
Sendirian di apartemen membuat Arie semakin mengingat kejadian di restoran, ia memutuskan untuk membuat kue kering, berbagai resep ia coba, kini dia sudah menghasilkan banyak bertoples toples kue kering. Kali ini Arie mencoba membuat kue nastar, kue yang khas dengan isian selai nanas.
Drrrt.... drrrt..
Arow calling, terlihat di layar ponsel Arie, ia pun segera menggeser layar ponselnya dengan ujung kelingking yang masih bersih dan dari pada jarinya yang lain.
"Hallo kak"
"Hallo Arie, biasakah kita bertemu sekarang, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu"
"Siapa?"
"Datanglah ke cafe jingga, kau akan tau sendiri nanti."
"Tapi, aku sedang membuat kue, nanggung nih kak, bisakah kakak yang kesini?"
"Apa oleh?"
"Tentu, kenapa tidak, aku share alamatnya."
"Baiklah, kami akan kesana."
"Ok, aku tunggu," Arie menutup sambungan teleponnya, dalam hati dia terus bertanya siapa yang ingin bertemu dengannya, apakah neneknya, akankah Arie sanggup bertemu dengannya. Ah sudahlah Arie harus segera menyelesaikan kuenya sebelum para tamu datang.
Setelah selesai di dapur Arie segera membersihkan dirinya, bersiap menyambut keluarganya yang akan berkunjung. Dengan mengenakan dress warna nude dengan sedikit polesan make up, membuat Arie terlihat manis.
Ting ...tong..
Terdengar bell apartemen berbunyi, Arie pun bergegas keluar kamar untuk membukanya.
"Selamat datang" Arie tertegun saat melihat sosok di hadapannya, bukan Arow dia pria yang belum pernah ia temui sebelumnya.
"Maaf, Bapak mencari siapa?" tanya Arie dengan lembut, pria itu hanya dia menatap Arie dengan lekat.
"Pak, Bapak tidak apa-apa"
__ADS_1
"Arie lebih baik kita masuk dulu," ucap Arow yang baru saja datang.
"Oh.. maaf, silahkan masuk," Arie berjalan mendahului kedua tamunya.
"Silahkan duduk," Arie mempersilahkan mereka berdua duduk, Pria paruh baya itu tak pernah melepaskan pandangannya dari Arie.
"Maaf, sebenarnya Anda siapa?" tanya Arie lagi.
Tak ada jawaban, pria itu mendekati Arie, dan langsung meraih Arie dalam pelukannya. Tubuh Arie menegang terkejut dengan apa yang di lakukan Pria di hadapannya, Arie memandang penuh tanya Arow, dia bertambah bingung saat Arow sudah berlinangan air mata.
"Maafkan Ayah nak" lirih pria itu.
deg
"A..yah" ucap Arie terbata.
"Ayah....Ayah..." ucap Arie berulang ulang, Kata yang selama ini hanya ada dalam angannya, kini ada seseorang yang ia sebut Ayah, Arie memeluk tubuh pria yang sudah gemetar.
"Maafkan Ayah nak, Maafkan Ayahmu ini, seharusnya aku mencari tahu lebih awal, seharusnya Ayah tidak percaya begitu saja dengan Nenekmu," ucapnya dengan penuh amarah.
"Sudahlah, Ayah semua sudah berlalu" Arie melerai pelukannya, menuntun Ayahnya duduk di sisinya.
"Nak.. kau sungguh mirip dengan ibumu." ucap Adinata sambil membelai pipi putrinya. Arie tersenyum dengan wajah yang sendu saat Adinata menyebutkan kata ibu.
"Kak sudah, jangan cengeng." Arie menyodorkan tissue pada Arow yang masih terisak.
"hiks...hiks... ga tau Rie, Kakak ga bisa berhenti huaaaa." tangis Arow semakin pecah, saat ini memang moment yang mengharukan, pertemuan antara anak dengan Ayah, tapi melihat Arow yang berlebih-lebihan membuat Arie geli sendiri.
Sore itu Arie bercengkrama dengan Ayah dan Kakak laki lakinya, menceritakan masa kecil Arow dan Arie di masa kandungan, cerita bagaimana ibu Anjar yang ngidam sampai membuat ayahnya pusing, kenangan manis yang tinggal cerita, Arie begitu bersyukur dapat bertemu dengan keluarganya, perlahan Arie Ingin membuka dirinya untuk menerima mereka, keluarga yang lama ia rindukan.
"Kami harus pulang, kasian Nana sendiri di rumah" ucap Adinata, sebenarnya dia masih ingin bersama putrinya, namun dia sadar menantunya juga membutuhkan suaminya di masa kehamilan.
"Sendirian, kenapa tadi tidak di ajak ke sini Kak" ucap Arie cemas.
"Ga sendirian juga, ada beberapa pelayan di rumah, maaf kakak tidak bisa mengajaknya, kondisi masih lemah" ucap Arow sendu
__ADS_1
"Lemah kenapa, kak Nana kenapa kak,"
"Dia hamil, dan mengalami morning sick yang parah"
"Hamil , benarkah, wah sebentar lagi aku jadi Tante"
"ya ya.. kau senang bukan" Arow mengacak rambut Arie. Arie mengangguk cepat.
Mereka bertiga bangkit dari duduknya, Arow memeluk adiknya, bergantian dengan Adinata ia memeluk erat putri
kecilnya.
"Pulanglah bersama kami sayang," ujar Adinata penuh harap.
"Lain kali, aku kan berkunjung ke rumah dengan suamiku, Ayah"
"Iya, menantuku di mana dia, Nak?"
"Dia sedang keluar kota Ayah, seharusnya dia pulang malam ini"
"Semoga kau bahagia, Nak"
"Terima kasih, Ayah" ucap Arie penuh syukur.
Adinata memeluk putrinya sekali lagi. mencium pipi putrinya.
Braaaakkkk...
pintu apartemen di buka dengan kasar, mata Alex memerah saat melihat pria paruh baya itu mencium pipi istrinya. Alex melangkah lebar dia benar benar tidak tahan melihat tangan pria itu yang masih lengket merengkuh pundak Arie.
Buuuk...
sebuah tinju Alex layangkan ke arah Adinata. membuat tubuh pria paruh baya itu terhuyung jatuh ke belakang. Arow yang melihat Ayahnya di perlakukan seperti itu merasa tidak terima, dia pun berganti melayangkan pukulan di wajah Alex, baku hantam ke dua pria ini pun tak bisa di dielakkan, Arie yang melihat pertengkaran ini menatap tidak percaya.
"STOP!!!"
__ADS_1
Teriakan Arie membuat kedua kepalan tangan terhenti di udara.