
Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jarak antara kantornya dan rumah besar Wang lumayan jauh. Membutuhkan setidaknya satu jam perjalanan jika tidak terkena macet. Rasa rindu tuan sipit ini sudah sampai di ubun-ubun, rasanya ingin sekali dia mendekap tubuh Arie yang semakin padat berisi. Sungguh menggemaskan.
Akhirnya mobil sport hitam itu sampai di rumah besar keluarga Wang setelah lebih baru satu jam perjalanan. Dengan wajah yang sumringah Alex bergegas turun dari mobil. Dan segera masuk ke rumah.
"Arie.. sayang..!" pekik Alex.
"Sayang... aku pulang!"
"Nyonya muda ada di kamar tuan," ujar seorang pelayan.
"Ck, kenapa tidak bilang dari tadi," ketus Alex kesal.
Alex bergegas melangkah lebar menuju kamar tidurnya. Kamar yang ia tempati pada masa kecilnya. Dengan sedikit terengah-engah, setelah berlari menaiki tangga. Alex pun sampai di depan pintu kamar. Perlahan ia membuka handle pintu.
Alex tersenyum lebar mendapati istrinya yang sedang tidur meringkuk memeluk guling dengan erat. Alex melangkah pelan mendekati ranjang. Tuan sipit itu memicingkan matanya menatap tajam pada benda yang di peluk mesra istrinya.
"Seharusnya aku yang jadi guling itu, dasar guling sialan. Berani beraninya kau membiarkan istriku memelukmu," Alex mengumpat dengan lirih. Ia takut membangunkan Arie yang tengah terlelap.
Alex melepaskan tautan tangan Arie pada guling itu. Seperti hendak menjinakkan bom, ia melakukannya dengan pelan dan sangat hati hati. Alex menghela nafas lega setelah berhasil mengambil guling yang di peluk istrinya. Ia membuang ke lantai dan menendangnya.
"Guling sial," umpatnya lagi.
Alex merangkak naik ke ranjang. Membaringkan tubuhnya miring menghadap istrinya. Tuan sipit itu mencium lembut kening Arie, dan membelai rambut hitamnya yang tergerai bebas.
Alex pun perlahan memejamkan matanya. Rasa kantuk mulai menyerangnya, mungkin karena terasa begitu nyaman saat ia bisa memeluk istrinya seperti ini. Akhirnya ia pun turut berlayar ke pulau kapuk bersama Arie.
Cukup lama mereka berdua terlelap. Arie mulai menggeliat tubuhnya saat merasakan nafasnya sesak dan berat, seakan sesuatu menekan perutnya. Jelas saja, tangan kekar Alex melingkarkan erat di perutnya. Arie pun mulai membuka matanya perlahan. Dan mengumpulkan kesadarannya.
"Bagaimana aku bisa bernafas kalau kau memelukku seerat ini," gumam Arie sambil tersenyum kecil.
Ia mendongakkan wajahnya menatap wajah Alex yang begitu damai, lalu membelai rahang kokoh suami sipitnya.
Arie meringsek ke dada bidang Alex yang di balut kemeja dan jas yang tidak di lepaskannya. Ia mengusapkan wajahnya ingin menghirup aroma maskulin yang selalu membuatnya rindu. Namun, Arie terhenti saat mencium aroma asing dari suaminya.
"Ini bukan pafrumku," gumam Arie.
Arie pun mencoba mengendus baju yang di pakai Alex sekali lagi.
"Fix, ini bukan parfumku, lalu parfum siapa? "
Mata Arie terbelalak saat melihat sebuah noda di kerah jas yang di pakainya suaminya. Dengan perasaan cemas Arie menyentuh noda berwarna merah muda itu.
"Beraninya kau!" geram Arie.
"Alex bangun! beraninya kau menyentuh wanita lain selain aku!" teriak Arie kesal.
Arie bangun dan duduk di samping Alex yang baru saja bangun setelah mendengar teriakkan istrinya.
"Ada apa sayang?" tanya Alex yang belum sepenuhnya sadar.
"Siapa? siapa wanita itu katanya!"
Arie memukuli tubuh suaminya dengan bantal secara membabi buta. Alex pun reflek melindungi dirinya dengan sikunya.
"Wanita apa? Siapa?" tanya Alex bingung.
__ADS_1
"Kau kurang ajar! Berani beraninya kau selingkuh dariku, apa karena tubuhku jadi bengkak dan tidak seksi lagi. Ini semua juga perbuatan mu, badanku jadi melar! dasar laki laki durjana!"
"Ap- pa selingkuh? siapa yang selingkuh sayang?" elak Alex di sela serangan bantal istrinya.
"Hiks... kau! siapa lagi. Dasar hiks..laki laki tidak berperasaan," ucap Arie di sela air matanya yang mulai mengalir.
"Apa kau tahu aku menunggu pulang untuk makan siang seperti janjimu. Tapi apa! kau malah membawa bekas ****** mu pulang." Arie memeluk bantal yang ia gunakan untuk memukul Alex.
Wanita itu menangis tersedu sambil menengelamkan wajahnya di bantal. Alex pun bangun dan duduk dengan bertumpu pada kedua lututnya. Ia mendekat hendak memeluk istrinya yang sedang terisak.
"Stop! jangan sentuh aku, aku jijik denganmu!" pekik Arie.
"Sayang, ada apa sebenarnya?"
"Aku mohon katakan padaku," imbuh Alex yang masih tidak mengerti dengan keadaan yang terjadi. Belum lagi ****** yang di katakan oleh Arie. Apa sebenarnya yang membuat istrinya semarah ini.
