Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Cinderella


__ADS_3

matahari sudah meninggi Arie mengerjap kan matanya yang masih berat dengan setitik tai mata di kedua sudutnya, tubuhnya terasa pegal-pegal semalaman dia meringkuk di sofa ruang tamu, tentu karena di perintahkan oleh tuan Alex yang terhormat agar dia tidur di luar maka Arie merebahkan diri di sofa tanpa membersihkan diri, walaupun sofa itu jauh lebih empuk dari kasur di kontrakan tetap saja posisi tidur yang Tidak nyaman membuat tulang tulang nya terasa kaku, dengan malas dia bangkit dari sofa empuk itu dan mulai mencari keberadaan kamar mandi.


" sepertinya Tuan Alex sudah Pergi " Arie clingak clinguk mengedarkan pandangannya di apartemen super mewah yang terasa sepi,


Setelah menjelajahi semua pintu akhirnya dia menemukan kamar mandi, setelah selesai membersihkan dirinya Arie kembali duduk di sofa ruang tamu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, jadi alumni TKW ada untungnya juga dia bisa mandi dengan peralatan modern tanpa kesulitan.


" padahal ada banyak kamar kosong tapi aku disuruh tidur di sini dasar orang pelit, aku sumpahin jadi keong , huh"


Ting .. tong....


" Hem... siapa yang datang" dengan handuk di atas kepalanya, Arie melangkah ke arah pintu, dia melihat seorang pria tua berdiri di luar pintu dari layar kecil di sebelah pintu.


" halo selamat pagi, bisa kau bukakan pintu untuk kakek"


" wah... hebat suara kakek bahkan bisa terdengar " lain kamar mandi lain pintu ini Arie di buat takjub dengan ini, mungkin majikannya dulu tak sekaya calon suaminya karna pintu mereka hanya pintu biasa.


" kakek aku tak bisa buka pintunya"


" kenapa"


" aku bingung tombol mana yang harus ku pencet" Arie menatap tombol di bawah layar.


" hahahaha , tidak usah menekan tombol apapun cukup buka saja pintunya " Kakek wu merasa lucu dengan menantu polosnya ini .


" baik kek"


ceklek


" haloo.... sayang " Kakek wu tersenyum ramah, Pak Darwis membungkuk memberi hormat pada Arie.

__ADS_1


" selamat pagi kek" Arie meraih tangan Kakek dan mencium punggung tangan nya, kakek mengelus kepala Arie yang masih tertutup handuk.


" ayo masuk kek, pak Darwis"


mereka bertiga akhirnya masuk kakek dan Arie mendudukan diri di duduk di sofa dan pak Darwis setia berdiri di sisi kakek wu.


" Pak Darwis kenapa berdiri duduklah"


pak Darwis memandang Tuannya,dan akhirnya duduk setelah mendapat isyarat dari Tuannya, Kakek wu memperhatikan sebuah kantong plastik hitam di bawah meja, tangannya segera meraih benda itu.


" apa ini " tangan nya mulai memeriksa isi kantong plastik.


" itu... itu... " Arie sedikit kaget kakek membuka kantong miliknya.


kakek mengeluarkan isi kantong tersebut, dia dua potong daster, sepasang pengaman, dompet kecil,dan sebuah sapu tangan bertuliskan nama Arie,Arie menunduk malu melihat saat kakek mengeluarkan pengaman miliknya.


" hanya ini barang milikmu "


" eh... pak Darwis mau ngapain " Arie terkejut pak Darwis melepas penutup kepalanya.


" diam lah biarkan dia melakukan tugasnya "


mendengar ucapan kakek Arie duduk mematung membiarkan pak Darwis mengering rambutnya, hembusan angin hangat di rasakan Arie di sela rambutnya yang di urai pak Darwis, sebenarnya Arie merasa tidak enak membiarkan orang lain melayaninya.


" sudah selesai tuan "


" ok, ayo Kita berangkat" kakek bangkit dari duduknya dan meraih tangan Arie.


"ehm.. kita mau kemana kek"

__ADS_1


" malam ini pernikahanmu,apa kau lupa"


" aku ingin kek, tapi sekarang masih pagi, dan .. dan aku" Arie menunduk meremas pinggir daster yang di pakainya,


pria tua itu tersenyum kecil,dia tau maksud Arie " sudah ayo ikut kakek"


Arie pun menurut kehendak kakek wu, mereka bertiga pun pergi meninggalkan apartemen, menaiki mobil mewah membelah jalanan pagi ini, tak berapa lama mobil itu terhenti di sebuah klinik kecantikan ternama, setelah turun dari mobil Arie hanya terus mengekor pada kakeknya, memasuki klinik mereka pun disambut dengan baik oleh dokter langsung, melihat orang istimewa yang menjadi tamu di klinik mereka.


" kakek siapa yang sakit kenapa kita ke klinik " sebenarnya Arie agak takut dengan dokter takut di suntik.


kakek wu tergelak dengan ke polosan Arie," tidak ada yang sakit, tapi dokter muda itu anak mengubahmu jadi Cinderella"


" benarkah kek "


" ehem"


dokter hanya tersenyum dan mengajak Arie ke masuk, Arie menurut tanpa banyak bertanya.


selang beberapa jam, setelah berbagai perawatan dari ujung kuku kaki sampai ujung rambut dengan perawatan nomer Wahid tentunya, kini wajah Arie terlihat kinclong kulitnya yang semula tertutup debu aspal kini mulus seperti jalan tol, kini penampilan Arie bak model walaupun tubuh Arie pendek.


setelah menyesuaikan semua di kasir pak Darwis menghampiri Arie yabg baru keluar dari dari ruangan perawatan.


" kakek kemana pak "


" tuan wu sudah di hotel saya antar ke hotel terlebih dahulu,mari nona " pak Darwis membungkuk mempersilahkan Arie berjalan terlebih dahulu.


" pak Darwis jangan panggil sana nona saya bukan majikan bapak , panggil saja Arie "


" tidak bisa nona, anda adalah menantu dari keluarga majikan saya ,mana boleh saya panggil nama saja "

__ADS_1


" terserah bapaklah" Arie mengembung pipinya kesal.


__ADS_2