh harap.


"Tuan," sapa Chiko yang baru saja masuk.


Chiko pun segera menundukan kepalanya. Peraturan tiga detik masih berlaku untuk semua karyawan Alex tanpa terkecuali dan di manapun tempatnya.


"Sayang aku berangkat." Alex sedikit mengangkat tubuhnya mencium kening sang istri yang masih diam.


Alex menatap Arie dengan penuh harap ia akan bicara dengannya. Namun sampai detik terakhir Alex menatapnya Arie masih bergeming dengan wajah datarnya.


Alex mendesah lemas. Iapun berjalan dengan gontai melewati Chiko begitu saja. Setelah Alex berlalu dan Chiko yang mengekor di belakangnya, Arie segera menghembuskan nafasnya sambil memegangi dadanya.


"Astaga jantungku, untung saja ini buatan Tuhan kalau tidak pasti udah copot dari tadi," cerocos Arie.


Arie pun segera merogoh ponselnya yang ada saku. Ia segera mencari nomer yang akan ia hubungi. Satu kali nada sambung telepon itu langsung di angkat.


"Nuwa bagaimana ini, aku nggak tega lihat Alex kayak gitu," ujar Arie sambil menutup wajahnya dengan satu tangan.


Ia benar benar tidak tega melihat mata sayu Alex yang sedang menatapnya dengan sendu.


"Kakak ipar harus bisa!" seru Nuwa di ujung telepon.


"Kamu yakin ini akan berhasil?"


"Seribu persen. Pokoknya Kakak nggak boleh lemah, jangan sampai rencana kita gagal di tengah jalan."


"Baiklah," ucap Arie pasrah.

__ADS_1


Arie pun segera menutup sambungan teleponnya lalu meletakkan benda pipih itu di pangkuannya.


__ADS_2