Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
kesal


__ADS_3

Hati sudah semakin gelap. Rumah besar itu nampak senyap, sepertinya semua penghuni di dalamnya sudah terlelap. Alex yang baru saja pulang dari kantornya. Melangkah dengan gontai menyusuri ruang tamu menuju kamarnya.


Alex mencoba membuka pintu kamar. Namun, terkunci. Alex mengeryitkan keningnya, sepertinya Arie dengan sengaja mengunci pintu kamar dari dalam. Alex memijit pelipisnya, apa ini maksud dari teleponnya yang di tutup sepihak oleh istrinya tanpa mengucapkan kata penutup.


"Ck... seharusnya aku tidak pulang larut hari ini." Alex berjalan menuju ruang kerjanya untuk mengambil kunci cadangan kamarnya.


Dengan langkah lebar Alex kembali dari ruang kerjanya. Ia pun segera memasukkan kucing dan memutarnya. Dengan perlahan ia memutar handle pintu lalu mendorongnya pelan. Alex tidak ingin menganggu tidur sang permaisuri. Ia bernafas lega melihat sang istri tengah tertidur pulas. Sebenarnya Alex tidak siap jika harus melihat wajah sang istri yang muram karenanya.


Alex melangkah pelan ia mendekati ranjang. Arie tidur terlentang dengan selimut yang melorot sampai di bawah pahanya. Sang istri memakai daster rumahan tanpa lengan dengan kerutan rendah di dadanya.


Bagaimana bawahnya sedikit bersikap memperlihatkan pahanya yang mulus. Alex berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Arie. Alex menghembuskan nafas kasar. Melihat istrinya seperti ini pusaka miliknya ingin sekali di asah di goa berlendir milik istrinya. Namun, Alex harus bersabar ya setidaknya satu bulan lagi.


"Kenapa kau begitu cantik, Sayang." Alex mengelus lembut pipi Arie. Sekali lagi ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Maafkan aku tidak bisa menemanimu hari ini." Alex sedikit mengangkat tubuhnya kemudian mengecup lembut kening istrinya.


Alex berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi setelah melepaskan semua pakaiannya. Ia harus segera mendinginkan kepalanya dan pusakanya. Sementara ini biarlah ia bermain dengan busa dan tangannya.


Setelah cukup lama di kamar mandi. Alex pun keluar dengan hanya melilitkan handuk di bagian pinggangnya. Rambutnya yang masih basah. Alex berjalan ke arah lemari untuk mengambil boxer. Ia membuka pintu lemari perlahan lalu membuka laci dimana dia dan Arie menyimpan para pengaman milik mereka.


Mata Alex menangkap seonggok kain tipis berwarna ungu muda yang sepertinya di lemparkan begitu saja dalam laci itu. Alex pun meraih kain itu dan memegang kedua ujungnya. Mata Alex membulat sempurna melihat baju haram dengan model yang akan menunjukkan setiap lekuk tubuh pemakainya, sejurus kemudian Alex menautkan kedua alisnya. Ia hafal betul tiap baju dinas yang pernah ia belikan untuk istrinya dan yang satu ini, ia belum pernah melihatnya. Apa lagi sejak insiden yang itu.


"Emh... Sayang kau sudah pulang," Arie berucap dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Alex pun segera menoleh ke arah istrinya. Arie mengeliat tubuhnya lalu perlahan mengangkat tubuh dengan kedua tangannya. Alex pun segera melangkah mendekat dan dengan sigap membantu Arie untuk duduk. Lalu ia pun ikut mendudukkan dirinya di sebelah Arie.


"Maaf aku membangunkanmu."


Arie mengelengkan kepalanya. Ekor matanya melirik ke arah gaun haram yang ada di tangan suaminya. Kenapa Alex bisa menemukannya? seharusnya ini akan menjadi kejutan untuk suaminya tapi kalau seperti ini.

__ADS_1


Sepercik kekecewaan dan amarah tersirat di wajah Arie. Meskipun samar Alex bisa melihatnya dengan jelas. Mungkin karena ia mulai terbiasa memperhatikan setiap ekspresi wajah istrinya.


"Sayang ada apa. Maaf aku pulang terlambat hari ini?"tanya Alex sambil mengusap lembut rambut Arie yang kini sudah berubah warna.


"Kau terlihat begitu cantik malam ini."


