Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Ego


__ADS_3

"Minta maaf. Untuk apa aku tidak akan sudi meminta maaf pada anak dari seorang lo*te sepertinya," ucap Puspa. Wanita itu sudah tidak lagi menutupi rasa bencinya pada Arie.


"O silahkan jika itu pilihan anda, Nyonya. Jika anda lebih memilih menjadi gembel dan tidur di kolong jembatan, maka silahkan anda keluar dari ruangan ini sekarang juga!" tegas Alex dengan wajahnya yang memerah.


Alex benar benar merasa geram dengan wanita yang ada di hadapannya. Ia bahkan tidak menunjukkan rasa bersalahnya sedikitpun. Meski Alex sudah membuka rahasia kepada anak dan cucunya. Ego mengalahkan segalanya, watak tak mungkin diubah dalam sekejap mata.


"Aku akan pulang ke rumahku, rumah keluarga Sasongko," tukas Puspa. Ia pun bangkit dan berjalan mendekati pintu keluar.


"Rumah... hahahaha.. rumah siapa? Rumahmu, rumah besar yang anda banggakan itu sudah menjadi milik istri saya." Tawa Alex terdengar mengerikan mengema menusuk telinga yang mendengarnya.


Langkah Puspa terhenti. Ia pun langsung membalikkan tubuhnya. Ia menautkan kedua alisnya. Begitu juga Adinata dan Arow, mereka pun terkejut dengan apa yang di ucapkan Alex. Alex memberi isyarat kepada Chiko untuk mengambil sesuatu dari tas yang di bawa asistennya. Chiko pun memberikan selembar kertas yang menunjukkan bahwa ia adalah pemilik atas rumah besar keluarga Sasongko.


"Baca dengan perlahan jangan terburu buru, dan pikiran lagi penawaran saya," ujar Alex dingin.


Mata Puspa melotot hampir jatuh dari tempatnya membaca rincian surat pernyataan itu. Tangan keriputnya meremas kuat kertas yang ada dalam genggamannya. Dengan bersungut-sungut Puspa berjalan menghampiri anaknya.


"Adinata, apa yang kau lakukan. Dasar anak bodoh, pergi kau pergi ke neraka!" Puspa memukuli kepalanya Adinata dengan kedua tangannya.


Tidak pernah terbayangkan olehnya semua yang ia miliki hancur seketika. Luluh lantah tak bersisa.


"Apa yang nenek lakukan." Arow berusaha menghentikan tangan neneknya yang membabi buta memukuli sang ayah.


"Ayahmu, anak tidak tau di untung ini sudah mengadaikan rumah kita!" pekik Puspa dengan marah.


"Ayah, apa yang di katakan nenek benar?" tanya Arow terkejut.


Adinata mengangguk dalam, ia memang mengadaikan rumahnya kepada Mr.Huang untuk membayar menutup hutangnya kepada pihak lain selain Mr.Huang. Namun, ia tidak mengetahui bahwa sang menantu lah yang sebenarnya yang memberikan pinjaman dengan jaminan rumah itu. Kini sertifikat rumah itu sudah resmi menjadi milik Arie begitu pula perusahaan Bright corp.


Tidak ini tidak boleh terjadi, aku tidak boleh jatuh miskin seperti ini. geram Puspa dalam hati.


Puspa mengelengkan kepalanya cepat. Ia menoleh melihat Alex yang sedang menatapnya dengan tajam. Puspa pun melangkah mendekati Alex.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Puspa dengan tegas.


"Apa nyonya besar berubah pikiran?" tanya Alex dengan nada mengejek.


Puspa menatap tajam pada Alex sorot matanya penuh dengan amarah dan kebencian. Belum pernah ia merasa harga dirinya di injak-injak seperti ini. Ia murka, egonya meronta.


"Jangan menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan lain, dasar bocah tidak tau diri. Cepat katakan apa yang harus aku lakukan?"


"Hem...apa aku harus mengulanginya. aku ingin anda berlutut dan meminta maaf kepada Arie wang," ucap Alex dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Jika anda melakukan dengan tulus, maka dengan senang hati saya akan mengembalikan rumah dan ya mungkin sedikit aset lain, anggap saja saya bersedekah kepada anda. Nyonya," Alex berucap sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


Puspa menelan ludahnya kasar. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Membuat kuku jarinya menancap di telapak tangannya. Ia memang tidak ingin meminta maaf apa lagi berlutut di hadapan Arie. akan tetapi dia lebih tidak ingin jatuh miskin dan hidup menderita di hari tuanya. Tapi mendengar kata "sedekah", membuatnya merasa seperti gembel yabg harus di kasihani. Membuat Puspa mengurung niatnya.


Lebih baik dia hidup ngembel daripada harus menerima sedekah dari orang yang ada di hadapannya itu.


"Cuih.. jangan harap aku melakukan apa yang kau mau." Puspa meludah tepat di atas sepatu yang Alex kenakan.


Geram, Alex menahan tangannya agar tidak mengayunkan tamparan di wajah wanita tua itu. Alex bangkit dari duduknya.


Brak..


Dengan satu tendangan keras Alex menendang meja yang ada di hadapannya.


"Jangan membuat kesabaranku habis!" tegas Alex dengan matanya yang merah menyala.


"Kau boleh mengambil semuanya, aku tidak ingin semua itu. Tapi tolong izinkan aku bertemu dengan Arie sekali saja, aku ingin meminta maaf pada putriku," sela Adinata di antara ketegangan Alex dan ibunya. Adinata mengangkat kepalanya menatap Alex dengan mengiba.


Alex beralih melihat wajah sang mertua. Ia pria itu sangat menyayangi putrinya. Namun, Alex masih ingin memberikan pelajaran pada Puspa.