Arie masih menangis dengan memeluk bantalnya, tanpa ingin menjelaskan apapun pada suaminya yang masih menatapnya.
"Sayang." Alex meraih tangan Arie. Namun, segera di tepis kasar oleh istrinya.
"Keluar!"
"Tapi sayang-
"Keluar!"
"Aku tidak akan keluar sampai kau menjelaskan semuanya," ujar Alex.
"Kau tidak mau keluar. Baiklah, aku yang keluar." Arie pun bangkit, akan tetapi kedua bahunya di tekan oleh Alex hingga membuatnya kembali terduduk.
"Tidak ada yang akan keluar. Aku mohon katakan apa yang membuatmu mengatakan kalau aku selingkuh?" Alex bertanya dengan serius.
Arie tersenyum miring sambil mengusap kasar air matanya.
"Bukankah seharusnya kamu yang menjelaskan sesuatu kepadaku," jawab Arie tanpa melihat kearah Alex.
Alex menakupkan kedua tangannya di pipi Arie, membuat wanita itu dengan terpaksa menolehkan wajahnya.
"Tatap aku saat kita bicara sayang. Aku mohon jangan seperti ini, tolong katakan. Apa yang membuatmu berfikir aku bisa berpaling darimu."
"Jangan munafik. Aku bukan wanita bodoh yang bisa kau tipu dengan mudah. Kau bisa saja terus mengelak, tapi aku tidak akan percaya dengan semua kebohongan mu," tukas Arie.
"Astaga, sayang apa yang kau katakan, kebohongan apa?"
"Kebohongan apa! tidak usah mengelak lagi.Lihat bahkan noda lipstik ****** mu masih menempel di sini, kau terus saja mengelak." Arie mencengkeram kerah jas Alex yang bernoda.
Mata Alex membulat melihat noda berwarna merah muda yang menempel di kerah jas yang di pakainya. Alex menatap Arie sambil mengelengkan kepalanya.
"Masih mau mengelak, bahkan saat parfum yang di pakai wanita sialan itu tercium dari bajumu!"
Alex pun menunduk lalu mengendus bajunya sendiri. Pantas saja Arie sangat marah kepadanya. Aroma parfum yang berbeda memang tercium dari bajunya.
"Kenapa diam, baru sadar kalau ketahuan selingkuh karena itu," sindir Arie kesal.
"Sayangku, cintaku kau salah paham. ini semua tidak seperti yang kau pikirkan," tutur Alex mencoba menjelaskan.
__ADS_1
Alex mengulur tangannya. ingin sekali dia mencubit pipi bakpao yang sedang cemberut gemas. Namun, lagi lagi tangannya di tepis kasar oleh Arie.
"Sayang aku hanya menolong seorang wanita yang tidak segaja jatuh. Dia adalah adik dari rekan bisnisku."
"Alasan."
"Kau tidak percaya, baiklah aku akan segera menghubunginya."
Alex meraih ponselnya yang ada di atas meja. Ia pun segera menghubungi Mr. Huang. Setelah beberapa kali nada sambung akhirnya video call Alex di angkat.
"Halo Tuan," sapa Mr. Huang dari seberang telepon dengan wajahnya yang tegang. pasalnya ini kali pertama Alex menghubunginya dengan panggilan video.
Mr.Huang berfikir pasti ada sesuatu yang penting yang ingin di sampaikan oleh tuan Alex.
"Apa Adikmu masih ada bersamamu?"
"Masih tuan, kebetulan dia masih ada di kantor saya."
"Cepat panggil dia, dan jangan matikan sambungan teleponnya."
"Baik Tuan." Mr. Huang pun bergegas ke ruang dika Sesilia berada.
Sementara di dalam kamar Arie masih menatap tajam kepada Alex. Tak selang berapa lama wajah sesilia pun tampak di layar ponsel Alex.
"kenapa kamu sendiri di mana Kakakmu, aku ingin kalian berdua masuk dan membantuku!" ucap Alex.
Mr.Huang pun mengarahkan kamera ponsel hingga bisa menampilkan wajahnya Ndan sesilia.
"Baik Tuan, kamu akan membantu anda."
"Sesilia tolong kau jelaskan pada istri ku, apa yang terjadi di restoran siang tadi."
Sesilia mengeryitkan keningnya bingung, ia merasa tidak ada hal khusus yang terjadi di restoran.
"Menjelaskan apa tuan?"
"Ck, katakan pada istriku kalau kau tidak sengaja jatuh!" ucap Alex yang mulai kesal.
"Oh... iya nyonya. maaf saya tadi tidak sengaja terjatuh dan menabrak tuan Alex. maafkan saya nyonya."
"Dengar sayang, aku tidak mungkin macam macam. Aku hanya mencintaimu." Alex mengecup singkat pipi tembem Arie yang masih cemberut.
Sesilia merasa iri melihat Arie yang begitu dicintai oleh Alex. Ia pun memutuskan untuk mundur. Ia sadar, dia tidak akan bisa mengantikan cinta istrinya. Sekarang sesilia hanya ingin mendapatkan cintai seseorang seperti cinta Alex pada istrinya.
"Maafkan adik saya nyonya," imbuh Mr.huang saat melihat istri tuannya yang hanya diam.
"Terima kasih, sudah membantuku menjelaskan semuanya."
"Sama sama tuan."
Alex pun mematikan sambungan ponselnya. Ia kembali mendekat pada istrinya.
"Sayang masih marah," ujar Alex kecewa, saat Arie menolak di peluk.
"Lepaskan bajumu, dan cepat mandi." titah Arie.
__ADS_1