"Jadi biasanya aku nggak cantik?" ucap Arie dengan ketus.


"Eh... bukan begitu maksudku, kau selalu terlihat cantik Sayang. Tapi kau terlihat berbeda dengan warna rambutmu yang baru."


"Bilang saja kalau kau bosan dengan tampilanku yang dulu," ketus Arie sambil mendorong tubuh suaminya menjauh.


"Bukan seperti itu Sayang." Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berusaha memikirkan kata yang tepat untuk di ucapkan


Melihat Alex yang diam saja membuat Arie bertambah kesal. Sudah pulangnya malam,


Arie berdecak kesal. Ia menyibakkan selimut yang tersisa menutupi tubuhnya dengan kasar. Arie pun turun dengan sedikit melompat dari ranjangnya. Dengan langkah yang masih agak tertatih ia berjalan menuju kamar mandi dengan rasa dongkol di hatinya.


"Udah capek-capek bikin kejutan malah zonk, ngapain sih pake nemuin baju itu segala," gerutu Arie tampa henti.


Alex terperanjat melihat Arie yang berjalan dengan kedua kakinya.


"Arieta Wulandari!" pekik Alex tiba-tiba.


"Apa!" sahut Arie tak kalah kencangnya saat mendengar namanya di sebut dengan lengkap. Ia berhenti lalu menengok ke belakang dengan wajah kesal.


Alex tidak menjawab ia langsung berjalan dengan langkah cepat mendekati sang istri. Raut wajahnya sangat sulit di artikan. Dengan serta merta Alex memeluk tubuh Arie, mengangkatnya lalu segera membawa tubuh mungil itu kearah ranjang.


"Apa yang kamu lakukan, turunin aku, Sayang." Arie langsung pegangan pada bahu Alex.

__ADS_1


"Alex!" pekik Arie.


Alex mendudukkan istrinya di tepi ranjang. Dengan sorot mata tajam Alex menatap intens pada istrinya. Alex memerangkap istrinya dengan kedua tangannya bertumpu di tepi ranjang.


"Apa yang kau lakukan? apa kau ingin membuat kakimu cedera lebih parah dengan bertindak ceroboh seperti itu!" sentak Alex dengan emosi. Namun, terselip rasa cemas di dalamnya.


"Apa maksudmu?" ketus Arie lalu membuang mukanya kesamping. Ia merasa tidak terima Alex tiba-tiba membentaknya seperti itu. Seharusnya Arie yang marah. Kenapa sekarang jadi terbalik seperti ini.


"Kakimu, Kenapa kau berjalan seperti itu. Kau masih harus mengunakan kursi roda bukan!"


Mata Arie terbelalak, ia menoleh dan menatap pada Alex dengan matanya yang membulat sempurna. Saking kesalnya, Arie lupa kalau ia sedang menyembunyikan tentang kesembuhan kakinya pada Alex. Alex hanya tahu Kalau Arie bisa berjalan dengan berpegang pada dua sisi badannya. Seperti saat terakhir kali Alex mengantarkannya terapi. Saat itu Dokter memang mengatakan agar Arie tidak mengunakan kakinya tanpa bantuan agar tidak membebani tulangnya yang baru pulih.


Yang Alex tidak tahu Arie sudah mewanti-wanti pada semua dokter dan perawat di sana agar tidak memberi tahu perkembangan pada dirinya yang sudah bisa mulai berjalan dengan satu tongkat penyangga sebelum itu. Ia ingin menyiapkan sebuah kejutan pada suaminya.


"Perduli apa kau padaku," lirih Arie namun masih dengan nada yang tidak bersahabat lalu ia kembali memalingkan wajahnya kearah lain.


Alex mendesah ia menunduk kepalanya sejenak. Ia tidak seharusnya membentak istrinya seperti itu.


"Sayang, maaf aku tidak bermaksud membentakmu aku hanya-


"Aku capek, aku mau tidur," ucap Arie memotong ucapan suaminya.


"Sayang aku...


"Aku mau tidur," ucap Arie dengan penuh penekanan.


Alex pun pasrah lalu membantu sang istri untuk membaringkan tubuhnya. Arie masih masih tampak kesal. Alex pun menarik selimut menutupi tubuh istrinya yang masih memalingkan wajahnya.


"Selamat malam sayang, mimpi indah." Alex mencium kening Arie.

__ADS_1


__ADS_2