Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
cemburu?


__ADS_3

"kau cemburu..." Arie menelisik dalam mata pria yang ada di hadapannya.


"cih... cemburu, jangan harap"


"kau yakin"kini berganti Arie yang mencondongkan tubuhnya ke arah Alex.


"sudahlah jangan bahas itu lagi, aku lapar" Alex menghempaskan tubuhnya di sofa, dan mulai menyantap makan siangnya.


"baiklah Tuan, selamat makan, dan saya permisi pulang" ujar Arie dengan nada mengejek, lalu dia membungkuk hormat lalu membalikkan badannya.


"Berhenti..!! aku akan mengantarmu pulang"Alex bergegas bangkit dari duduknya. Arie mengeryitkan keningnya.


"lalu apa khabar makanan Anda Tuan"


"kita makan di luar" ucap Alex yang kini sudah berdiri di depan Arie.


makan di luar, ga salah, terus ngapain suruh aku bawa makanan ke kantor, hadew. gumam Arie dalam hati.


"ga..ga..ga bisa"


"kenapa ga bisa"


"kau tau aku sudah capek-capek masak buat kamu, trus di anggurin, kasian kan makanannya, mubazir"


"kalau begitu tunggu aku selesai makan,ok" Alex menarik lembut tangan Arie membawanya duduk bersama di sofa.


hadew Mas sipit, ngaku cembokur susah amat sih ya, batin Arie, sambil menopang dagunya dengan satu tangan yang tertumpu di pahanya.


Arie terus memperhatikan Alex yang sedang menikmati makan siang buatannya.


Aaa


Alex mendekatkan sendok ke mulut Arie, Arie yang sedang melamun menurut saja membuka lebar mulutnya, membiarkan makanan itu masuk ke dalam.


"enak"


Arie hanya mengangguk, dengan mulutnya yang mengunyah perlahan, matanya tetap tertuju pada Alex.


"enak mana sama punya ku"


"enak punya mu...eh"


"A.... Alex.." pekik Arie sambil memukul lengan Alex yang tertawa.

__ADS_1


"Ampun.. ampun" Alex mulai kewalahan dengan pukulan tangan Arie.


"rasain" Arie memutar badannya membelakangi Alex, dengan pipinya yang mengembung dan bersemu merah.


"tapi beneran enak kan" Alex memeluk Pinggang Arie dari belakang


"Au ah.." Arie mengulum senyum tipis.


"lepasin.. aku bau.." Arie merasa tubuhnya pasti bau asem, habis masak tadi dia muter muter belanja sama Siska, terus langsung cap cus ke kantor pake ojek.


"hemm emang bau asem sih" Alex melonggarkan pelukannya,


"tapi aku suka"bisik Alex lirih di telinga Arie.


"Aishh.... udah selesai makannya, ayo antar aku pulang" Arie melepaskan tangan Alex, Alex terkekeh melihat wajah Arie yang semakin memerah.


dari tadi dia ketawa terus nama dinginnya. Arie memperhatikan wajah Alex yang tertawa lepas, menambah berkali kali lipat gantengnya,jadi tambah err, eh otak mikirin apaan sih.


Setelah menyelesaikan makan siangnya Alex, bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan namun langkahnya terhenti saat menyadari Arie tak ada di belakangnya, Alex pun kembali kedalam.


"Ayo.. katanya mau di anterin pulang" ucap Alex sambil memperhatikan Arie yang sedang membereskan bekas makan siangnya, Arie yang mengenakan daster polos berwarna maroon, dengan rambut yang di gulung ke atas nampak dengan beberapa anak rambutnya yang jatuh di leher belakang, terlihat sangat cantik.


"kenapa liat aku terus, aku cantik ya" Arie melangkah mendekat ke arah Alex.


"aku"


"hm.. terserah, cepat sedikit sebentar lagi aku ada meeting" Alex memandang jam Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.


"kalau kamu sibuk ga usah, lagian aku bisa pulang sendiri kok"


"ga bisa aku antar, ga ada penolakan" Alex melangkah mendahului Arie, dia terhenti karena tak mendengar suara langkah kaki Arie yang mengikutinya.


"ck... kenapa dia saja, ayo jalan"


"truk aja di gandeng masa aku enggak"


"haisss" Alex meraih tangan Arie, di sambut senyum lebar yang terbit di bibirnya, suasana kantor masih tampak sepi karena ini masih jam makan siang.


Mereka bergandengan tangan sampai di tempat parkir. Alex melepaskan genggamannya saat Arie masuk kedalam mobilnya, Alex mengitari mobil kemudian duduk di bangku kemudi.


"sabuk pengaman"


"siap" Arie mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


Wusssh


Mobil sport hitam mulai melaju di aspal jalan, setelah mereka sampai di apartemen, Alex merebahkan diri di sofa ruang tamu, sementara Arie bergegas menuju dapur meletakkan bekas makan siang suaminya.


Alex mengeryitkan dahinya saat melihat foto foto berserakan di meja ruang tamu, perlahan dia mengambil satu persatu foto itu. Alex melemparkan semua foto itu ke meja, dia bangkit dan bergegas menyusul Arie ke dapur.


"Arie, siapa yang membawa foto foto itu" tanya Alex.


"ga tau.. foto itu tadi di kirim kurir untuk ku, tanpa alamat dari pengirimannya" jawab Arie santai dengan tak mengalihkan pandangannya pada piring dan tangan penuh busa. Arie memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya sebelum dia yakin, siapa yang mengirim Siska padanya.


"Terus..."


"terus apa? terus ya aku buka aku lihat, udah" Arie berusaha tenang, meski sebenarnya hatinya serasa di cubit saat melihat foto Alex dan Siska seranjang, namun Arie tidak gegabah dia harus bertanya sendiri kepada Siska nanti.


"itu saja"


"he em" Arie mengangguk kecil, membasuh kedua tangannya.


Ada raut wajah kecewa di wajah Alex, Bukankah seharusnya istrinya marah, dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan, melihat begitu banya foto yang menunjukkan dirinya bersama wanita lain, tapi kenapa Arie tidak begitu, kenapa Arie terlihat santai saja, apa Alex saja yang merasa tidak suka saat Arie bersama orang lain.


Aarggh


Entahlah, Alex masih belum yakin dengan perasaannya sendiri, Alex memutuskan untuk kembali ke kantor. melihat Alex yang telah pergi keluar, Arie segera mengambil ponselnya.


"Ipul.. laporan"


"Beres Mba Boss"


"sipp, telpon e kek no Mba Siska"( telponnya berikan Mba Siska)


"ok"


"Hallo Bu Arie"


"panggil Mba saja, aku belum tua, Mba aku mau tanya soal foto Mba yang seranjang sama suamiku"


"oh.. itu hanya Gimik Mba Arie, Tuan Alex sudah mabuk berat dia tidur, trus saya di suruh ikut tidur sama temannya, setelah itu kita di foto udah, saya benar benar tidak berbuat apa apa"


"baiklah saya percaya sama Mba, Mba sementara di situ dulu, agar aman dari orang yang menyuruh Mba waktu itu, kalau ada apa apa Mba bisa hubungi saya"


"iya Mba Arie terima kasih"


sambungan telepon terputus, Arie bernafas lega, foto itu tidak seperti yang dia bayangkan, walaupun Arie masih sangsi dengan keperjakaan suaminya namun setidaknya Alex tidak sembarangan bercocok tanam.

__ADS_1


__ADS_2