
Alex mengeratkan giginya mendengar rencana gila Kakeknya. Sementara Adinata dan kedua anaknya menahan tawa dan perut mereka, melihat wajah Alex yang sudah merah padam karena kesal.
"Coba saja kakek lakukan. Sebelum mereka menyentuh istriku, aku akan mematahkan tangan dan kaki mereka," ujar Alex dengan amarahnya yang sudah memuncah sampai ubun ubun.
Mendengar perdebatan antara Kakek Wu dan suaminya membuat Arie merasa bahagia. Walaupun ia tidak bisa mengekspresikan perasaan itu.
Ingin rasanya Arie menguyel uyel pipi suaminya. Ia merasa gemas dengan kebucinan sang suami yang tidak ada obatnya itu. Andai saja dia dalam kondisi normal, mungkin ia sudah akan melompat turun dari ranjangnya dan naik ke pangkuan sang suami.
"Emh... Kakek tidak perlu repot-repot memperkerjakan orang lain. Aku yang akan merawat Adikku," seloroh Arow. Nana menyikut perut suaminya, sambil melotot tajam.
Bukan karena cemburu, ia faham Arow hanya ingin ikut mengompori Adik iparnya.
Merasa mempunyai sekutu,kakek Wu pun semua bersemangat mengoda cucunya.
"Ah... kau benar, untuk apa aku bersusah payah. Sementara di sini ada seorang kakak yang akan dengan senang hati merawat adiknya," timpal Kakek Wu.
"Tentu Kakek, lagi pula lihatlah otot otot ku yang begitu kuat. Aku pasti sanggup untuk mengendong adikku kemanapun dia mau," ucap Arow sambil mengangkat kedua tangan, memamerkan otot otot kekar di lengannya.
"Kau gila, untuk apa kau mengendong Arie. Gendong saja anak dan istrimu!" sentak Alex dengan geram.
"Tanpa kau suruh pun aku sudah mengendong istriku ke atas ranjang," jawab Arow tanpa rasa malu sedikit pun.
Arow pun langsung mendapat cubitan cinta di perutnya oleh sang istri. Bisa bisanya di saat seperti ini Arow mengucapkan hal yang memalukan seperti itu. Wajah Nana sudah memerah karena menahan malu.
"Sudah jangan menggoda Alex terus. Kalian membuat istirahat Arie terganggu," Adinata akhirnya berbicara setelah puas menjadi penonton.
"Tuan Adinata, kami tidak menggodanya. Saya hanya bicara apa adanya pada cucuku yang bodoh ini. Bagaimana dia kan merawat istrinya kalau dia sendiri masih berada di kursi roda," ucap Kakek Wu kali ini dengan sungguh sungguh.
Suasana menjadi sedikit hening. Alex bukannya tidak membenarkan ucapan kakeknya, akan tetapi dia sendiri pun tidak bisa berbuat banyak selain melakukan terapi agar kakinya bisa digunakan secara normal. Beda dengan istrinya yang akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa berjalan, mungkin Alex hanya membutuhkan beberapa minggu untuk bisa berjalan kembali.
"Bagaimana Alex kau mengizinkan kakek untuk memperkerjakan beberapa orang untuk merawat istrimu?" tanya Kakek Wu.
__ADS_1
"Aku akan segera sembuh dan berjalan lagi, kakek tidak usah repot-repot," ketus Alex.
"Permisi."
Tama mengetuk pintu kamar Arie sebelum masuk. Ia tahu banyak sekali orang yang ada dalam ruangan itu. Tama tidak ingin menganggu mereka bercengkrama kali dia tiba-tiba masuk begitu saja.
"Masuklah," sahut Alex.
Tama dan seorang perawat pun masuk setelah membuka pintu. Ia tersenyum ramah pada semua orang yang ada di dalam. Tapi entah kenapa Tama merasakan aura tidak biasa saat Alex menatapnya.
"Mohon untuk semua menunggu di luar sebentar, saya akan melakukan pemeriksaan rutin."
Semua orang pun keluar dari ruangan itu, kecuali Alex. Tama tidak bisa mengusir lintah cinta yang tidak bisa lepas dari inangnya ini, jika darah yang di hisapannya mungkin Arie sudah kering kerontang olehnya. Mengacuhkan keberadaan Alex Tama pun mulai memeriksa Arie. Mulai dari memeriksa pasiennya.