'Maafkan aku ayah, aku harus melakukan ini,' gumam Alex dalam hati.


Guratan rasa penyesalan tergambar jelas di wajahnya. Ia merasa gagal sebagai ayah. Berkali kali ia membiarkan anaknya di sakiti oleh neneknya sendiri. Arow pun sama pria itu tampak gusar, dan terus menatap tajam ke arah neneknya dengan kesal. Namun, sekuat hati ia mencoba menahannya. Ia sadar ia juga masih cucu dari wanita itu. Dia masih punya hati nurani untuk tidak menghajar dan memaki wanita tua itu menuruti hatinya.


"Kau jangan bodoh Adinata! aku tidak akan pernah sudi hidup miskin!"


"Diam Bu, semua ini salah ibu. Jika sejak awal ibu tidak membuang Arie dan menukarkannya dengan bayi yang sudah mati. Jika saja ibu berhenti berpikiran picik seperti itu. Aku akan punya keluarga yang utuh saat ini!" teriak Adinata meluapkan amarahnya. Persetan dengan semua janji yang ia buat.


Sang ibu sudah menghancurkan seluruh kehidupannya. Secara tidak langsung dia lah yang telah membuat istri tercintanya meninggal. Bertahun tahun Adinata hidup menyendiri dalam penyesalan dan kini apa, setelah ia bertemu dengan putri kecilnya yang ia kira sudah meninggal. Sang ibu dengan kejam ingin memisahkan mereka lagi.


"Aku picik. Kau yang picik, ini semua terjadi karena kau tidak mendengar ucapan ku ,dan malah membawa pulang anak haram pembawa sial itu. Benalu sama seperti ibunya!"


"Cukup nek, cukup... tidak bisakah nenek diam, sudah cukup nenek mengatur hidup kami selama ini, semua demi harta. dan martabat yang nenek agungkan itu. kini lihat apa yang kita punya nol nek.. Nol besar!" bentak Arow yang akhirnya ikut angkat bicara.


"Kau juga menikmati apa yang nenek perjuangan selama ini kan, jangan berlaga sok suci, munafik!"


"DIAM!!!"


Alex berteriak, membekukan semua orang yang sedang bersitegang di hadapannya.


"Silahkan keluar dari ruangan ini dan melanjutkan rapat kalian di luar. aku sudah muak mendengarnya," ucap Alex sambil memijit pelipisnya.

__ADS_1


Mengerti dengan apa yang di inginkan tuannya. Chiko memanggil beberapa pelayan masuk untuk menyeret ketiga tamu mereka pulang.


"Tunggu aku belum selesai, hey tunggu lepaskan aku!" Puspa terus meronta saat dua orang pelayan memegang tangan dan menyeretnya keluar.


"Kau akan menyesal, aku akan membalasnya," teriak Puspa terus dan terus mengumpat Alex sampai jauh dan tak terdengar lagi.


Sementara Arow dan Ayahnya pasrah, mereka menyesal karena terlambat mengetahui semuanya. terlambat untuk melindungi perempuan kesayangan mereka.


"Tuan bolehkah saya pergi?" cicit wanita paruh baya yang sedari tadi mematung di sudut menyaksikan drama secara live di ruang itu.


"Silahkan, asisten saya akan mengantar anda langsung," jawab Alex sambil memijit pelipisnya yang pening.


Sebenarnya semua di luar dugaan Alex. Ia mengira Puspa akan langsung mengiba dan meraung meminta maaf agar Alex mengembalikan semua harta mereka. Namun, ternyata ego wanita itu lebih tinggi dari tower sutet.


Sementara di luar ruangan itu.


Seorang wanita hamil sedang berusaha menerobos masuk. Meskipun para pelayan sudah menghalanginya. Namun, Arie masih bersikeras untuk masuk.


"Suamiku ada di dalam kan, cepat buka pintunya aku mau masuk!" Arie berusaha meronta saat dua orang pelayan wanita berusaha memegang tangannya.


"Nyonya maafkan kami, tapi Tuan melarang siapapun masuk," ujar seorang pelayan mencoba menjelaskan.


"Kalau kau tidak mau membukanya. Aku akan menangis dan mengadu pada Alex kalau kalian menyakitiku," ancam Arie.


Para pelayan itu pun saling memandang satu sama lain. Bagai buah simalakama, mereka harus mematuhi perintah tuannya akan tetapi, ancaman dari sang nyonya juga sangat mematikan.


Para pelayan pun mengerakkan dagunya, saling memberikan kode. Merekapun akhirnya membiarkan Arie masuk.


Chiko yang mengantarkan keluar wanita paruh baya, yang menjadi saksi dalam persidangan tuannya pun terkejut melihat Arie di depan pintu.


"Nyonya," sapa Arie tergagap.


"Apa! tuanmu ada di dalamkan?" tanya Arie penuh selidik.


Chiko tidak bisa menjawab. Alex telah memberikan ultimatum kepadanya agar tidak membiarkan Arie masuk ke dalam ruangan itu. Namun, di sisi lain Chiko juga tidak bisa berbohong kepada Arie.


"Anu Nyonya, tuan sedang menyambut kedatangan tamu," kilah Chiko seadanya.


"Jangan bohong, atau aku sumpahin kau jadi bujang lapuk!" sentak Arie.


"Jangan dong nyonya bos." Chiko memelas menatap sang nyonya. Baru saja dia akan memulai kencan buta nya tapi sekarang ia sudah di sumpahin jadi bujang lapuk.

__ADS_1


"Kalau begitu cepat buka pintunya," titah Arie sambil bersendekap.


Chiko pun pasrah dan membuka pintu ruangan itu untuk sang nyonya. Biarlah jika dia kena amukan sang tuan, dia bisa berlindung di balik ketiak sang nyonya.


__ADS_2