
Puspa menata makanan dari dalam box yang di bawa oleh sang cucu. Senyum manis yang jelas sangat di paksakan itu menghiasi bibirnya. Dengan menahan seluruh lahar panas yang sudah mendidih di tubuhnya Puspa meletakkan piring di hadapan masing-masing orang.
"Terima kasih Nenek," ucap Arie saat Puspa meletakkan piring di hadapannya. Puspa tersenyum semakin lebar.
Dengan sigap Arie menyendok sayur acar mentimun yang di masaknya, lalu meletakkannya di atas piring Puspa.
"Nenek makanlah, aku sendiri yang memasaknya. Ini sangat bagus untuk menurunkan darah tinggi." Puspa melotot, sayur yang paling ia benci tersaji di piring.
Arie beralih mengambil rendang daging lalu menyuapkannya pada sang Ayah.
"Ayah makan yang banyaknya. Biar Ayah cepat sehat, nanti bisa gendong junior saat sudah keluar." Arie mengusap perutnya, lalu menatap sang ayah dengan penuh kasih. Mata Adinata berkaca-kaca.
"Tentu Nak," Adinata berucap dengan penuh rasa syukur di hatinya.
"Ehem... Ayah aja. Aku." Arie seketika menoleh pada tuan sipit yang mulai mengeluarkan aura posesifnya.
Arie tersenyum kecil. Tangannya mengusap lembut lengan sang suami yang sudah menekuk masam wajahnya.
"Nanti aku manjain kamu di rumah ya sayang," bisik Arie lirih. Seketika rembulan sabit terbit di bibir Alex. Meskipun dia masih tidak rela Arie berlaku begitu manis pada pria lain.
Mereka semua pun menikmati makanan Arie dengan khidmat. sesekali Arie mengambil makanan untuk kedua pria yang ada di kedua sisinya.
"Eh.. nenek jangan ambil itu, nanti kolesterol. Ini aja sehat.". Arie mengalihkan tangan Puspa pada tempe goreng, saat tangan itu terulur hendak mengambil rendang.
"Tapi Nenek ingin makan itu."
"Aku hanya tidak ingin Nenek sakit. Itu kolesterolnya tinggi, nanti kalau nenek sakit gimana. Tapi ya sudahlah kalau nenek nggak mau dengerin aku," ujar Arie dengan lesu. Alex yang melihat wajah memelas sang istri langsung melotot pada Puspa.
"Ah... bukan begitu. Nenek sangat senang kamu perhatian sama Nenek, terima kasih ya," Puspa menjawab dengan gugup, karena tatapan tajam Alex yang tertuju kepadanya.
__ADS_1
"Syukurlah, aku kira Nenek akan marah. Karena aku melarang nenek makan daging. Selain kolesterolnya tinggi, aku juga takut gigi nenek akan patah," ucap Arie dengan santai sambil menikmati makan siangnya.
Wajah Puspa sudah memerah, kepulan asap yang tidak kasat mata keluar dari ubun-ubunnya. Alex hanya bisa mengatupkan rapat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Sementara Adinata terlihat biasa, ia sudah pasrah dan bisa di bilang kehilangan rasa perduli pada ibunya.
Setelah menyelesaikan makan siang, Adinata mengajak anak dan menantunya duduk di teras rumah, dipan bambu sederhana tempat mereka semua duduk. Ibu hamil itu diapit oleh kedua pria yang amat mencintainya.
Menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus dari pematang sawah yang terhampar di depan mereka. Rumah yang di tempati sang ayah jarang ada tetangga. Malah beberapa banyak yang kosong. Bangunan lama dan di tinggal penghuninya pindah ke kota. Nasibnya sama seperti rumah ayahnya kosong, sebelum akhirnya di tempati lagi oleh keluarga Sasongko.
Sedangkan sang nenek, sengaja ia tinggalkan di dapur untuk membereskan bekakas kotor bekas mereka makan. Arie juga meminta sang nenek untuk membuatkan es jeruk, dengan jeruk yang ia bawa dari rumah.
"Lihatlah nak, ini adalah foto kami saat menikah." Adinata menunjukkan fotonya dan Anjar saat mereka menikah.
Dalam foto itu, Anjar hanya memakai kebaya sederhana dengan selendang yang menutupi sebagian rambutnya. Adinata memakai jas dan di antara mereka seorang anak laki-laki berdiri dengan senyum lebar mengandeng tangan kedua mempelai.