"Jangan sampai tanganmu menyentuh kulitnya sedikit pun!" hardik Alex tiba tiba saat Tama akan menyingkirkap sedikit selimut untuk memeriksa kakinya.
Tama melongo lalu mengerakkan kepalanya kearah Alex yang sedang menatapnya dengan mengancam. Sabar, untungnya Tama membawa seorang suster yang menemani.
Dengan cekatan ia mengantikan posisi dokter Tama. Ia memegangi pergelangan pasien untuk melakukan pemeriksaan pada kaki sebelah kiri Arie.
"Hey apa yang kau lakukan, kenapa kau mencubit kaki istriku!" pekik Alex
Tama mengusap wajahnya kasar sementara suster melongo dengan apa yang di tuduhkan Alex padanya. Dia hanya sedang memeriksa bekas jahitan pada luka robek di betis pasien dengan hanya sedikit menyentuh pergelangan kaki pasien.
"Jangan hiraukan dia, lanjutkan saja pekerjaanmu," titah Tama.
Tama pun memasang stetoskop di dada Arie untuk mendengarkan tarikan nafasnya.
"Jangan sampai aku memotong tanganmu," ancam Alex lagi.
Dia benar benar tidak nyaman saat melihat Tama meletakkan ujung stetoskop di dada istrinya.
__ADS_1
"Kalau kau tidak diam, aku tidak akan memeriksa istrimu!" gertak Tama. Kali ini dia sudah benar benar tidak tahan dengan kecemburuan lintah itu.
Alex pun diam, tapi ia terus menatap tajam pada Tama dengan wajahnya yang memerah.
Sayang...
Kau sungguh menggemaskan...
Arie melirik pada suaminya. Ia bisa melihat bagaimana Alex mengeratkan gigi menahan kesalnya.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan yang menguras emosi dan kesabaran. Dengan tersenyum Tama pun mengajak Alex duduk di sudut ruangan. Seharusnya Tama mengajak Alex ke ruangannya, akan tetapi Tama tahu Alex tidak akan mau meninggalkan Arie. Jadi ia memutuskan untuk berbicara dengannya di ruangan itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Alex to the point.
"Ini tentang kondisi istrimu."
"Apa terjadi sesuatu yang buruk, cepat katakan."
Tama mengambil nafasnya dalam. Perlu kesabaran ekstra untuk menghadapi orang di hadapannya itu.
"Cepat katakan sesuatu, jangan hanya bernafas dan menghabiskan oksigen di ruangan ini," ketus Alex.
"Keadaan Arie sangat baik, tapi kemungkinan ia akan merasakan nyeri pada pangkal paha karena luka bekas operasinya. Arie juga di tidak boleh bergerak mengerakkan kakinya, patah tulang yang di deritanya cukup parah, bagian panggulnya juga masih dalam proses pemulihan. Itu membutuhkan waktu yang cukup lama antara 3 - 6 bulan."
"Sementara untuk luka di kepalanya. Sudah sangat baik, hanya saja Arie akan mengalami masalah pada ingatannya. Luka itu juga menyebabkan beberapa otot wajahnya akan sulit di gerakkan, jadi sementara waktu ini kau tidak akan bisa melihat ekspresi pada wajahnya. Tapi seiring luka pada kepala sembuh dan di tambah dengan terapi semuanya akan kembali normal." ujar Tama menjelaskan panjang lebar. Sementara Alex menyimaknya dengan seksama.
"Lalu bagaimana dengan suaranya, apa dia kan tetap seperti itu. Apa Arie akan bisa bicara lagi?"
"Bisa, pasti bisa tidak ada masalah dengan pita suaranya, itu di sebabkan karena luka di kepalanya yang membuat syaraf pada otot wajah yang belum bisa digerakkan secara normal. Hanya saja mungkin butuh waktu agar dia bisa bicara normal lagi," Tama berusaha memberikan gambaran positif pada Alex.
"Tidak masalah, yang terpenting dia bisa untuk bicara lagi. Sebenarnya aku tidak masalah jika Arie benar benar tidak bisa bicara lagi. Aku tidak perduli, aku akan tetap mencintainya seperti dulu bahkan mungkin lebih. Tapi aku takut, dia pasti akan merasa sedih jika memang dia harus menjadi bisu," ucap Alex.
__ADS_1
Kedua pria itu pun menoleh kearah ranjang dimana Arie terbaring di atasnya.