Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Destroyer 2


__ADS_3

Ketiga orang itu duduk cukup lama di atas kursi plastik yang sudah usang itu. Beberapa bagian dari kursi itu bahkan sudah terkelupas. Puspa terus mengerakkan tubuhnya yang merasa risih.


Sudah hampir satu jam mereka menunggu, Akan tetapi belum ada tanda tanda kedatangan dari sang tuan. Tanpa minum, AC pun sepertinya sengaja tidak di nyalakan. Membuat ruangan tanpa jendela itu terasa panas dan pengap.


Arow mengeluarkan berkas dari dalam tas kerja yang di bawanya. Mengibaskan map itu untuk mengipasi tubuhnya. Jas yang ia pakai pun kini sudah terlepas dan menyampirkannya di sandaran kursi, dasinya pun sudah ia longgarkan. Rambutnya yang semula tertata rapi kini terlihat acak acakan.


"Kapan orang itu akan datang, sudah lebih dari satu jam kita menunggu di sini," ujar Puspa dengan suara yang agak serak karena tenggorokannya yang terasa kering.


"Kita tunggu sebentar lagi, Bu." ucap Adinata yang mencoba untuk sabar.


Tidak seperti anaknya Adinata masih tampak rapi, meskipun bajunya sudah basah kuyup oleh keringat. Namun, ia masih berusaha bersikap tenang.


Ceklek.


Ketiga orang itu menoleh saat pintu besar itu terbuka. Arow mengerutkan keningnya saat melihat sosok yang baru saja masuk dengan dua orang pelayan yang membawa meja kecil di belakangnya.


Mata Arow membulat sempurna. Ia pun bangkit dari kursi plastik.


"Kau, apa yang kau lakukan di sini!" pekik Arow sambil menatap tajam ke arah pria itu.


Pria itu berhenti dan tersenyum miring, ia pun melanjutkan langkahnya. Mengarahkan kedua pelayan itu untuk menata meja dan membersihkan sofa yang akan di tempati oleh tuannya, serta menyalakan pendingin ruangan.


"Hey aku bicara denganmu. Kau tuli ya!" bentak Arow yang sudah tidak sabar. Dan menatap tajam kepada pria itu.


Adinata yang melihat tingkah anaknya pun merasa heran.


"Arow apa kau mengenalnya?"


"Tentu Ayah dia -


"Saya asisten dari tuan yang akan anda temui. Maaf membuat Anda bertiga menunggu terlalu lama. Karena tuan saya harus menemani istrinya pergi ke salon," sela Chiko, pria itu bicara dengan datar. Arow pun melotot kepada pria yang tiba-tiba berdiri di hadapannya itu.


"Apa! jadi tuan mu sedang menemani istrinya ke salon. Keterlaluan. Apa yang ada di pikirannya. Bukankah dia sendiri yang mengundang kami. Dasar tidak punya sopan santun . Bisa bisanya dia menelantarkan tamunya hanya untuk menemani istrinya ke salon!" Puspa berdiri ia merasa tidak di hargai sama sekali. Ia mengeraskan rahangnya geram.


"Benar nyonya, bagi tuan saya tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan nyonya besar kami. Apakah anda keberatan," jawab Chiko singkat.


Tangan Puspa mengepal kuat. Ia tidak bisa marah atau memaki orang yang ada di hadapannya. Puspa yakin Pria ini adalah orang kepercayaan dari tuan yang mengundang mereka. Akhirnya ia pun harus terpaksa duduk kembali dengan menyimpan amarahnya.


"Apa kau berkerja untuk orang lain selain Alex?" tanya Arow dengan bersungut-sungut.


"Maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda."


"Kau-


Adinata segera mengulurkan tangannya ke arah Arow. mengisyaratkan anaknya untuk tidak melanjutkan ucapannya. Arow pun memalingkan wajahnya dengan mendengus kesal.


"Maaf, apa tuan anda akan segera datang? kami sudah menunggu cukup lama di sini,"


tanya Adinata dengan nada merendah.


"Sebentar lagi tuan. Saya harap anda lebih bersabar," jawab Chiko dengan sopan.


"Kau menyuruh kami menunggu lagi! kau bahkan tidak menyuguhkan air dan makanan untuk kami," cibir Puspa kesal.

__ADS_1


"Bu sudahlah."


"Apa yang sudah, memang kenyataannya seperti itu. Kita tamu di sini sudah seharusnya mereka menjamu kita!"


"Nyonya benar, maafkan atas kelalaian kami."


"Pelayan, cepat bawakan makanan dan minuman untuk para tamu!" titah Chiko kepada pelayan yang berdiri di belakangnya.


Kedua pelayan itu pun bergegas pergi untuk melaksanakan perintah Chiko.


