
Nuwa berjalan mendekati Alex. Gadis itu meremas kuat dress yang ia pakai. Ada rasa bersalah yang berkecamuk dalam hatinya. Li Wei ibu kandungnya, Nuwa merasa sangat malu, marah juga kecewa.
Daniel melingkarkan tangannya di bahu Nuwa. Memberikan dukungan kepada sang kekasih. Ia tahu benar apa yang Nuwa rasakan. Namun, semuanya sudah terjadi, bukan salahnya juga bila dia tidak bisa mencegah ibunya berbuat seperti itu.
Perlahan Nuwa duduk bersimpuh di samping Alex, Daniel pun turut duduk di sampingnya. Alex menyandarkan kepalanya di sandaran kursi roda, dengan mata terpejam Alex berusaha meredam amarahnya. Entahlah Alex seperti sangat lelah dengan semua ini, ia juga merasa lega semuanya sudah berakhir.
"Keke," panggil Nuwa lirih.
Mendengar suara sang adik, Alex menurunkan kepalanya. Menengok ke arah samping di mana Nuwa bersimpuh, dengan mata berkaca-kaca ia menatapnya. Alex tersenyum tipis, ia mengangkat tangan mengusap lembut rambut Nuwa.
"Keke, maaf... maafkan aku," air mata Nuwa mengalir deras, seiring tangisnya yang semakin terisak.
Nuwa ingin mengeluarkan semua rasa sesak yang selama ini bersarang di dalam hatinya. Sebuah rasa sesal atas semua yang pernah ia lakukan. Rasa sakit yang bertumpuk selama beberapa lama. Daniel merengkuhnya, membiarkan gadis yang terlihat kuat itu menunjukkan sisi terlemahnya.
Nuwa berteriak dalam pelukan Daniel. Semua orang dalam ruangan itu merasa iba dengannya. Pastinya bukan sesuatu yang mudah mengungkapkan kejahatan yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Apapun kejahatan yang dilakukannya, bagaimana keburukan Li Wei, dia adalah ibunya Itu tidak merubah apapun. Dia Seseorang yang telah membesarkan dan merawatnya sejak ia masih bayi.
"Cucuku, sudahlah, Nak. semua sudah berlalu." Kakek Wu mengelus bahu Nuwa.
Nuwa mendongakkan kepalanya menatap netra sayu yang menatapnya lembut. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Nuwa tidak mendengar suara itu memanggilnya dengan begitu lembut. Perlahan Nuwa berdiri, beralih berhambur memeluk tubuh tua yang iya rindukan.
"Kakek!" pekiknya, sebelum kembali terisak-isak.
"Nuwa, kangen. Kakek," rengek Nuwa manja.
"Iya...iya, cucu kesayangan kakek."
Sebelumnya Nuwa adalah cucu yang paling cengeng dan manja pada kakeknya saat masih kecil. Sebelum ia di pengaruhi oleh ibunya.
__ADS_1
Alex
"Ah, si cengeng sudah kembali," sindir Alex dengan senyum lebar.
"Kakek, lihat Keke nakal." Nuwa mengusap matanya yang basah dengan punggung tangannya.
"Biar saja. Keke mu tidak akan bisa melakukan apapun selain selagi dia duduk di kursi beroda itu."
"Cih, tentu saja aku masih bisa melakukan apa yang aku mau. Kursi ini tidak akan menghambat ku untuk mengelitik mu sampai kejang!"
"Hua... Keke nakal!" Nuwa melepaskan pelukannya, lalu bersembunyi di balik tubuh tegap kakeknya.
Keluarga Sasongko pun turut bahagia melihat kehangatan keluarga Wang. Melihat itu sejujurnya Adinata merasa iri. Kehangatan yang ia dambakan. Sayang Arie masih terbaring di rumah sakit. Tampa ia rasakan sudut matanya mulai mengembun.
"Ayah." Arow mengusap punggung pria paruh baya itu. Nana pun beralih ke sisi lain sang ayah mertuanya lalu memeluknya.
"Iya, terima kasih sudah bersama Ayah." Adinata merengkuh kedua anaknya.
