Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Find you


__ADS_3

Buukk..


Buukk


"Laki laki sial, keterlaluan," Tama mendaratkan pukulan lagi dan lagi, Alex sempat mengelak namun dia kalah cepat.


Tama yang kalap, dengan mata yang di penuh amarah. memukul Alex dengan membabi buta.


Para penghuni rumah sakit berhamburan untuk melerai mereka. Alex berakhir dengan wajah babak belur, dan Tama pun sama.


sekarang keduanya duduk di pos keamanan rumah sakit.Tama masih menatap tajam dengan kilatan amarah pada Alex.


"Apa maksudmu tiba-tiba menyerang ku seperti itu," ucap Alex tiba tiba.


Tama tersenyum meremehkan, sangat malas rasanya, menjelaskan kesalahan pada pelaku kejahatan itu sendiri.


"Kau tau dimana istri mu sekarang," ucap Tama santai.


"Tentu aku tau, dia ada di rumah keluarganya, aku suaminya, " dengan kesal Alex menjawab pertanyaan Tama yang menurutnya sangat konyol.


"Suami, suami bodoh yang lebih mementingkan orang lain dari pada istrinya sendiri, iya," ujar Tama dengan nada tinggi.


"Jangan bertele-tele, apa maksudmu," ucap Alex tak kalah garang.


"Kau laki laki tidak becus, kalau kamu tidak bisa menjaga Arie, aku akan merebutnya darimu," ucap Tama bersungguh-sungguh.


"Brengsek,"


Buukk


Tama terhuyung, mendapatkan bogem mentah dari Alex, baku hantam kembali terjadi.


Tama yang merasa marah melihat Alex malah berada di ruangan rawat seorang wanita, sedangkan dia baru saja mengantarkan Arie ke rumah Sasongko, setelah Bumil itu mengalami kram pada perutnya. dan nyaris kehilangan bayinya.


"Hey.. apa apaan kalian," ucap seorang satpam.


lalu beberapa satpam lain masuk untuk melerai mereka.


"Kau laki laki brengsek, kau tau Arie hampir kehilangan bayinya," hardik Tama.


Deg.


Mata Alex membulat.


"Apa maksudmu," wajah Alex berubah panik.


"Hemh.. kau bahkan tidak tau keadaan istrimu sendiri kan,"


Cuih


"Laki laki tidak berguna,"


"Lepaskan," Tama menghentakkan lengannya yang di pegang oleh satpam.

__ADS_1


Tama pergi berlalu dengan marah. sementara Alex merosot menjatuhkan ke lantai.


"Tidak, ini tidak mungkin, Arie baik baik saja, ini tidak mungkin terjadi," Alex bergumam.


Segera Alex tersadar dia harus menemui Arie. Alex bergegas ke kamar rawat Vivian. mengambil ponselnya yang sedang di charge.


"Vi, maaf aku harus pergi," ucap Alex pada Vivian yang masih belum sadar dari pengaruh obat bius pasca operasi.


"Suster tolong jaga teman saya, saya harus pergi," ucap Alex.


Alex mengeluarkan beberapa lembar berwarna merah, lalu menyerahkan pada suster yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat.


Brumm..


Alex berkendara dengan kecepatan tinggi. marah dan kesal pada dirinya sendiri, berkali kali dia memukul kemudi, meluapkan amarahnya.


"Sial, sial," Alex mengusap wajahnya kasar dengan satu tangannya.


Setelah berkendara cukup lama, Alex sampai di rumah besar Sasongko. setelah memasuki pagar besar, Alex mengehentikan mobilnya di depan rumah.


Bergegas Alex turun dari mobil.


pintu utama terbuka lebar, Alex sempat heran, namun dia memutuskan untuk masuk.


"Bagaimana kau bisa menghubunginya," ucap Adinata dengan raut wajahnya yang cemas.


"Belum, Ayah," jawab Arow. merasa sangat frustasi.


"Kau dari mana saja kau," ucap Arow dengan kesal sambil mendekati Alex yang berdiri mematung.


"Dimana ponselmu, kenapa tidak aktif," imbuh Arow lagi.


"Maaf tadi baterai ku habis," ucap Alex apa adanya.


"Dimana Arie," ujar Adinata. menatap tajam pada menantunya.


"Bukankah Arie di sini," ujar Alex terkejut.


"Dia keluar sendiri, dia berbohong pada penjaga kalau dia sudah mendapatkan izin dari Ayah," ucap Arow sendu.


"Entah apa yang membuatnya seperti ini," imbuh Arow.


Pikiran Alex panik, dia teringat akan ucapan Tama. Alex segera berbalik keluar dan kembali masuk ke dalam mobilnya.


Dengan kecepatan tinggi Alex mengendarai mobilnya, tap perduli dengan suara mobil lain yang membunyikan klakson. yang dia tahu dia harus menemukan Arie.


Alex semakin frustasi karena tidak menemukan Arie di apartemen.


Alex kembali menyusuri jalan raya, mencari keberadaan Arie, rasa bersalah mengelayut di hatinya. seharusnya dia lebih memperhatikan istrinya.


******


"Mba Arie" ujar seorang wanita.

__ADS_1


Dia segera menepikan sepeda motor yang dia kendarai. segera dia turun dan mendekati Arie yang duduk di sebuah bangku di pinggir jalan.


Arie terlihat meringis kesakitan, sambil memegangi perutnya.


"Mba Arie kenapa?" tanya Siska cemas.


Arie membuka matanya, mencoba mengenali wajah di hadapannya.


"Mba Siska, tolong perutku sakit," ujar Arie.


"Ya Allah Mba, bagaimana ini."


Tidak mungkin membonceng Arie dengan sepeda motor. Siska pun meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Sabar ya Mba, sebentar lagi bantuan datang," ujar Siska sambil menggenggam tangan Arie. Bumil itu hanya mengangguk kecil.


Setelah beberapa saat, sebuah mobil sport hitam berhenti di depan mereka, seorang pria dengan terburu buru turun dari mobil dan menghampiri mereka.


"Apa yang kau lakukan pada istriku," ucap Alex dengan penuh marah.


Alex panik, melihat Arie yang tak sadarkan diri di pangkuan Siska.


"Dia tadi bilang perutnya sakit, lalu Dia tertidur," ucap Siska menjelaskan.


Siska tau Alex sedang panik, di tambah dengan wajahnya yang lebam. membuat Siska tau dia sedang tidak baik.


Alex segera mengendong Arie ala bridal, lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


Siska hanya bisa menghela nafas panjang.


"Setidaknya ucapan terima kasih," ucap Siska lirih lalu kembali memacu motor maticnya.


flashback.


Siska memutuskan untuk menghubungi Ipul.


"Mas Ipul, Mba Arie Mas," ucap Siska panik.


"Mba Arie, Mba Boss, dimana dia sekarang," Jawab Ipul yang tak kalah panik. pasalnya dia juga mendapat mandat dari Tuannya untuk mencari keberadaan Mba Bossnya.


"Di jalan XX,"


"Tetap disana, aku segera datang,"


"Iya baik, cepatlah, Mba Arie bilang perutnya sakit," Siska pun mematikan ponselnya.


Ipul segera memberi tahu Tuannya tentang keberadaan Boss wanitanya, tak menunggu lama Alex segera meluncur.


flashback off.


Ale berkendara dengan cepat ke rumah sakit, hatinya terasa tercabik melihat Arie. matanya yang sembab, dan sesekali ibu hamil itu meringis, bahkan dalam tidurnya.


Alex mengenggam erat tangan istrinya yang terasa dingin.

__ADS_1


__ADS_2