"Kalau begitu saya permisi." Chiko membungkuk hormat lalu melangkah keluar dari ruangan itu.


Tak berapa lama seorang pelayan pun datang dengan membawa nampan yang berisikan tiga mangkok mie ayam sederhana dan tiga gelas air putih. Pelayan itu pun memberikan mie makanan yang ia bawa ke pada para tamu yang ada di ruangan itu. Meskipun merasa aneh Adinata dan Arow menerima makanan yang di berikan oleh pelayan itu.


Rahang Puspa mengeras wajahnya sudah merah padam. Sepertinya kepulan asap keluar dari kepalanya.


Pyaar.


"Apa ini!" pekik Puspa setelah membanting semangkok mie ayam itu ke lantai, membuat mie dan isian lain nya berceceran dimana-mana. Si pelayan yang belum keluar dari ruangan itu pun terjingkat kaget.


"Wah... wah... apa yang anda lakukan nyonya besar. Istri saya bisa menangis melihat ini, Hah... kenapa anda tidak bisa menghargai makanan seenak ini. Bahkan kami memakannya saat berlibur ke pantai kemarin," ujar Alex yang baru saja masuk ke ruangan itu.


Alex memberikan isyarat pada pelayan itu untuk segera keluar. Ia pun mengangguk patuh, dan menghentikan tangannya yang hendak memungut pecahan mangkuk yang ada di lantai. pelayan itu pun segera bergegas keluar.


"Alex!"


"Kau!"


Ucap Adinata dan Arow hampir bersamaan, mereka sungguh terkejut dengan kedatangan Alex. Mereka berdua sampai berdiri karena kaget. Sementara Puspa hanya menatap tajam padanya.


Meskipun Alex terlihat tenang, akan tetapi sorot matanya jelas menyiratkan kebencian dan dendam.


"Apa maksud semua ini?" tanya Adinata geram.Ia merasa menantu bungsunya itu sudah mempermainkan dirinya.


"Tidak ada, aku hanya ingin kalian semua merasakan apa yang istriku rasakan selama ini. Ya, setidaknya sebelum dia menikah dengan ku.


Sangat nyaman bukan? ruangan pengap tanpa AC. Tanpa tempat duduk yang nyaman. Kalian hanya satu jam merasakan hal seperti ini, tapi sudah mengeluh. Bagaimana dengan Arie, dia hidup dalam kekurangan selama 20 tahun dan dia tidak pernah mengeluh tentang semua itu.


Hay wanita tua, kau membuang begitu saja makanan favorit istriku. Ck, kau memang benar benar tidak punya hati." Alex menyilang kedua kakinya dan menatap tajam pada ketiga orang yang ada di hadapannya.


"Jaga bicaramu, dia juga nenekmu, dia adalah ibuku. Nenek Arie juga," sergah Adinata.


"Hahaha... Nenek! sejak kapan? jangan membuatku tertawa ayah mertua.


Bahkan dia sendiri yang telah mengusir Arie dari rumah kalian malam itu, dan apa anda bilang, nenek Arie. Tanyakan pada mulutnya yang keriput itu apa saja yang sudah dia ucapkan pada istri kesayangan ku hingga membuatnya menangis.


Apa kalian pernah berfikir kenapa Arie tidak pernah menghubungi kalian selama ini. Tanyakan semua itu pada wanita yang anda sebut ibu itu!" tangan Alex mengepal ia mengebrak meja kecil yang ada di sampingnya dengan kuat untuk melampiaskan kekesalannya.


Mengingat setiap kali Arie menangis membuat Alex emosi. Rasanya ingin sekali dia menghajar orang yang membuat istrinya bersedih, Namun, dengan sekuat hati Alex menahannya.


Wajah Puspa memerah matanya melotot seperti hendak keluar dari tempatnya. Adinata menatap tajam pada ibunya, sorot mata yang meminta penjelasan tentang semuanya. Mendengar ucapan Alex dada Adinata bergemuruh hebat.


"Ibu, apa benar yang anak itu ucapkan?" tanya Adinata dengan bibirnya yang bergetar.

__ADS_1


"Omong kosong, kau percaya dengan omongan anak kemarin sore itu," kilah Puspa tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Nenek, aku mohon jujurlah," ucap Arow dengan menundukkan kepalanya. Ia mulai mengerti kenapa Alex melakukan ini semua.


Arow pun sempat curiga saat Arie menghilangkan begitu saja dari rumah sakit saat Nana melahirkan. Serta beberapa kali Nana pernah beberapa kali bercerita, kalau neneknya merasa tidak senang saat Nana membicarakan Arie.


"Jujur apa, jangan bodoh. Nenek tidak melakukan apapun!" tegas Puspa.


"O, masih tidak ingin mengaku rupanya."


"Chiko bawa mereka orang itu kemari!"