"Dia sangat mirip denganmu, matanya, hidungnya yang minimalis." Adinata mengusap wajah wanita yang paling ia cintai dengan lembut, seakan akan dia benar benar mengusap pipi lembutnya. Sorot matanya menyiratkan kerinduan yang mendalam.
"Ibu," lirih Arie.
"Iya dia ibumu, Anjar. Wanita yang paling Ayah cintai," imbuh Adinata.
Adinata memindahkan album foto kepangkuan Arie, agar anaknya bisa melihat wajah sang ibu lebih jelas. Arie membuka lagi halaman album foto. Sebuah foto sang ibu sedang duduk memangku lelaki kecil yang Arie yakini adalah kakaknya, mereka tertawa lepas begitu bahagia.
"Kau mirip sekali dengan ibu sayang," bisik Alex sambil mengusap lembut rambut istrinya. Arie menoleh lalu mengangguk kecil, mulutnya sudah tidak bisa lagi berkata.
Lidahnya terasa kelu, dadanya sangat sesak. Arie kembali memandangi foto yang ada di dalam album. Ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Perlahan Arie membuka lagi halaman album itu.
Ibu Anjar tampak tersenyum bahagia sambil memegang perutnya yang membesar. Sementara sang kakak menempelkan telinganya di perut ibunya, seperti sedang mendengarkan sesuatu.
"Itu saat Anjar mengandungmu. Dia begitu bahagia, begitu pula Arow dia begitu tidak sabar menanti kelahiranmu."
__ADS_1
Air mata Arie tak bisa lagi di bendung. Cairan bening itu meleleh dengan anggun di pipinya yang chubby. Arie mendekap album itu erat. Seakan ia memeluk sosok sang ibu. Arie meringsek kedalam pelukan suaminya.
"Shh.. tidak apa-apa menangislah," ucap Alex. Ia mengelus punggung istrinya.Ia membiarkan Arie meluapkan semua rasa sesak yang menyiksa di dadanya.
Tangis Arie semakin pecah, terdengar sangat pilu. Alex mengerti bagaimana perasaan sang istri sekarang. Karena dia juga merasakan hal yang sama. Rasa rindu pada orang telah mendahului kita, rasa yang tidak bisa kita ucapkan lewat kata.
Tanpa Adinata sadari ia pun ikut larut dalam rasa rindu yang dirasakan anaknya. Karena ia sendiri pun masih sangat merindukan sosok sang istri. Kebersamaan mereka cukup singkat. Kadang Adinata merasa Tuhan begitu tidak adil padanya. Dirinya dan Anjar berjuang begitu keras agar bisa mendapatkan restu dari sang ibu. Namun, begitu mereka bersama. Maut dengan begitu teganya merenggut Anjar dari sisinya.
Adinata mengepalkan tangannya, ketika mengingat semua perlakuan ibunya pada Anjar. Rasa bersalah kembali mengelayut di hatinya. Andai saja waktu itu dia bisa melindungi istrinya, andai saja waktu itu dia tidak percaya begitu saja pada ibunya. Andai...
"Ayah," panggil Arie dengan suara seraknya.
Suara panggilan Arie membuat Adinata sadar dari lamunannya.
"Iya, Nak."
"Kita ke rumah sakit ya. Aku ingin ayah mendapatkan pengobatan yang terbaik. Aku... aku tidak mau kehilangan Ayah." Arie melepaskan pelukannya dari Alex. Beralih memeluk sang Ayah, Arie kembali menangis kencang.
"Kau berpikir terlalu jauh. Ayah sudah sehat, tidak perlu ke rumah sakit. Kamu adalah obat mujarab buat Ayah. Lihat otot otot Ayah sudah kembali." Adinata mengerakkan lengannya seperti atlet binaraga. Arie memukul gemas dada ayahnya.
"Hahaha... sudahlah Nak, Ayah baik saja. Arie merawat ayah dengan baik."
Arie menarik dirinya, mendengar nama kakaknya di sebut lagi, ia baru sadar dia belum melihat Arow sejak datang ke rumah itu.
"Dimana kak Arow?" tanya Arie.
"Kakakmu sedang dalam perjalanan ke solo."
"Haaaaaaaaaaaah!?"
__ADS_1