Suasana haru dan bahagia berbaur menjadi satu. Keluarga adalah tempat kita kembali. Sejauh apapun kita melangkah, selelah apapun dirimu kau akan bisa kembali ke rumah. Di mana aku akan di sambut dengan canda tawa dan kehangatan. Sama seperti Nuwa, saat dia berbuat kesalahan yang tanpa ia sadari telah menyakiti hati orang-orang yang ia sayangi. Namun, dengan tangan terbuka kakek dan Alex menerimanya kembali.
Hubungan seseorang tidak selamanya di ukur dari kentalnya darah yang mereka miliki. Kadang seseorang yang sedarah denganmu bisa saja menyakitimu. Tapi itu tidak akan membuatnya berubah menjadi orang lain. Dia akan tetap menjadi bagian dari keluarga mu. Jalan kehidupan memang sangat rumit bukan. Kau bisa memaknai keluarga yang kau punya dengan devisi masing-masing. Tak ada patokan yang sama, meskipun kau sama dalam menyambutnya. Kadang ketamakan dan rasa iri bisa merusak jalinan kasih sayang antara mereka.
Setelah semuanya selesai. Keluarga Sasongko pun pamit undur diri. Nuwa diminta oleh Kakek Wu untuk tinggal kembali dengannya di rumah besar. sementara Alex harus segera kembali ke rumah sakit. Ia sudah sangat merindukan istrinya.
Dengan di antara oleh sopir Alex kembali ke rumah sakit. wajah sang istri terus saja terbayang dalam benaknya.
"Pul, lebih cepat menyetirnya!" desak Alex.
__ADS_1
Entah sudah berapa kali Alex menghardik Saipul untuk berkendara lebih cepat. Ipul hanya menjawab dengan anggukan. Ia tidak berani menyetir dengan kecepatan tinggi karena Kakek Wu sudah mewanti-wanti agar tidak melakukan itu.
Setelah cukup lama berkendara akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Keadaan Alex sudah lebih baik, dia sudah bisa memindahkan duduknya sendiri secara perlahan.Namun, kakinya masih sakit jika di pakai untuk berdiri terlalu lama. Saipul hanya harus memegangi kursi roda agar tidak bergeser dari tempatnya.
Rasa rindu sudah sangat di rasakan oleh Alex. Mengerakkan kursi rodanya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di ruangan istrinya. Ia tidak perduli pada beberapa pengunjung pasien yang mengumpatnya karena tingkahnya yang ugal-ugalan seperti itu.
Brakk.
"Sayang."
Alex tercenung saat melihat beberapa perawat membolak-balikkan tubuh istrinya. Sedangkan Tama si samping mereka bersama seorang dokter lain. Alex melotot, matanya hampir saja keluar dari tempatnya.
"Apa yang kalian lakukan!" pekiknya geram.
Semua orang pun menoleh ke arahnya, kecuali para perawat yang sedang melakukan terapi pada Arie. Mereka sedang melakukan mobilitas dini pada Arie, agar tidak terjadi luka baring pada pasien. Pasien memerlukan bantuan orang lain karena ia belum di perbolehkan bergerak terlalu banyak. Dokter yang bersama Tama adalah seorang ahli fisioterapi. Ia membawa para perawat yang sudah ahli juga di bidang mereka untuk melakukan fisioterapi pada Arie.
Tapi menjelaskan semua ini pada Alex. Sama saja kau mengenakan kata pada orang yang buta huruf. Bukan karena bodoh tapi buta karena kecemburuannya.
"Apa kami hanya sedang melakukan mobilitas dini pada istrimu. Memang kau mau punggung Arie bolong karena terlalu lama berbaring!"
"Aku tidak perduli lepaskan tangan kalian semua sebelum aku mematahkannya!" ucap dengan sungguh sungguh.
Dokter Ben pun menyuruh para perawat itu untuk menghentikan aktivitas mereka. Para perawat itu mengangguk dan meletakkan lagi tubuh pasien secara perlahan.
"Alex aku sedang mengupayakan kesembuhan istrimu, mengertilah!"
"Aku tau, tapi aku tidak mau ada laki-laki yang menyentuhnya selain aku?" tegas Alex.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencari perawat wanita untuk melakukan fisioterapi pada Arie besok," ucap Tama pasrah. percuma berdebat dengan Alex. tidak akan ada ujungnya.