Chiko pun masuk dengan seorang wanita di belakangnya. Mata Puspa melebar saat melihat wajah wanita itu. Seorang wanita paruh baya yang pernah berkerja di keluarga Sasongko. Wajah Puspa berubah pucat dan tegang. Ia pun meremas pinggiran kursi plastik yang ia duduki dengan kuat.


Wanita paruh baya itu berdiri menghadap Ketika orang yang duduk di kursi plastik. dengan menundukkan kepalanya.


"Cepat bicara," titah Alex yang sudah geram karena Puspa tidak ingin mengakui kesalahannya sendiri. Rasanya Sudah malas harus menjelaskan kejahatan pada penjahat itu sendiri.


"Baik Tuan," ucap wanita itu tergagap. Ia pun sebenarnya merasa takut menghadapi mantan majikannya itu. Akan tetapi di sisi lain ia juga merasa bersalah karena telah menyembunyikan sesuatu dari tuannya.


"Malam itu Nona Arie membawa teh hangat untuk Nyonya besar mengantikan saya. karena saya khawatir jadi saya mengikuti nona, dan..dan saya mendengar suara Nyonya besar memaki dan mengusir nona Arie." Ucap wanita paruh baya itu, ia terlihat takut saat Puspa menatapnya dengan tajam.


"Apa!" pekik Adinata terkejut. Ia segera berdiri berjalan ke arah wanita yang baru saja selesai membuka mulutnya.


"Kenapa Bibi tidak bilang saat itu. Bibi tau betapa paniknya kami saat Arie hilang tanpa kabar malam itu!" Adinata mencengkeram kuat bahu wanita paruh baya itu.


"Ampun tuan, nyonya besar melarang saya bicara. Atau beliau akan memecat saya," jawab Bibi itu dengan terbata bata. Ia meringis merasakan sakit di bahunya


Adinata melepaskan kedua tangannya dari bahu wanita itu. Ia menoleh menatap tajam kepada ibunya. Wanita yang selalu ia hormati.


"Jangan dengarkan ocehan pembantu itu nak, mana mungkin aku mengusir cucu yang baru saja aku temui. Meskipun aku belum bisa menerimanya tapi aku tidak akan setega itu untuk mengusirnya. Apalagi dia sedang hamilkan," Puspa masih berusaha mengelak dari fakta yang ada di hadapannya.


"Cucu, sejak kapan kau menganggap Arie cucumu. Kau, tidak bukan hanya kau. Tapi kalian semua hanya membuat Arie lebih menderita. Kalian semua hanya mencarinya untuk menambahkan luka pada wanita malang itu!" sentak Alex dengan penuh amarah.


"Diam kau!" teriak Puspa.


"Cukup Bu..cukup. jangan bicara lagi aku mohon!" Adinata berteriak meluapkan semua emosinya. Puspa pun terdiam.


"Di mana Arie sekarang Nak, ayah sangat merindukannya, Aku ingin bertemu dengannya. Ayah benar benar ingin menebus dosa karena telah membiarkannya hidup terlunta-lunta," ucap Adinata dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Hatinya sungguh hancur bagaimana tercabik ribuan jarum. Ibunya yang selalu ia percaya, sekali lagi menghancurkan kepercayaannya. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia harus memenuhi janji untuk tidak melukai perasaan wanita itu.


"Kalau anda memang benar benar menyayanginya, seharusnya anda bisa melindunginya bukan semakin membuatnya terluka," ujar Alex penuh penekanan.


"Iya kau benar, aku salah. Aku memang pantas di hukum." Pria paruh baya itu merosot jatuh terduduk ke lantai.


Aku salah... maafkan ayah Nak.... maafkan ayah..," gumam Adinata. Setitik air bening mulai lolos dari sudut matanya.


Kilasan masa lalu mulai berputar kembali di benaknya. Alex merasa iba kepada ayah mertuanya. Ia tidak bermaksud untuk menghukum ayahnya. Akan tetapi dia juga ingin agar ayahnya tau bagaimana sikap ibunya selama ini terhadap putrinya.


"Sudahlah jangan menangis anak haram itu, dasar tidak berguna," tukas Puspa yang tanpa rasa penyesalan sedikit pun.


Tidak ada yang menghiraukan ucapan wanita tua itu. Arow membantu Ayahnya untuk berdiri dan kembali duduk di kursi plastik yang ia duduki sebelumnya.

__ADS_1


"Alex, apa sebenarnya yang kau inginkan. Aku tahu kau tidak mengundang kami hanya untuk ini kan," tanya Arow.


"Wah... Kakak ipar, kau hebat bisa membaca pikiranku. Aku ingin kalian semua berlutut dan meminta maaf dengan tulus kepada istriku!" tegas Alex.


__ADS_2